NovelToon NovelToon
Menikahi Sang Pewari

Menikahi Sang Pewari

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta setelah menikah
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Senja Liem tidak punya pilihan selain menikah dengan Rayhan Wijaya — pewaris konglomerat paling dingin di Jakarta. Pernikahan kontrak dua tahun, tanpa cinta, tanpa sentuhan. Tapi dia tidak tahu bahwa suaminya diam-diam sudah membeli dua pulau atas namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34

Canggung

Pagi setelah kait kostum itu terlepas, sarapan di Wijaya Mansion terasa terlalu rapi.

Piring diletakkan tanpa bunyi. Sendok sup menggesek porselen hanya sekali. Pak Hadi berdiri di sisi meja dengan wajah tenang yang justru membuat Senja curiga bahwa pria itu melihat segalanya, atau setidaknya melihat cukup banyak untuk tidak perlu bertanya.

Rayhan duduk di seberangnya, membaca tablet.

Senja mengaduk bubur terlalu lama.

"Buburnya tidak bersalah," kata Rayhan tanpa mengangkat wajah.

Tangan Senja berhenti. "Aku tahu."

"Kalau tahu, makan."

Nada itu sama seperti biasa. Singkat, tenang, sedikit menyebalkan. Namun setelah semalam, kalimat biasa pun terdengar seperti sesuatu yang menyentuh tengkuknya lagi.

Senja menunduk dan menyuap bubur.

Pak Hadi berdeham pelan. "Nyonya ada latihan tambahan pukul sepuluh. Mobil sudah disiapkan."

"Terima kasih, Pak Hadi."

"Saya juga sudah meminta dapur menyiapkan bekal."

Rayhan menambahkan, "Dua kotak. Satu untuk kamu, satu untuk Lara. Supaya dia tidak mencuri punyamu."

Senja hampir tersedak.

"Lara tidak mencuri."

"Dia meminjam tanpa mengembalikan."

Pak Hadi menunduk, tetapi sudut mulutnya bergerak.

Senja menatap Rayhan. Untuk pertama kalinya sejak semalam, matanya berani bertemu mata pria itu lebih dari satu detik.

"Kamu mengingat nama teman-temanku sekarang?"

"Aku mengingat siapa saja yang berpotensi mengganggu jadwal makanmu."

Jawaban itu terdengar datar. Terlalu datar untuk seseorang yang semalam harus mundur setengah langkah hanya karena ujung jarinya menyentuh kulitnya.

Senja kembali menunduk, tetapi kali ini bukan untuk menghindar. Dia menyembunyikan senyum kecil di balik mangkuk.

Di sanggar, suasana jauh lebih ribut.

Ko Jefri memasang papan jadwal baru di dinding. Di bawah judul showcase, nama Senja berada di urutan kedua setelah pembukaan singkat dari pembawa acara. Tim dokumentasi Dewan Kesenian datang membawa kamera, lampu kecil, dan kain latar hitam yang dipasang di sudut ruang latihan.

"Kita hanya ambil beberapa foto gerak," kata salah satu staf dokumentasi. "Untuk teaser media sosial. Tidak perlu full costume."

Lara langsung berbisik di telinga Senja, "Siap-siap jadi viral versi elegan."

"Jangan bicara begitu."

"Kenapa? Kamu lebih suka viral versi Serena?"

Senja mencubit punggung tangan Lara.

Latihan dimulai dengan pemanasan panjang. Ko Jefri memperbaiki posisi kaki Senja dua kali, lalu meminta bagian jatuhan diulang sampai gerakannya tidak terdengar seperti tubuh yang dipaksa turun, melainkan tubuh yang memilih menyerah sebelum bangkit lagi.

"Jangan takut lantai," katanya.

"Aku tidak takut."

"Kalau tidak takut, jangan minta maaf saat jatuh."

Senja menggigit bibir. Kalimat itu mirip dengan ucapan Pak Budiman kemarin. Jangan minta izin untuk terlihat. Jangan minta maaf saat jatuh.

Ketika kamera mulai menyala, dia mengambil posisi dengan napas lebih pelan. Musik masuk. Telapak tangannya bergerak dari dada ke luar, kali ini tidak berhenti di tengah. Lututnya turun, kain latihan menyapu lantai, lalu tubuhnya berputar dengan garis leher terbuka karena rambutnya diikat tinggi.

Kilatan kamera terdengar.

Di hitungan terakhir, staf dokumentasi menghentikan musik. "Boleh satu lagi dari belakang? Garis tengkuknya bagus untuk siluet."

Senja membeku.

Tengkuk.

Secara profesional, permintaan itu masuk akal. Dalam tari, garis leher dan bahu memang bagian dari bentuk. Namun sejak semalam, kata itu membawa panas yang berbeda. Tanda lahir di belakang lehernya juga terasa seperti sesuatu yang seharusnya ditutup, meski tidak ada yang tahu artinya.

Lara yang berdiri dekat kipas langsung menyadari perubahan wajahnya.

"Kita bisa pakai angle samping," kata Lara cepat kepada staf itu. "Gerakannya lebih kuat dari samping."

Staf dokumentasi tampak hendak menjawab, tetapi Ko Jefri lebih dulu mengangkat tangan.

"Samping saja. Kalau penarinya tidak nyaman, hasilnya juga jelek."

Senja menghela napas yang tadi tertahan.

"Terima kasih," bisiknya kepada Lara.

Lara hanya mengangkat alis. "Aku memang dibayar semesta untuk menjaga kehormatan tengkukmu."

"Lar."

"Apa? Aku tidak menyebut nama siapa pun."

Senja ingin marah, tetapi pipinya sudah panas duluan.

Sesi foto selesai menjelang sore. Saat Senja duduk di lantai sambil membuka plester dari jari kakinya, HP Lara berbunyi terus-menerus.

"Teaser pertama sudah naik," kata Lara.

Senja belum sempat melihat ketika pintu sanggar terbuka.

Rayhan masuk bersama Pak Hadi, membawa map hitam. Kedatangannya tidak seribut gala dinner, tetapi beberapa penari tetap otomatis menoleh. Pria itu mengenakan kemeja putih tanpa jas, lengan digulung sampai siku, wajahnya seperti orang yang hanya mampir lima menit dan tidak ingin mengakui bahwa lima menit itu sudah direncanakan.

Ko Jefri menyambutnya. "Pak Wijaya."

"Ko Jefri. Saya membawa draft dukungan teknis untuk showcase. Tidak mengikat nama Senja secara pribadi. Semua atas nama program."

Ko Jefri menerima map itu, lalu tersenyum kecil. "Anda sudah belajar bahasa sanggar."

"Saya belajar supaya tidak salah pegang."

Senja, yang sedang menempelkan plester baru, hampir menjatuhkan gulungan perekat.

Lara batuk terlalu keras.

Rayhan menoleh ke arah Senja. Matanya turun sebentar ke jari kakinya yang merah.

"Luka?"

"Biasa."

"Biasa bukan jawaban medis."

"Lecet kecil. Ko Jefri sudah lihat."

Ko Jefri mengangkat tangan. "Benar. Lecet penari, bukan drama rumah sakit."

Rayhan diam sebentar, lalu mengangguk. Dia tidak memanggil dokter. Tidak memerintahnya pulang. Hanya mengambil kursi kecil dari samping dinding dan meletakkannya di dekat Senja.

"Duduk di kursi saat pasang plester."

Senja menatap kursi itu.

Hal sekecil itu seharusnya tidak membuat dadanya lembut.

Di layar HP Lara, teaser video mulai berputar. Senja terlihat dalam siluet samping, tangan terbuka, tubuh hampir jatuh tetapi tidak benar-benar kalah. Komentar pertama mulai masuk. Beberapa memuji geraknya. Ada yang bertanya siapa penarinya. Ada yang menulis bahwa karya itu terasa seperti perempuan yang akhirnya berani mengambil tempat.

Lara menyodorkan HP ke wajah Senja. "Baca. Jangan pura-pura tidak peduli."

Senja membaca komentar itu satu per satu. Ada rasa hangat yang pelan-pelan naik, bukan karena dipuji, tetapi karena untuk sekali ini orang melihat geraknya sebelum melihat statusnya.

Rayhan berdiri tidak jauh, ikut menatap layar tanpa mengambilnya.

"Kamu senang?" tanyanya.

Senja mengangguk. "Takut juga."

"Takut apa?"

"Kalau setelah mereka melihat, ternyata tidak cukup bagus."

"Mereka sudah melihat. Mereka tetap ingin melihat lagi."

Kalimat itu sederhana, tetapi sampai di dada Senja dengan cara yang sama seperti kalimatnya kemarin. Kalau ingin, ambil.

Sore berubah gelap ketika mereka pulang. Di mobil, Senja duduk dengan tas latihan di pangkuan. Rayhan tidak membuka laptop. Pak Hadi mengemudi tanpa komentar, mungkin sengaja memberi ruang.

"Terima kasih untuk draft dukungan itu," kata Senja.

"Itu untuk sanggar."

"Tetap saja."

"Aku tidak ingin orang bilang kamu dapat panggung karena namaku."

Senja menoleh.

Rayhan memandang jalan di depan. "Jadi aku pastikan dukungannya lewat program, bukan lewat kamu. Kalau suatu hari orang memujimu, mereka tidak punya alasan murah untuk mengecilkanmu."

Kaca mobil memantulkan wajah Senja yang mendadak sulit bicara.

Selama ini, banyak orang memakai nama keluarga untuk menentukan nilainya. Liem untuk menagih. Wijaya untuk mencurigai. Rayhan justru memakai namanya sendiri untuk mundur satu langkah, supaya tempat Senja tidak tertutup bayangannya.

"Kamu belajar cepat," katanya pelan.

Rayhan menoleh sedikit. "Tentang bahasa sanggar?"

"Tentang tidak salah pegang."

Diam jatuh di antara mereka.

Pak Hadi tidak batuk. Kali ini dia benar-benar profesional.

Rayhan memalingkan wajah ke jendela, tetapi Senja melihat telinganya sedikit memerah.

Di rumah malam itu, teaser video diputar sekali lagi di kamar Senja. Bukan karena dia ingin menghitung komentar. Dia hanya ingin memastikan perempuan dalam siluet itu benar-benar dirinya.

Notifikasi baru muncul di layar.

Dari nomor Serena.

Serena: Wah, sekarang sudah jadi penari Dewan Kesenian? Hati-hati, Senja. Panggung membuat orang lupa diri.

Senja menatap pesan itu lama.

Dulu, kalimat seperti itu cukup untuk membuatnya menutup aplikasi dan kehilangan selera makan. Malam ini, dia hanya mematikan layar, lalu membuka kalender kecil di meja rias.

Tanggal showcase dilingkari dengan tinta biru.

Di sudut halaman yang sama, ada satu tanda kecil lain. Tanda yang dia buat sendiri tanpa sadar beberapa minggu lalu.

Akhir tiga bulan.

Jaraknya semakin pendek.

Senja menutup kalender pelan, tetapi jantungnya tetap tidak mau ikut tenang.

1
D..
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!