NovelToon NovelToon
Dear, Husband

Dear, Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Nikahmuda / Nikah Kontrak / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Poporing

Gimana jadinya kalau kau harus menikah dengan muridmu sendiri secara rahasia?? Arghhh, tidak ini gak mungkin! Aku hamil! Pupus sudah harapanku, aku terjebak! Tapi kalau dipikir-pikir, dia manis juga dan sangat bertanggung-jawab. Eh? Apa aku mulai suka padanya??!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7 : Pernjanjian kontrak!

Esoknya Rio berangkat ke sekolah seperti biasanya. Ia berusaha untuk tidak menjadikan semua itu beban. Selama masih bisa ia jalani, maka akan ia ikuti alurnya. Tidak ada yang perlu disesalkan.

Jadi pagi-pagi sekali ia sudah sampai ke sekolah, memarkir motornya dan berjalan menuju kelas.

Pagi itu masih sepi. Wajar sih, soalnya dia datang satu jam lebih awal dari biasanya. Kenapa dia bisa datang sepagi ini? Karena semalaman dia gak bisa tidur. Bagaimana tidak, minggu depan dia dituntut untuk menikah dengan gurunya, atau lebih tepat kepala sekolahnya sendiri aka Marisa Karisma. Plus setelahnya dia harus tinggal satu apartemen dengannya.

Saat ia hendak membuka pintu kelas yang masih tertutup rapat, tiba-tiba saja orang yang tadi ia pikirkan muncul.

"Rio, ikut aku sebentar!"

Seperti biasanya, ia hanya mengikuti Risa yang hobi menariknya kemana-mana belakangan ini. Yah, kayaknya dia mulai terbiasa diseret-seret kayak gini deh. Dia bahkan enggak sempat bertanya apa-apa, tapi wanita itu sudah membawanya ke area parkir dan menyuruhnya untuk masuk ke mobilnya lagi.

"Cepat masuk, jangan bengong!" Ucap Risa dengan nada tidak sabar.

"Bu, tapi sebentar lagi jam pelajaran akan dimulai, saya enggak mau bolos." Rio berusaha mengelak untuk tidak pergi.

"Kamu mau ikuti aku atau nama kamu dihapus dari daftar penerima beasiswa?" Ancam Risa.

"Wah, kok gitu sih? Beraninya ngancem!" Rio mencibir.

"Mau ikut tidak?" Risa melotot tajam.

"Argh, iya deh!" Rio tak punya pilihan. Dengan berat hati ia pun membuka pintu mobil dan masuk. Terserahlah mau kemana juga, dia pasrah saja.

...****************...

Mereka tiba di depan sebuah gedung yang cukup bagus, terlihat sangat modern dan berkelas. Di bagian halamannya ada sebuah tiang penegas yang bertuliskan "Kantor Notaris Kevin Hutama."

"Kantor Notaris? Untuk apa kita kemari?" Rio menelan ludah. Firasatnya menjadi buruk.

"Masuk saja, nanti kamu juga tahu." Risa tanpa banyak bicara langsung berjalan masuk menuju gedung tersebut duluan.

Rio yang melihat wanita itu sudah bergegas pergi meninggalkannya langsung berlari dan mengikutinya.

...****************...

Hawa dingin langsung menyergap ketika pintu otomatis dari gedung tersebut terbuka. Adem, sejuk dan wangi. Ini pasti kantor mahal dan khusus orang elit dalam pikiran Rio yang berjalan sambil melihat-lihat ke beberapa ruangan yang ada di kiri dan kanannya, terlihat bersih, rapih, dan tertata baik.

"Ayo," ucap Risa saat berada di suatu ruangan yang pintunya sudah terbuka.

Rio melongok sedikit ke dalam ruangan tersebut dan melihat ada seorang laki-laki yang tidak terlalu tua sedang duduk di sana sambil membuka-buka buku (kemungkinan berkas dan dokumen penting).

"Pak Kevin Hutama?" Tanya Risa untuk memastikan.

"Nona Marisa?" Pria itu segera berdiri dan menyambut.

"Iya, saya yang kemarin menghubungi anda," jawab Marisa sambil tersenyum cerah.

"Oh, mari silahkan duduk!" Pria itu segera mempersilahkan Marisa untuk duduk dengan gestur tangan.

"Lalu yang di sebelah anda...?" Tatapan pria itu kini beralih kepada Rio.

"Saya...." Rio baru saja mau menjawab, tapi....

"Ah, dia Mario, saya sudah menceritakannya kepada anda, bukan...." Risa sudah menyela.

"Masih muda ya, dia masih sekolah?" Pria itu memperhatikan Rio dari ujung kepala hingga kaki.

"Ya, justru karena itu," balas Risa menghembuskan nafasnya kasar.

"Duduklah Rio." Pria itu meminta Rio untuk duduk dikursi sebelah Risa.

Rio hanya mengangguk dan duduk dengan wajah bingung.

"Bu, sebenarnya kita mau apa di sini?" Tanya Rio setengah berbisik.

"Apa kita sudah bisa memulainya sekarang?" Sang notaris memberikan dua buah dokumen kepada Risa, juga Rio.

"Silahkan dibaca dulu sebelum tanda-tangan, kalau ada yang tidak dimengerti silahkan tanya," ucapnya menjelaskan.

Rio membuka lembar demi lembar dari isi dokumen tersebut yang membuatnya merasa geram.

"Apa maksud dari semua ini?!" Ia memalingkan wajahnya ke arah Risa dan bertanya dengan nada tinggi.

Risa tersentak saat ditegur seperti itu oleh Rio. Tubuhnya menegang dan melihat Rio dengan tatapan terkejut.

"Itu adalah surat perjanjian...," ucapnya dengan suara pelan.

"Kau berniat untuk langsung meninggalkan anakmu ketika lahir?" Pandangan mata pemuda itu seakan mampu menusuk.

"Sejak awal aku tidak menginginkan anak ini! Semua terjadi di luar kendali!" Risa setengah berteriak frustasi. Ya, dia sama sekali gak pernah berpikir kalau dirinya bakal hamil, padahal Dion sudah janji akan kembali dari luar negeri untuk menikahinya tahun ini.

"Kau pikir aku juga mau? Ingat hal ini terjadi bukan karena aku, tapi--"

"Cukup!"

Risa menghempaskan surat perjanjian ditangannya ke atas meja.

"Aku tau aku yang memulainya, tapi sungguh, aku tidak bisa kalau harus memiliki anak ini! Kita tidak pernah saling mencintai 'kan, Rio? Aku punya impian lain, tolong jangan hancurkan impianku...." Risa menatap Rio dengan wajah putus-asa.

Rio masih terdiam. Ia tak habis pikir, ada wanita yang tega mau langsung membuang anaknya ketika lahir. Dia tahu anak itu mungkin tidak diinginkan, dan dia sendiri juga gak pernah memikirkan itu akan terjadi, tapi, membayangkan bayi kecil yang gak berdosa harus ditelantarkan sendirian oleh orangtuanya sendiri, bukankah itu tak adil dan terlalu kejam?

"Kalau kau tidak bersedia membawa anak ini, tidak apa, aku punya opsi lain," ucap Risa yang langsung duduk kembali dan mengalihkan pandangan ke samping.

"Jangan bilang kau berpikiran untuk...." Ekspresi Rio berubah tegang. Rahangnya mengeras. Dia tahu apa yang kemungkinan sedang dipikirkan oleh wanita di sebelahnya.

"Aku akan tanda-tangan dan setuju dengan semua persyaratan mu!" Pemuda itu dengan gusar mengambil dokumen tersebut dan tanpa pikir panjang langsung memberi tanda-tangan.

"Sudah puas?" Ucapnya seraya melirik ke arah Risa yang juga ikut tanda-tangan.

"Aku akan mengganti semua kerugianmu setelah semua ini selesai dan akan membantu membiayai anak itu," ucap Risa yang mulai merasa bersalah.

"Aku tidak butuh uangmu, tapi anak itu, dan kau jangan menyesal, setelah anak itu bersamaku, akan kubawa dia pergi dan kau tidak akan bisa menemukan dia di mana pun." Ucapan pemuda itu begitu dingin dan tajam. Tapi saat itu Risa tidak memikirkan apapun soal anak itu.

Rio memberikan dokumen yang sudah dia tanda-tangani kepada sang notaris, begitu pun Risa.

Ia kembali mengecek isi surat tersebut untuk memastikan semuanya lengkap.

"Apa tidak ada yang perlu ditambahkan?" Tanyanya kepada kedua-belah pihak.

"Tolong tambahkan poin, kalau pihak pertama berani macam-macam dengan pihak kedua, dia harus kena denda atau hukuman," jawab Rio.

"Apa? Aku macam-macam? Untuk apa? Justru kau yang harus diwaspadai karena kau pihak laki-laki!" Risa tidak terima. Siapa juga yang bakal berbuat aneh-aneh, dia sama sekali enggak tertarik.

"Tapi kejadian itu karena kau duluan yang macam-macam," sambar Rio tepat sasaran dan Risa langsung diam.

"Jadi, apa poin itu perlu ditambahkan...?" Si notaris jadi merasa canggung sendiri.

"Tentu saja!" Rio mendengus.

"Tambahkan saja biar dia puas," ucap Risa terkesan gak peduli. Dia capek dan pengen masalahnya cepat selesai.

"Baik akan saya tambahkan." Notaris itu mengangguk cepat. "Setelah semua selesai saya akan memberi copy-an dari dokumen ini kepada kalian berdua, yah mungkin dua hari kerja karena ada revisi," ucapnya menjelaskan.

"Baik, kalau begitu saya tunggu kabar baiknya." Risa langsung menjabat tangan dengan notaris itu.

Tapi Rio sudah bergegas keluar duluan tanpa mau menunggu, membuat Risa terpaksa harus buru-buru keluar menghampirinya.

"Rio, tunggu!" Ia memanggil nama pemuda itu dari kejauhan dan berusaha berlari dengan sepatu hak tingginya.

Rio tidak membalas, tapi ia berhenti dan memutar tubuhnya ke samping, melihat ke arah Risa yang tampaknya kesulitan berlari di atas sepatu tinggi itu.

"Sialan, kenapa dia jalan buru-buru, sih? Mana ini sepatu tinggi banget!" Risa menggerutu dalam hati, kakinya terasa perih saat dibuat berlari.

Risa nyaris sampai, tapi kakinya tiba-tiba tergelincir ke samping. Awalnya ia berpikir dirinya akan jatuh, tapi Rio dengan cekatan menangkap lengannya dan berkata, "kuharap ini bukan pelanggaran karena aku hanya menolongmu biar gak jatuh tadi."

Risa sedikit salah-tingkah saat merasakan cengkraman pemuda itu di lengannya. Begitu kuat dan hangat. Entah kenapa mendadak dia teringat pada kejadian malam itu yang membuat wajahnya memanas.

"Kenapa gue malah jadi inget genggaman tangan dia pas malam itu? Astaga Risa, sadar!!"

"Lepas!" Risa reflek berusaha menarik lengannya dari cengkraman Rio.

Pemuda itu hanya mendengus kecil melihat sikap wanita yang sebentar lagi bakal resmi jadi istrinya.

"Aku ingin kau jaga rahasia soal perjanjian ini, terutama ke Ibuku, kau paham?"

"Terserah, selama kau tidak mencoret namaku dari daftar beasiswa."

"Oke, deal!"

Begitulah, meski kesal dan tidak puas, perjanjian itu tetap saja terlaksana dan keduanya harus menyembunyikan itu semua dari semua orang termasuk orang terdekat. Apa benar mereka nantinya bisa menjalani pernikahan tanpa ada rasa cinta?

.

.

.

BERSAMBUNG....

1
✨♡vane♡✨
Ingin baca lagi!
Harry
Mantap jiwa!
Zamasu
Memukau dari awal hingga akhir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!