NovelToon NovelToon
Setelah Cerai, Hartaku 300 Triliun!

Setelah Cerai, Hartaku 300 Triliun!

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Kaya Raya / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Chicklit / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Tiga tahun menjadi istri Rayhan Sutanto, Keira tidak pernah diperlakukan selayaknya. Dicaci mertua, dihina ipar, dan diabaikan suami yang hatinya sudah milik perempuan lain.
Malam itu, di atas ranjang pernikahan mereka, Rayhan memanggilnya dengan nama wanita lain. Cukup sudah.
"Rayhan, kita cerai."
Tapi ketika pintu Pengadilan Negeri tertutup di belakangnya, sebuah Rolls-Royce Phantom berhenti di hadapannya. Seorang pria tua membungkuk hormat dan menyerahkan kartu hitam bertuliskan 300 triliun rupiah.
Keira bukan yatim piatu dari panti asuhan. Dia adalah putri bungsu keluarga Liem — konglomerat nomor satu di negeri ini. Tiga kakak laki-lakinya menguasai dunia militer, medis, dan hiburan. Dan sekarang, dia kembali.
Sementara mantan suaminya berlutut memohon maaf, Keira duduk di kursi CEO perusahaannya. Sementara mantan mertua yang dulu menyuruhnya berlutut di hujan kini menjadi pembantunya. Dan sementara wanita yang dulu memanggilnya "pengganti" kini membusuk di balik jeruji.
Tapi di balik semua pembalasan dan kejayaan, ada satu rahasia yang belum terungkap — identitas asli Rayhan Sutanto, dan pengorbanan yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun.
Cinta yang terlambat, apakah masih layak diperjuangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30: Surat yang Disegel

Rumah duka itu terlalu putih untuk kabar kematian.

Lampu-lampunya terang, lantainya mengilap, bunga krisan tersusun rapi di sepanjang dinding. Segala sesuatu dibuat bersih, tenang, dan beradab, seolah kematian bisa menjadi sopan kalau diletakkan di ruangan berpendingin udara dengan karangan bunga mahal.

Keira duduk di kursi paling depan.

Kotak abu Rayhan ada di meja rendah di hadapannya. Di sampingnya, jam tangan hangus diletakkan di atas kain hitam. Jarumnya masih berhenti di pukul tujuh lewat tiga belas. Angka itu seperti pisau kecil yang menusuk mata setiap kali Keira melihatnya.

Ia tidak tidur.

Tidak menangis.

Tidak makan.

Kevin duduk di sebelahnya sepanjang malam, wajahnya kusut, kemejanya masih berbau asap. Setiap kali ia hendak bicara, Keira memandang kotak abu itu lebih lama, dan Kevin menelan lagi semua kalimatnya.

Pagi berikutnya, orang-orang mulai berdatangan.

Direksi Sutanto Corp datang dengan setelan hitam dan wajah yang tidak tahu harus berduka atau menghitung kerugian. Beberapa kerabat Sutanto berdiri di belakang, berbisik tentang saham, jabatan, dan siapa yang berhak memimpin perusahaan setelah Rayhan tidak ada. Wartawan menunggu di luar pagar rumah duka, ditahan pengawal Kevin.

Bu Fenny datang dengan Sherly.

Wajah Bu Fenny pucat. Tidak ada riasan tebal, tidak ada kalung besar, tidak ada suara tinggi yang biasa ia pakai untuk menghina Keira. Ia melihat kotak abu itu, lalu kedua lututnya melemah sampai Sherly harus menahannya.

"Rayhan..." gumamnya.

Keira tidak menoleh.

Sherly menatap Keira dengan mata merah. Untuk pertama kalinya, ia tidak berani menyalahkan siapa pun dengan lantang.

Pada pukul sepuluh, seorang pengacara tua bernama Leonard Tan berdiri di depan ruangan. Ia membawa map hitam dengan segel lilin merah. Sinar berdiri di sisi kanan, kepala tertunduk. Kevin langsung menegang saat melihat segel itu.

"Atas permintaan almarhum Rayhan Sutanto," kata Leonard, suaranya pelan tetapi jelas, "saya akan membacakan surat wasiat dan satu surat pribadi yang hanya boleh dibuka bila beliau meninggal dalam kondisi tidak wajar."

Keira akhirnya mengangkat mata.

Sinar menunduk lebih dalam.

Keira melihat gerakan itu.

Dadanya terasa kosong.

Leonard membuka dokumen pertama.

"Pertama, seluruh saham pribadi almarhum di Sutanto Corp, yaitu empat puluh persen saham langsung atas nama Rayhan Sutanto dan lima persen hak suara melalui nominee, dengan total kendali empat puluh lima persen, dialihkan sepenuhnya kepada Nona Keira Liem."

Ruangan itu pecah oleh bisik-bisik.

"Apa?"

"Mantan istrinya?"

"Tidak mungkin."

Seorang direktur Sutanto berdiri setengah. "Pak Leonard, ini harus diverifikasi. Bu Keira sudah memegang empat puluh lima persen. Kalau ditambah..."

"Ia memegang sembilan puluh persen kendali efektif," kata Leonard tanpa menoleh. "Dokumen sudah ditandatangani, disahkan notaris, dan dilaporkan kepada otoritas pasar yang relevan."

Bisik-bisik berubah menjadi gemuruh.

Bu Fenny menatap Keira seperti baru pertama kali melihatnya. Selama tiga tahun, ia memanggil perempuan itu miskin, panti asuhan, parasit. Kini seluruh warisan bisnis anaknya jatuh ke tangan perempuan yang pernah ia suruh mengepel lantai.

"Rayhan tidak mungkin..." suara Bu Fenny patah.

Leonard melanjutkan, "Selain itu, seluruh aset pribadi di Jakarta, termasuk Villa Teluk yang sebelumnya telah dialihkan, rekening investasi, dan hak cipta perangkat lunak internal yang dimiliki almarhum, juga menjadi milik Nona Keira Liem."

Sherly menutup mulut.

Keira tetap duduk.

Tidak ada kemenangan di wajahnya.

Kalau ini tiga minggu lalu, ia mungkin akan menatap mereka satu per satu dan membiarkan rasa puas bekerja seperti pisau. Hari ini, semua saham itu terdengar seperti abu yang diberi label harga.

Leonard mengambil amplop kedua.

"Surat pribadi."

Segel merah itu dipatahkan.

Keira menggenggam sisi kursi.

Leonard mulai membaca.

"Keira,

kalau surat ini sampai dibacakan, berarti aku sudah tidak punya kesempatan berdiri di depanmu dan membuatmu marah secara langsung."

Beberapa orang tertunduk.

Keira menatap kotak abu.

"Aku selalu buruk dalam meminta maaf. Lebih buruk lagi dalam mencintai. Selama tiga tahun, aku membuatmu hidup seperti orang asing di rumahku sendiri. Aku membiarkan ibuku menginjakmu, membiarkan Sherly merendahkanmu, membiarkan Anya memakai kelemahanku untuk menyakitimu. Semua itu dosaku. Jangan biarkan siapa pun membersihkannya atas nama kematian."

Bu Fenny menangis tanpa suara.

Sherly menunduk sampai rambut menutupi wajahnya.

Leonard menarik napas sebelum melanjutkan.

"Ada satu hal yang tidak pernah sempat kukatakan dengan benar. Aku tidak mencintai Anya seperti yang kupikirkan. Aku tidak pernah menyentuhnya. Tidak sekali pun. Yang kumiliki bersamanya hanyalah rasa bersalah, utang masa lalu yang salah kuberi nama cinta."

Keira memejamkan mata.

Malam pertama pernikahan, nama Anya di bibir Rayhan, pesan WhatsApp yang menusuknya, tiga tahun tidur di ranjang yang terasa seperti ruang tunggu hukuman, semuanya kembali dalam satu gelombang.

Leonard terus membaca.

"Aku mencintaimu sejak kau berusia sepuluh tahun. Mungkin saat itu aku belum tahu kata cinta. Aku hanya ingat seorang gadis kecil menarikku keluar dari mobil yang hampir terbakar, tangannya berdarah, wajahnya kotor, tapi matanya lebih tenang daripada semua orang dewasa di sekitarnya. Sejak hari itu, aku mencari rasa aman yang sama di banyak tempat, dan bodohnya aku tidak mengenalinya ketika kau berdiri di depanku sebagai istriku."

Kevin menoleh cepat ke Keira.

Keira tidak bergerak.

"Aku baru tahu terlalu terlambat. Gadis kecil itu adalah kau. Penyelamat yang kucari selama bertahun-tahun adalah perempuan yang tiap malam menungguku pulang, yang kubiarkan makan sendirian, yang kubuat meminta cinta seperti meminta sedekah."

Leonard berhenti sejenak. Suaranya mulai serak.

Di luar ruangan, wartawan yang tadinya berisik ikut sunyi. Pintu kaca tidak sepenuhnya tertutup, dan beberapa kalimat terakhir terdengar sampai ke halaman.

"Keira, kalau hidupku masih bisa dipakai untuk melindungimu, aku akan memakainya. Kalau kematianku satu-satunya cara agar kau berhenti berdiri di jalur peluru yang disiapkan untukmu, aku juga akan memakainya. Aku tahu ini egois. Aku tahu kau akan membenciku karena memilih mati tanpa izinmu. Tapi aku lebih takut kau melupakanku."

Keira akhirnya berkedip.

Air matanya jatuh tanpa suara.

"Aku ingin menjadi orang yang kau ingat ketika melihat hujan. Aku ingin menjadi nama yang tidak bisa kau hapus walau kau menikamnya ribuan kali dalam hatimu. Kalau itu kejam, biarkan aku tetap menjadi laki-laki kejam terakhir dalam hidupmu."

Kevin mengepalkan tangan.

Leonard membaca kalimat terakhir dengan suara hampir pecah.

"Jangan maafkan aku terlalu cepat. Jangan mencintaiku hanya karena aku mati. Hiduplah lebih terang daripada semua luka yang kuberikan. Dan kalau suatu hari kau merindukanku, cukup panggil namaku sekali. Di mana pun aku berada, aku pasti mendengarnya."

Surat itu selesai.

Ruangan tidak langsung bernapas.

Keira berdiri perlahan.

Kursinya bergeser di lantai, suaranya kecil tetapi semua orang mendengarnya.

Bu Fenny mengangkat wajah dengan mata basah. "Keira..."

Keira mengambil jam tangan hangus dari meja. Besinya dingin di telapak tangan.

"Jangan panggil aku seperti kita keluarga."

Bu Fenny seperti ditampar.

"Tiga tahun lalu, saat aku berdiri di rumahmu sebagai istri Rayhan, kalian tidak pernah mengakuiku. Hari ini, saat Rayhan meninggalkan segalanya kepadaku, kalian baru ingat aku pernah ada."

Tidak ada yang berani membalas.

Seorang direktur Sutanto masih mencoba bicara. "Bu Keira, soal kendali perusahaan, para pemegang saham minoritas tentu perlu kepastian..."

Keira menoleh.

Tatapan itu membuat lelaki itu berhenti.

"Kepastian apa?"

"Tentang posisi Anda. Publik belum tahu latar belakang Anda. Ada risiko pasar bila Sutanto Corp dipimpin mantan istri almarhum yang..."

"Yang apa?" tanya Kevin dingin dari belakang.

Lelaki itu pucat.

Keira melangkah ke pintu kaca.

Pengawal membuka jalan. Wartawan yang menunggu di luar langsung mengangkat kamera dan ponsel. Kilatan flash menyambar. Pertanyaan tumpang tindih.

"Bu Keira, benar Anda mewarisi Sutanto Corp?"

"Apa hubungan Anda dengan keluarga Liem?"

"Apakah Anda akan mengambil alih perusahaan?"

Keira berdiri di anak tangga rumah duka, masih mengenakan pakaian hitam yang sama sejak semalam. Di tangannya ada jam tangan hangus Rayhan. Di belakangnya, Kevin berdiri setengah langkah, wajahnya keras.

Keira menatap kamera pertama.

"Nama saya Keira Liem," katanya.

Halaman rumah duka langsung hening.

"Putri bungsu Hendrik Liem. Adik Darren Liem, Morgan Liem, dan Kevin Liem. Pemilik sah empat puluh lima persen Sutanto Corp sebelum hari ini, dan mulai pagi ini pemegang kendali efektif sembilan puluh persen."

Suara napas tertahan terdengar seperti gelombang kecil.

Seorang wartawan hampir menjatuhkan mikrofonnya.

"Jadi rumor panti asuhan..."

"Benar," kata Keira. "Aku pernah tinggal di panti asuhan. Itu bagian hidupku. Bukan aibku."

Kevin menatap punggung adiknya, matanya memerah.

Keira melanjutkan, "Mulai hari ini, tidak ada lagi keluarga Sutanto yang memakai masa laluku untuk menghina siapa pun. Tidak ada lagi orang yang menyentuh Sutanto Corp tanpa izinku. Dan siapa pun yang terlibat dalam kematian Rayhan Sutanto, entah dari keluarga Liem, Sutanto, atau pihak lain, akan kubawa keluar ke tempat terang."

Kamera-kamera menyala liar.

Di dalam rumah duka, Bu Fenny duduk lemas. Sherly menatap Keira dengan ketakutan baru. Para direktur Sutanto saling berpandangan, wajah mereka sudah kehilangan semua hitungan yang sempat mereka susun.

Keira kembali masuk tanpa menjawab pertanyaan lain.

Ia mengambil kotak abu Rayhan dengan kedua tangan.

"Aku akan membawa dia pergi," katanya.

Kevin mendekat. "Ke mana?"

Keira melihat kotak itu. "Jakarta. Ke rumahku yang sebenarnya."

Kevin tidak membetulkan bahwa mereka sudah berada di Jakarta. Ia mengerti maksudnya. Bukan kota di peta, melainkan pusat hidup yang selama tiga tahun ia tinggalkan demi pernikahan yang salah.

Malam itu, Villa Teluk menjadi kosong.

Pakaian Keira, dokumen penting, beberapa buku, dan kotak kecil berisi jam tangan Rayhan dipindahkan ke kediaman Liem di Menteng. Ia tidak membawa foto pernikahan. Tidak membawa peralatan makan yang pernah ia pilih sendiri saat masih berharap Rayhan akan pulang untuk makan malam.

Ia hanya membawa kotak abu itu.

Sebelum meninggalkan Villa Teluk, Keira berdiri di ruang tengah. Di tempat Rayhan pernah berlutut, pernah menulis kesalahan di buku tugas, pernah mencuci piring dengan tangan yang tidak terbiasa bekerja rumah, lantainya tampak bersih seperti tidak pernah menahan apa pun.

Keira meletakkan tangan di atas kotak abu.

"Rayhan," katanya pelan.

Tidak ada jawaban.

Hanya gema AC dan suara ombak jauh dari balik kaca.

Keira menutup mata.

Untuk pertama kalinya, ia membiarkan air mata jatuh tanpa menghapusnya.

"Aku memanggil namamu."

Di luar, mobil Kevin menunggu.

Keira keluar dari Villa Teluk tanpa menoleh lagi. Pintu tertutup di belakangnya, dan bersama bunyi kunci otomatis yang dingin itu, tiga tahun pernikahan, dendam, hukuman, dan cinta yang terlambat tinggal sebagai abu di dalam pelukannya.

1
Diah Susanti
ini salah satu keahlian orang Indonesia, bisa mengetahui kehadiran seseorang yang dikenal dari suara kendaraannya. bahkan dari langkah kaki juga batuk/dehemannya😄😄😄
Tri Septi
pembalasan ya.....maaf aku kurang sreg😔🙏
Tri Septi
ayo nyalakan apinya 🔥🔥🔥🔥🔥 semangat 💪💪💪
Tri Septi
satu per satu kesalahan harus dipertanggung jawabkan 😇
Tri Septi
semoga keira selamat😯
Tri Septi
sudah terlambat ray🔥🔥🔥
Tri Septi
wah, keira 👍 lanjutkan Thor, makasih 🙏🙏
Tri Septi
taktik Rayhan setelah tahu keira siapa .... telat bro! 🔥
Tri Septi
ini baru permulaan 😆😆😆
Tri Septi
ternyata jago beladiri😍😍😍
Tri Septi
hemmmm....orang kaya mah bebas ya, lanjut thor👍
Tri Septi
en in en......gimana kelanjutannya, tunggu episode berikut....😁🤣🤣🤣
Tri Septi
ayo mulai babak baru 👍😍
Tri Septi
lanjut Thor 👍 suka' 😍😍😍
Tri Septi
hemmmm....teh hijau sudah muncul🤔
Tri Septi
selamat datang kembali menuju kehidupan baru keira 😍😍😍
Tri Septi
aku mampir thor😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!