Dewangga tak menyangka di usianya yang menginjak 42 tahun, dia harus menikahi sahabat putrinya karena kesalahan pahaman. Pernikahan mereka pun harus dirahasiakan dari sang putri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Escendol94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33~~
Sesampainya di hotel bintang lima, jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Lampu kota yang gemerlap menyinari lobi yang megah. Dewangga menyerahkan kunci mobil ke petugas valet, lalu menggenggam tangan Riri erat sambil berjalan masuk. Di resepsionis, ia menyelesaikan check-in dengan cepat dan tenang. Riri berdiri di sisinya, jantungnya berdegup kencang. Ini adalah malam pertama mereka yang sesungguhnya.
Begitu lift membawa mereka ke lantai paling atas, petugas hotel membukakan pintu suite dan menyerahkan kartu kunci sebelum pamit sopan. Dewangga mendorong pintu double-door itu terbuka.
“Selamat datang di rumah sementara kita malam ini, Sayang,” ucapnya lembut.
Riri melangkah masuk dan langsung terkesiap pelan. Mereka pertama kali memasuki ruang tamu yang luas dan elegan. Sofa panjang berbahan kulit krem, meja kopi marmer, televisi layar besar, dan lampu kristal yang menyala temaram menciptakan suasana hangat. Di sudut ruangan ada mini bar yang sudah dilengkapi anggur dan camilan. Jendela kaca dari lantai ke langit-langit memperlihatkan pemandangan kota yang berkelap-kelip.
“Wah… besar sekali, Om,” gumam Riri takjub sambil berjalan pelan.
Dewangga tersenyum melihat reaksi istrinya. Ia meletakkan tas Riri di sofa, lalu menggenggam tangannya lagi. “Ayo, aku ajak kamu keliling dulu.”
Ia membawa Riri ke ruang makan yang terpisah, hanya beberapa langkah dari ruang tamu. Meja makan kayu mahoni untuk enam orang sudah dihiasi vas bunga segar. “Kita bisa sarapan di sini besok pagi,” kata Dewangga sambil mengecup punggung tangan Riri.
Selanjutnya, Dewangga membuka pintu menuju kamar tidur utama. Ruangan ini bahkan lebih megah. Ranjang king-size dengan seprai putih bersih dan kelopak mawar merah yang ditebar rapi mendominasi tengah kamar. Lampu samping ranjang menyala redup, menciptakan suasana intim. Di sisi lain ada walk-in closet dan sofa kecil menghadap jendela.
Dewangga mendekat dari belakang, memeluk pinggang istrinya sambil menyandarkan dagu di bahunya. “Masih gugup?”
Kedua pipinya memerah. “Sedikit…” akui Riri pelan. “Ini semua terlalu mewah.”
Dewangga tertawa kecil, suaranya hangat. “Kamu pantas mendapatkan yang terbaik.” Ia memutar tubuh Riri menghadapnya, lalu menunduk mencium kening istrinya lama. “Kita sudah menikah. Malam ini aku ingin kamu merasa dicintai sepenuhnya.”
Mereka berdiri di tengah kamar tidur, saling memeluk dalam diam yang nyaman.
"Aku pengen ke kamar mandi dulu, Om."
Dewangga mengangguk, lalu melepaskan pelukannya.
Riri berjalan menuju kamar mandi. Ia kembali terkesiap. Kamar mandi itu luas sekali, lantai marmer mengkilap, wastafel ganda, shower rain terpisah, dan yang paling mencolok adalah jacuzzi besar berbentuk oval di dekat jendela dengan pemandangan kota. Lampu di sekeliling jacuzzi menyala lembut berwarna biru-keemasan.
"Mewah banget," gumamnya takjub.
Ia segera membersihkan diri. Meskipun tadi di kosan sudah mandi, tapi Riri ingin membersihkan diri sekali lagi. Ia ingin mempersiapkan sebaik mungkin untuk menyambut malam pertama yang sempat tertunda.
"Percuma aku bawa sabun sama shampo tadi." Riri kembali bergumam. "Wangi banget. Ini pasti mahal," ucapnya saat menggunakan sabun.
Beberapa saat kemudian Riri keluar dengan wajah segar serta rambut setengah basah.
Dewangga yang menatap itu hatinya berdesir hangat. Ia berjalan mendekat, lalu menarik Riri menuju tempat tidur.
"Duduklah, biar aku keringkan rambutmu," ucapnya.
Riri menurut, ia duduk di tepi tempat tidur dengan perasaan gugup. Ia dapat melihat Dewangga yang sedang mengeringkan rambutnya dari cermin yang ada di depan mereka. Diam-diam bibirnya tersenyum dengan wajah merona.
"Sudah," ucap Dewangga. Ia meletakkan hairdryer di atas meja nakas yang ada di samping ranjang.
Riri mendongak, menatap Dewangga dengan senyum manis yang tulus. "Terimakasih, suamiku," ucapnya.
Dewangga menunduk lalu mengecup bibir Riri singkat. Ia kembali menatap wajah cantik istrinya. “Aku minta maaf karena tadi di kosan aku terlalu keras,” bisik Dewangga di telinga Riri. “Aku cuma terlalu rindu dan khawatir. Janji kita itu sangat berarti bagiku.”
Riri menyembunyikan wajah di dada suaminya. “Aku yang salah, Om. Maaf sudah ingkar janji.”
Dewangga mengangkat dagu Riri lembut, lalu mengecup keningnya lama. “Maafmu diterima. Malam ini, kita mulai lagi dengan hati yang baru.”
Ciuman mereka malam itu lembut seperti embun. Bibir Dewangga menyentuh bibir Riri dengan penuh kasih, seolah sedang menyampaikan seluruh kerinduan yang tertahan. Pelukan mereka semakin erat, tangan Dewangga mengusap punggung Riri dengan lembut, seolah ingin menghapus segala keraguan di hati istrinya.
Suasana kamar semakin hangat. Lampu temaram dan aroma mawar yang lembut menyatu dengan napas mereka yang mulai memburu pelan. Dewangga membaringkan Riri di ranjang dengan sangat hati-hati, seolah wanita itu adalah benda paling berharga di dunia. Ia menindihnya perlahan, tubuh mereka saling menempel dalam pelukan yang penuh kelembutan.
Malam itu, Dewangga mencintai Riri dengan cara yang paling manis dan penuh penghormatan. Setiap sentuhan, setiap kecupan, dan setiap hembusan napasnya penuh dengan janji kesetiaan.
Riri menyerahkan dirinya sepenuhnya, merasakan gelombang kehangatan dan kasih sayang yang membungkus tubuh dan jiwanya. Desahan pelan yang keluar dari bibir mereka bagaikan melodi cinta yang hanya mereka berdua yang mengerti.
Waktu seolah berhenti. Hanya ada mereka berdua di dunia yang luas ini. Dewangga membisikkan kata-kata manis di telinga Riri- pujian, janji, dan ungkapan cinta yang membuat hati Riri berbunga-bunga. Riri membalas dengan pelukan yang semakin erat, seolah tak ingin momen ini berakhir.
Saat gelombang keintiman mencapai puncaknya, mereka saling memeluk erat, tubuh dan jiwa menyatu dalam harmoni yang indah. Nama satu sama lain terucap seperti doa di antara hembusan napas yang terengah.
Setelah itu, suasana menjadi tenang dan damai. Dewangga memeluk Riri dari belakang, dada bidangnya menempel hangat di punggung istrinya. Ia mengecup bahu Riri berulang kali, tangannya mengusap lengan wanita itu dengan lembut.
“Terimakasih, Sayang," bisik Dewangga lembut.
Riri hanya mengangguk pelan.
"Kamu baik-baik saja?” tanya Dewangga khawatir, suaranya parau tapi penuh kasih.
Riri kembali mengangguk, tersenyum lelah namun bahagia. Ia memutar tubuhnya menghadap suami, lalu merebahkan kepala di dada Dewangga. “Aku sangat bahagia, Om. Aku merasa sangat dicintai.”
Dewangga tersenyum bangga. Ia bangun sebentar, mengambil handuk hangat dan membersihkan Riri dengan penuh kelembutan, seolah sedang merawat bunga yang paling rapuh.
Riri hanya diam, menikmati setiap sentuhan penuh perhatian itu. Setelah itu, Dewangga kembali ke ranjang, menarik selimut tebal menutupi tubuh mereka berdua.
Mereka berpelukan erat di bawah selimut yang hangat. Riri mendengar detak jantung suaminya yang tenang, sementara Dewangga mengusap rambut Riri dengan sayang.
“Terima kasih sudah mempercayaiku sepenuhnya,” bisik Dewangga.
“Terima kasih sudah sabar dengan aku,” balas Riri manja.
Mereka berbicara pelan tentang masa depan-tentang Nura, dan tentang janji untuk selalu bersama. Obrolan itu pelan, penuh tawa kecil dan kecupan ringan di kening.
Malam semakin larut. Aroma mawar dan kehangatan tubuh satu sama lain membuat Riri mengantuk. Dewangga menarik istrinya lebih dekat, memeluknya seolah tak ingin melepaskan sedetik pun.
“Tidurlah, istriku,” bisik Dewangga di rambut Riri. “Aku akan menjagamu sepanjang malam.”
Riri tersenyum, matanya perlahan terpejam. Di pelukan suaminya yang hangat, ia merasa aman, dicintai, dan lengkap. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan arti menjadi seorang istri.
*,*