Han Ji-an rela dicap "mandul" dan dihina mertua demi menutupi aib suaminya, Kang Min-woo, yang tidak subur. Namun, ketulusannya dikhianati. Min-woo berselingkuh dengan sahabat sekaligus dokter kandungan Ji-an, memalsukan rekam medisnya, lalu mendepaknya tanpa sepeser uang pun.
Di titik hancur, Ji-an dinikahi Cha Jin-wook, CEO nomor satu di Korea. Tiga tahun berlalu, Ji-an membuktikan kebohongannya dengan melahirkan dua anak. Kini, ia kembali ke Seoul sebagai Nyonya Besar Cha Group yang elegan, siap menghancurkan karier, rumah tangga, dan harga diri orang-orang yang telah membuangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPILOG 2: Dua Cangkir Teh di Pagi Hari
Tujuh belas tahun setelah kelahiran anak ketiga mereka, kediaman utama di Seongbuk-dong masih mempertahankan keanggunan yang sama. Hanya saja, pohon-pohon pinus di pekarangan kini tumbuh jauh lebih tinggi dan rindang, menyaring sinar matahari pagi menjadi berkas-berkas cahaya keemasan yang lembut di atas lantai marmer teras kaca.
Han Ji-an duduk di kursi santai dekat jendela besar yang menghadap langsung ke taman. Di usianya yang kini telah memasuki kepala lima, kecantikannya tidak memudar; waktu justru mengukir keanggunan yang lebih matang pada garis wajahnya. Gaun terusan sutra berwarna biru pucat yang dikenakannya jatuh dengan pas, memancarkan wibawa seorang Nyonya Besar yang telah pensiun dengan tenang dari hiruk-pikuk dewan direksi yayasan.
Klek.
Pintu geser berbahan kayu jati terbuka senyap. Cha Jin-wook melangkah masuk membawa sebuah nampan kayu kecil berisi dua cangkir porselen yang mengepulkan uap tipis. Rambut hitam legamnya kini telah dihiasi guratan perak samar di bagian pelipis, namun postur tubuhnya tetap tegap dan kokoh, persis seperti tebing batu yang tak pernah terkikis oleh ombak waktu.
"Teh kamomil dengan sedikit madu, seperti biasa," suara berat Jin-wook mengalun rendah, masih memiliki getaran parau yang seksi yang selalu berhasil membuat jantung Ji-an berdesir halus.
Jin-wook meletakkan nampan di atas meja kecil, lalu mengambil posisi duduk di lengan kursi yang diduduki Ji-an. Tanpa memedulikan statusnya sebagai mantan penguasa tertinggi Cha Group yang ditakuti, ia secara alami mengulurkan tangan besarnya untuk mengusap pundak Ji-an, memijatnya dengan ritme lambat yang penuh perhatian.
"Kau bangun terlalu pagi, Ji-an. Udara di luar masih agak dingin," bisik Jin-wook, mencondongkan tubuhnya hingga napas hangatnya yang beraroma mint menerpa pipi istrinya.
Ji-an menyesap tehnya sedikit, lalu mendongak, menyunggingkan senyuman manis yang sama seperti tiga puluh tahun lalu. Ia meraih tangan Jin-wook yang berada di bahunya, membawa telapak tangan kasar itu ke pipinya sendiri, menikmat kehangatan yang tidak pernah berubah sejak hari pertama mereka memutuskan untuk hidup bersama.
"Aku hanya sedang memikirkan bagaimana waktu berjalan begitu cepat, sayang. Rasanya baru kemarin kita sibuk menenangkan Seo-ah yang menangis karena mainannya rusak, dan sekarang... anak-anak sudah memiliki dunia mereka sendiri," lirih Ji-an, matanya menatap ke arah luar jendela di mana rumah itu kini terasa lebih lengang setelah Hyun-woo dan adik-adiknya mulai sibuk dengan urusan manajemen korporasi.
Jin-wook tidak menjawab dengan kata-kata puitis yang berlebihan. Ia hanya menggeser duduknya, merengkuh tubuh anggun Ji-an ke dalam dekapan dadanya yang tetap bidang dan hangat. Ia mengecup puncak kepala istrinya dengan pemujaan yang pekat.
"Anak-anak boleh pergi membentangkan sayap mereka, Ji-an. Tugas kita sebagai orang tua adalah mengantarkan mereka hingga ke gerbang," Jin-wook berbisik parau, mempererat dekapannya, memastikan tidak ada celah dingin yang menyentuh tubuh istrinya. "Tapi bagiku, duniaku tidak pernah berubah arah. Titik awalnya ada padamu, dan titik akhirnya pun akan tetap di sini, di dalam pelukanku."
Ji-an memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan proteksi yang konstan. Di dunia luar, struktur kepemimpinan Cha Group mungkin telah berganti generasi, namun di dalam kamar ini, aliansi cinta mereka tetap berdiri tegak, sekokoh benteng yang mereka bangun bersama dari puing-puing masa lalu
kutunggu kehadiran kaliam🤗✨️