NovelToon NovelToon
My Boss, My Past, My Sin

My Boss, My Past, My Sin

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Bad Boy / One Night Stand / CEO / Hamil di luar nikah / Cintapertama
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yudi Chandra

Tujuh belas tahun lalu, Ethan Royce Adler, ketua geng motor DOMINION, menghabiskan satu malam penuh gairah dengan seorang gadis cantik yang bahkan tak ia ketahui namanya.

Kini, di usia 35 tahun, Ethan adalah CEO AdlerTech Industries—dingin, berkuasa, dan masih terikat pada wajah gadis yang dulu memabukkannya.
Sampai takdir mempertemukannya kembali...

Namun sayang... Wanita itu tak mengingatnya.

Keira Althea.

Cerewet, keras kepala, bar-bar.
Dan tanpa sadar, masih memiliki kekuatan yang sama untuk menghancurkan pertahanan Ethan.

“Jangan goda batas sabarku, Keira. Sekali aku ingin, tak ada yang bisa menyelamatkanmu dariku.”_ Ethan.
“Coba saja, Pak Ethan. Lihat siapa yang terbakar lebih dulu.”_ Keira.

Dua karakter keras kepala.
Satu rahasia yang mengikat masa lalu dan masa kini.
Dan cinta yang terlalu liar untuk jinak—bahkan ol

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24

Suara mesin dan dentingan besi memenuhi ruangan bengkel Reign Garage, tempat yang sudah seperti rumah kedua bagi Aiden. Remaja itu duduk di meja kerja khususnya, pensil mekanik berputar di antara jari-jarinya sambil matanya fokus pada kertas gambar.

Garis demi garis ia tarik dengan cepat namun presisi.

Siluet mobil itu mulai terbentuk—liar, futuristik, tapi tetap realistis.

Kombinasi yang hanya bisa lahir dari otak seorang jenius yang… terlalu meremehkan kejeniusannya sendiri.

Ezra yang sedari tadi memperhatikan, menggeleng pelan. “Bos… seriusan, desain lo gila banget sih.”

Ia mendekat, menyikut bahu Aiden pelan. “Kenapa nggak lo jual, Bos? Perusahaan besar pasti ngelirik lo. Minimal yang ngantri beli desain lo itu satu departemen R&D.”

Aiden cuma mendesah malas, memutar pensilnya lagi. “Gue nggak tertarik. Ini cuma hobi.”

Ezra mendecak. “Hobi apanya? Ini level profesional, Bos. Yang bikin gue kesel tuh lo nggak sadar betapa jeniusnya lo.”

Aiden hanya menatap kertas itu sebentar lalu meletakkannya di meja. “Jenius atau nggak… gue tetap nggak tertarik. Udah, jangan bahas.”

Ezra mau membantah lagi, tapi ada suara memanggil dari sisi lain bengkel.

“Aiden! Kemari bentar!”

Aiden berdiri, merapikan kertas-kertasnya sekilas, lalu berjalan menuju arah suara tersebut.

Namun satu lembar desain tertinggal di ujung meja—lembar yang paling detail, dengan skema mesin yang jarang ia tunjukkan kepada siapa pun.

Ezra melirik kiri-kanan seperti pencuri amatir. “…sebentar aja liatnya,” gumamnya.

Tapi tangannya tidak hanya melihat.

Pelan-pelan, tanpa suara, Ezra menarik selembar kertas itu dan menyelipkannya ke dalam map hitam miliknya.

“Maaf, Bos… tapi bakat kayak lo nggak bisa cuma dipajang di meja begini doang,” bisiknya sambil menutup map rapat-rapat.

Ia berdiri tegak saat mendengar langkah Aiden kembali.

Wajahnya sudah berubah seperti tidak terjadi apa-apa, lengkap dengan senyum santai ala Ezra. “Udah kelar urusan lo, Bos?” tanyanya.

Aiden mengangguk sambil melepas sarung tangan. “Hm. Lo kenapa?”

Ezra mengangkat bahu. “Nggak kok. Santai.”

Tapi sorot matanya menyimpan sesuatu.

Rencana kecil.

Ambisi kecil.

Atau mungkin… masalah besar yang akan segera tiba.

...----------------...

Di lantai tertinggi AdlerTech Industries, cahaya matahari sore menembus kaca besar kantor CEO. Ruangan itu luas, rapi, dan dipenuhi aroma kopi hitam yang baru diseduh—kopi yang tak pernah disentuh Ethan sejak sepuluh menit lalu karena pikirannya sibuk mengejar satu nama, Aiden.

Rowan mengetuk pintu dan masuk dengan tablet di tangan. Wajahnya seperti biasa—tenang, profesional, tapi ada sedikit kegugupan karena mood Ethan hari ini benar-benar tak tertebak.

“Pak Ethan,” Rowan membuka laporan, “Sesuai perintah Bapak dua bulan lalu, besok pagi Adlerion Academy akan mengadakan ajang pencarian bakat desainer otomotif untuk siswa tingkat akhir.”

Ethan mengangkat pandangan dari berkas di tangannya. “Jadi?”

“Pihak sekolah meminta Bapak hadir sebagai juri kehormatan. Karena sekolah itu milik keluarga besar Bapak, dan pemenang nantinya akan langsung dibimbing untuk menjadi bagian dari AdlerTech Industries.”

Ethan menyandarkan diri ke kursi, jari-jarinya mengetuk meja pelan.

“Selain ajang desain mobil, apa saja yang akan ada di sana?” tanyanya tanpa ekspresi.

“Katanya akan ada presentasi konsep kendaraan, blueprint, dan sketsa orisinal dari siswa. Tahun ini pesertanya cukup banyak.”

Ethan tidak menjawab.

Ada jeda panjang.

Panjang—dan penuh sesuatu yang Rowan sulit tebak.

Rowan melanjutkan hati-hati, “Pihak sekolah sudah menyiapkan panggung khusus untuk Bapak. Bapak… akan menjadi juri utama.”

Ethan menoleh pelan ke arah jendela kaca.

Ada kilatan aneh di matanya.

Seperti insting predator yang sedang mengejar sesuatu yang hampir ia tangkap.

“…Desain mobil,” gumam Ethan rendah.

Rowan menelan ludah. “Betul, Pak. Kenapa?”

Ethan tidak menjawab langsung.

Ia teringat laporan tentang Aiden.

Tentang rumor Aiden sering menggambar desain kendaraan.

Tentang keberanian, ketegasan, dan cara bicara Aiden yang sangat… familiar.

“Besok aku datang,” kata Ethan akhirnya, suaranya dalam dan tegas.

Rowan mengangguk. “Baik, Pak. Saya akan informasikan ke pihak sekolah.”

Ethan berdiri dari kursinya, membenarkan jasnya.

“Siapkan semua data peserta lomba. Nama, kelas, latar belakang.”

Rowan mengerjap. “Data lengkap, Pak?”

“Hm.”

Tatapan Ethan dingin, nyaris berbahaya.

“Tidak boleh ada satu detail pun terlewat.”

Rowan patuh. “Baik, Pak Ethan.”

Saat Rowan keluar, Ethan masih berdiri menghadap jendela, kedua tangannya terlipat di belakang punggung.

“…Aiden.”

Ia menyebut nama itu pelan, seolah sedang mencicipi sesuatu yang sudah lama hilang.

Jika dugaannya benar—

Jika anak itu benar-benar…

Ethan menghela napas panjang, menahan badai yang berputar di dadanya.

Besok, ia harap akan menemukan jawabannya sendiri.

...----------------...

Malam itu, langit gelap tanpa bintang. Lampu-lampu neon dari area balap liar memantul di genangan air di aspal. Suara knalpot, teriakan penonton, dan dentuman bass dari musik jalanan memenuhi udara.

Sebuah mobil hitam mahal berhenti di tempat agak gelap. Rowan di kursi kemudi, Ethan di kursi penumpang—duduk dengan aura gelap, tajam, dan penuh kendali.

Ethan terlihat tenang, tetapi jari-jarinya yang mengetuk lengan kursi memperlihatkan gelombang emosi yang ia tahan.

“Kau yakin Aiden di sini?” Suara Ethan rendah, dingin, nyaris mengancam siapa pun yang berani menjawab salah.

Rowan menelan ludah sebelum bicara. “Menurut hasil penyelidikan begitu, Pak.” Ia melirik layar ponsel yang menampilkan foto-foto hasil pengintaian. “Aiden akan ikut balapan malam ini. Dan…” Rowan ragu sejenak. “Dia ternyata ketua geng motor Reign.”

Ethan menoleh pelan, ekspresinya tak terbaca—antara terkejut, marah, dan bangga.

Tak lama kemudian, gemuruh sorak-sorai membelah udara.

Semua orang menyingkir memberi jalan ketika sekelompok motor masuk. Lampu mereka menyorot tajam. Dan di tengah-tengah rombongan itu, seseorang menurunkan helm full-face hitamnya.

Aiden.

Remaja itu berjalan santai, percaya diri, tidak takut siapa pun. Aura pemimpin terpancar jelas.

Ethan terpaku.

Ia seperti melihat dirinya sendiri di usia 17 tahun. Tatapan tajam, rahang tegas, postur tegap, cara berjalan yang penuh dominasi. Semua—tanpa kecuali—terlalu mirip dirinya.

Rowan sampai ikut menahan napas.

Ia melirik Ethan sekilas, lalu berbisik pelan, “Aiden… sangat mirip Bapak. Bahkan tanpa tes DNA pun… saya yakin Aiden adalah anak Bapak.”

Ethan mengepalkan tangan di pahanya. Tatapannya tidak lepas dari sosok Aiden yang sedang memeriksa motornya.

Ada sesuatu bergetar di dalam dirinya—amarah, bangga, takut kehilangan, dan rasa memiliki yang brutal.

“…Dia dibesarkan seperti ini?” gumam Ethan, nyaris tak terdengar.

Suaranya rendah dan penuh kekesalan. “Tanpa aku?”

Rowan diam. Ia tahu, ini bukan saat yang tepat bercanda.

Ethan bersandar ke kursinya, matanya kembali mengunci pada Aiden.

“Aku ingin tahu segala hal tentang dia. Semuanya.”

Nada Ethan berubah menjadi gelap, dingin, penuh keputusan mutlak.

“Siapa temannya, jadwalnya, prestasinya, kebiasaannya… dan apa saja yang Keira sembunyikan tentang dia.”

Rowan mengangguk cepat. “Baik, Pak.”

Ethan memandangi Aiden yang sedang bersiap untuk balapan, wajahnya mengeras namun matanya… penuh sesuatu yang tak pernah ia biarkan orang lihat—keinginan.

“Jika dia benar-benar anakku…”

Suaranya turun satu oktaf, lebIh dalam, lebih berbahaya.

Rowan menahan napas.

Ethan melanjutkan—perlahan, penuh tekad yang tak bisa digoyahkan siapa pun.

“…maka aku akan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku.”

Tatapannya tajam, tak teralihkan dari Aiden.

“Anaknya… dan ibunya. Keduanya.”

Jeda singkat.

Ujung bibir Ethan menegang, seakan menahan emosi yang meledak-ledak.

“Keira… dan Aiden. Aku ingin mereka berdua. Dan aku akan mendapatkannya.”

...****************...

1
Pa Muhsid
membaca karyamu tor seperti karya yang udah level diamond
tutur bahasanya rapi halus tegas jarang tipo atau mungkin belum ada
semangat tor 💪💪💪
Yudi Chandra: huhuhu....makasi atas pujiannya.🙏🙏🙏😍😍😍
semoga selalu suka sama ceritanya.
kalo ada kritik dan saran bilang aja ya. biar cerita ini semakin berkembang dam banyak yang baca🤭🤭🤭🤭
salam kenal sebelumnya....
total 1 replies
Bu Dewi
seruu, lanjut kak
Yudi Chandra: okeeee👍👍👍👍
total 1 replies
Rohana Omar
1 bab lg la thorr
Yudi Chandra: besok yaaaa🤭🤭🤭🤭🤭🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Rohana Omar
buat la 2 bab 1 ari thorr
Yudi Chandra: hihihi🤭🤭🤭🤭 iya. diusahain💪💪💪
total 1 replies
Rohana Omar
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣bawa panci tu buat aq tergelak.....
Yudi Chandra: sama...🤭🤭🤭 namanya juga biar pinter🤣🤣🤣
total 5 replies
Pa Muhsid
anak anak anak 👨‍👩‍👧
Yudi Chandra: hahaha....anaknya siapa?🤣🤣🤣
total 1 replies
Pa Muhsid
anak lo
Yudi Chandra: hihihi....kan ethan nggak tau🤭🤭🤭
total 1 replies
Bu Dewi
lanjut kak,, hehehhehe
Yudi Chandra: pasti sayang. jangan lupa kasih bintang ya🤭🤭🤭.
biar semangat buat nulis lagi.😄
total 1 replies
Bu Dewi
lanjut kak
Yudi Chandra: pasti. jangan lupa kasih bintang 5 ya. 😁😁😁😁
total 1 replies
Akira Akira
lanjutttt
Akira Akira
lanjuttttttt
Felipa Bravo
Keren banget nih cerita, semangat terus author!
Yudi Chandra: huhuhu....makaciiiiiih😍😍😍
ini novel pertamaku di sini. biasanya di aplikasi oyen.

kasih kritik dan saran ya... biar aku makin semangat. terima kasih😍😍😍🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!