Niat hati ingin menghilangkan semua masalah dengan masuk ke gemerlap dunia malam, Azka Elza Argantara justru terjebak di dalam masalah yang semakin bertambah rumit dan membingungkan.
Kehilangan kesadaran membuat dirinya harus terbangun di atas ranjang yang sama dengan dosen favoritnya, Aira Velisha Mahadewi
Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua? Apakah hubungan mereka akan berubah akibat itu semua? Dan apakah mereka akan semakin bertambah dekat atau justru semakin jauh pada nantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musoka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
“Shit … gara-gara kepikiran sama ibu Aira terus … aku sampai lupa kalau Pixel lagi nungguin aku di rumah. Aku sekarang masih belum bisa pulang karena takut ibu Aira kenapa-napa … kayaknya aku bakal minta bantuan Rhea buat ngurus Pixel sementara waktu.”
Azka menggigit bibir bawahnya cukup kencang saat mengingat tentang hewan peliharaannya yang sedang menunggunya untuk pulang ke rumah sejak kemarin. Ia sesegera mungkin mengambil handphone dari dalam saku celana, lantas membuka kolom chat bersama Rhea sebelum menggerakkan kedua ibu jarinya untuk mengetikkan sesuatu pada keypad handphone.
Azka:
“Rhe … sorry ganggu waktu lu. Tapi gue bisa minta tolong nggak? Tolong ambil Pixel di apartemen dan rawat dia buat beberapa hari ke depan.”
“Soalnya gue nggak bisa ke apartemen sekarang dan kemungkinan besar untuk beberapa hari ke depan nggak bakalan bisa jagain Pixel.”
“Gue takut dia kenapa-napa.”
Setelah chat itu terkirim, tanpa perlu menunggu waktu lama, Rhea sesegera mungkin memberikan jawaban.
Rhea:
“Udah gue ambil kemarin malam.”
“Firasat gue nggak enak … ternyata benar Pixel lu tinggal sendirian di apartemen.”
“Dia kelaparan banget. Ya udah, kalau lu nitipin dia ke gue … gue bakal jagain dia.”
“Tapi, Az … lu serius nggak mau cerita? Gue yakin lu lagi nyembunyiin sesuatu, kan? Sampai hampir nelantarin Pixel gitu aja.”
“Kalau lu mau cerita … gue selalu ada buat lu.”
Azka sontak terdiam seribu bahasa saat membaca balasan yang telah diberikan oleh Rhea. Ia ingin kembali mengirimkan respons, tetapi sesegera mungkin mengurungkan niat—hanya sebuah emoticon terima kasih yang terkirim—sebelum pada akhirnya dirinya mematikan handphone dan menaruh kembali benda pipih itu ke tempat semula.
“Maafin gue, ya, Pixel … untuk sementara … lu tinggal bareng Rhea sama Snow … Gue janji … setelah semuanya jadi lebih baik, gue bakalan jemput lu lagi,” batin Azka, mengepalkan kedua tangan sempurna, sebelum pada akhirnya mengalihkan pandangan ke arah depan—menatap wajah cantik milik Aira yang sedang terlelap di dalam alam mimpi.
Senyuman tipis penuh kebahagiaan secara perlahan-lahan mulai terukir di wajah tampan Azka, menghilangkan segala rasa bersalah serta kekhawatiran tentang keadaan Pixel yang beberapa waktu lalu terus-menerus menyerang pikirannya secara membabi-buta.
Azka menoleh ke arah perut ramping milik Aira—perut berisikan buah hati mereka berdua yang sedang berkembang dengan sangat baik—lantas secara perlahan-lahan mulai menggerakkan tangan untuk menyentuhnya. Namun, itu tidak berlangsung lama, karena gerakan Azka seketika terhenti di udara saat tiba-tiba saja dirinya kembali mengingat perkataan Aira dua hari lalu.
“Maaf, ya, Sayang … Papa nggak bisa sentuh dan elus kamu … tapi Papa nggak akan ninggalin kamu dan mama … Papa akan jagain kalian berdua sampai kapan pun,” gumam Azka dengan suara begitu sangat lirih, sambil kembali menurunkan tangan kanannya.
Azka menurunkan tangannya secara perlahan, membiarkan jarak tipis itu tetap ada sebagai bentuk menghormati batas yang Aira buat. Napasnya terdengar berat—bukan karena lelah, tetapi karena terlalu banyak rasa yang berputar di dadanya. Ia menatap lama perut Aira, seolah sedang berbicara kepada kehidupan kecil yang belum bisa ia lihat, tetapi sudah sangat ia cintai.
“Papa tunggu, ya … sampai Mama mau nerima Papa lagi,” lanjut Azka, nyaris tidak terdengar.
Azka kemudian menyandarkan tubuhnya kembali pada kursi, mencoba mengatur napas sembari menatap raut wajah Aira yang damai. Namun, sesekali perempuan itu mengernyit kecil, seperti masih sedikit gelisah dalam tidurnya.
Gerakan kecil itu membuat Azka kembali menegakkan tubuhnya, refleks ingin memegang tangan Aira—ingin menenangkan—tetapi ia menahan diri lagi, menarik tangannya ke pangkuan. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan keinginan paling sederhana: menyentuh perempuan yang sedang mengandung darah dagingnya sendiri. Hal kecil, tetapi terasa mustahil.
Hening kembali menyelimuti ruangan. Lampu redup membuat atmosfer terasa hangat namun penuh luka. Azka mengembuskan napas panjang, mencoba mengusir rasa sesak yang terus menghimpit.
Sampai pada akhirnya—Aira bergerak kecil. Sangat pelan. Kedua alisnya sedikit mengendur. Dan tangan kanannya, yang sedari tadi berada di atas perut, merosot turun ke samping tubuhnya.
Gerakan itu tanpa sadar membuat Aira tampak lebih rapuh daripada biasanya.
Azka mematung beberapa saat, lalu dengan sangat perlahan, sangat hati-hati, ia menggeser kursinya mendekat hanya beberapa sentimeter. Ia memastikan jarak tetap ada agar Aira tidak merasa dilanggar, tetapi cukup dekat untuk mengawasi.
“Bu …,” panggil Azka dengan begitu sangat pelan, “Kalau tangan Ibu jatuh kayak gitu … nanti pegal.”
Tidak ada respons dari Aira, tetapi Azka tahu dosennya itu tidak benar-benar tidur terlalu dalam—keadaan hamil dan kelelahan membuat tidurnya sering tidak stabil. Ia meraih selimut tebal milik Aira dan menariknya sedikit ke atas, memastikan perempuan itu tetap hangat.
Gerakan kecil itu membuat Aira bergumam lirih.
Azka sontak terdiam saat mendengar hal itu, dengan sorot matanya berubah menjadi begitu sangat lembut.
“Saya … dingin …,” gumam Aira, nyaris hanya desahan.
Azka menahan napas, lalu mulai membuka suara dengan suara paling lembut yang dirinya miliki. “Aku di sini, Bu. Aku nyalain penghangat udara, ya?”
Setelah mengatakan hal itu, Azka segera bangun dari atas tempat duduk, menyalakan heater kecil yang berada di dinding sebelah kiri. Setelah memastikan suhu pas, ia kembali duduk perlahan.
Aira kembali bergumam, kali ini terdengar sedikit gelisah. “Jangan pergi ….”
Kata-kata itu menusuk langsung ke hati Azka—tajam, tetapi di saat yang sama memberi kehangatan yang tidak bisa ia jelaskan.
“Nggak akan pergi, Bu,” jawab Azka dengan suara bergetar, “Aku janji.”
Beberapa detik berlalu, dan untuk pertama kalinya, tangan Aira yang sebelumnya terjatuh di samping tubuhnya bergerak. Jari-jemarinya yang ramping nan lentik tanpa sadar merayap pelan ke arah pinggir ranjang—ke arah tempat duduk Azka.
Azka menahan napas saat melihat gerakan itu. Jarak tangan Aira dengan lututnya hanya tinggal beberapa sentimeter. Sangat dekat—terlalu dekat untuk seorang perempuan yang melarangnya menyentuh.
“Ibu Aira …,” gumam Azka, tidak yakin apakah ia harus menjauh atau tetap diam di tempat semula.
Akan tetapi, sebelum Azka sempat mengambil keputusan, jari Aira bergerak lagi—kali ini lebih jelas—meraih ujung selimut dan menggenggamnya kuat, seolah mencari sesuatu untuk mencengkeram demi rasa aman.
Azka menatap tangan itu lama, dan entah keberanian dari mana muncul, ia menundukkan kepala, mendekatkan wajahnya sedikit ke arah sisi ranjang.
“Ibu … kalau Ibu takut … bilang aja,” bisik Azka, “Aku bakalan tetap di sini.”
Hening beberapa detik, lalu secara perlahan-lahan Aira mulai membuka suara tanpa membuka mata sedikit pun.
“Jangan tinggalin saya ….”
Azka sontak menutup mata sangat rapat, sebelum kembali membuka suara untuk memberikan jawaban. “Nggak akan. Sampai Ibu bilang pergi … aku tetap ada di sini.
Cowok itu menggenggam lututnya, menahan diri agar tidak menyentuh perempuan itu—meski seluruh tubuhnya menjerit ingin memeluknya.
Dan di antara hening yang mulai kembali turun, Azka bersandar di kursi, menjaga Aira dengan mata yang tidak ingin berkedip sedikit pun.
Untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan itu terjadi, Aira tertidur tanpa merintih. Dan Azka menjaganya tanpa menyentuh dengan cinta yang masih cowok itu simpan, meski di depan mereka masih ada dunia yang harus diperbaiki.
Aira , terima dong biar belum cinta usaha jalani sama-sama . cinta akan datang seiring waktu