Alya, mahasiswi tingkat akhir yang cerdas dan mandiri, tengah berjuang menyelesaikan skripsinya di tengah tekanan keluarga yang ingin ia segera menikah. Tak disangka, dosen pembimbingnya yang terkenal dingin dan perfeksionis, Dr. Reihan Alfarezi, menawarkan solusi yang mengejutkan: sebuah pernikahan kontrak demi menolong satu sama lain.
Reihan butuh istri untuk menyelamatkan reputasinya dari ancaman perjodohan keluarga, sedangkan Alya butuh waktu agar bisa lulus tanpa terus diburu untuk menikah. Keduanya sepakat menjalani pernikahan semu dengan aturan ketat. Tapi apa jadinya ketika batas-batas profesional mulai terkikis oleh perasaan yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
" si Alya mah makin sombong aja sama kita" ucap Nia
" iya semenjak dia kerja kantoran, dia udah lupa punya sahabat"
Alya mendengus pelan. “Ya ampun, ngga gitu juga, kali. Kalian kan tahu sendiri aku tuh baru masuk kerja. Ya harus kerja keras dong biar bisa naik jabatan,” jelas Alya sambil memainkan sedotan di gelasnya.
“Iya iya, maaf deh. Nih, aku traktir hari ini. Puas kan?” kata Alya sambil terkekeh kecil.
Mereka bertiga duduk di sebuah kafe kecil dekat kampus mereka dulu. Sudah lama Alya nggak nongkrong bareng, jadi begitu Nia ngajak ngopi sore, setelah Alya pulang kerja.
“Eh, ngomong-ngomong… gimana kabar suami lo, Al?” tanya lala tiba-tiba sambil menaikkan alis, nada suaranya penuh penasaran.
" ngapain Lo nanya-nanya suami orang. Naksir Lo"
" ya ngga gitu juga Nia, aku tuh cuma penasaran aja gimana kelangsungan cerita mereka"
Alya menghembuskan nafas pelan " ya ngga gimana-gimana"
“Tapi lo bahagia kan sama dia?” tanya Lala pelan, nadanya berubah lebih serius.
Pertanyaan itu membuat Alya terpaku sesaat. Ingatan tentang malam itu, tentang bagaimana Reihan kehilangan kendali, tiba-tiba muncul begitu saja. Ia cepat-cepat mengalihkan pandangan ke luar jendela. “Iya… baik-baik aja kok,” jawabnya akhirnya, meski suaranya terdengar sedikit kaku.
Nia dan Lala saling pandang, seolah mengerti isi pikiran temannya itu.
“Eh, ngomong-ngomong,” Nia mengganti topik dengan cepat, “gue kemarin ketemu Farel, loh. Anak itu masih nanyain lo, Al.”
Alya menoleh cepat. “Farel?” tanyanya agak terkejut.
Sudah lama pemilik nama itu tidak muncul di hadapannya.
..........
Alya baru saja membuka pintu rumah ketika aroma lembut kayu manis dari pengharum ruangan menyapa hidungnya. Ia sedikit terkejut melihat Reihan sudah duduk di ruang tamu, bersandar santai di sofa dengan kemeja rumahan yang sedikit terbuka di bagian leher. Biasanya, jam segini Reihan masih di kantor.
“Baru pulang?” suara Reihan terdengar tenang, tapi ada nada hati-hati di baliknya.
“Iya… tadi ketemu Nia sama Lala habis pulang kerja,” jawabnya datar sambil melangkah masuk, berniat langsung ke kamar, tapi suara Reihan menahannya.
“Alya… tunggu bentar.”
Langkah Alya terhenti. Ia menoleh perlahan. Reihan sudah berdiri dari sofa, wajahnya serius tapi ada sedikit kegugupan. “Aku… mau ngomong,” katanya pelan.
Suasana ruang tamu mendadak terasa sunyi. Hanya suara jam dinding yang terdengar berdetak.
Alya menuggu apa yang akan di ucapkan oleh Reihan, tapi yang ditunggu tak kunjung mengatakan sesuatu
" mas mau ngomong apa, kalo ngga ada aku masih ada urusan"
"ehhh.. Tunggu. Aku mau minta maaf soal...."
" kalo soal malam itu, mas ngga usah bahas lagi. Aku udah ngga mau ngungkit soal itu lagi."
Reihan terdiam sesaat setelah mendengar ucapan Alya. Nada dingin dan datar dari bibir istrinya itu seperti tamparan keras baginya. Ia menundukkan kepala, menatap lantai seolah mencari kata yang tepat—tapi tak satu pun keluar.
Alya sendiri menahan napas, berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang meski di dalam dada ada perasaan campur aduk yang sulit dijelaskan.
“Mas cuma…” Reihan mencoba membuka suara lagi, tapi Alya langsung memotong dengan lembut tapi tegas.
“Udah, Mas. Aku capek bahas itu terus. Kita jalani aja seperti biasa. Aku nggak mau mikirin yang udah lewat,” ucapnya sambil menatapnya lurus.
Reihan menarik napas panjang dan menghembuskannya kasar. Ia tahu Alya sedang membentengi dirinya, dan ia sadar, semua ini akibat perbuatannya sendiri. “Oke…” gumamnya akhirnya, matanya menatap kosong ke arah ruang tamu.
“Kalau nggak ada yang penting, aku mau ke atas dulu,” ujar Alya kemudian. Ia berbalik, melangkah ke arah kamar.
Beberapa detik kemudian, ia berjalan ke ruang kerjanya. Begitu pintu tertutup, Reihan langsung bersandar ke meja kerja, mengusap wajahnya keras-keras. Ia mengambil bungkus rokok dari laci, menyalakan satu batang, dan menghisap dalam-dalam sambil menatap jendela yang gelap.
“Asal tahu, aku benar-benar nyesel, Al…” gumamnya lirih pada dirinya sendiri.
Asap mengepul memenuhi seisi ruangan itu, dia berbalik kearah mejanya. Mengambil sebuah foto yang sudah mulai usang dari sana. Di dalam foto itu menunjukkan seorang remaja yang memakai seragam SMP dan disamping nya berdiri gadis dengan seragam SD memeluk erat sebuah boneka.
Reihan tersenyum menatap foto itu, tapi detik kemudian rasa bersalah kembali menghantuinya.
"maafin aku Aya, aku ngga bisa nempatin janji aku ke kamu"
Reihan menatap foto itu lama. Jarinya menyusuri bingkai kayu yang mulai kusam, seolah ingin mengusap masa lalu yang tak bisa ia raih lagi. Wajah gadis kecil di foto itu gadis kecil yang terlihat polos, tersenyum lebar dengan boneka kesayangannya di pelukan. Sementara dirinya, berdiri gagah sebagai remaja SMP saat itu.
“Janji apaan… semua cuma omong kosong,” gumamnya getir. Asap rokok kembali mengepul, menyelimuti wajahnya yang kini tampak lelah.
Reihan menunduk, menggenggam foto itu kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. “Brengsek,” desisnya lirih. Bukan pada siapa-siapa, tapi pada dirinya sendiri.
Kecuali dilingkungan kampus berlaku propesional demi menjaga image.