Gara-gara utang ratusan juta dan insiden tumpahan wine di restoran, hidup Dokter Namira berubah 180 derajat. Ia mendadak dilamar oleh Maxwell Ezra Tanuwijaya—CEO dingin dan asing, yang ibunya merupakan pasien VIP-nya sendiri.
Awalnya Nami pikir ini cuma pernikahan kontrak biasa di atas kertas demi uang kompensasi. Sampai akhirnya ia membaca isi Pasal 7 di dalam map hitam itu:
"Pihak Kedua wajib melahirkan seorang anak hasil hubungan dengan Pihak Pertama selama masa kontrak berlaku."
Sanggupkah Nami bertahan dalam pernikahan sandiwara yang menuntut rahim dan harga dirinya ini?
Atau ia akan hancur sebelum kontrak itu selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Naura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18 - Melepas Jas Putih
Nami melepas jas putih kebanggaannya pelan-pelan. Kain itu terasa begitu berat hari ini, jauh lebih berat daripada saat ia memakainya selama tiga puluh enam jam penuh di ruang ICU.
Dengan jemari yang gemetar halus, ia melipat jas itu membentuk persegi yang sempurna.
Kenangan begadang dengan tiga cangkir kopi hitam, revisi jurnal yang dilempar dosen penguji, dan kelelahan yang menggerogoti fisiknya demi impian menjadi seorang spesialis kardiologi mendadak berputar cepat di otaknya.
Semua peluh, air mata, dan ambisinya selama bertahun-tahun. Hari ini, semua itu resmi berakhir.
Nami menutup pintu loker dengan bunyi berdentang pelan. Di tangannya, sebuah kardus kecil berisi beberapa buku panduan medis, stetoskop pribadi, dan beberapa barang harian kini berada dalam dekapannya.
Langkah kakinya terasa kosong saat keluar dari ruang loker, menyusuri lantai koridor yang biasanya ia lewati dengan setengah berlari.
Namun, ia tidak bisa melangkah jauh.
Begitu Nami berbelok di sudut koridor sepi dekat tangga darurat, sebuah bayangan tinggi langsung menghadang jalannya. Langkah Nami terhenti seketika.
Brian berdiri di sana. Napas laki-laki itu agak memburu, seolah habis berlari mengitari seluruh penjuru gedung rumah sakit hanya untuk mencari keberadaannya.
Di tangan kanannya, selembar kertas memo merah dari bagian administrasi teremas kasar. Wajahnya sarat akan frustrasi yang mendalam.
"Kau gila, Namira?" Suara Brian memecah keheningan koridor, rendah namun penuh penekanan.
Nami menarik napas dalam-dalam, mengeratkan pelukannya pada kardus di dadanya. "Minggir, Brian. Aku harus pergi."
"Pergi ke mana?!" Brian melangkah maju, mengangkat kertas memo itu ke udara dengan tangan gemetar.
"Ini apa? Surat pengunduran diri permanen? Kau melepas residensimu begitu saja tanpa alasan yang masuk akal? Ada masalah apa sebenarnya? Katakan padaku!"
"Itu keputusan pribadiku," jawab Nami datar, mencoba memasang topeng paling dingin yang ia punya.
"Keputusan pribadi tidak ada yang seimpulsif ini, Nami! Kita berjuang dari semester awal, aku tahu seberapa besar mimpimu di kardiologi," sela Brian cepat, matanya menatap Nami mencari jawaban
"Kau tidak mungkin membuang semuanya hanya karena bosan. Seseorang mengancammu? Atau pihak rumah sakit menekannmu?"
Nami membuang muka, tidak berani menatap langsung sepasang mata Brian yang begitu menuntut kejujuran.p
Di dalam kepalanya, badai kenyataan bergemuruh hebat. Pernikahan kontrak gila yang baru berjalan beberapa hari, rencana kehamilan yang dipaksakan atas nama kontrak, utang piutang ratusan juta yang menjerat lehernya… semua itu berputar-putar di benaknya, mengunci rapat mulutnya.
"Tidak ada yang menekan atau mengancamku, Brian," ucap Nami, berusaha menstabilkan getaran suaranya. "Aku hanya… merasa lelah. Aku ingin fokus pada hal lain."
"Fokus pada apa? Menjadi ibu rumah tangga? Menikah?" Brian mendengus getir, meremas kertas di tangannya hingga membentuk gumpalan tak berbentuk.
"Kau menyembunyikan sesuatu yang besar dariku, Namira. Aku tahu itu. Tatapan matamu tidak bisa berbohong."
"Cukup, Brian," potong Nami, suaranya menajam. Ia membenarkan posisi kardusnya, bersiap mengambil langkah serong untuk melewati tubuh pria itu.
"Urusanku di sini sudah selesai. Aku pergi."
Saat Nami melangkah maju untuk pergi, gerakan Brian jauh lebih cepat. Laki-laki itu berbalik dan langsung menahannya.
Sebuah cengkeraman mendarat di lengan atas Nami, menghentikan seluruh pergerakannya seketika. Kardus di pelukan Nami sedikit berguncang.
"Lepas, Brian," desis Nami, matanya menghunus tajam pada jemari Brian yang melingkar di lengannya.
Brian tidak melepasnya. Pegangan tangan itu justru mengerat, menahan posisi mereka dalam jarak yang begitu dekat di sudut koridor yang sunyi.
Sentuhan itu bertahan cukup lama, menciptakan keheningan yang menyesakkan di antara keduanya.
Di dalam dadanya, jantung Brian berdebar kencang—jauh lebih cepat dan liar dari biasanya. Detakan yang selalu ia rasakan setiap kali berada di dekat wanita ini, namun kali ini terasa berbeda.
Ada rasa takut kehilangan yang amat sangat bercampur dengan debaran asing saat ia terpaksa mengunci pandangannya pada mata indah Nami dari jarak sedekat ini.
Mata hitam legam yang biasanya memancarkan binar tegas seorang dokter, kini terlihat redup, menyimpan rahasia besar yang sengaja dikubur dalam-dalam.
"Jangan seperti ini, Nami… kumohon," bisik Brian, suaranya melunak, berubah menjadi sebuah permohonan yang putus asa.
"Bicaralah padaku. Apa pun masalahnya, kita bisa cari jalan keluarnya bersama."
Nami membeku, menatap lurus ke dalam manik mata Brian yang menyiratkan kedukaan mendalam akibat keputusannya. Otaknya mendadak buntu untuk merangkai kata kebohongan baru.
Dan, tanpa sepengetahuan mereka. Jauh di arah lobi utama yang hanya dibatasi oleh dinding kaca transparan yang luas, sebuah siluet tinggi besar berdiri dengan kokoh.
Di sana, Max bersandar dengan santai namun intimidatif pada sebuah pilar beton besar. Pria itu mengenakan setelan jas hitam mahalnya yang potongannya sangat pas dengan tubuh tegapnya. Kedua tangannya terbenam tenang di dalam saku celana kainnya.
Wajah Max terlampau datar, dingin, dan benar-benar tidak terbaca dari balik kaca tebal itu. Matanya yang tajam bak elang terarah lurus menuju sudut koridor darurat, mengunci objek yang sejak tadi ia perhatikan tanpa jeda.
Tidak ada kobaran amarah yang meledak-ledak di sana. Itu bukan bentuk cemburu buta dari seorang pria yang sedang kasmaran. Bukan.
Tatapan itu jauh lebih berbahaya. Itu adalah kilat dingin dari sepasang mata seekor predator puncak yang sedang diam memantau dari kejauhan—memastikan bahwa mangsa yang sudah dibeli mahal dengan uang kontraknya tidak sedang melanggar batas wilayah kekuasaannya.
Dan entah mengapa, pemandangan jemari Brian yang masih melekat erat di lengan atas Nami di seberang sana, perlahan-lahan mulai mengusik ketenangan Max.
Sentuhan tangan pria asing itu pada Nami yang jelas-jelas sudah bertanda tangan di atas materai miliknya, terasa seperti sebuah gangguan kecil yang tidak menyenangkan di mata seorang Maxwell Ezra Tanuwijaya.
Rahang tegas Max sedikit mengeras dalam diam, tanpa ada satu pun orang di lobi yang menyadarinya.