Guang Lian, jenius fraksi ortodoks, dikhianati keluarganya sendiri dan dibunuh sebelum mencapai puncaknya. Di tempat lain, Mo Long hidup sebagai “sampah klan”—dirundung, dipukul, dan diperlakukan seperti tak bernilai. Saat keduanya kehilangan hidup… nasib menyatukan mereka. Arwah Guang Lian bangkit dalam tubuh Mo Long, memadukan kecerdasan iblis dan luka batin yang tak terhitung. Dari dua tragedi, lahirlah satu sosok: Iblis Surgawi—makhluk yang tak lagi mengenal belas kasihan. Dengan tiga inti kekuatan langka dan tekad membalas semua yang telah merampas hidupnya, ia akan menulis kembali Jianghu dengan darah pengkhianat. Mereka menghancurkan dua kehidupan. Kini satu iblis akan membalas semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zen Feng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: RACUN DAN DARAH SAUDARA
Mo Han kembali ke Pasukan Iblis tujuh hari kemudian.
Tapi dia berubah.
Raut wajahnya berbeda—lebih keras, lebih dingin. Mata yang dulu hangat kini kosong. Senyum yang dulu mudah muncul kini tidak pernah terlihat.
Rekan-rekannya menyadari. Tapi tidak ada yang berani bertanya.
Kecuali Gu Hao.
Suatu malam di atas atap asrama Pasukan Iblis.
Mo Han duduk sendirian, menatap bulan purnama, matanya menerawang seakan jiwanya terbang ke tempat jauh.
‘Ryuka... Aku baru mengenalnya, tapi aku tak bisa berhenti memikirkannya. Ada sesuatu dalam dirinya, membuatku sangat ingin memilikinya...’
Mo Han menghela napas panjang, hatinya terasa perih seperti seseorang megirisnya.
‘Kakak... bagaimana bisa, setelah semua yang aku lakukan, kau begitu tega... aku bahkan merelakan kursi penerus untukmu, memberi berbagai eliksir untuk tubuhmu yang tak berbakat, berpura-pura lebih lemah darimu di depan ayah, menuruti semua omonganmu. Setelah semua itu...’
Rahangnya mengeras, tangan kanan menggenggam erat ingin memukul wajah kakaknya.
‘Kau mengkhianatiku!’
Tangan kiri memegang botol salep—botol yang sudah hampir kosong. Aroma melati masih tercium samar.
‘Pemberian Ryuka,’ pikirnya pahit. ‘Yang sekarang berciuman dengan kakakku’.
TAP.
Gu Hao mendarat di sampingnya—tanpa suara, seperti bayangan.
Dia duduk. Diam beberapa saat.
"Ada yang terjadi padamu," katanya akhirnya. Bukan pertanyaan. Pernyataan.
Mo Han tidak menjawab.
"Sejak kau pulang dari klan," lanjut Gu Hao, "kau berubah. Seperti... ada sesuatu yang mati di dalam dirimu."
Hening.
Hanya angin malam yang bertiup, membawa aroma tanah basah sehabis hujan.
"Soal wanita yang kau ceritakan dulu?" desak Gu Hao. "Ryuka, kan namanya?"
Mo Han membuang muka, tak ingin membahasnya.
Gu Hao menghela napas. "Dengar, Mo Han... aku mewakili klanku meminta maaf," ujar Gu Hao merangkul Mo Han. "Soal perjodohan konyol itu."
"Asal kau tahu, aku dijodohkan juga," lanjut Gu Hao. "Dengan sepupuku sesama Klan Gu."
Gu Hao terdiam. Lalu dia tersenyum tipis—pahit.
"Namun, aku menolak perjodohan itu," katanya pelan. "Aku memilih wanita pilihanku sendiri. Sekarang kami punya putri. Sangat cantik."
Dia menoleh menatap Mo Han. "Beberapa keluargaku sempat menteror kami. Tapi kami bertahan. Sekarang... kami bahagia."
Mo Han mendengar dengan ekspresi sulit dibaca.
"Sebenarnya," Gu Hao melanjutkan, "ada beberapa tetua Klan Gu yang tidak setuju dengan perjodohan kalian—kau dan kakakmu dengan putri-putri kami. Mereka pikir Klan Naga Bayangan sudah terlalu mundur."
Dia menepuk pundak Mo Han. "Seharusnya kau lebih berani menentang perjodohanmu. Menikahi gadis itu jika kau benar-benar mencintainya."
“Sama sepertimu, aku juga berniat menentang perjodohan ini,” ujar Mo Han
“Terus?”
“Ini soal kakakku. Dia... mendekati wanita yang aku cintai, setelah menyuruhku menjauh.”
“Apa?!” Gu Hao terperanjat, refleks berdiri. “Ta-tapi, bukankah kakakmu dijodohkan dengan klan-ku?”
“Entahlah. Tapi aku melihatnya sendiri, kakakku mencium gadis itu. Rasanya begitu sakit, lebih sakit daripada tertusuk pedang pendekar Ortodoks.”
Hening lagi.
Gu Hao nampak kebingungan merangkai jawaban. Pengkhianatan saudara sendiri jelas berbeda dari yang ia alami.
Lalu Mo Han bertanya—dengan suara yang terlalu tenang, terlalu dingin.
"Apa ada racun dari Klan Gu yang sangat mematikan? Membunuh musuh hanya dalam beberapa detik?"
Gu Hao membeku.
Kepala menoleh cepat menatap Mo Han. "Apa yang kau rencanakan?"
Mo Han berbisik—begitu pelan sampai Gu Hao harus mendekat untuk mendengar.
Dan apa yang dia dengar membuat matanya membelalak.
"KAU GILA?!" serunya. "Rencanamu bisa membuat pertengkaran besar antar klan! Bahkan perang!"
"Justru itu," kata Mo Han dengan senyum tipis yang mengerikan. "Bukankah dengan begini Klan Gu tak akan menteror keluargamu lagi? Mereka akan fokus pada Klan Naga Bayangan."
Gu Hao terdiam. Otaknya bekerja keras.
‘Dia benar,’ pikir Gu Hao. ‘Jika Klan Gu sibuk dengan konflik terhadap Klan Mo... keluargaku akan aman.’
"Esok aku akan izin pada Ketua untuk Pelatihan Tertutup selama sebulan," lanjut Mo Han. Mata masih menatap bulan—tapi kini ada kilatan merah di dalamnya. "Saat itu aku akan jalankan rencanaku."
Gu Hao menatap sahabatnya. Melihat kegelapan yang mulai menggerogoti jiwa Mo Han.
‘Aku seharusnya menghentikannya,’ pikir Gu Hao.
Tapi dia tidak.
Tujuh hari kemudian, Mo Han benar-benar menjalankan rencananya. Ia dalam perjalanan, perjalanan misi pribadinya yang gila.
Mo Han melesat dari ibu kota—hampir tanpa istirahat.
Qinggong maksimal. Melewati hutan, gunung, sungai. Tidak peduli lelah. Tidak peduli hujan yang turun lagi.
Di dalam jubahnya, sebotol kecil racun tersimpan rapi.
Racun Bayangan Gu.
Tidak berbau. Tidak berwarna. Sangat mematikan.
Racun yang seharusnya hanya dimiliki Tetua tinggi Klan Gu.
Tapi Gu Hao mencurinya untuk Mo Han.
‘Satu tetes’, pikir Mo Han sambil berlari. ‘Cukup satu tetes untuk membunuh seorang Ranah Guru Agung.’
Dia tiba di Kota Kageyu saat sore hari.
Bersembunyi di balik pohon—menatap kedai Sato dari kejauhan.
Pintu kedai terbuka.
Mo Fu keluar—tersenyum lebar, bergandengan tangan dengan Ryuka.
Keduanya tertawa. Mengobrol. Terlihat bahagia.
Rahang Mo Han mengeras.
Tangan mengepal begitu erat sampai kuku menancap di telapak. Darah menetes—perlahan, merah pekat.
Tapi dia tidak bergerak. Hanya menatap.
Menatap kakak yang dulu dia cintai. Kakak yang dulu selalu melindunginya.
Sekarang... musuh.
Malam telah tiba, di kamar Mo Fu yang remang, Mo Han menantinya.
Mo Fu masuk kamarnya dengan santai—menguap, hendak tidur.
Tapi—
Seseorang duduk di kursi sudut ruangan.
Dalam bayangan.
"Siapa—" Mo Fu langsung siaga. Tangan meraih pedang di pinggang.
Sosok itu melangkah keluar dari bayangan.
Cahaya lilin menyinari wajahnya.
"Mo Han?!" Mo Fu terkejut. "Kenapa kau di sini? Bukankah kau seharusnya di ibu kota—"
"Aku izin," potong Mo Han dengan suara datar. "Pulang sebentar."
Mo Fu mengernyit. Ada sesuatu yang salah dengan adiknya—tatapan matanya terlalu dingin.
"Kalau begitu kenapa tidak menemui Ayah dulu—"
"Aku ingin bicara denganmu," potong Mo Han lagi. "Tentang Ryuka."
Hening.
Mo Fu wajahnya berubah—tidak lagi santai. Ada kewaspadaan di matanya.
"Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Kau dan dia." Mo Han melangkah maju—perlahan, seperti predator mengintai mangsa. "Apa hubungan kalian?"
Mo Fu menelan ludah. "Itu... bukan urusanmu—"
"BUKAN URUSANKU?!" tiba-tiba Mo Han berteriak. Suaranya menggelegar di ruangan kecil itu. "KAU TAHU AKU MENCINTAINYA! DAN KAU BERANI BILANG BUKAN URUSANKU?!"
"Kau mencintainya?" Mo Fu balik berteriak. "BAGAIMANA BISA KAU JATUH CINTA DENGAN WANITA YANG BARU KAU TEMUI TUJUH HARI?!"
Dia melangkah maju, menghadap adiknya dengan tatapan marah. "Aku sudah dekat dengan Ryuka lebih dari setahun! Kami saling mengenal! KAMI BENAR-BENAR DEKAT!"
"Karena aku pergi!" teriak Mo Han. Mata berkaca-kaca—entah karena marah atau sedih. "Aku pergi ke ibu kota! Dan kau mengkhianati kepercayaanku!"
"Mengkhianati?" Mo Fu tertawa pahit. "Tidak ada yang kukhianati! Kau dan dia tidak pernah dekat! Tidak ada hubungan resmi!"
"TAPI KAU TAHU AKU MENCINTAINYA!"
"Cinta bukan milik siapa-siapa!" Mo Fu balik berteriak. "Ryuka memilih aku! Bukan kau!"
CRACK.
Sesuatu patah di dalam hati Mo Han.
Dia mundur selangkah. Napas tersengal. Tangan gemetar.
"Lalu..." suaranya turun—berbahaya rendah. "Bagaimana dengan perjodohan itu? Penerus ketua klan tidak bisa membatalkan perjodohan."
Mo Fu terdiam sejenak.
Lalu dia terkekeh—tawa yang membuat darah Mo Han mendidih.
"Klan Gu menyetujui diriku untuk memiliki seorang selir," katanya sambil tersenyum tipis. "Ryuka akan kujadikan selir."
Mata Mo Han membelalak. "Selir?!"
"Ya." Mo Fu mengangguk. "Tapi itu hanya berlaku untuk ketua klan. Untukmu..." Dia menatap adiknya dengan tatapan meremehkan. "Seorang selir tidak diperbolehkan."
Hening.
Hening yang mencekik.
Mo Han menatap kakaknya—kakak yang dulu dia kagumi, yang dulu dia cintai.
Sekarang hanya tersisa kebencian.
"Jadi..." bisiknya pelan. "Kau akan menjadikan wanita yang kucintai... selir."
"Itu keputusan Ryuka juga," kata Mo Fu. "Dia menerima."
SNAP.
Sesuatu di dalam Mo Han putus sepenuhnya.
WHOOOOSH!
Mo Han melesat—cepat seperti bayangan!
Pedangnya terhunus dalam sekejap—Qi Bayangan meledak dari bilahnya!
"APA YANG KAU—" Mo Fu mundur, pedangnya terangkat menangkis!
CLANG!
Logam bertabrakan! Percikan api beterbangan!
Mo Fu terdorong mundur tiga langkah—terkejut dengan kekuatan adiknya!
"KAU GILA?!" teriaknya.
Mo Han tidak menjawab. Dia menyerang lagi—lebih brutal, lebih cepat!
SLASH! SLASH! SLASH!
Pedangnya bergerak seperti ular—mematikan, tidak ada ampun!
Mo Fu menangkis dengan susah payah. ‘Kapan adikku menjadi sekuat ini?!’
Pertarungan berlangsung cepat—keduanya bergerak dengan kecepatan Ranah Guru Agung!
Furniture hancur! Dinding retak! Tapi tidak ada yang berteriak—ruangan Mo Fu kedap suara untuk latihan.
CLANG! CLANG! CLANG!
"MO HAN! HENTIKAN!" teriak Mo Fu sambil menangkis. "KITA BERSAUDARA!"
"BERSAUDARA?!" Mo Han tertawa gila. "SAUDARA TIDAK MENGKHIANATI!"
Dia menebas dengan kekuatan penuh—
BOOOOM!
Mo Fu terpental ke dinding! Tubuh menghantam keras!
Pedangnya terjatuh.
Dia tersungkur—terbatuk, darah keluar dari mulutnya.
Mo Han berjalan mendekat—perlahan, seperti algojo mendekati korban.
"Mo Han..." gumam Mo Fu lemah. "Jangan... kita kakak beradik..."
Mo Han berhenti di depan kakaknya.
Menatap wajah yang babak belur itu.
Wajah yang dulu selalu tersenyum padanya.
‘Maaf, Kakak,’ pikir Mo Han. ‘Tapi kau yang memilih ini.’
Tangannya meraih botol kecil dari jubahnya.
Membuka tutupnya.
"Apa itu—" Mo Fu menatap horor.
SPLASH!
Cairan tak berwarna menyiram wajah Mo Fu!
"AAAAAAKH!" Mo Fu berteriak—tapi bukan karena sakit.
Karena dia tahu apa itu.
Racun Bayangan Gu.
Dia meronta—mencoba bangkit, mencoba meraih sesuatu.
Tapi tubuhnya tidak merespons. Otot kaku. Napas tercekat.
"M-Mo Han..." bisiknya dengan suara tercekat. "K-Kau... membunuhku..."
Mo Han berjongkok. Menatap mata kakaknya—mata yang mulai kehilangan cahaya.
"Iya," bisiknya lembut. "Aku membunuhmu, Kakak."
"K-Kenapa..." Air mata mulai keluar dari mata Mo Fu. "A-Aku... kakakmu..."
"Karena setelah semua yang aku relakan, setelah aku selalu menjunjungmu di depan ayah," jawab Mo Han. Suaranya dingin—tidak ada emosi. "...kau mengambil satu-satunya hal yang kumiliki."
Mo Fu terbatuk—darah hitam keluar dari mulutnya.
Tubuhnya kejang beberapa kali.
Lalu diam.
Mata terbuka lebar—membeku dalam ekspresi horor dan penyesalan.
TAP TAP TAP!
Suara langkah kaki mendekat dari luar!
"Tuan Muda! Ada apa?!" teriak pengawal.
WHAM!
Mo Han mendobrak jendela—melompat keluar dengan Qinggong!
Menghilang dalam kegelapan malam!
BRAK!
Pintu terbuka!
Pengawal dan pelayan masuk—lalu membeku melihat pemandangan di dalam.
Mo Fu tergeletak. Tidak bergerak. Darah hitam mengalir dari mulutnya.
Mata terbuka lebar dalam kematian.
"T-TUAN MUDA MO FU!" teriak salah satu pengawal.
Kekacauan meledak.
11 hari berlalu, Mo Han telah berada di Ibu Kota, ia berdiam diri di Ruang Pelatihan Tertutup milik Pasukan Iblis.
Mo Han duduk bersila di ruangan gelap.
Meditasi. Atau pura-pura meditasi.
Di luar, dia tahu kekacauan sedang terjadi. Kematian Mo Fu pasti sudah tersebar.
Investigasi dimulai. Klan Gu pasti sudah mulai diselidiki.
‘Sempurna,’ pikir Mo Han.
TOK TOK TOK.
Ketukan di pintu.
Mo Han membuka mata. "Siapa?"
"Utusan dari Patriark Klan Mo," jawab suara dari luar. "Ada pesan penting."
Mo Han bangkit. Membuka pintu sedikit.
Seorang pelayan berdiri di sana—wajah pucat, mata merah seperti habis menangis.
"Tuan Muda Mo Han," kata pelayan dengan suara bergetar. "Kami... kami menyampaikan berita duka."
Dia menarik napas dalam. "Tuan Muda Mo Fu... telah meninggal dunia."
Hening.
Mo Han menatap pelayan itu dengan ekspresi kosong.
"Terima kasih atas informasinya," katanya datar. "Aku akan segera keluar."
Dia menutup pintu.
Pelayan itu pergi dengan langkah gontai.
Di dalam ruangan—
Mo Han berdiri sendirian.
Dalam kegelapan.
Menatap dinding dengan tatapan kosong.
Lalu—
Senyum tipis muncul di bibirnya.
Senyum yang melebar.
Dan melebar.
Hingga menjadi seringai lebar.
"HAHAHA..."
Tawa pelan keluar dari mulutnya.
"HAHAHA... HAHAHAHA..."
Semakin keras.
"HAHAHAHAHAHAHAHA!"
Tawa yang menggila! Bergema di ruangan kecil itu!
Tawa kemenangan! Tawa kegilaan! Tawa yang kehilangan kemanusiaan!
Mo Han tertawa sampai air mata keluar—tapi bukan air mata kesedihan.
Air mata kegembiraan yang terdistorsi.
‘Akhirnya,’ pikirnya di tengah tawa. ‘Akhirnya kakakku mati.’
‘Akhirnya Ryuka tidak akan pernah menjadi milik siapa pun lagi.’
‘Akhirnya...’
Tawanya perlahan mereda.
Dia berdiri di sana—sendirian, dalam kegelapan, dengan senyum mengerikan di wajahnya.
Hari itu—
Mo Han yang lama mati.
Dan sesuatu yang jauh lebih gelap lahir.