Vina, gadis desa sederhana, menyelamatkan Radit, perwira militer yang terjebak perangkap dan badai kabut di hutan perbatasan. Merasa berutang budi sekaligus kagum, Radit akhirnya membawa Vina ke kota untuk dinikahi dan tinggal bersama keluarganya yang kaya raya serta terpandang.
Namun di rumah itu, Vina terus ditekan dan direndahkan sebagai "gadis kampung". Di tengah kejamnya intrik kasta kota dan perbedaan status sosial, sebuah rahasia masa lalu perlahan terkuak.
Akankah cinta mereka mampu bertahan diuji antara ketulusan, harga diri, dan kejamnya tatanan kasta kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 : Kilas Balik —Gaun Merah
Deru halus mesin mobil sedan mewah itu perlahan meredam begitu terparkir rapi di pelataran luas mansion Laksmana.
Pintu mobil terbuka, menampilkan sesosok gadis anggun yang mengenakan gaun berwarna merah sangat menyala dan mencolok di bawah terik matahari siang itu.
Sella melangkah keluar, menyampirkan tas jinjing bermerek di lengannya, lalu jemari lentiknya bergerak memperbaiki letak kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.
Di tangan kirinya, ia menjinjing sebuah keranjang rajut berisi buah-buahan segar yang baru saja ia beli dari pasar kota. Sella tersenyum tipis, membayangkan bagaimana wajah Nyonya Besar akan senang menerima perhatian kecil darinya ini.
Namun, baru saja Sella hendak melangkah menuju pintu utama mansion, sebuah deru mesin yang sangat bising dan kasar memecah keheningan halaman.
CIIIIEEETTT!
Jip militer milik Radit melesat masuk dan direm secara mendadak, terparkir sembarangan tepat di depan undakan tangga rumah tanpa memedulikan estetika. Pintu jip dihantam terbuka, dan Radit melompat keluar dengan derap langkah sepatu lars yang menghentak bumi, menyiratkan ketegangan yang luar biasa.
Sella yang melihat kedatangan pria dambaannya itu seketika tersenyum lebar dan hendak melambaikan tangan. "Radit! Kamu sudah pul—"
Kalimat Sella menggantung begitu saja di udara. Ia langsung menghentikan langkah dan menurunkan tangannya saat melihat raut muka Radit yang merah padam, dengan rahang tegap yang mengeras dan napas memburu karena amarah yang teramat sangat. Pria itu mengabaikan keberadaan Sella dan langsung menerobos masuk ke dalam mansion.
Sella mengernyitkan alisnya di balik kacamata hitamnya, dilingkupi rasa penasaran yang besar. "Ada apa dengan dia? Sepertinya... sesuatu yang sangat buruk sedang terjadi di dalam."
Didorong oleh rasa ingin tahu yang mendalam, Sella melangkah seringan mungkin mendekati pintu utama mansion yang terbuka lebar. Ia berdiri sedikit menyamping di balik pilar besar, meletakkan keranjang buahnya di lantai, lalu sedikit membungkuk untuk mengintip ke dalam aula utama.
Dari balik celah pintu, mata Sella membelalak kaget. Ia menyaksikan pemandangan yang tak pernah ia duga.
Radit sedang mengamuk besar, mencengkeram bahu Vina dan melemparkan selembar kain pel kotor tepat ke wajah Kepala Pelayan yang langsung jatuh berlutut ketakutan.
"Radit mengamuk hanya karena gadis kampung itu disuruh mengepel?" bisik Sella lirih, suaranya bergetar menahan cemburu.
Ketegangan di dalam aula semakin memuncak saat Nyonya Besar Laksmana turun dari lantai dua, dituntun oleh Bi Asih. Bukannya mereda, pertikaian justru meledak menjadi bola api yang besar. Radit langsung menumpahkan amarah dan kekecewaannya, membela Vina habis-habisan di depan ibu kandungnya sendiri dengan kalimat-kalimat yang menembus ulu hati.
"Aku membawa Vina ke sini dan menikahinya bukan untuk menjadikannya seorang pelayan! Melainkan, aku menjadikannya istriku!" Gema suara Radit di dalam aula terdengar jelas sampai ke telinga Sella di luar. "Dia adalah wanita yang kupilih untuk berjalan di sampingku, pemilik sah dari setengah napas dan kehormatanku!"
Mendengar kalimat yang penuh perlindungan yang keluar dari mulut Radit untuk Vina, dada Sella mendadak terasa dihantam batu besar. Napasnya tercekat, dan rasa perih dan panas membakar rongga dadanya.
"Radit sudah benar-benar berubah..." desis Sella dengan suara yang bergetar hebat menahan badai emosi. "Dia yang dulu begitu patuh dan dingin, sekarang rela berkelahi dan membentak ibunya sendiri hanya demi melindungi gadis kampung rendahan itu!"
Tangan Sella yang tersembunyi di balik gaun merah menyalanya mengepal sangat kuat hingga kuku-kukunya memutih dan melukai telapak tangannya sendiri. Kilat kebencian yang murni dan pekat memancar dari kedua matanya yang menatap tajam ke arah Vina yang menangis di belakang punggung Radit.
Sella perlahan mundur dari pintu utama, menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang karena amarah. Ia membalikkan tubuhnya, menatap ke arah koridor samping halaman belakang tempat seorang pelayan bertubuh mungil—Ika—sedang sibuk menjemur pakaian dengan wajah cemberut dan kesal.
Sella menyentuh tas jinjingnya, di mana di dalam sana tersembunyi sebuah botol kaca kecil berisi cairan bening mematikan yang baru saja ia beli dengan harga mahal di gang gelap pasar kota beberapa jam lalu. Sebuah seringai licik dan sangat dingin perlahan terukir di sudut bibir merahnya.
Sella berjalan mendekati pembatas dinding lorong belakang, memperhatikan gerak-gerik Ika yang tampak menyimpan dendam besar pada Vina dari kejauhan.
"Ika... pelayan bodoh yang mudah dihasut," gumam Sella dengan nada merendahkan, namun matanya berbinar penuh siasat busuk. "Apa ide gila dan rencanaku ini akan berguna dan berjalan mulus jika pelayan sebodoh dan se-emosional itu yang bekerja mengeksekusinya?"
Sella mengeluarkan botol racun itu sedikit dari tasnya, membiarkan cairan bening itu berkilau tertimpa cahaya matahari siang, seolah sedang menimbang-nimbang apakah ia harus menyerahkan senjata mematikan ini kepada Ika untuk menghancurkan hidup Vina dan Radit selamanya.
walaupun nyebelin tapi janganlah 😭🤣
takut mlh di usirr😭😭🙏
itu mas dimas mau buat skenario sendiri kah😭
mba vina sini mba cerita, aku nanti yg tanya tanya deh ke mas Radit sama mas dimas nya😭🙏