Cerita Mengenai Para Siswa SMA Jepang yang terpanggil ke dunia lain sebagai pahlawan, namun Zetsuya dikeluarkan karena dia dianggap memiliki role yang tidak berguna. Cerita ini mengikuti dua POV, yaitu Zetsuya dan Anggota Party Pahlawan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.K. Amrullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiba di Ibukota
Rombongan para pahlawan akhirnya tiba di Ibu Kota Sedressil.
Namun, tidak ada sorak kemenangan yang menyambut mereka. Tidak ada rasa lega, tidak ada kebanggaan. Yang menyelimuti rombongan itu hanyalah keheningan berat, keheningan yang dipenuhi kelelahan, kehilangan, dan luka yang tak terlihat.
Hanzo telah gugur di dalam dungeon.
Hanabi, yang selama ini berjalan bersama mereka, dikuasai amarah dan nekat menyerang Jenderal Lisa, sebuah tindakan yang membuatnya dikeluarkan dari tim pahlawan.
Dan yang paling menghancurkan segalanya… Haruto.
Sahabat lama Kouji. Rekan seperjuangan yang pernah tertawa bersama mereka di hari-hari awal perjalanan. Dia mengkhianati semuanya. Lebih dari itu, dia memilih berubah menjadi monster demi seorang wanita yang bahkan tak pernah mencintainya.
Di dalam kereta kuda yang bergerak perlahan menuju istana, suasana terasa pengap.
Tidak ada satu pun yang membuka suara.
Akari duduk memeluk lututnya, pandangannya kosong menatap lantai kayu. Sesekali matanya melirik ke arah Yui, yang bersandar lemah di sudut kereta. Wajah gadis itu pucat, napasnya belum sepenuhnya stabil setelah memaksakan menggunakan Teleportation demi menyelamatkan mereka. Setiap tarikan napas Yui terasa rapuh, seolah sedikit saja gangguan bisa membuatnya pingsan kembali.
Kouji duduk di seberang jendela kereta. Tatapannya mengarah ke luar, tetapi pikirannya jauh dari pemandangan kota yang mulai terlihat. Pantulan wajahnya di kaca memperlihatkan mata yang kehilangan cahaya. Tidak ada kemarahan di sana, hanya kehampaan yang dingin dan menyakitkan.
Lisa dan Sena duduk berhadapan, sesekali saling bertukar pandang tanpa berkata apa pun. Keduanya memahami satu hal yang sama: tidak ada kata-kata yang bisa memperbaiki keadaan saat ini.
Ketika gerbang raksasa Ibu Kota Sedressil terbuka, suara kota langsung menyerbu masuk. Pedagang berteriak menawarkan dagangan, warga berlalu-lalang dengan wajah penuh harap, dan beberapa orang bahkan menunjuk ke arah kereta kuda dengan ekspresi antusias.
Bagi mereka, para pahlawan telah kembali.
Namun, tidak satu pun dari mereka yang berada di dalam kereta merasakan kebanggaan itu.
Kereta berhenti di halaman istana. Saat mereka turun, Raja Lux Sedressil telah menunggu, dikelilingi para bangsawan dan pejabat tinggi kerajaan. Jubah kebesarannya berkibar tertiup angin sore, wajahnya tegas seperti biasa.
“Selamat datang kembali, para pahlawan,” ucap Raja Lux dengan suara penuh wibawa.
Tak ada jawaban.
Tak ada satu pun yang menundukkan kepala dengan bangga atau tersenyum tipis seperti biasanya. Para pahlawan yang tersisa berdiri diam, seolah kata “selamat” terasa terlalu berat untuk diterima.
Raja Lux menyadari perubahan itu. Sorot matanya mengeras, menyapu wajah mereka satu per satu, luka yang belum sembuh, mata yang kehilangan sinar, bahu yang seakan memikul beban berlipat ganda.
Putri Sena melangkah maju.
Posturnya tetap anggun, tetapi wajahnya menunjukkan kelelahan yang tak bisa disembunyikan. Ia menatap ayahnya dengan tatapan serius, jauh dari ekspresi ceria yang biasa ia tunjukkan.
“Ayah,” ucapnya dengan suara tenang namun berat, “perjalanan tim pahlawan kali ini tidak berjalan seperti yang kita harapkan.”
Para bangsawan langsung memperhatikan.
“Jenderal Rey mengalami patah tulang dan saat ini masih berada di dalam kereta kuda,” lanjut Sena. “Dia tidak mampu berjalan sendiri.”
Wajah Raja Lux berubah serius. “Apa yang sebenarnya terjadi?”
Sena menarik napas dalam sebelum melanjutkan. “Kami disergap di dungeon. Pertempuran berlangsung di luar perkiraan. Hanzo gugur di sana.”
Suasana aula istana seketika membeku.
Beberapa bangsawan menutup mulut mereka, yang lain saling bertukar pandang dengan ekspresi tidak percaya.
“Selain itu,” suara Sena sedikit menegang, “Hanabi kehilangan kendali atas emosinya dan menyerang Jenderal Lisa. Demi keselamatan tim, dia terpaksa dikeluarkan dari kelompok pahlawan.”
Bisikan mulai terdengar di antara para petinggi.
Namun Sena belum selesai.
“Dan yang paling mengejutkan…” Ia berhenti sejenak, seolah kata-kata berikutnya sulit diucapkan. “Haruto mengkhianati kami.”
Ruangan itu langsung sunyi.
Bukan keheningan biasa, melainkan keheningan yang menekan, seolah udara di sekeliling mereka menjadi berat.
Raja Lux menatap Sena dengan tajam. “Jelaskan.”
Lisa melangkah maju menggantikan Sena. Wajahnya tegas, tetapi matanya menyimpan kelelahan mendalam. “Haruto bergabung dengan Kultus Kehancuran. Dia bersumpah demi Anarkia dan menerima kekuatan terkutuk itu.”
Beberapa bangsawan tersentak.
“Dia… berubah,” lanjut Lisa. “Menjadi monster.”
Reaksi langsung bermunculan.
“Seorang pahlawan…?”
“Ini tidak masuk akal…”
“Kalau begitu, ancamannya jauh lebih besar dari dugaan kita.”
Raja Lux menghela napas panjang. Tatapannya kembali tertuju pada para pahlawan yang berdiri di hadapannya, mereka yang selamat, tetapi jelas tidak utuh.
“Aku bisa melihatnya,” ucapnya pelan namun tegas. “Kalian telah kehilangan terlalu banyak hal.”
Ia menegakkan tubuhnya. “Untuk saat ini, istirahatlah. Pulihkan diri kalian. Kita akan membicarakan langkah selanjutnya besok.”
Tidak ada sanggahan.
Para pahlawan hanya mengangguk lelah, satu per satu, sebelum berbalik meninggalkan aula.
Mereka telah kembali ke ibu kota.
Namun, di dalam hati mereka, tim pahlawan yang dulu… sudah tidak ada lagi.
Malam itu, mereka kembali ke mansion yang selama ini menjadi markas mereka.
Tempat yang seharusnya terasa seperti rumah, kini hanya menjadi pengingat akan mereka yang tidak pernah kembali.