ini adalah cerita tentang seorang anak laki-laki yang mencari jawaban atas keberadaannya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Malam itu, aku dan Luna berdiri di depan sebuah rumah sakit tua yang telah lama ditinggalkan. Bangunannya menjulang gelap, dinding luarnya dipenuhi retakan dan lumut hitam. Jendela-jendela pecah menganga seperti rongga mata kosong, sementara angin malam menyelinap masuk membawa bau lembab yang menusuk hidung.
“Ini,” ucap Luna sambil menyodorkan sebuah cincin berwarna perak kepadaku.
Aku menerimanya dan menatapnya sekilas. Desainnya sederhana, tanpa ukiran berlebihan.
“Apa ini cincin jadian?” tanyaku setengah bercanda.
Luna menatapku datar.
“Bukan,” jawabnya singkat, lalu melanjutkan dengan nada serius. “Cincin itu menyimpan berbagai senjata dan benda terkutuk. Cukup teteskan darahmu, maka kau akan terhubung dengannya. Kau bisa mengetahui isinya… dan mengeluarkannya sesuka hati.”
“Wah,” gumamku pelan.
Tanpa ragu, aku menggigit ibu jariku hingga darah merembes tipis, lalu meneteskannya ke permukaan cincin itu. Cairan merah itu tidak menetes—melainkan terserap, lenyap seolah ditelan logam perak tersebut.
Begitu cincin itu kupasang, sensasi asing menjalar dari ujung jariku. Dingin, lalu hangat. Seperti benang-benang halus yang tak terlihat, merambat pelan ke telapak tangan, pergelangan, lalu menyusup ke seluruh tubuhku.
Kesadaranku tersentak.
Bukan sakit—melainkan rasa terhubung. Seolah ada ruang lain yang terbuka di balik pikiranku.
Dalam sekejap, pikiranku dipenuhi gambaran.
Senjata.
Benda terkutuk.
Fragmen-fragmen yang terasa asing, namun entah kenapa… akrab.
“Luar biasa,” gumamku, menjelajahi isi cincin itu di dalam benakku.
“Hm?” Luna mendekat sedikit. “Kau sudah bisa merasakannya?”
Aku mengangguk. “Ada banyak benda di dalam sini… oh?”
Aku terhenti sejenak. “Lensa kontak?”
“Itu salah satu isinya,” jelas Luna. “Jika kau memakainya, kau bisa melihat energi kutukan.”
Aku menatapnya dengan mata berbinar. “Serius? Kalau begitu akan kucoba.”
Aku membayangkan lensa itu keluar. Seketika, sebuah kotak kecil berbentuk bulat muncul di telapak tanganku.
Luna membeku.
“... Kau bisa mengeluarkannya tanpa aku menjelaskan caranya?” tanyanya pelan, jelas terkejut.
“Begitulah,” jawabku santai. Lalu aku berbalik dan berjalan menjauh.
“Mau ke mana?” tanya Luna.
“Memasang lensa kontak ini.”
Luna hanya menatap punggungku yang menghilang di balik sudut bangunan.
“Padahal bisa di sini…” gumamnya bingung.
Beberapa menit kemudian, aku kembali menghampirinya.
“Maaf menunggu—” ucapanku terhenti.
Pandangan dunia telah berubah.
Di sekeliling Luna, samar-samar terlihat aliran energi gelap yang beriak pelan, tipis namun jelas. Bangunan rumah sakit itu sendiri dipenuhi noda energi kutukan yang menggantung seperti kabut tak kasatmata.
“Jadi ini…” gumamku pelan. “Energi kutukan.”
Aku mengerutkan kening. “Tapi bagaimana caranya membedakan tingkatannya?”
Luna tersenyum kecil, lalu melangkah masuk ke dalam rumah sakit tua itu.
“Kau akan mengetahuinya seiring waktu.”
Aku mendecak pelan, sedikit kesal, lalu mengikutinya. Tak lama kemudian, Luna memasang pemisah ruang. Dunia luar lenyap, digantikan lorong rumah sakit yang sunyi.
“Kita punya waktu satu minggu sebelum seleksi,” ujar Luna sambil berjalan. “Dalam waktu itu, kau harus terbiasa melawan kutukan.”
Langkah kaki kami bergema di lorong panjang.
Tak lama kemudian, sesuatu muncul dari balik tikungan.
Seorang wanita berseragam suster.
Tubuhnya dipenuhi darah.
Wajahnya rusak, kulitnya terkelupas, matanya kosong.
Ia menggeram rendah—mirip mayat hidup.
Luna melirik ke arahku.
“Kau tampak sangat tenang.”
“Benarkah?” tanyaku ringan, sembari melangkah maju beberapa langkah.
Kutukan itu bergerak tertatih, tubuhnya bergoyang tak stabil—
lalu mendadak berubah.
TAP—TAP—TAP!
Langkahnya menghantam lantai.
Dalam sekejap, ia berlari, menendang permukaan tanah dan menerkamku dengan kecepatan yang tak wajar.
Aku tidak bergerak.
Saat tubuhnya melompat—
WUUUSH—
Aku memutar tubuh ke samping dengan satu langkah kecil. Dari tangan kananku, sebuah pedang bermata tunggal muncul seolah sudah menunggu di sana—bilahnya melengkung halus, ujungnya runcing, panjangnya kira-kira tujuh puluh sentimeter. Cahaya redup memantul di permukaannya.
Satu ayunan ke atas.
SHRAAK—!
Gerakannya singkat.
Bersih.
Leher kutukan itu terpotong dalam satu tebasan. Cairan hijau memercik ke udara.
PLAK—!
Tubuhnya terhempas ke lantai, sementara kepalanya—
GROLL… GROLL…
—bergelinding beberapa putaran sebelum berhenti.
Aku menurunkan pedang dan mengibaskannya ke bawah.
SHFF—
Sisa cairan terlempar, membentuk lengkungan tipis di lantai—seperti jejak bulan sabit yang cepat menghilang.
Tubuh kutukan itu bergetar sesaat.
SSSSS—
Lalu perlahan luruh, berubah menjadi kabut hitam yang memudar di udara.
Hening.
Luna berdiri terpaku. Mulutnya sedikit terbuka, matanya membelalak.
Gerakannya halus… potongannya rapi. Seperti seseorang yang telah melakukan ini selama bertahun-tahun, pikirnya.
“Ada apa?” tanyaku.
“Kau… pernah belajar ilmu pedang?” tanyanya pelan.
Aku mengangkat bahu. “Sejak kecil. Bela diri, senjata… macam-macam.”
Aku tersenyum miring. “Mungkin karena aku tidak punya teman. Jadi aku melatih diri saja.”
Luna terdiam.
“Ayo lanjut,” ujarku ringan, lalu berjalan lagi.
“A-ah… iya,” balas Luna, buru-buru mengikutiku.
Satu jam berlalu. Kami keluar dari rumah sakit itu. Selama itu, hanya beberapa kutukan tingkat rendah yang muncul—dan semuanya berakhir dengan cepat.
“Kau menanganinya dengan sangat mudah,” ujar Luna dengan senyum cerah. “Seleksi ini pasti berjalan lancar.”
“Seperti apa seleksinya?” tanyaku.
“Biasanya, orang biasa diuji dengan melawan kutukan tingkat sepuluh. Seperti tadi.”
Aku menyeringai tipis.
“Kalau begitu… itu akan sangat mudah.”
Kami pun melangkah menuju lokasi berikutnya, di bawah langit malam yang sunyi.