Nial Percy—seorang CEO tampan dengan reputasi dingin, tertutup, dan selalu memegang kendali—tidak pernah melibatkan perasaan dalam hidupnya. Segalanya terukur. Hingga suatu malam, ia meminta satu hal pada orang kepercayaannya: Mencarikan seorang wanita dengan kriteria tertentu. Tanpa ikatan. Tanpa emosi. Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun takdir menyelipkan sesuatu yang tak ia rencanakan. Queen Lexian Arresta—wanita cantik dari keluarga terpandang yang tengah terjebak dalam perjodohan yang menyesakkan—tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Dan dalam satu keputusan yang berani sekaligus nekat, ia menawarkan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noire 23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Perjalanan pulang menuju kediaman Axel terasa jauh lebih singkat dari yang dibayangkan. Di dalam kabin mobil yang mewah itu, keheningan tidak lagi terasa menyesakkan, melainkan penuh dengan ketegangan manis yang menggelitik.
Sepanjang jalan, Nial tidak melepaskan genggaman tangannya pada jemari Queen, seolah memastikan bahwa wanita itu tidak akan menghilang lagi menjadi bayangan.
Begitu mobil sport itu berhenti di depan gerbang megah kediaman Axel Arresta, Queen segera melepas sabuk pengamannya. Ia melirik jam di dasbor dengan cemas—pukul dua belas lewat lima belas menit.
"Aku turun sekarang. Jangan keluar, oke?" Queen tahu Axel sangat protektif, dan pertemuan antara dua pria dominan seperti Axel dan Nial di jam seperti ini bisa berakhir dengan ledakan.
Namun, Nial mengabaikan peringatan itu. Bunyi klik pintu yang terbuka membuat jantung Queen hampir melompat. Nial turun dari mobil, berdiri tegak dengan aura otoriter yang tak bisa disembunyikan.
"Nial! Masuk kembali ke mobil dan cepat pergi dari sini!" desis Queen panik, menghampiri pria itu dan mencoba mendorong tubuh kokohnya kembali ke kursi kemudi.
"Axel akan membunuhku—atau membunuhmu—jika dia melihatmu di sini!"
Nial justru menyeringai tipis, menikmati kepanikan di wajah cantik Queen. Ia menyandarkan punggungnya pada pintu mobil, kedua tangannya tenggelam di saku celana. "Aku tidak takut pada kakakmu, Queen. Tapi baiklah, aku akan pergi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Peluk aku."
Queen mendengus, namun tidak punya pilihan. Ia melangkah maju dan melingkarkan lengannya di pinggang Nial.
Nial membalasnya, mendekap tubuh mungil itu dengan erat, menghirup aroma rambut Queen yang menenangkan.
Satu detik ... lima detik ... sepuluh detik...
Nial terkekeh rendah saat menyadari Queen tidak menunjukkan tanda - tanda akan melepaskan pelukan itu. Justru wanita itu semakin menyembunyikan wajahnya di dada Nial, seolah ingin menyerap kehangatan pria itu sebanyak mungkin.
"Queen," bisik Nial geli, "katanya kau ingin aku cepat pergi, tapi kau malah tidak mau melepasku. Apa aku ikut masuk saja?"
Mata Queen membelalak, seolah baru tersadar dari sihirnya. Ia langsung melepaskan diri dengan wajah merona merah. Tanpa banyak bicara, ia berjinjit dan mendaratkan satu kecupan singkat namun manis di bibir Nial.
"Pergilah! Good night, Nial!" seru Queen sebelum berbalik dan berlari kecil masuk ke dalam rumah.
Nial menatap punggung itu sampai menghilang di balik pintu besar, sebuah senyum langka menghiasi bibirnya sebelum ia memutar balik mobilnya.
Queen masuk ke dalam rumah dengan langkah seringan kapas. Ia bersenandung kecil, memegang bibirnya yang masih terasa hangat. Namun, saat ia melintasi ruang tengah, suara klik saklar lampu membuat ruangan itu seketika terang benderang.
ZAP!
Di sana, di atas sofa kulit, Axel Arresta duduk dengan sangat tenang.
Queen tersentak, jantungnya berpacu liar. "Axel! Kau ... kau membuatku kaget!"
Axel menutup buku tebal yang ada di pangkuannya dengan perlahan, lalu berdiri tegak. Wajahnya datar, namun matanya yang tajam seolah bisa membaca setiap inci pikiran Queen.
"Kau membaca buku dalam keadaan gelap?" tanya Queen dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba bersikap normal.
"Aku bahkan bisa mengetahui apa yang sedang terjadi di depanku dengan mata tertutup, Queen," Axel bangkit, ia memiringkan kepalanya sedikit, hidungnya mengendus udara di sekitar Queen, lalu matanya terpaku pada kemeja yang membungkus tubuh adiknya.
"Kemeja yang menarik," Axel menyentuh ujung kerah kemeja yang jelas - jelas berukuran pria itu. "Potongannya terlalu lebar untuk bahumu. Dan aromanya..." Axel menjeda, matanya menyipit dingin. "Parfum kayu cendana dan citrus yang sangat mahal. Seingatku, kau tidak pernah menyukai aroma yang sekuat ini."
Queen menelan ludah dengan susah payah. Ia meremas ujung kemeja Nial yang lupa ia lepaskan.
"Ah, ini ... aku sedang ingin mencoba gaya baru, Axel. Kau tahu, oversized style sedang tren di Paris. Termasuk soal parfum ... aku merasa aroma maskulin lebih memberikan kesan 'berani'."
Axel menarik salah satu sudut bibirnya—sebuah seringai yang menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak mempercayai bualan itu.
"Gaya baru? Jadi kau ingin bilang bahwa kau baru saja membeli kemeja pria yang sudah terpakai dan menyemprotkan parfum yang baunya identik dengan yang kau bawa dari rumah Nial Percy setahun lalu itu?"
Hahahaa!
Queen tertawa paksa, tawa yang terdengar sangat canggung di telinga sendiri. Ia menepuk lengan kakaknya dengan gerakan kaku. "Aku lupa kalau kau orang yang jenius. Kau terlalu banyak membaca buku detektif."
Axel tidak bergeming. Ia menatap Queen lekat - lekat, memberikan tekanan mental yang hanya bisa dilakukan oleh seorang kepala keluarga Arresta.
"Cepat masuk ke kamarmu dan tidur. Lain kali jangan pulang di atas jam sebelas malam. Katakan itu pada orang yang mengantarmu."
Queen mengerjap, hatinya mencelos. Ia buru - buru berbalik dan menyusul Axel yang mulai melangkah menuju tangga. "Hey, aku naik taksi, Axel!"
Axel menghentikan langkahnya di anak tangga pertama. Tanpa menoleh, ia berkata dengan nada datar yang menusuk. "Aku baru tahu ada perusahaan taksi di Paris yang mengoperasikan Bugatti La Voiture Noire. Katakan pada 'sopir' taksi itu, lain kali carilah mobil yang sedikit lebih murah jika tidak ingin terlihat mencolok dari jendela ruang kerjaku."
Queen membeku di tempatnya. Nyalinya menciut seketika. Ia menatap punggung Axel yang perlahan menghilang di lantai atas.
"Gawat, sepertinya dia mencurigaiku,"
•••
L’Unique
Pagi itu, toko bunga Queen baru saja bernapas dengan aroma lavender dan lily yang segar.
Queen sedang merapikan beberapa kelopak mawar di meja kasir sambil sesekali berbincang dengan beberapa stafnya.
"Nona, Anda benar - benar harus melihat ulasan di situs kita pagi ini," seru Elise, salah satu floris seniornya, sambil membawa sebuket baby’s breath. "Keluarga bangsawan dari pesta semalam terus-menerus memuji desain dekorasi Anda. Mereka bilang, atmosfer ruangannya berubah menjadi seperti hutan negeri dongeng yang sangat berkelas."
"Bukan hanya mereka, Nona. Bahkan beberapa fotografer majalah desain bertanya siapa yang merangkai mawar - mawar vintage itu. Anda jenius, selera Anda selalu punya jiwa." Luc, karyawan lainnya yang sedang memotong batang bunga di sudut ruangan, ikut menimpali tanpa mengalihkan pandangannya.
Queen tersenyum tipis, "Terima kasih, Elise, Luc, tapi itu semua berkat kerja keras tim. Aku hanya memberikan sedikit nyawa pada apa yang sudah indah sejak awal."
"Sedikit nyawa katanya?" Elise dan Luc terkekeh pelan. "Nona, Anda terlalu rendah hati. Padahal semua orang tahu, bunga-bunga di L’Unique ini seolah tahu siapa pemiliknya. Mereka tampak jauh lebih hidup di tangan Anda."
Drrrt.
Fokus Queen langsung teralihkan pada ponselnya yang bergetar di atas meja. Ia mengambilnya. Satu nama muncul di layar, membuat jantung Queen berdegup dalam ritme yang tidak beraturan.
Nial.
"Ya?" sapa Queen, berusaha menekan nada riangnya.
"Keluar sekarang," suara bass Nial terdengar rendah, otoriter, dan tanpa basa - basi.
Queen melirik kedua stafnya, lalu berbisik pelan pada ponselnya. "Apa maksudmu? Kita punya janji jam dua belas siang di L’Ambroisie, Nial. Ini masih jam sepuluh."
"Aku sudah di depan tokomu. Dan aku tidak berencana menunggu dua jam lagi hanya untuk melihat wajahmu."
Mata Queen membelalak. Ia segera melongok ke arah jendela besar tokonya. Benar saja, sebuah mobil sport hitam terparkir tepat di depan pintu.
Nial berdiri di samping mobil itu, mengenakan setelan jas gelap, kacamata hitam, dan aura yang bisa membuat orang - orang di sekitarnya menyingkir secara sukarela.
"Astaga!" Queen panik. Ia menyambar tas tangannya secepat kilat. Ia tidak boleh membiarkan Sharena melihat ini, apalagi membiarkan salah satu informan Axel Arresta memotret pria ini dan melaporkannya dalam hitungan detik.
"Sharena, aku ada urusan mendadak! Tolong jaga toko!" teriak Queen sambil berlari keluar.
"Hey! Queen! Kau mau ke ma—" Sharena muncul dari ruang belakang dengan gunting dahan di tangan, namun kalimatnya terputus saat pintu toko sudah berdenting tertutup.
"Nial." Begitu pintu toko berdenting, Queen langsung menarik lengan Nial, memaksanya masuk kembali ke dalam mobil.
"Masuk! Cepat masuk, Nial!" desak Queen dengan wajah pucat karena cemas.
Nial mengernyitkan keningnya, tidak bergerak seinci pun. Ia menatap tangan Queen yang menarik lengan jasnya, lalu beralih menatap wajah wanita itu dengan tatapan dingin yang tajam.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau bertingkah seolah aku ini buronan yang sedang dikejar polisi?"
"Nial, kumohon! Masuk saja dulu!"
Dengan helaan napas berat dan wajah yang tampak sangat terganggu, Nial akhirnya masuk ke kursi pengemudi. Begitu pintu tertutup rapat, Queen langsung mengembuskan napas lega yang panjang.
"Axel tidak boleh tahu kau di sini," bisik Queen sambil terus waspada memandang ke arah jalanan. "Informannya ada di mana - mana. Jika dia tahu kita kembali bersama sebelum aku sempat bicara padanya, dia akan marah besar."
Nial memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Queen. Ia melepaskan kacamata hitamnya, memperlihatkan mata tajam yang kini tampak berapi - api karena kesal.
"Jadi kau ingin menyembunyikanku?" tanya Nial, suaranya terdengar sangat berbahaya.
"Bukan begitu, Nial. Aku hanya butuh waktu untuk bicara pada Axel—"
Nial mendengus, tangannya mencengkeram kemudi. "Aku tidak butuh izin dari Axel Arresta hanya untuk menjemput wanitaku. Jika dia ingin penjelasan, aku akan memberikannya secara jantan, bukan bersembunyi di balik kaca film mobil seperti remaja yang ketakutan."
"Ini bukan soal takut, ini soal strategi!" balas Queen tak mau kalah.
"Strategi?" Nial menyipitkan mata, rahangnya mengeras. "Strategi itu untuk bisnis, Queen. Bukan untuk hubungan. Kau membuatku merasa seperti simpanan yang tidak boleh terlihat di siang hari."
Queen menatap Nial, hendak membalas dengan kalimat yang lebih tajam, namun tiba - tiba perutnya berbunyi cukup nyaring di tengah kabin yang hening. Queen terdiam, wajahnya seketika merona merah karena malu.
Nial menaikkan sebelah alisnya, "Belum makan, Hm?"
Queen menunduk, memainkan jemarinya. "Aku buru - buru ke toko tadi pagi. Belum sempat sarapan apa pun."
Nial menghela napas panjang, kekesalannya menguap begitu saja. "Kita makan sekarang. Perdebatan ini ditunda sampai perutmu tidak protes lagi."
L’Ambroisie
Mobil sport hitam itu berhenti dengan sempurna di depan restoran mewah tersebut. Sebelum turun, Queen menoleh ke arah Nial yang sudah bersiap membuka pintu.
"Nial, tunggu!" Queen meraih kacamata hitam Nial yang tadi diletakkan di dasbor. "Pakai ini."
Nial mengernyit. "Di dalam ruangan? Untuk apa?"
"Pakai saja. Kau ... kau terlihat terlalu tampan hari ini. Aku tidak ingin perhatian semua orang tertuju padamu," ucap Queen dengan nada yang diusahakan terdengar seperti pujian.
Bukannya tersanjung, Nial justru menatap Queen dengan pandangan datar yang menusuk. Ia mengambil kacamata itu, namun tidak memakainya. Ia tahu persis maksud terselubung Queen.
"Jangan mencoba membungkus niatmu dengan pujian murah, Queen," ucap Nial ketus sambil memakai kacamatanya dengan gerakan kasar. "Kau tidak takut aku dilirik wanita lain. Kau hanya takut seseorang mengenaliku dan melapor pada kakakmu."
Queen menahan senyum melihat rahang Nial yang mengeras. Ekspresi pria itu benar - benar terlihat seperti anak kecil yang dipaksa memakai baju hangat oleh ibunya.
"Aku tidak sedang melakukan itu." Elaknya.
"Ck, sudahlah!" Nial keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Queen dengan gerakan yang tetap sopan namun dingin.
Queen tersenyum. "Terima kasih."
Nial langsung menggenggam tangan Queen dengan posesif, menariknya masuk ke dalam restoran tanpa membiarkan wanita itu membantah sedikit pun.
•••
"Pardon, Monsieur, Mademoiselle." seorang pelayan wanita dengan seragam hitam - putih yang rapi menyapa mereka dengan logat Prancis yang kental. "Ini pesanan Anda, Caneton de Challans à l'Orange dan Soufflé cokelat hangat. Dan ini wine yang Anda pesan, Tuan."
"Merci," jawab Queen dan Nial bersamaan.
Suasana di L’Ambroisie siang itu sangat elegan. Denting sendok perak yang beradu dengan porselen mahal dan gumaman pelan para bangsawan Paris menciptakan atmosfer yang tenang. Queen baru saja mulai menikmati hidangannya saat pandangannya tidak sengaja beralih ke pintu masuk utama.
Matanya menyipit, "Itu ... seperti—" detik itu juga, dunia Queen serasa berhenti berputar.
Seorang pria dengan setelan jas abu - abu gelap yang sangat formal melangkah masuk dengan aura yang sanggup membekukan ruangan. Di belakangnya, beberapa pria berbadan tegap mengikuti dengan langkah sigap.
"Axel..." desis Queen pelan, wajahnya memucat seketika.
Astaga, kenapa bisa kebetulan?
Tanpa berpikir panjang, Queen menjatuhkan serbetnya. Dengan gerakan secepat kilat, ia menyambar kerah jas Nial dan menarik pria itu dengan tenaga yang tak terduga hingga mereka berdua merosot jatuh ke bawah meja yang tertutup taplak putih panjang hingga menyentuh lantai.
Bruk!
Nial terkejut setengah mati. Punggungnya menabrak kaki meja kayu ek yang kokoh. Ia menatap Queen yang kini berjongkok di hadapannya dengan napas tersengal dan mata yang melotot waspada.
"Ada apa, Queen? Kenapa menarikku ke bawah sini?" tanya Nial, dengan ekspresi yang menuntut penjelasan. Ia baru saja akan mencicipi wine-nya, dan sekarang ia berakhir di bawah meja seperti anak kecil yang sedang bermain petak umpet.
Queen mengerjap - ngerjap panik. Otaknya berputar liar mencari alasan yang tidak akan membuat Nial semakin murka karena disembunyikan.
"Ular! Aku melihat seseorang membawa ular besar masuk ke restoran ini!" bisik Queen asal, suaranya bergetar.
Nial mengerutkan kening dalam - dalam, menatap Queen seolah wanita itu baru saja kehilangan akal sehatnya. "Ular? Kau bercanda? Ini restoran bintang lima di Paris, bukan hutan Amazon."
"Benar! Tadi aku melihat kepalanya menyembul dari balik jas salah satu pria itu. Sangat besar dan ... hijau!" Queen terus mengarang, tangannya mencengkeram lengan Nial kuat - kuat.
Nial menghela napas kasar, ia mencoba memperbaiki posisi duduknya yang sangat tidak nyaman di ruang sempit itu. "Ya, lalu kenapa? Kau bertingkah seolah ular orang itu akan merayap ke sini dan mematuk kita berdua. Biarkan saja keamanan yang mengurusnya."
Nial mulai bergerak ingin keluar dari bawah meja, namun Queen langsung menahan bahunya, bahkan ia sampai terduduk di atas pangkuan Nial agar pria itu tidak bisa bergerak.
"Jangan! Nial, ular itu ... ular itu sangat sensitif dengan gerakan!" Queen memohon dengan wajah yang hampir menangis. "Katakanlah aku punya phobia parah. Kumohon, tetaplah di sini sebentar saja."
Nial terdiam. Posisi mereka sekarang sangat intim. Napas Queen menerpa wajahnya, dan wangi bunga dari rambut wanita itu memenuhi indra penciumannya.
Rasa kesalnya perlahan terkikis oleh situasi absurd ini.
Nial menyeringai tipis dalam kegelapan di bawah meja. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Queen, menariknya lebih dekat hingga tidak ada jarak di antara mereka.
"Jadi, kau ingin kita terjebak di sini karena seekor 'ular hijau' khayalanmu?" bisik Nial, suaranya kini terdengar serak dan menggoda.
"Itu—bukan khayalan." jawab Queen, cepat.
Nial menganggguk. "Baiklah. Tapi jika kita harus di bawah sini lebih lama, aku tidak menjamin tanganku bisa diam, Queen. Ruang sempit ini sangat ... menginspirasi."
Queen menelan ludah. Di luar, Axel Arresta sedang berjalan melewati meja mereka sambil berbicara dengan salah satu rekan kerjanya.
Queen menahan napasnya rapat - rapat, jantungnya berdegup kencang hingga ia takut Nial bisa mendengarnya.
Sementara itu, Nial yang tidak tahu apa - apa justru mulai menikmati momen 'sembunyi' ini dengan mengecup pelan leher Queen, tangannya pun mulai bergerak aktif.
Queen tersentak, matanya membelalak lebar menatap Nial dalam keremangan di bawah meja.
Ucapan Nial barusan benar - benar serangan mendadak yang membuat otaknya sejenak berhenti berfungsi.
"Jangan macam-macam, Nial! Tanganmu tetap di pinggangku, jangan ke mana-mana!" bisik Queen setengah mendesis, tangannya menahan pergelangan tangan Nial dengan kuat agar tidak melenceng dari jalur aman.
Nial menaikkan sebelah alisnya, ekspresinya tampak sangat datar seolah ia tidak baru saja menggoda Queen.
"Kau yang memaksaku duduk di lantai restoran ini, Queen. Jadi jangan salahkan aku jika aku mencari kompensasi atas ketidaknyamanan ini," jawab Nial dengan suara rendah yang bergetar karena tawa tertahan.
"Kompensasi tidak termasuk melakukan hal yang aneh - aneh di bawah meja restoran bintang lima!"
Nial justru semakin merapatkan tubuhnya, membuat Queen harus bersandar sepenuhnya pada dada bidang pria itu. Ia menatap Queen dengan tatapan intens yang biasanya ia gunakan saat sedang menegosiasikan kontrak bernilai jutaan Euro.
"Aku hanya sedang memastikan posisiku stabil agar tidak menabrak kaki meja. Jika kau merasa tanganku 'ingin berkeliling', mungkin itu hanya imajinasimu yang terlalu liar," ucap Nial tenang, namun ujung jarinya sengaja mengetuk pelan pinggang Queen, memberikan sensasi geli yang membuat wanita itu merinding.
"Nial Percy, aku serius—"
"Aku juga serius, Queen," potong Nial, wajahnya mendekat ke telinga Queen hingga napas hangatnya menyentuh kulit wanita itu. "Ular hijau khayalanmu itu mungkin menakutkan, tapi kau yang duduk di pangkuanku sekarang jauh lebih berbahaya bagi kewarasanku. Jadi diamlah, atau aku akan membuatmu mengeluarkan suara yang bisa didengar oleh seluruh orang di restoran ini, termasuk pemilik ular itu."
Deg.
Queen membeku, mulutnya terkatup rapat. Ia bisa merasakan jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
Sementara Nial menyeringai puas melihat Queen yang akhirnya bungkam. Pria itu menyandarkan kepalanya di kaki meja dengan santai, seolah - olah berada di bawah meja adalah tempat paling mewah yang pernah ia kunjungi.
lanjut thor😄👍makin seru liat nial🥰