Rania Vale selalu percaya cinta bisa menembus perbedaan. Sampai suaminya sendiri menjadikannya bahan hinaan keluarga.
Setelah menikah satu tahun dan belum memiliki anak, tiba-tiba ia dianggap cacat.
Tak layak, dan tak pantas.
Suaminya Garren berselingkuh secara terang-terangan menghancurkan batas terakhir dalam dirinya.
Suatu malam, setelah dipermalukan di depan banyak orang, Rania melarikan diri ke hutan— berdiri di tepi jurang, memohon agar hidup berhenti menyakitinya.
Tetapi langit punya rencana lain.
Sebuah kilat membelah bumi, membuka celah berisi cincin giok emas yang hilang dari dunia para Archeon lima abad lalu. Saat Rania menyentuhnya, cincin itu memilihnya—mengikatkan nasibnya pada makhluk cahaya bernama Arven Han, putra mahkota dari dunia lain.
Arven datang untuk menjaga keseimbangan bumi dan mengambil artefak itu. Namun yang tak pernah ia duga: ia justru terikat pada perempuan manusia yang paling rapuh…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GazBiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kita ini apa?
Di dalam bioskop, Arven terlihat semakin tidak nyaman. Dadanya terasa panas, tatapannya menyapu ruangan, seolah mencari siapa pun yang mungkin pernah mengobrak-abrik Aeryndor.
Rania yang peka segera berdiri dan menarik tangannya. “Ayo,” ujarnya lembut. “Kita cari tempat lain saja.”
Setelah sepuluh menit menunggu, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan mereka. Rania mengangkat dagu, puas.
“Itu dia.”
Arven menoleh cepat. Alisnya berkerut—bingung. Amukan kecil yang sempat mengembang di dadanya ia telan bersama helaan napas panjang. Wajahnya berubah, bukan marah… lebih seperti seseorang yang baru saja dipaksa mengakui dunia telah bergerak terlalu cepat tanpa menunggunya.
Rania tak menyadarinya. Ia hanya berpikir, mungkin Arven rindu tempat asalnya.
“Kau sakti juga,” ujar Arven akhirnya, membuka pintu mobil untuk Rania. Nada suaranya sungguh-sungguh. “Memanggil kendaraan hanya dalam beberapa menit.”
Rania terkekeh sambil masuk ke dalam.
“Ini namanya rental,” katanya santai, seolah baru menjelaskan hal sepele pada anak kecil. “Di mana pun ada. Tinggal telepon, mereka datang.”
Arven mengangguk pelan. Kagum. Tulus. Seperti seseorang yang baru menemukan sihir baru di dunia modern.
“Ke mana, Kak?” tanya sopir.
“Rivante City,” jawab Rania cepat.
Sopir mengangguk dan menyalakan mesin.Mobil melaju.
Arven duduk di samping Rania, menatapnya dengan senyum yang tak ia sadari terlalu lama. Ada kebanggaan aneh di dadanya—hangat, ringan, dan sama sekali tidak logis.
“Kau banyak tahu wilayah ini,” katanya. “Hebat.”
Rania tersenyum, sedikit sombong, sedikit malu. Ia melirik ponselnya yang masih terbuka—layar pencarian baru saja menampilkan informasi tentang Rivante City.
“Iya dong,” ujarnya percaya diri. “Aku kan…” Ia berhenti sepersekian detik, lalu menambahkan dengan jujur,
“…baru baca barusan.”
Arven terdiam. Lalu tertawa kecil. Pelan. Jujur.
Mobil mulai menanjak.
Gedung-gedung tinggi tertinggal, digantikan pegunungan hijau yang membentang seperti lukisan hidup. Kabut tipis turun perlahan, menempel di kaca, membuat dunia terasa lebih dekat—dan lebih sunyi.
Suasana berubah. Indah… menggetarkan hati.
“Rania,” panggil Arven.
Ia menoleh.
“Hm?”
Arven menatap lurus ke depan, seolah pertanyaannya hanyalah kalimat biasa. “Kita ini… apa?”
Rania mengerjap.
Jantungnya hampir salto di tempat. Ia menyembunyikan senyum yang refleks muncul, menegakkan bahu. Harga diri tetap nomor satu—meski dada berdebar tak karuan.
“Aku manusia,” jawabnya ringan, cepat. “Kau alien.”
“Hah?”
Sopir di depan langsung menoleh, kaget.
Rania langusnug tertawa terlalu keras. “Hahaha—maksud saya, Pak, dia itu aneh. Seperti alien.” Ia melirik Arven sambil tertawa gugup. “Jadi saya sering manggil dia begitu.”
Mobil kembali melaju.
Jantung Rania hampir copot dari tempatnya.
Arven menoleh padanya. Tatapannya cepat, tajam—lalu berpaling lagi. Namun kata-kata Lidia UU terlintas jelas di benaknya.
“Untuk pertama kali, wanita tidak akan mengakui perasaannya. Bisa karena malu… atau momennya belum tepat. Jadi tanyakan lagi, sampai jawabannya jelas.”
Arven mengangguk kecil pada dirinya sendiri—Paham.
Ia kembali menatap keluar jendela. Pegunungan memantul di matanya—tenang, tapi penuh kesabaran.
“Huuuft…” Rania mengelus dadanya pelan. Selamat—untuk kali ini.
Bukan karena ia tak punya perasaan. Justru karena ia terlalu punya—bahkan rasa takut kehilangan mulai membelitnya kuat.
Ia menunduk, memandangi pantulan wajahnya di kaca. Seorang janda. Luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. Perlakuan menghinakan dari keluarga Garren masih melekat seperti bayangan—membuatnya merasa kecil, tak layak, dan selalu bersiap ditinggalkan.
Ia belum berani percaya.
Bahwa ada pria—seaneh, setulus, dan setenang Arven—yang bisa memperlakukannya sebaik itu… tanpa syarat.
Ia hanya takut.
Takut semua yang indah ini akan berakhir… sama seperti sebelumnya. Diantara pegunungan yang diam, dua hati bergerak perlahan—saling mendekat, sambil pura-pura belum tahu arah.
Suasana di dalam kabin kembali hening.
Hanya suara mesin yang mendengung pelan, dan desir angin yang menyapu pepohonan di sisi jalan hutan. Jembatan sempit membentang di depan—besi tua berderit saat roda mobil melindasnya.
Lalu—
BRAAAKK!
Sebuah mobil besar muncul dari samping. Menabrak mereka tanpa peringatan.
“GRUGH!”
“CEKIIIIITTT—!”
“Aakkhhh!” jerit Rania memecah panik Arven.
Dunia terbalik.
Mobil mereka terpental, berputar liar, menghantam pembatas jembatan. Kaca pecah berhamburan seperti hujan pisau. Tubuh terlempar—waktu seolah melambat dalam teriakan logam yang disayat paksa.
Arven bergerak lebih cepat dari logika.
Ia menarik Rania ke dadanya, memutar tubuhnya sendiri— mengurungnya.
Benturan pertama menghantam punggung Arven. Benturan kedua—kepalanya.
Benturan ketiga—sunyi.
Mobil terguling beberapa meter sebelum akhirnya terjungkir dengan suara dentuman terakhir yang mematikan.
BRUGH!!
Darah mengalir dari kepala sopir. Matanya terbuka, tapi kosong. Tubuhnya terkulai—tak bergerak.
Hutan kembali diam.
Tak lama suara pintu mobil lain terbuka. Langkah kaki terdengar mendekat.
Anak buah ayah Sierra turun satu per satu, mengangkat senjata tanpa ragu. Mereka mendekati mobil terbalik itu, mengelilinginya seperti algojo yang datang memastikan kematian.
*
Terima kasih sudah mengikuti kisah ini. Jangan lupa kasih bintang terbaik dan ulasan manis ya. Setiap komentarmu adalah seperti percikan api yang bikin semangatku menyala untuk terus menulis. Ayo, tulis pendapatmu, teorimu, atau bagian favoritmu_aku baca semuanya, lho!
melihat wajah rania serasa kaget gitu
maaf thor baru bisa mampir baca,kemarin aku unsub biar gak numpuk bab
semangat yaa thor🤗🤗🤗
dah lah ran,anggap saja kamu bertemu orang gila ganteng
dibumi sudah mengajakmu berpetualang
asin,asan,manis sudah kamu rasakan arven
apalagi berpetualang sama wanita yang membuatmu berdebar dan terpesona terus,wanita pujaanmu😁😁😁
apa terlalu sering membantu rania thor atau arven mlai jatuh hati sama manusia