Atas desakan ayahnya, Poppy Yun datang ke Macau untuk membahas pernikahannya dengan Andy Huo. Namun di perjalanan, ia tanpa sengaja menyelamatkan Leon Huo — gangster paling ditakuti sekaligus pemilik kasino terbesar di Macau.
Tanpa menyadari siapa pria itu, Poppy kembali bertemu dengannya saat mengunjungi keluarga tunangannya. Sejak saat itu, Leon bertekad menjadikan Poppy miliknya, meski harus memisahkannya dari Andy.
Namun saat rahasia kelam terungkap, Poppy memilih menjauh dan membenci Leon. Rahasia apa yang mampu memisahkan dua hati yang terikat tanpa sengaja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Kasino.
Cahaya lampu kristal memantul di meja marmer saat Leon duduk membaca dokumen di ruang kerjanya. Wajahnya tenang, namun sorot matanya tajam—seperti biasa, selalu waspada.
“Bos,” suara Vic memecah keheningan. “Kedatangan Tuan Besar sempat ditunda. Dua hari lagi beliau baru akan tiba.”
Leon tidak mengangkat kepala. “Baik. Kedatangannya tidak membawa hal baik,” ujarnya datar. “Ingat, kalau dia mengungkit tentang Poppy Yun, katakan saja gadis itu hanyalah mantan tunangan Andy. Tidak ada hubungan apa pun denganku. Aku hanya merasa bersalah padanya.”
“Baik, Bos,” jawab Vic patuh.
Namun ia ragu sejenak sebelum bertanya, “Apakah Tuan Besar akan menemui Poppy Yun?”
Leon akhirnya mengangkat wajahnya. Tatapannya mengeras.
“Rubah tua itu selama ini berusaha menyingkirkanku. Dia hanya menunggu waktu yang tepat,” katanya dingin. “Dia ingin mencari kelemahanku agar bisa mengalahkanku.”
Vic mengangguk pelan. “Sepertinya Poppy Yun memang kelemahan Bos,” ujarnya hati-hati. “Kalau tidak, kenapa Bos sampai tidak ingin kehadirannya diketahui oleh Tuan Besar?”
Leon tidak langsung menjawab.
Vic kemudian melanjutkan, “ Bos. Tadi pagi saya ke perusahaan. Pengurus Jin mengatakan Mic Yun meminta putrinya dipindahkan kembali ke Hongkong. Alasannya… dia ingin Poppy menikah tahun ini.”
Tangan Leon yang memegang dokumen langsung berhenti.
“Kakakku pasti sudah menghubunginya,” ujar Leon lirih namun dingin.
“Mic Yun dikenal sangat tegas,” lanjut Vic. “Dia tidak pernah memikirkan perasaan anaknya. Bahkan soal pernikahan pun harus dia yang mengatur.”
“Prestasi Poppy cukup baik,” kata Leon akhirnya. “Dia giat dan berpengalaman. Aku tidak punya alasan memindahkannya.”
“Apakah kita menolak permintaan itu?” tanya Vic.
“Iya,” jawab Leon tanpa ragu. “Tegaskan padanya, perusahaan kita bukan tempat datang dan pergi sesuka hati. Poppy hanya akan dipindahkan jika dia melakukan kesalahan. Itu peraturan perusahaan.”
“Baik, Bos,” kata Vic. Lalu, dengan nada menguji, ia bertanya lagi, “Mengenai pernikahan Poppy Yun… apakah kita biarkan saja?”
“Itu urusan pribadinya,” jawab Leon cepat. “Aku tidak bisa ikut campur.”
“Tapi dia adalah karyawan kita,” kata Vic hati-hati. “Dan… Poppy Yun sangat dekat dengan Anda.”
“Abaikan masalah itu,” potong Leon tegas. “Dua hari ke depan fokus pada bisnis kita. Ketika rubah tua itu datang, jangan beri dia sedikit pun kesempatan untuk menusuk kita.”
Nada suara Leon dingin, penuh peringatan.
Vic menunduk hormat.
“Baik, Bos.”
Di balik ketenangan Leon, tersimpan satu hal yang tak bisa ia akui—bahwa nama Poppy Yun memang telah menjadi titik rawan yang paling berbahaya dalam hidupnya.
“Bos! Bos! Masalah besar!” seru salah satu anak buah Leon sambil berlari masuk ke ruangan. Wajahnya pucat, napasnya terengah.
Vic langsung berdiri. “Apa yang terjadi?”
“Ada laporan anonim,” jawab anak buah itu cepat, suaranya gemetar. “Kasino kita dituduh menyembunyikan narkotika. Polisi sudah dalam perjalanan ke sini.”
Suasana ruangan seketika berubah mencekam.
Leon menutup dokumen di tangannya perlahan. Ekspresinya tetap tenang, namun sorot matanya mengeras—tajam dan berbahaya.
“Periksa semua rekaman CCTV,” perintah Leon dengan suara rendah namun tegas. “Geledah seluruh area—tanpa kecuali. Perhatikan setiap orang yang keluar-masuk. Kalau ada yang mencurigakan, tahan dia.”
“Baik, Bos!” Anak buah itu segera berbalik dan berlari keluar, langkahnya tergesa-gesa.
Vic menelan ludah. “Bos, kalau sampai mata-mata Andrew Fu terlibat dan benar-benar ada barang itu di sini… kita akan dalam masalah besar.”
Leon mengepalkan tangannya perlahan. “Kalau polisi menemukan narkotika di kasinoku,” katanya dingin, “seluruh bisnisku akan diblokir oleh pemerintah.”
Ia berdiri, menatap lampu kasino yang masih berkilau di luar ruangan—terlalu terang untuk sebuah badai yang sedang mendekat.
“Ini bukan kebetulan,” lanjut Leon pelan. “Seseorang sengaja menanam bom dan ingin melihat kita hancur.”
Vic mengangguk, wajahnya tegang.
“Dan waktunya terlalu tepat… Tuan Besar akan datang dua hari lagi. Kalau sampai beliau tahu kejadian ini, sama saja dia punya alasan menyingkirkan anda," kata Vic.
"Yang ingin menjatuhkanku terlalu banyak pihak, kalau menemukan pelakunya jangan serahkan ke polisi. Aku akan turun tangan sendiri!" perintah Leon.
"Baik, Bos," jawab Vic.
Di luar ruangan kantor, suasana kasino justru riuh oleh sorak sorai.
Poppy berdiri di depan meja biliar dengan senyum percaya diri. Pakaian sederhana yang dikenakannya kontras dengan gerakannya yang cekatan. Tongkat biliar berputar ringan di jemarinya sebelum ia membungkuk sedikit, membidik bola dengan fokus penuh.
Tok.
Bola putih meluncur mulus, menghantam bola target yang langsung masuk ke lubang. Tepuk tangan spontan pun menggema dari para penonton di sekeliling meja.
“Masuk lagi!”
“Hebat!”
Poppy meluruskan tubuhnya sambil tersenyum puas.
“Mari kita taruhan,” katanya santai namun penuh tantangan. “Kalau ronde ketiga kalian masih kalah dariku, kalian harus menghabiskan satu botol minuman.”
Beberapa pria saling pandang, lalu tertawa kecil.
“Nona, usiamu masih muda, tapi permainannya luar biasa,” ujar salah satu lawannya kagum. “Apa kau juara biliar?”
Poppy menggeleng ringan. “Bukan. Aku hanya suka bermain.”
Ia lalu menambahkan dengan nada santai namun menusuk, “Tapi kalau kau menang, aku akan membayarmu satu juta dolar.”
Sorak kecil kembali terdengar. Taruhan itu jelas menggoda.
Di dalam kantor Leon, suasana sama sekali berbeda.
Vic berdiri di depan layar pemantau, matanya menelusuri setiap sudut kasino dengan cermat. Tiba-tiba, ia berhenti pada satu layar.
“Bos,” katanya cepat, “Poppy Yun ada di sini.”
Leon langsung menoleh. Tatapannya tertuju pada layar yang menampilkan Poppy—tersenyum, bermain biliar, dikelilingi pria-pria asing.
“Kasino bukan tempatnya,” ujar Leon dingin. “Kenapa dia bisa muncul lagi?”
“Bos,” Vic menelan ludah, “kalau polisi datang, semua pengunjung tetap akan dibawa untuk dimintai keterangan.”
Leon berdiri, suaranya tegas tanpa ragu.
“Bawa dia ke tempat yang aman. Sekarang.”
dr pada nanti....itu bom waktu lho.....
semangatt💪💪💪