NovelToon NovelToon
Elegi Di Balik Gerbang Mahoni

Elegi Di Balik Gerbang Mahoni

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam pengganti / Fantasi Wanita / Bullying dan Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:214
Nilai: 5
Nama Author: Yukipoki

Demi membalas kehancuran masa depan putranya oleh Ratu Komunitas yang tak tersentuh, seorang mantan konsultan branding melakukan balas dendam sosial dan intelektual dengan meruntuhkan reputasi musuhnya di mata para ibu elit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yukipoki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Elegi di Balik Gerbang Mahoni

Meskipun Kirana dan Bapak Wijaya telah dipecat dari segala jabatan di The Golden Bridge dan Yayasan Tangan Emas, serta menghadapi investigasi formal, kejatuhan sosial mereka membutuhkan waktu untuk sepenuhnya tercerna oleh komunitas elit.

Nadia, kini sepenuhnya di luar lingkaran, masih perlu mengamati bagaimana riak-riak kehancuran itu memengaruhi psikologi kolektif di balik Gerbang Mahoni.

Keadilan untuk Aksa adalah tujuan utama, tetapi melihat tiran menghadapi akibat perbuatannya adalah epilog yang tak terhindarkan.

Tiga minggu berlalu. Aksa sudah kembali bersekolah. Nadia mengurusnya tanpa drama, tanpa ambisi, dan tanpa harus melirik feed Grup WA yang kini sudah menjadi kuburan. Namun, berita tidak pernah mati di komunitas elit.

Suatu sore, saat menjemput Aksa di depan Gerbang The Golden Bridge, Nadia berpapasan dengan Vanya, putri Kirana. Vanya berdiri sendirian di dekat gerbang, wajahnya tertunduk.

Vanya adalah simbol kesempurnaan yang dipaksakan Kirana, yang citranya dibangun di atas kebohongan Kalung Berlian Biru dan lelang fiktif.

Nadia mendekat, bukan sebagai musuh, tetapi sebagai ibu.

"Hai, Vanya," sapa Nadia pelan.

Vanya mengangkat wajahnya, matanya merah. Ia terkejut melihat Nadia. "Ibu Nadia. Saya tahu Anda yang melakukan ini. Ibu yang menghancurkan keluarga saya."

"Saya tidak menghancurkan keluarga Anda, Vanya," jawab Nadia dengan tenang. "Saya menghancurkan kebohongan yang dibangun oleh ibu Anda. Kebohongan itu yang menghancurkan keluarga Anda sendiri."

Vanya terisak. "Ibu saya selalu berkata, kami harus sempurna. Bahwa reputasi adalah segalanya. Kami harus selalu menjadi yang terbaik di depan gerbang mahoni itu."

Nadia menyadari bahwa Vanya adalah korban terakhir dari Kirana. Seorang anak yang identitasnya dirampas oleh ambisi sang ibu.

"Reputasi itu dibangun dengan kebohongan. Dan kebohongan selalu meninggalkan noda, Vanya," kata Nadia. "Ayahmu sedang diselidiki, ibumu menghadapi tuntutan. Tapi Anda punya pilihan: Anda bisa membangun reputasi Anda sendiri, yang sejati. Anda tidak harus menjadi cerminan dari kegagalan orang tua Anda."

Vanya tidak menjawab. Ia hanya menunduk, berjalan menjauh. Nadia tahu, Vanya sedang memulai perjalanan yang sulit untuk menemukan dirinya sendiri, terlepas dari bayangan Gerbang Mahoni.

Dampak hukum terhadap Bapak Wijaya dan Kirana juga mulai merambat ke dunia bisnis. Bapak Wijaya, yang pondasi keuangannya digoyang oleh leak Vila Uluwatu, menghadapi penarikan investor besar-besaran. Arief, Putra Widodo Raharja, muncul di beberapa podcast bisnis, menceritakan kembali bagaimana The Golden Bridge diakuisisi dengan paksa dari tangan ayahnya, menguatkan narasi bahwa Kirana dan Bapak Wijaya adalah pasangan predator bisnis dan sosial.

Nadia menerima telepon dari Pengacara Keuangan Bapak Wijaya, yang pernah ia e-mail anonim.

"Nyonya Permata," suara pengacara itu tegang. "Kami telah mengidentifikasi bahwa beberapa informasi kritis yang memicu investigasi pajak klien kami, termasuk tentang Yayasan Cendana Biru dan Vila Uluwatu, berasal dari sumber internal yang sangat spesifik. Bapak Wijaya menawarkan kompensasi uang yang sangat besar—jumlah yang jauh lebih besar dari beasiswa Aksa—asalkan Anda mau menandatangani perjanjian non-disclosure (NDA) dan menghentikan semua leak ke media."

Nadia tersenyum dingin. Ini adalah ujian final integritasnya. Kirana dan Bapak Wijaya mencoba membeli keheningan dengan uang, seperti yang mereka lakukan pada Arief dan Mr. Taufik di masa lalu.

"Terima kasih atas tawaran Bapak," jawab Nadia dengan suara yang sangat tenang. "Tujuan saya bukan uang. Tujuan saya adalah keadilan dan pemulihan nama baik putra saya, Aksa. Kedua hal itu telah saya dapatkan. Mengenai leak ke media, saya tidak bisa bertanggung jawab. Saya sudah bukan lagi anggota Komite. Semua yang terjadi setelah Gala Dinner adalah akibat alami dari kebohongan yang Kirana ciptakan. Saya tidak akan menandatangani NDA apa pun."

Nadia menutup teleponnya. Ia telah menolak godaan kekayaan yang ditawarkan oleh money-power Gerbang Mahoni.

Satu bulan kemudian, Nadia menerima undangan untuk acara kecil yang diadakan oleh Dewan Sekolah baru The Golden Bridge. Acara itu disebut "Malam Penghormatan Integritas."

Nadia hadir bersama Aksa. Mereka disambut dengan hormat, bukan sebagai anggota Komite, melainkan sebagai tamu kehormatan.

Di acara itu, Dewan Sekolah secara resmi meminta maaf kepada Aksa dan memberikan penghormatan kepada Mr. Taufik yang kini memimpin Departemen Etika dan Akademik. Mr. Taufik memberikan pidato singkat yang menyentuh tentang pentingnya kejujuran akademik.

Kemudian, Rizky, anak yatim piatu yang beasiswanya dibatalkan Kirana, dipanggil ke panggung. Rizky menerima beasiswa penuh dari The Golden Bridge, yang kini didanai oleh donasi baru yang dikelola secara transparan.

Di tengah acara itu, Ibu Nina mendekati Nadia. Ia tidak lagi sombong, tetapi menunjukkan rasa hormat yang mendalam.

"Bu Nadia, saya harus mengakui, Anda mengajari kami semua sebuah pelajaran yang sangat mahal," kata Ibu Nina. "Kami di Komite ini hidup dalam ilusi. Kami percaya pada Kirana karena dia membangun tembok yang tebal. Anda datang, dan Anda hanya menggunakan pena dan e-mail untuk meruntuhkannya."

"Saya hanya membongkar tembok itu, Ibu Nina," balas Nadia. "Tembok itu sendiri rapuh. Gerbang Mahoni itu hanya terbuat dari kayu yang dicat mahal. Intinya rapuh."

"Dan Vila Uluwatu?" tanya Ibu Nina dengan senyum pahit.

"Saya dengar Vila itu sekarang disita dan akan dilelang. Hasilnya akan dikembalikan ke Yayasan Tangan Emas, di bawah manajemen baru. Yayasan itu akhirnya akan melakukan amal yang sejati," jawab Nadia.

Ibu Nina menghela napas. "Sungguh sebuah elegi. Kami meratapi kerugian kami, Kirana meratapi segalanya. Tapi saya rasa, The Golden Bridge akan lebih baik tanpa Kirana."

Nadia meninggalkan acara itu, menggandeng Aksa.

Saat mobil mereka melintasi jalanan lengang, mereka melewati Gerbang Mahoni utama Cluster Puri Kencana—tempat kediaman Kirana. Gerbang itu kini tertutup rapat, terkunci. Tidak ada mobil mewah yang masuk atau keluar. Lampu-lampu rumah Kirana mati, kecuali satu lampu di lantai atas yang redup.

"Bu," tanya Aksa pelan. "Itu rumah Ibu Vanya, kan?"

"Ya, Nak," jawab Nadia.

"Sekarang sepi sekali ya, Bu."

"Ya, Aksa. Keheningan kadang lebih keras daripada keributan. Kadang, kemewahan terhebat adalah kesunyian setelah badai."

Aksa tidak bertanya lagi.

Nadia melirik ke kaca spion. Gerbang Mahoni itu kini tampak dingin, megah, dan sangat sepi. Elegi telah berakhir. Keadilan telah ditegakkan. Nadia telah membuktikan bahwa di balik tembok kokoh Gerbang Mahoni, kekuasaan dan kemewahan hanyalah ilusi yang bisa dihancurkan oleh kebenaran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!