Selama tiga tahun, Anisa menjadi istri pengganti Galang Gondokusumo—menggantikan posisi cinta pertamanya yang menghilang. Tiga tahun melayani, tiga tahun diabaikan, tiga tahun diperlakukan seperti bayangan orang lain.
Sampai akhirnya, Galang melemparkan surat cerai ke wajahnya.
"Tanda tangani. Sherly sudah kembali."
Malam itu, Anisa ditabrak mobil yang dikirim oleh Sherly Permata—perempuan yang merebut suaminya. Darah membasahi aspal. Galang melintas di lokasi kecelakaan tanpa menoleh.
Dia pikir Anisa sudah mati.
Tapi yang mati malam itu bukan Anisa.
Yang mati adalah **kebohongan**.
Karena benturan itu mengembalikan seluruh ingatannya. Nama aslinya bukan Anisa.
**Namanya Keira Hartono.**
Pewaris tunggal Hartono Group—konglomerat terbesar di Indonesia. Nona besar yang diculik empat tahun lalu dan dianggap hilang selamanya. Perempuan yang dicari oleh sepuluh kakak laki-laki, kakek yang menguasai setengah Jakarta, dan seorang pria misterius yang sudah menunggunya sejak dia berusia satu tahun.
Pria itu bukan Galang.
Pria itu adalah **Rayhan Tanuwijaya**—kepala keluarga Tanuwijaya, penguasa empat keluarga besar Jakarta. Dingin kepada semua orang. Kecuali kepada Keira.
Sekarang Keira kembali. Dengan ingatan yang utuh, identitas yang sesungguhnya, dan daftar panjang orang-orang yang harus membayar.
Sherly Permata? Akan kehilangan segalanya.
Galang Gondokusumo? Akan berlutut memohon.
Dan dunia yang pernah menginjak-injaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29: Topeng yang Retak
"Keira..."
Keira berhenti di depan pintu kaca hotel, tetapi tidak berbalik.
Galang berdiri beberapa langkah di belakangnya. Napasnya tidak stabil, dasinya miring, wajahnya pucat seperti seseorang yang baru keluar dari ruang duka.
"Aku..." Suaranya patah. "Aku tidak tahu."
Keira menatap pantulan samar mereka di kaca.
"Kamu tidak tahu karena kamu tidak pernah mau tahu."
Galang seperti ditampar.
Ia ingin maju, tetapi Aqil muncul di sisi Keira tanpa suara. Tidak mengancam. Hanya hadir. Kehadiran itu cukup untuk mengingatkan Galang bahwa jarak di antara mereka bukan lagi beberapa langkah, melainkan seluruh hidup yang ia hancurkan sendiri.
"Aku akan bicara dengan Sherly," katanya serak.
"Itu urusanmu."
Keira berjalan keluar.
Malam itu, Galang membawa Sherly kembali ke Gondokusumo dengan mobil terpisah dari rombongan tamu lain. Tidak ada percakapan sepanjang jalan. Sherly duduk di kursi belakang, memeluk clutch yang sudah penyok, matanya kosong menatap lampu jalan.
Begitu mereka masuk ruang tamu utama, Galang menutup pintu.
Suara pintu itu membuat Sherly tersentak.
"Jelaskan," kata Galang.
Sherly perlahan mengangkat wajah. Air matanya sudah kering, meninggalkan garis hitam tipis di pipi. "Aku juga korban malam ini."
Galang tertawa sekali. Pendek. Pahit. "Korban?"
"Kamu lihat sendiri bagaimana mereka mempermalukan aku di depan semua orang. Keira merencanakan semuanya."
"Dia menunjukkan rekaman suaramu."
"Itu bisa diedit."
"Transfer ke sopir?"
"Aku tidak tahu."
"Hotel?"
Sherly menggigit bibir. "Galang, tolong. Jangan tanya seperti polisi. Aku kekasihmu."
Kata itu dulu mungkin cukup.
Malam ini tidak.
Galang melangkah mendekat. "Kamu mendorong Anisa ke kamar hotel?"
Sherly langsung menangis. "Aku panik. Waktu itu aku takut kehilangan kamu. Aku tahu itu salah, tapi aku tidak berniat sejauh itu."
"Tidak berniat?" Suara Galang naik. "Dia tidak sadar. Kamu menyerahkan dia ke situasi yang bahkan tidak bisa dia lawan."
"Aku tidak menyuruh siapa pun menyakitinya."
"Lalu mobil itu?" Galang membanting ponsel ke meja, menampilkan potongan bukti yang tadi sempat ia simpan. "Kamu hampir membunuhnya."
Sherly menutup wajah. "Aku melakukan semua itu karena aku mencintaimu."
Ruangan itu mendadak terasa sangat dingin.
Galang menatap perempuan di depannya.
"Karena aku?"
Sherly mengangguk cepat, seolah menemukan pegangan. "Iya. Karena kamu. Karena aku tahu kamu tidak pernah mencintai Anisa. Dia hanya beban dari keputusan keluarga. Dia mengambil tempat yang seharusnya jadi milikku."
"Dia istriku."
"Istri pengganti!" Sherly berteriak. Tangisnya pecah menjadi sesuatu yang lebih tajam. "Semua orang tahu dia bukan siapa-siapa sebelum Hartono datang menjemputnya. Dulu dia hanya perempuan mandul yang tinggal di rumahmu, makan dari keluargamu, memakai nama Gondokusumo tanpa pantas."
Galang mundur satu langkah.
Itu bukan lagi Sherly yang menangis di mobilnya.
Itu bukan perempuan lembut yang dulu ia lindungi dari semua gosip.
Ini wajah di balik topeng.
Sherly menyadari tatapannya berubah, tetapi sudah terlambat. Kebencian yang ia tahan bertahun-tahun sudah keluar terlalu jauh.
"Kamu tidak mengerti rasanya," katanya, napasnya berat. "Aku menunggu kamu. Aku menahan hinaan orang. Lalu perempuan itu duduk di tempatku, memakai cincinmu, tidur di rumahmu. Aku cuma mengambil kembali yang memang milikku."
"Dengan membunuh?"
"Dia tidak mati."
Kalimat itu membuat Galang membeku.
Sherly pun membeku, seolah baru mendengar kata-katanya sendiri.
Di luar ruang tamu, langkah tongkat terdengar pelan.
Engkong Gondokusumo muncul di ambang pintu. Wajahnya lebih tua dari beberapa jam lalu.
"Cukup," katanya.
Sherly langsung menunduk. "Engkong, saya..."
"Jangan panggil aku begitu." Suara lelaki tua itu rendah. "Kau tidak punya hak memakai panggilan keluarga di rumah ini."
Sherly pucat.
Galang menoleh pada kakeknya, tetapi tidak mengatakan apa pun.
Engkong Gondokusumo memandang cucunya. "Aku sudah terlalu lama membiarkanmu memilih dengan mata tertutup."
Galang menelan ludah.
"Mulai malam ini," lanjut Engkong, "perempuan ini tidak boleh masuk rumah Gondokusumo tanpa izinku."
Sherly terhuyung. "Galang..."
Galang tidak segera menjawab.
Itulah kelemahannya.
Bahkan setelah semua bukti itu, bahkan setelah mendengar Sherly menyebut Anisa tidak mati seolah itu cukup untuk menghapus dosa, Galang masih berdiri di antara jijik dan kebiasaan lama.
Sherly melihat celah itu.
Ia langsung memakainya.
"Kamu tahu aku sendirian sekarang," bisiknya. "Papa meninggalkan aku. Semua orang memusuhi aku. Kalau kamu juga membuang aku, aku tidak punya siapa-siapa."
Galang menutup mata.
Keira pernah tidak punya siapa-siapa.
Namun saat itu, ia yang membuangnya.
"Pergi dulu," katanya akhirnya.
Sherly mengangkat wajah. Ada harapan kecil di matanya. "Galang..."
"Aku bilang pergi."
Kali ini suaranya tidak keras, tetapi lebih final.
Sherly mengambil tasnya dengan tangan gemetar. Ketika melewati Galang, ia sengaja memperlambat langkah, berharap ia memanggilnya kembali.
Galang tidak memanggil.
Di teras, Sherly berhenti sebentar. Udara malam menyentuh wajahnya yang panas. Ia menoleh ke pintu besar Gondokusumo yang tertutup, lalu untuk pertama kalinya menyadari bahwa rumah itu tidak lagi otomatis terbuka untuknya.
Tangannya merogoh ponsel.
Nama Galang masih ada di layar panggilan cepat, tetapi ia tidak menekannya. Malam ini, tangis tidak cukup. Ia membutuhkan orang lain. Orang yang tidak peduli apakah ia benar atau salah, selama ia masih bisa dipakai.
Namun belum ada nama yang berani ia hubungi.
Ia masuk ke mobil dengan tubuh gemetar, membawa rasa malu yang sudah berubah menjadi dendam baru.
Setelah pintu tertutup, ruang tamu terasa kosong.
Galang duduk di sofa, kedua tangannya menutup wajah. Engkong Gondokusumo berdiri beberapa saat, lalu pergi tanpa menghibur. Tidak ada kata yang cukup untuk menambal malam itu.
Di kepala Galang, suara Sherly terus berulang.
`Dia tidak mati.`
Seolah hidupnya Keira hanya selisih kecil yang boleh diabaikan.
Galang teringat Anisa yang dulu menunggu di meja makan sampai sup menjadi dingin. Anisa yang menaruh obat di samping tempat tidurnya ketika ia pulang demam. Anisa yang selalu meminta maaf lebih dulu, bahkan ketika ia yang disakiti.
Ia pernah menyebut perempuan itu beban.
Sherly menyebutnya penghalang.
Pada akhirnya, mereka berdua sama-sama tidak pernah melihat Anisa sebagai manusia yang bisa hancur.
Ponsel Galang menyala.
Nomor tidak dikenal mengirim sebuah video.
Tidak ada pesan pembuka. Tidak ada ancaman. Hanya satu file video, seolah pengirimnya tahu bahwa gambar itu sudah cukup untuk menghancurkan sisa pembelaan Galang.
Galang membukanya dengan jari kaku.
Rekaman CCTV hotel satu tahun lalu muncul di layar. Koridor buram, lampu kuning, tubuh Anisa yang tidak sadar. Lalu Sherly masuk ke bingkai, memegang lengan Anisa, dan mendorongnya ke sebuah kamar.
Galang berhenti bernapas.
Di layar, pintu kamar itu tertutup.
Tangannya jatuh lemas ke pangkuan tanpa tenaga.