Perhatian Kian Sakala selalu tercuri pada teman perempuan SMAnya, Wanda Safia yang selalu diperlakukan seperti babu oleh Aditama Hasta.
Wajah lelah dan tertekannya selalu mengusik hati manusiawinya Kian. Tapi sepertinya pertolongannya terhadalp Wanda malah selalu berbuah pahit untuk temannya itu
Semoga suka, ya♡♡♡
Spin off Pesona Cassanova. Tapi bisa dibaca terpisah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan Aditama
Panji Hasta meneguk kopinya dengan wajah stres. Ini cangkir kopi ketiganya. Dasinya sudah dia longgarkan. Jasnya pun sudah dia lepaskan.
Raditya-papanya Mahesa duduk diam mendengarkan keluh kesah teman dekatnya. Mereka.baru saja selesai bertemu dengan beberapa klien dan klien kliennya sudah pulang lebih dulu.
"Aku harus bagaimana? Mirelin masih belum mau memaafkan aku." Helaan nafas panjangnya terdengar.
"Dewa sudah tau identitas Wanda Ngga aku sangka putranya menyukai putriku." Panji menggusar rambutnya.
Raditya terdiam. Dia baru tau kalo Wanda putri Panji setelah Panji sendiri yang memgatakannya beberapa hari yang lalu. Tentu saja dia terkejut karena tidak menyangka temannya yang kalem bisa mengkhianati istrinya, bahkan sampai punya anak yang usianya hampir sepantaran dengan anak anak mereka.
"Tama dan Mirelin selalu memintaku agar membawa Wanda pulang. Aku tau motif mereka. Semua dosaku yang mikul Wanda." Panji menundukkan kepalanya. Helaan nafas kesal.berulang kali terdengar.
Hening. Panji meneguk lagi kopinya hingga menyisakan sepertiga cangkir. Saat ini yang dia butuhkan memang bercangkir cangkir kopi pahit untuk membasahi tenggorokannya.
"Tapi aku lega, Kian bisa menjaga Wanda. Dewa dan istrinya juga tidak mempermasalahkan status Wanda. Tapi malah membuat aku merasa malu. Dana menitipkan Wanda agar aku bisa menjaganya dengan baik. Dia menitipkan Wanda karena umurnya sudah ngga panjang lagi. Tapi apa yang aku lakukan. Aku malah membuat Wanda menderita." Dia menyusut kasar air matanya yang mau tumpah.
Raditya hanya bisa menghela nafas berat.
Hening sesaat. Keduanya sibuk dengan pikiran masing masing.
"Lebih baik, biarkan saja Wanda bersama keluarga Kian. Setidaknya kamu tidak terlalu merasa berdosa dengan Dana lagi."
Raditya pernah mengenal Dana. Menurutnya, gadis itu asisten yang cekatan. Ngga dia sangka, temannya terlibat affair dengannya.
Panji menatap wajah Raditya sebentar. Wajahnya sangat kusut, kemudian dia mengalihkan tatapnya. Dalam hati dia setuju dengan yang dikatakan teman bisnisnya.
*
*
*
"Kita makan berdua saja, ma?" tanya Aditama sambil menerima piring yang sudah berisi nasi yang diberikan pembantu rumah tangganya.
Tadinya dia mau pergi, tapi ngga tega karena melihat mamanya hanya sendirian di meja makan. Sudah beberapa hari ini papanya seperti menghindari mama mau pun dirinya.
Dia merasa heran dan kesal hanya karena seorang Wanda, bisa membuat mamanya uring uringan dan hampir tiap malam bertengkar dengan papanya.
Perasaan mangkelnya makin bertambah karena papanya seperti sengaja menjauhkan Wanda darinya.
Apa karena papanya ngga ingin dia masuk.penjara? Aditama ngga yakin dengan alasan papanya. Lagi pula kalo sekedar pembullyan biasa saja, paling dia hanya mendapatkan peringatan. Ngga mungkin dipenjara selama bertahun tahun.
Aditama yakin ada yang disembunyikan papanya. Karena sikap mamanya juga ngga wajar terhadap Wanda. Mama sangat membencinya, itu yang baru dia rasakan dan dia pikirkan sekarang. Perasaan curiga mulai memenuhi isi kepalanya.
"Sepertinya begitu. Papamu lembur." Mirelin mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya dengan wajah tenang.
"Papa sengaja lembur?" Aditama mulai mengiris ayamnya sambil menatap mamanya.
Alis mamanya mencuat ke atas, ekspresi tenangnya sedikit terusik.
"Mungkin."
Tatap mereka bertemu, seolah saling menggali lebih dalam.
Aditama mengiris lagi potongan ayamnya, tetap menatap netra mamanya.
"Mama kenapa benci banget sama Wanda?"
TRING!
Garpu dan sendoknya di tangan mamanya seketika jatuh ke atas piring membuat Aditama makin yakin ada yang mamanya sembunyikan.
Tapi dengan tenang Mirelin meraih lagi sendok dan pisaunya.
"Kamu juga, kan?" tanya mamanya cuek.
"Aku?" Aditama menunjukkan ujung garpu ke arah depan dadanya.
Mirelin mengangguk.
"Aku hanya kesal karena Kian bisa bisanya tertarik dengan dia," ketus Aditama.
Mirelin tidak menyahut.
"Sampai sekarang kamu masih kesal?" Mirelin mengalihkan tatapnya ke arah makanannya.
"Ya. Kesalku baru hilang setelah Wanda meninggalkan Kian."
"Kamu mau Wanda balik ke rumah ini?"
Aditama ngga langsung menjawab. Dia memfokuskan pada makanannya, mengunyah pelan.
Mirelin masih menunggu jawaban putranya.
"Kalo pulang ke rumah, mama juga senang, kan?" tanya Aditama setelah menelan makanannya.
"Sangat senang."
"Karena mama bisa menyiksanya lagi?"
Hampir saja Mirelin tersedak.
"Bukannya kamu yang suka menyiksanya?'
'Aku tidak sefrontal mama," cela Aditama tanpa beban.
Hening.
Sedetik.
Dua detik.
"Itu memang pantas untuknya."
Aditama ingin bertanya lagi karena jawaban mamanya terdengar ngga wajar, tapi wajah mengelam mamanya membuat Aditama mengurunkan niatnya.
Terlihat jelas mamanya sangat membenci Wanda. Dia butuh jawaban sesegera mungkin.
Setelahnya mereka meneruskan makan malam ini dengan sunyi.
Setelah mamanya pergi meninggalkannya, Aditama berjalan ke arah bangunan lain yang merupakan tempat tinggal para pembantu rumah tangganya.
Di halaman depan bangunan itu, dia melihat sosok.yang ingin dia temui. Neneknya Wanda, Nenek Sunarmi.
Wanita tua itu tampak duduk melamun sendirian hingga beliau terkejut ketika sadar ada orang lain berada di dekatnya.
"Tuan muda."
Dari dulu Nenek Sunarmi tidak pernah gugup atau takut menghadapinya. Juga saat menghadapi mama dan papanya. Mungkin karena dirinya sangat dipercaya sebagai tangan kanan kakek neneknya.
Aditama ngga menjawab. Dia malah duduk di samping wanita tua yang tidak pernah membela cucunya.
"Nenek benci denganku?" tanyanya tanpa basa basi.
Wanita tua itu tersenyum lembut sambil menggelengkan kepalanya.
"Nenek merindukan Wanda?" Aditama ngga yakin Nek Sunarmi meng-iyakan. Karena selama ini, sikapnya sangat dingin pada Wanda, begitu juga Wanda. Hubungan keduanya sangat asing.
"Wanda sudah berada di tempat yang lebih baik."
DEG
Walaupun ucapan itu tidak menyalahkannya, tapi Aditama merasa sangat tersindir. Dia sampai tidak bisa membuka mulutnya untuk merespon kalimat Nek Sunarmi.
*
*
*
Pulang ke.rumah adalah hal yang paling memberatkan langkah Panji. Sekarang sudah lewat jam makan malam. Dia sengaja lembur agar tidak menemui anak dan istrinya.
Tapi istrinya seperti sengaja menunggunya. Salahnya pulang lebih cepat dari biasa.
"Jadi kamu tetap membiarkan Wanda di sana?" todong Mirelin langsung begitu suaminya memasuki kamarnya.
Panji menghembuskan nafas kesal. Niatnya mau memulai hubungan baik tetap saja terasa sulit.
"Mirelin. Sebaiknya kita lupakan saja tentang Wanda. Aku sangat mencintamu," mohon Panji sambil melangkah mendekati istrinya yang masih memasang.wajah datar.
Mirelin mendengus.
"Aku ngga mungkin lupa. Kamu ngga takut Tama tau rahasiamu?"
Panji meletakkan bokongnya di samping Mirelin. Menatap istrinya dengan kelelahan yang nyata.
"Tama ngga akan tau," desisnya.yakin.
"Tama menginginkan Wanda kembali. Kamu tau, kan, sekeras apa watak anakmu," decak Mirelin dengan tatapan penuh bara.
"Tama ngga akan tau kalo.kita tetap diam."
Mirelin menarik nafas dalam, tapi dia mendadak berdiri dengan wajah kaget. Dia seolah.menangkap siluet seseorang di luar pintu kamar yang ternyata tidak.tertutup.rapat.
"Ada apa?" Panji juga ikut berdiri, bahkan juga melangkah menjejeri istrinya yang setengah berlari ke arah pintu kamarnya.
"Kenapa kamu ngga menutup rapat pintunya," marah Mirelin setelah buru buru membuka pintu kamarnya untuk melihat siapa yang berada di luar kamarnya..
Dia tidak melihat siapa pun. Tapi anehnya, jantungnya berdegup ngga normal hingga perasaannya terasa ngga nyaman.
"Maaf, aku lupa," sesal Panji, juga melihat ke arah luar kamar yang pintunya sudah dibuka istrinya.
"Tenanglah, ngga ada siapa siapa," ucapnya berusaha menenangkan kekhawatiran istrinya.