NovelToon NovelToon
Gadis Mungil (Menikah)

Gadis Mungil (Menikah)

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:5.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Motifasi_senja

Kelanjutan dari Gadis Mungil (I Love You)

Beralih dari kerumitan di masa lalu, setelah terpuruknya keluarga Agus, kini Mona harus menghadapi kehidupan baru. kehidupan setelah lulus SMA, bersiap untuk menikah dan apa yang akan di lakukan setelah menikah.

Mona dan Arga, masih saling mencintai dengan cara mereka masing-masing. pertengkaran, kenyolan seperti biasanya.


jika ada kesalahan nama tokoh maupun tempat, mohon di mengerti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motifasi_senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Mengambil Cincin

Melanjutkan hari kemarin, hari ini akan benar-benar di gunakan Arga dan Mona untuk mempersiapkan segalanya dengan sangat matang.

Tujuan pertama hari ini adalah, Arga libur kerja, setelah itu kebut menuju Toko perhiasan yang sebelumnya pernah mereka kunjungi. Kemudian, Arga dan Mona akan beralih lagi menuju butik untuk mempersiapkan gaun untuk Mona dan setelan kemeja untuk Arga.

“Kalian mau langsung ke butik kan?” tanya Santi yang sedang berdiri di depan cermin yang menempel di dinding sebelah kulkas. Nampaknya, Santi sedang membenarkan posisi antingnya yang belum pas.

Arga yang sedang sarapan bersama Mona langsung menjawab begitu sesendok nasi yang sudah di kunyah berhasil ia telan. “Aku akan pergi ke toko perhiasan dulu.”

Santi berbalik dan ikut duduk di antara Mona dan Radit yang diam fokus pada sarapannya. “Mona ikut?” tanya Santi.

Merasa namanya disebut, Mona menoleh ke arah ibunya. “Ikut kemana?” tanya Mona. Di hadapannya, Arga spontan menjulingkan mata. Radit masih tak menggubris.

“Ikut Arga ke Toko perhiasan, sayang,” saur Santi. Di belakangnya, Hutomo datang dengan tas kerja di genggaman dan jas hitam masih tersampir di lengannya.

“Aku langsung berangkat,” sela Hutomo di tengah obrolan mereka. “Ayo, Radit!” setelah mencium kening istrinya, Hutomo beralih mengacak rambut Radis yang baru saja menyelesaikan sarapannya.

Hutomo dan Radit pun berlalu. Mereka berjalan sudah melewati ruang tengah, hingga tiba-tiba, suara nenek menghentikan langkah mereka.

“Tunggu, Hutomo!” panggil Meri. Langkah Hutomo berhenti. “Sekalian antarkan Aku ke proyek.” setelah menutup pintu kamar, sambil memakai mantel bulunya, Meri selimpungan mengejar langkah Hutomo. Ketiga orang yang masih duduk di ruang makan cukup memandangi tingkah Meri.

Ketiga orang itu memutar pandangan kembali ke arah meja makan, kembali menikmati sisa sarapan yang sempat terabaikan karena memandangi Meri.

“Kau mau ikut aku ke toko atau pergi dengan ibu?” tawar Arga pada Mona.

Masih sambil mengunyah makanannya, Mona menjawab. “Aku ikut Kak Arga.”

Karena Santi memang sudah selesai dengan sarapan dan Mona memilih ikut Arga, Santi yang kali ini pamit meninggalkan mereka. Selain harus mempersiapkan gaun dan setelan jas untuk Arga dan Mona, Santi memang juga sedang di tuntut untuk membuatkan design gaun untuk seseorang. Maklum, butik Santi termasuk tempat yang memilik koleksi berbagai busana yang memiliki kualitas terbaik.

“Sudah belum?” tanya Arga pada Mona.

Melihat Arga yang sudah berdiri, Mona langsung buru-buru meneguk segelas air putih dan mengelap bibirnya.

Sambil berjalan ke luar, Arga menelpon seseorang. Mona hanya diam dan mengikuti langkah Arga.

“Kau minta yang lain untuk mengurus pekerjaan kantor hari ini,” pinta Arga pada seseorang di balik ponselnya.

Pintu mobil sudah terbuka. Mona lebih dulu masuk dan memilih duduk di jok belakang. Melihat itu, Arga urung masuk. Ponselnya ia kesampingkan dulu dan langsung menunduk melihat Mona.

“Kenapa kau duduk di belakang?” tanya Arga. Orang yang masih stay di balik ponselnya hanya bisa berkerut dahi ketika mendengar ucapan Arga.

Memangnya siapa yang duduk di belakang? Dion melirik posisi duduknya sendiri yang saat ini justru sedang duduk di depan mengemudikan mobilnya sendiri.

“Eh! Aku lupa!” Mona nyengir sendiri. Sementara Arga hanya berdecak.

Begitu mendengar ada suara cempreng, barulah Dion mengerti bahwa Arga sedang bicara dengan calon istrinya.

“Halo Dion! Kau masih di sana?” Arga menempelkan lagi ponsel itu pada daun telinga setelah Mona sudah pindah duduk di jok depan.

“Kau mau kemana?” Dion spontan bertanya. Ada sedikit rasa penasaran karena sepagi ini Arga sudah pergi bersama Mona.

“Aku ada perlu. Kau pasti tahu lah!” sembur Arga. Ponselnya ia gapit dengan pipi dan pundaknya, sementara dua tangannya sibuk memasang sabuk pengaman. Di sampingnya, Mona sudah duduk santai sambil bermain game di ponselnya.

Ya... Dion memang mengerti, dua hari ini Arga pasti akan sangat sibuk mempersiapkan acara pernikahannya. Sekali dalam seumur hidup, tentu membuat setiap pasangan yang hendak menikah akan berusaha supaya pernikahan mereka berkesan dan tak terlupakan menjadi sebuah momen yang paling indah.

Setelah sambungan telponnya terputus dengan Arga, ponsel Dion berdering lagi. Terpampang jelas di layar ponselnya siapa gerangan yang menelpon.

“Halo!” jawab Dion. “Tumben kau meneleponku?” Dion langsung bertanya. Terdengar suara decakan dari bibir si penelpon.

“Kau di mana sekarang?” tanya si penelpon lagi.

“Aku di kantor lah! Hari ini pekerjaanku sangat banyak.” Dengus Dion. “Kenapa memangnya?”

“Tak apa, aku hanya ingin bertanya.”

“Tanya apa?” tanya Dion malas.

“Siapa nama pemilik klub yang memasok minuman dari perusahaan Arga?”

“Heh!” Dion langsung berkerut dahi. Hanya untuk inikah Tora menelpon? Dion nampak bingung.

“Kenapa memangnya?” Dion balik bertanya.

“Sudah, jawab saja!”

“Namanya Jade.”

Tut! Sambungan ponsel terputus begitu saja. Tora langsung berkerut dahi sambil memandangi layar ponselnya. Dion, dia sudah mendengus kesal karena ponselnya pada akhirnya mati. Ia lupa untuk mengisi daya baterainya.

“Kira-kira tadi Tora dengar tidak ya, aku menyebutkan nama Jade?” Dion bergumam. “Dan lagi, untuk apa dia menanyakan hal itu? Pekerjaan dia kan bersama Tuan Hutomo, kenapa juga harus ikut campur urusan perusahaan Arga?” Dion angkat bahu dan kembali lebih fokus untuk menyetir.

Beralih dari sambungan terputus Dion dan Tora, kini Arga dan Mona sudah sampai di toko perhiasan. Begitu masuk ke dalam, keduanya langsung di sambut oleh ketiga karyawan wanita yang kemarin melayani mereka berdua.

Perlu di ketahui, kemarin, setelah kunjungan Arga dan Mona ke toko ini, karyawan itu langsung mencari informasi tentang mereka berdua, yaitu Arga dan Mona. Mereka merasa familiar dengan mereka berdua, tapi sayangnya mereka tak kunjung bisa menebak hingga bos mereka menceritakan siapakah gerangan mereka itu.

Sebagai orang yang pernah melayani keduanya, tentu ketiga karyawan itu langsung terlihat sangat gembira dan tidak menyangka bisa melayani Tuan Argantara dan gadis imut yang akan menjadi calon istrinya.

Untuk soal panggilan Kakak yang kemarin sempet ketiga karyawan itu dengar, sudah mereka abaikan. Yang jelas mereka sangat senang karena hari ini mereka berkesempatan untuk melayani dua sepasang kekasih itu lagi.

“Selamat siang Tuan,” sapa karyawan berambut pendek sebahu.

Arga tak menjawab, tapi Mona yang menjawab sambil tersenyum secerah mungkin. “Siang....”

Huuuh! Menggemaskan sekali! Batin karyawan itu sambil mendaratkan kepalan di kedua pipinya sendiri.

“Bagaimana cincin pesananku? Apa sudah jadi?” tanya Arga tak mau basa-basi.

“Sudah Tuan.” Karyawan itu mengangguk. “Sebentar saya ambilkan.”

Sambil menunggu cincin itu di ambil, Mona memilih menyingkir dan kembali melihat-lihat beberapa lukisan yang kemarin sempat Mona pandangi. Entah kenapa Mona begitu tertarik pada sesuatu yang tertempel di setiap dinding di toko ini. Menurut Mona, semuanya nampak terlihat indah.

“Ini Tuan.” Karyawan itu kembali dengan membawa dua cincin yang tersembunyi di balik wadah kotak kecil.

“Baiklah... terimakasih.” Arga menerima boxs berukuran kecil itu yang sekarang sudah berada di dalam paperbag. “Untuk pembayaran susah saya transfer.”

Ketiga karyawan itu mengangguk.

***

Maaf yaa, update nya lama... masih ada tanggungan nulis di tempat lain. Aku akan usahakan update 1 minggu sekali. aku ambil hari rabu dan minggu.

terumakasih.

1
Qaisaa Nazarudin
Dasar Jalang,Kasih aja ke Dion,Kan dia suka cewek dewasa gak peduli kalo sudah bolong, Untung aja Arga gak mau dan tetap membatasi diri nya dari cewek kek gini..
Qaisaa Nazarudin
Ini jih sahabat paling Lucknut menjebak kawan ke kancah gak bener..
Qaisaa Nazarudin
Mending bawah umur,masih polos,Dari yg udah atas umur,atas bawah bolong..
Ilham Dwi Putra
Luar biasa
Indra Lesmana
bagus
Dhamayanthie Akbar
Kecewa
CUKUP T∆U $∆J∆
namanya Mona panggilannya oon😂😂
CUKUP T∆U $∆J∆
perasaan Meri dehhh🤔🤔knp jd Mira😂
CUKUP T∆U $∆J∆
sama2 bodoh yg akur ya😄😄
CANTIKA
minum kopi pahit yg panas biar seger😂😂
CANTIKA
judulnya gadis bodoh menikah ya Thor😂
maulana syarofa
perusahannya kan banyak, knp hadiahny g mobil?
Wahida Arfiani Smb
ending ta egk enak
egk thu sapa yg kirim fito mona ama varel ke hp arga.
Ros Mailis
Arga" seorang ceo kok jadi bodoh karna cinta dan perarturan yg dia buat sendiri wkwkwk
Ros Mailis
itu bodoh kok kewatan ya 😂😂😂😂
AL Vinoor
kalau hidup cuma makan tidur seharian,itu bukan cuma bodoh,tapi pemalas,karakter Mona ini kaya nya manusia yg betul betul takberguna ya Thor.
Pipitabc Rachma
lanjut donk...
Dyah Shinta
Hahahahahaaa... kasihan ayam gorengnya....
Dyah Shinta
Lha emang Mona dianggap masih anak2 atau bego sih... kapan dia mau dewasanya... Di season 1 dia dibilang cuma bodoh di MTK.
Mestinya ya paling engga dia bisalah menelaah situasi, mengerti masalah dalam keluarga... Duh author... please deh...
Dyah Shinta
Author ... di bab 'malas meladeni' Tora udah kasih tau ke Arga bahwa Jade itu mantan pacarnya 2 bulan waktu dia ke Amerika. Masak di part ini kudu kaget lagi tuh Arga...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!