NovelToon NovelToon
Bukan Menantu Pilihan Umi

Bukan Menantu Pilihan Umi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Perjodohan
Popularitas:458
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Gaun Kota Versus Kain Sutra Surau

Gaun kota versus kain sutra surau menjadi pemandangan yang paling kontras saat Hana berdiri gemetar di bawah sorotan lampu panggung aula utama pesantren. Umi Kalsum baru saja menggeser posisi mikrofon perak, lalu mengarahkan telunjuknya ke arah menantu baru yang masih berusaha menyesuaikan diri dengan hawa panas ruangan. Ratusan jamaah wanita seketika menahan napas, menanti kelanjutan maklumat yang akan keluar dari bibir sang penguasa tunggal asrama putri. Keheningan yang tercipta mendadak begitu mencekam, laksana sebuah jebakan visual yang sengaja dirancang untuk menelanjangi ketidakberdayaan Hana di depan publik.

"Hari ini, di depan seluruh jamaah sekalian, saya ingin menunjukkan bagaimana sebuah tradisi suci harus mampu menundukkan selera duniawi yang dibawa dari luar," ujar Umi Kalsum dengan suara bariton yang bergema ke setiap sudut aula.

Hana meremas kuat lipatan kain hijau tua penutup tubuhnya, merasakan keringat dingin mulai membasahi bagian punggung raga. "Umi, mohon maaf jika kehadiran saya dengan pakaian ini dirasa kurang berkenan di hati para sepuh sekalian."

"Ini bukan sekadar masalah berkenan atau tidak, Hana, melainkan tentang kerelaanmu menanggalkan ego kota demi sebuah kehormatan surau," sahut Umi Kalsum tanpa ekspresi datar.

Tepuk tangan halus dari beberapa pengurus senior terdengar laksana hantaman batu yang meruntuhkan sisa kepercayaan diri sang wanita muda. Hana melirik ke arah tabir pembatas, berharap menemukan sepasang mata Azzam yang mampu memberikan sedikit saja kekuatan batin untuk bertahan. Namun, sang suami justru tampak sibuk membolak balik lembaran kitab kuning di barisan laki laki, seolah mengunci rapat kepeduliannya dari panggung persidangan tersebut. Kekecewaan yang teramat pekat kembali merayapi rongga dada Hana, menyadarkannya bahwa ia benar benar berjuang sebatang kara di tengah kepungan tradisi kaku.

Pertikaian mental itu kian memanas ketika beberapa tokoh wanita desa mulai berbisik sambil melempar pandangan menyelidik ke arah panggung utama. Mereka seolah sedang menilai kelayakan fisik dan mental Hana untuk menyandang gelar sebagai calon pendamping pemimpin masa depan pesantren. Kain hijau tua yang membungkus raga Hana terasa semakin berat dan menyiksa, membuat ruang geraknya terkunci rapat laksana seorang tawanan perang. Kondisi fisik yang gerah berpadu dengan tekanan batin yang bertubi tubi membuat pandangan mata Hana sesekali berputar temaram.

"Kemari, berdiri di samping saya agar seluruh hadirin bisa melihat perbedaan nyata antara kain kesahajaan dan gaun penuh kemewahan," perintah Umi Kalsum lagi dengan nada mutlak.

Hana melangkah maju dengan lutut yang terasa lemas, mencoba menegakkan punggung demi menjaga kehormatan diri yang tersisa. "Saya di sini untuk belajar, Umi, bukan untuk dijadikan bahan perbandingan yang memicu gunjingan orang banyak."

"Belajar di tempat ini dimulai dengan kepatuhan total, bukan dengan melontarkan argumen yang menunjukkan kesombongan batin," potong salah satu kerabat wanita Umi dengan ketus.

Azzam akhirnya mendongak, menangkap gelagat bahaya dari perubahan raut wajah istrinya yang kian memucat di bawah terik lampu gantung. Ada dorongan kuat dalam naluri kelelakiannya untuk segera melompat melewati tabir pembatas guna menyudahi penyiksaan karakter yang dialami Hana. Namun, sorot mata tajam sang ibu yang sesekali melirik ke arahnya seketika mematikan seluruh keberanian yang baru saja mekar di dada ustaz muda itu. Kepatuhan buta pada figur orang tua kembali memenangkan pergolakan batin Azzam, memaksanya kembali menunduk mendalami teks kitab suci yang seolah kehilangan makna indahnya.

Hana menggigit bibir bawahnya hingga terasa mati rasa, menahan bendungan air mata yang sudah mendesak di sudut kelopak pelupuknya. Ia merasakan setiap embusan napas di dalam aula ini mengandung bisa yang siap mematikan seluruh sel kebahagiaan yang pernah ia impikan tentang pernikahan. Skenario halus untuk menyingkirkannya secara perlahan kini telah berganti menjadi demonstrasi kekuasaan yang sangat telanjang dan terstruktur dengan rapi. Di tengah riuh rendah lantunan bait selawat, Hana merasa jiwanya terbang menjauh, meninggalkan raga yang terus dihakimi oleh standar kesalehan yang semu.

Acara pengajian siang itu akhirnya ditutup dengan doa panjang yang justru terasa laksana masa hukuman yang tidak kunjung menemui titik akhir bagi Hana. Saat para jamaah mulai membubarkan diri membentuk barisan jabat tangan, Umi Kalsum segera turun tanpa memberikan instruksi lanjutan pada sang menantu. Hana ditinggalkan berdiri kaku di atas panggung yang mulai sepi, ditemani oleh rasa hampa yang kian mengakar di dalam kalbu. Ia melangkah turun dengan sangat hati hati, mengabaikan tatapan sinis dari beberapa santri senior yang masih berlalu lalang merapikan karpet lantai.

Langkah kaki Hana membawa raganya kembali menuju paviliun belakang, mencari ruang aman di mana ia bisa menumpahkan seluruh kesedihan tanpa perlu merasa diawasi. Di dalam kamar pengantin yang sunyi, ia langsung melepas kain kaku tersebut lalu melemparkannya ke atas lantai ubin dengan perasaan muak yang memuncak. Ia kembali mengenakan pakaian lamanya, sebuah gaun kota berbahan lembut yang terasa sangat ramah di kulit tubuhnya yang mulai memerah akibat iritasi. Di depan cermin rias, Hana bersumpah pada diri sendiri bahwa ia tidak akan membiarkan harga dirinya diinjak injak lagi pada hari esok.

Malam pun tiba membawa kesunyian yang jauh lebih pekat ke dalam kamar pengantin yang kehilangan seluruh hangatnya penerimaan tersebut. Azzam melangkah masuk dengan perlahan, meletakkan peci hitamnya di atas meja kerja lalu memandangi punggung Hana yang membelakanginya di tepi ranjang. Suasana di antara sepasang pengantin baru itu terasa semakin mendingin, merenggut sisa kehangatan yang seharusnya tercipta pasca badai siang hari. Lelaki itu berdeham pelan, mencoba memecah kekakuan yang membentang luas laksana jurang pemisah di antara dua hati yang terluka.

"Mengapa kamu harus menunjukkan sikap menantang seperti itu di depan Umi dan para tokoh masyarakat tadi, Hana?" tanya Azzam membuka percakapan dengan nada menyalahkan.

Hana membalikkan badan perlahan, menatap lurus ke sepasang mata suaminya dengan pandangan yang teramat nanar dan kecewa. "Menantang? Apakah mempertahankan sedikit harga diri dari aksi penindasan terbuka di depan ratusan orang disebut sebagai tindakan menantang, Mas?"

"Umi hanya ingin mengenalkanmu pada standar kehidupan kami, jadi tolong jangan terlalu berlebihan dalam merespons setiap didikan," bela Azzam dengan suara rendah.

"Didikan tidak pernah menggunakan panggung untuk mempermalukan seorang manusia, Mas, karena apa yang terjadi tadi adalah murni sebuah eksekusi mental," cecar Hana dengan keberanian yang membubung tinggi.

Lelaki itu memilih bungkam, mengunci rapat mulutnya seolah kehabisan kosakata untuk membalas argumen cerdas dari istri kotanya tersebut. Sikap pasif Azzam kembali menjadi jawaban paling benderang bagi Hana bahwa ia tidak akan pernah mendapatkan pembelaan sejati dari lelaki yang berstatus sebagai imamnya. Kekecewaan yang menumpuk membuat atmosfer di dalam ruangan itu kian mencekik, merenggut sisa sisa oksigen kedamaian yang baru saja ingin mereka hirup bersama. Kesadaran pahit mulai menuntun Hana pada kesimpulan bahwa pernikahan ini mungkin adalah sebuah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Waktu merayap lambat membawa suasana menuju sepertiga malam, namun tidak ada satu pun interaksi hangat yang tercipta di antara kedua anak manusia itu. Azzam memilih menghabiskan waktu dengan tidur memunggungi Hana di sisi ranjang yang lain, sementara sang istri tetap terjaga memandangi langit langit kamar. Setiap detak jarum jam dinding terdengar laksana ketukan palu hakim yang sedang menghitung hari hari penantian menuju kehancuran sebuah komitmen suci. Hana menarik napas dalam dalam, mencoba mengumpulkan kembali sisa sisa energi batinnya yang sudah terkuras habis sepanjang siang hari tadi.

Saat fajar mulai menyingsing kembali di ufuk timur, gema suara azan dari masjid utama mulai menggetarkan kaca kaca jendela paviliun belakang. Hana bangkit dengan tubuh yang terasa remuk, bersiap menghadapi babak baru dari rangkaian ujian hidup yang sengaja disiapkan oleh sang mertua. Ia tahu bahwa setiap jengkal langkahnya di lingkungan pesantren ini akan selalu diawasi oleh mata mata penuh prasangka yang menuntut kesempurnaan. Namun, ia menolak untuk terlihat lemah lagi, memilih melangkah tegak menuju kamar mandi guna membersihkan diri sebelum panggilan ibadah subuh berkumandang.

Ketika ia sedang merapikan jilbabnya di depan cermin, selembar kertas putih tipis mendadak terjatuh dari balik lipatan sajadah yang biasa digunakan oleh Azzam. Hana memungut kertas tersebut dengan dahi berkerut, menangkap firasat baru yang membuat jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Di dalam keheningan pagi yang masih remang, sepasang mata Hana perlahan membaca deretan tulisan tangan yang tertera di atas lembaran kusam itu. Tulisan yang membawa nama asing tersebut seketika meruntuhkan seluruh ketenangan pagi, mengubah jalannya takdir yang semula tenang menjadi penuh kepastian konflik baru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!