Seseorang yang mengharapkan cinta dari orang yang paling ia cintai, justru adalah orang yang paling menyakiti. Hingga suatu saat mungkin harapan itu akan muncul dan menemukan seseorang jauh dan mampu memberikan rasa nyaman dan cinta.
Raisa adalah gadis yang baik, namun dia tidak seperti wanita pada umumnya yang di berikan cinta seluas samudera, berharap bahwa suatu saat nanti akan ada cahaya di balik kegelapan yang menyelimuti hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 - Menghadiri Bersama
Bab 11 - Menghadiri Bersama
Raisa segera menyeka sisa air matanya dengan punggung tangan, berusaha menenangkan napasnya yang masih tersengal. Ia melipat surat itu rapi dan menyimpannya di dalam laci meja kecil, seolah menaruh sekaligus mengubur rasa rindu dan kenangan yang tak mungkin lagi diwujudkan. Setelah memastikan penampilannya cukup layak, ia melangkah keluar kamar dan berjalan cepat menuju ruang kerja Senopati yang berada di ujung koridor.
Begitu sampai di depan pintu, ia berhenti sejenak, mengatur detak jantungnya yang kembali berdegup kencang. Ia mengetuk pintu dengan lembut tiga kali.
“Tuan… bolehkah saya masuk?” suaranya terdengar pelan namun cukup jelas.
“Masuklah,” jawab Senopati dari dalam ruangan. Suaranya terdengar tenang, tidak ada nada dingin atau ketegasan seperti biasanya.
Raisa mendorong pintu perlahan dan melangkah masuk. Senopati duduk di balik meja kerjanya, seolah sedang membaca berkas, namun pandangannya segera beralih menatap wanita itu tepat saat ia berdiri di hadapannya. Matanya sekilas mengamati wajah Raisa yang masih tampak sembab, namun terlihat sudah lebih tenang dibandingkan beberapa saat lalu.
“Ada apa? Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?” tanya Senopati, meletakkan pulpennya dan bersandar di kursi.
Raisa menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya kembali dengan perasaan sedikit ragu. “Maaf mengganggu waktu Tuan. Saya hanya ingin meminta izin… malam ini sahabat saya, Tiara, mengadakan pesta ulang tahun di rumahnya. Ia mengirim undangan untuk saya. Apa boleh saya pergi sebentar?”
Suasana menjadi hening sejenak. Senopati menatap Raisa dalam diam, pikirannya melayang. Ia mengerti bahwa wanita itu butuh ruang dan waktu untuk melepaskan beban di hatinya, terlebih setelah membaca surat dari Kelvin tadi. Namun di sisi lain, nalurinya sebagai calon suami membuatnya ingin memastikan keamanan dan keadaan Raisa.
“Berapa lama kau akan berada di sana?” tanya Senopati akhirnya, nada bicaranya tetap tenang namun tetap tegas.
“Mungkin sekitar dua atau tiga jam saja, Tuan. Saya akan pulang sebelum tengah malam,” jawab Raisa cepat, tak ingin membuat Senopati merasa ragu untuk mengizinkannya.
Senopati mengangguk perlahan, lalu mengangkat telepon di meja dan menghubungi Radit yang masih berada di rumah.
“Radit, siapkan mobil.Aku dan Raisa akan keluar, kami akan menghadiri acara ulang tahun sahabat-nya, dan juga siapkan hadiah terbaik dalam dua puluh menit, serta suruh butik langganan untuk pengirim gaun pesta terbaik." Lalu Senopati menutup telepon dan kembali menatap Raisa.
Setelah itu ia melanjutkan ucapannya. “Baiklah, aku izinkan kau pergi.Tapi bersama denganku. Saya tidak ingin sampai kamu di goda oleh pria manapun di sana. Pergi untuk bersiap dalam beberapa menit gaunmu akan tiba." Senopati lalu meninggalkan ruang kerjanya lebih dulu meninggalkan Raisa dalam kebingungan.
Raisa terpaku di tempat, matanya terbelalak tak percaya mendengar ucapan Senopati. Ia menyangka hanya akan diizinkan pergi sendirian, bukan justru didampingi oleh pria itu sekaligus disiapkan segalanya secara mendadak. Rasa bingung bercampur sedikit gugup menjalar di dadanya—bagaimana bisa ia menghadiri pesta ulang tahun Tiara dengan didampingi Senopati, yang dikenal sebagai sosok tegas dan jarang menghadiri keramaian semacam itu?
“Tapi… Tuan, tidak perlu bersusah payah begini. Saya bisa pergi sendiri saja,” ucap Raisa berusaha memperbaiki kesalahpahaman, suaranya terdengar agak tergagap.
Namun langkah Senopati tak berhenti sedikit pun. Ia hanya melambaikan tangan singkat tanpa menoleh, suaranya terdengar tegas namun tak kasar dari balik bahunya. “Sudah diputuskan. Tidak ada penolakan. Cepat bersiap, gaun dan perhiasannya akan sampai sebentar lagi.”
Raisa hanya bisa menghela napas pelan, tak berani membantah lebih lanjut. Ia pun berbalik dan melangkah kembali ke kamarnya, langkahnya terasa lebih lambat dari biasanya. Di dalam hati, ada rasa campur aduk—antara terima kasih atas perhatian Senopati, namun juga cemas memikirkan bagaimana reaksi Tiara dan tamu lain saat melihatnya datang bersama pria yang menjadi calon suaminya itu.
Karena mereka tahu hubungannya dengan Kelvin, lalu bagaimana ia datang dengan pria lain, apa tanggapan mereka nantinya?
Belum sepuluh menit ia duduk di tepi tempat tidur, terdengar ketukan keras namun sopan dari luar pintu. Seorang pelayan masuk membawa kotak panjang berbalut kain sutra cokelat keemasan, diikuti dua orang lagi dengan kotak perhiasan dan sepatu pesta.
“Ini pesanan dari Tuan Senopati, Nona,” kata pelayan itu sambil meletakkan semuanya di atas meja rias. “Butik mengirimkan gaun pilihan terbaik, serta aksesori yang sudah disesuaikan dengan gaunnya.”
Begitu kotak dibuka, Raisa tertegun melihat gaun itu. Warnanya kebiruan kelabu lembut, dengan hiasan renda halus di bagian bahu dan pinggang yang dirancang mengikuti lekuk tubuh tanpa terkesan berlebihan. Bahan kainnya terasa lembut dan jatuh sempurna saat disentuh. Bersamanya ada sepasang anting dan kalung dari mutiara air tawar yang berkilau halus, tidak mencolok namun terlihat sangat mahal dan elegan.
Setelah dibantu pelayan mengenakannya dan merapikan rambut serta riasan sederhana, Raisa berdiri di depan cermin. Ia nyaris tak mengenali dirinya sendiri—rasa lelah dan kesedihan yang tadi masih terlihat samar, kini tertutupi oleh penampilan yang anggun. Namun di balik itu, jantungnya tetap berdebar kencang mengingat ia akan pergi berdampingan dengan Senopati.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan lain. Kali ini suara Senopati yang menyapa dari luar. “Sudah siap?”
Raisa menarik napas panjang, menenangkan diri sekuat tenaga sebelum membuka pintu. Di sana berdiri Senopati yang sudah berpakaian rapi dengan jas hitam berpotongan sempurna, kemeja putih bersih, dan dasi berwarna senada dengan gaun yang dikenakannya. Penampilannya membuatnya terlihat semakin gagah dan berwibawa.
Saat matanya bertemu pandang dengan Raisa, sorot mata Senopati berubah sejenak—terlihat kekaguman yang berusaha disembunyikannya dengan cepat. Ia mengangguk perlahan, lalu mengulurkan satu tangannya.
“Kita berangkat sekarang,” ucapnya pelan.
Raisa meremas ujung gaunnya sebentar, lalu perlahan menyandarkan tangannya di lengan Senopati. Bersama-sama mereka melangkah keluar rumah, menuju mobil yang sudah terparkir rapi di halaman depan. Di dalam hati Raisa, ia mulai menyadari bahwa malam ini takkan berjalan seperti yang ia bayangkan semula.
"Apa Tuan, akan menyetir sendiri?" Tanya Radit yang sudah menunggu di depan.
"Hmm..." Hanya itu suara yang keluar, namun telah di mengerti oleh seorang Radit.
"Ada apa? Apa kamu tidak suka pergi denganku?" Tanyanya saat dalam perjalanan dalam keadaan mobil melaju di tengah jalan raya. "Tapi saya juga tidak peduli kamu suka atau tidak." Benar-benar pria menyebalkan.
"Lalu kenapa bertanya, tidak jelas." Raisa berkata nyaris terdengar oleh Senopati.
"Apa yang kamu katakan, saya tidak mendengarnya?"
"Tidak ada." Raisa lalu membuang muka menatap keluar jendela.
Suasana di dalam mobil sempat hening sejenak, hanya terdengar suara deru mesin dan gemerisik angin yang menerpa kaca jendela. Senopati melajukan kendaraannya dengan tenang, namun sesekali matanya melirik sekilas ke arah Raisa yang masih membuang muka, tampak cemas dan memendam banyak pikiran.
“Kau takut mereka akan menatapmu dengan pandangan aneh?” tanya Senopati tiba-tiba, suaranya datar namun seolah mampu membaca apa yang sedang berkecamuk di dalam hati wanita itu.