NovelToon NovelToon
Dua Bulan Saja, Sayang

Dua Bulan Saja, Sayang

Status: tamat
Genre:Romantis / CEO / Kisah cinta masa kecil / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:

Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.

Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.

Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.

Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.

Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."

"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26: Cium Satu Kali, Baru Tidak Pergi

Sisa satu minggu membuat setiap hal kecil terdengar seperti perpisahan yang belum diucapkan.

Pagi setelah malam game itu, Naomi bangun lebih awal dari biasanya. Ia membuat air jeruk hangat, menyiapkan kotak buah, memberi makan Felix, lalu berdiri beberapa detik di depan kalender kecil di ponsel.

Tujuh hari.

Angka itu tidak bergerak, tapi rasanya seperti menekan dada.

Kelvin keluar dari kamar ketika Naomi baru saja menutup kotak makan. Rambutnya masih basah, kemejanya belum dikancing penuh, dan wajahnya terlihat seperti orang yang belum siap menghadapi dunia tapi tetap akan membuat dunia menyingkir.

"Kelas pagi?" tanyanya.

"Iya."

"Aku antar."

"Tidak perlu. Kamu ada meeting."

"Aku antar sampai kampus, lalu meeting."

Naomi ingin menolak, tapi Felix menggonggong sekali dari dekat pintu, seolah sudah memilih pihak.

"Kamu melatih anjingmu membantah saya?" tanya Naomi.

Kelvin mengambil kunci mobil. "Dia pintar sendiri."

Di lift, mereka berdiri berdampingan. Tidak ada yang menyebut kontrak. Tidak ada yang menyebut sisa tujuh hari. Justru karena itu, udara terasa penuh oleh kata-kata yang sengaja tidak disentuh.

Saat mobil berhenti di drop-off kampus, Naomi membuka seatbelt.

"Terima kasih sudah mengantar."

"Aku belum bilang boleh turun."

Naomi menoleh. "Apa?"

Kelvin mematikan mesin sebentar, lalu menatapnya dengan wajah terlalu tenang.

"Cium satu kali, baru tidak pergi."

Naomi hampir lupa cara membuka pintu.

"Kamu bercanda."

"Tidak."

"Ini kampus."

"Kaca mobil gelap."

"Tetap saja."

"Kalau tidak mau, bilang tidak."

Kalimat itu membuat Naomi berhenti. Kelvin selalu begitu. Menariknya sampai jantungnya kacau, lalu meninggalkan pintu kecil untuk mundur. Dan masalah Naomi adalah ia semakin jarang ingin mundur.

Ia melihat ke luar. Beberapa mahasiswa berjalan melewati drop-off, tidak memperhatikan mobil mereka. Naomi menelan ludah, lalu cepat mendekat dan mencium pipi Kelvin sekilas.

Sangat sekilas.

Nyaris seperti kecelakaan.

Kelvin menoleh sedikit. "Itu dihitung?"

"Iya."

"Standar rendah."

"Saya turun."

Naomi keluar dari mobil dengan wajah panas. Ia berjalan cepat menuju gedung fakultas, tidak berani menoleh. Di belakangnya, mobil Kelvin baru pergi setelah ia masuk pintu.

Sejak hari itu, ciuman menjadi aturan yang tidak pernah ditulis.

Jika Kelvin mengantar Naomi ke kampus, ia menagih satu ciuman di pipi sebelum Naomi turun. Jika Naomi pergi ke perpustakaan, Kelvin akan berdiri di depan pintu apartemen dan berkata, "Lupa sesuatu." Jika Naomi kembali dari kelas dan Kelvin harus pergi meeting, ia akan menunjuk pipinya tanpa malu.

Awalnya Naomi selalu panik.

"Felix melihat," katanya suatu sore.

Kelvin menatap Felix yang duduk di dekat pintu dengan lidah terjulur. "Dia mendukung."

"Kamu tidak tahu."

"Dia bilang Mommy pelit."

Naomi menutup wajah. "Jangan pakai Felix untuk memfitnah saya."

Felix menggonggong.

Kelvin mengangkat alis. "Dengar?"

Naomi akhirnya mencium pipinya, cepat dan ringan. Kelvin tampak puas, Felix tampak lebih puas lagi karena setelah itu ia mendapat snack.

Ada satu pagi ketika Naomi benar-benar terlambat. Dosen pengganti terkenal menutup pintu tepat waktu, dan bus kampus yang biasa ia kejar sudah hampir lewat. Kelvin berdiri di dekat pintu, seperti biasa, menunggu jatah ciuman dengan wajah tidak tahu malu.

"Cium satu kali."

"Tidak bisa. Saya terlambat."

"Satu detik."

Naomi melihat jam, lalu menggeleng. "Tidak. Hari ini tidak."

Kelvin berhenti.

Untuk sesaat, Naomi takut ia akan merajuk atau menariknya seperti biasa. Tapi Kelvin hanya memasukkan tangan ke saku, lalu mengangguk.

"Pergi."

Naomi malah tidak langsung bergerak. "Kamu tidak marah?"

"Kamu bilang tidak."

Kalimat itu sederhana, tapi membuat sesuatu di dada Naomi melunak. Ia mengangguk, lalu berlari ke lift.

Sepuluh menit kemudian, saat ia sudah di mobil kampus, pesan Kelvin masuk.

"Hutang satu. Tapi bukan karena kamu menolak. Karena kamu lari tanpa sarapan."

Naomi menatap pesan itu lama, lalu tertawa sendiri sampai mahasiswa di sebelahnya menoleh.

Pada hari ketiga, Naomi mulai tidak perlu diminta dua kali.

Kelvin berdiri di depan pintu apartemen, hendak pergi ke SCBD. Naomi sedang membawa laptop ke meja makan. Ia melihat Kelvin mengambil kunci, lalu tanpa sadar berkata, "Tunggu."

Kelvin berhenti.

Naomi baru sadar apa yang ia lakukan.

Tapi sudah terlambat untuk mundur tanpa terlihat lebih memalukan.

Ia berjalan mendekat, berjinjit sedikit, lalu mencium pipi Kelvin.

Kelvin tidak bergerak.

Naomi mundur cepat. "Untuk... supaya kamu tidak menagih nanti."

"Aku belum minta."

"Jadi lebih efisien."

"Efisien?"

"Iya."

Kelvin menatapnya begitu lama sampai Naomi ingin bersembunyi di balik Felix.

"Baik," katanya akhirnya. "Aku suka efisiensi."

Setelah pintu tertutup, Naomi berdiri di ruang tengah dengan tangan menutup wajah.

Felix duduk di depannya, memiringkan kepala.

"Jangan lihat aku seperti itu," bisik Naomi.

Di kampus, Sinta dan Ayu menyadari perubahan itu dari cara Naomi tersenyum sendiri saat membuka ponsel.

"Gejala makin parah," kata Ayu.

Sinta mengangguk. "Stadium akhir."

"Aku cuma membaca pesan," protes Naomi.

"Dari siapa?"

Naomi tidak menjawab.

"Nah," kata Ayu. "Tidak perlu dokter."

Sinta menyodorkan botol air ke arahnya. "Minum. Wajahmu merah."

"Panas," kata Naomi.

Ayu melihat AC kantin yang menyala tepat di atas mereka. "Iya. Panas dari dalam hati."

Naomi menendang kaki kursinya pelan.

"Kalian berdua jahat."

"Kami realistis," jawab Sinta. "Dan sedikit senang."

Naomi tidak sanggup membantah, hanya menunduk lagi.

Kali ini lama.

Naomi menyimpan ponsel, tapi pesan Kelvin masih terbaca di kepalanya.

"Nanti pulang jangan kabur. Aku tagih yang pagi terlalu cepat."

Ia membenci dirinya sendiri karena tersenyum.

Malam keenam, hujan turun lagi di Jakarta.

Naomi berdiri di depan pintu apartemen, hendak turun sebentar ke minimarket gedung untuk membeli pulpen karena tintanya habis. Kelvin baru selesai call kerja di ruang tengah. Felix sudah tidur.

"Aku turun sebentar," kata Naomi.

Kelvin menoleh dari sofa. "Jam segini?"

"Minimarket gedung. Lima menit."

"Aku ikut."

"Tidak perlu."

Kelvin berdiri. "Cium satu kali, baru tidak pergi."

Naomi memeluk dompet kecilnya. "Aku cuma turun ke bawah."

"Aturan tidak mengenal jarak."

"Kamu membuat aturan sendiri."

"Dan kamu mengikutinya."

Naomi ingin membantah, tapi hujan di jendela, lampu ruang tengah, dan jarak satu minggu yang hampir habis membuat dadanya terlalu lembut.

Ia berjalan mendekat, berjinjit, lalu mencium pipi Kelvin.

Kali ini tidak secepat biasanya.

Hanya satu detik lebih lama.

Tapi cukup untuk membuat Kelvin diam.

Naomi mundur, pura-pura tidak melihat perubahan itu. "Aku pergi."

Ia berbalik menuju pintu.

Tangan Kelvin menangkap pergelangan tangannya, ringan.

Naomi menoleh.

Kelvin menariknya kembali satu langkah, matanya turun ke bibirnya sekejap lalu kembali ke matanya.

"Satu tidak cukup."

1
Anonim
Kak keren ceritanya 🙏🏼👏🏼
Norma Indah
sepertinya kelvin sudah lama suka sama naomi😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!