Antara bertahan dengan perasaan atau melepaskan, ia gamang.
Perasaan terkadang hanya perlu diyakini, biar semesta yang mempertemukannya kembali.
Meski hidup bukan hanya perihal cinta, tapi menetapkan hati membutuhkan rasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oh_pid21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 34
***
Kabut pagi masih menyapa Yogyakarta, hawa yang dingin tidak membuat Danu mengulur waktu untuk segera kembali Ke Solo.
Hatinya masih belum merasakan ketenangan, sebab ia tidak bisa bertemu langsung dengan Alisa, untuk sekedar bertukar kabar kali ini.
Senyum getir menghiasi bibir Danu, tiada keberanian baginya untuk menatap wajah gadis itu secara langsung, sekedar menatap senyuman tipis tentunya. Ah bukan, Alisa pasti akan memberikan senyuman tulus untuknya.
“Kamu yakin, tidak ingin menemui Alisa terlebih dahulu?” Dion yang membantu mengeluarkan sepeda motor.
Danu hanya menggelengkan kepala, antara iya dan tidak, Ia bimbang.
Dion menghembus napas pendek sembari mendorong motor
“ heemmh, yasudah.”
“Aku pamit ya, terima kasih untuk semuanya dan maaf aku sudah merepotkanmu ” ucapnya sembari memakai helm.
“Gwaenchana (tidak apa-apa)” Dion mengedikkan bahu.
“Lain kali, kalau kamu ke Yogya dan bingung mau kemana, kerumahku saja. Eh salah, kerumah orang tuaku saja maksudnya” tambahnya tertawa kecil.
Danu membalasnya dengan tersenyum tipis.
Danu berangkat saat pagi yang masih begitu dingin, ia lajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang.
Antara bertahan dengan perasaan atau melepaskan, ia gamang.
Perasaan terkadang hanya perlu diyakini, biar semesta yang mempertemukannya kembali.
Meski hidup bukan hanya perihal cinta, tapi menetapkan hati membutuhkan rasa.
Kepulangannya kali ini memakan waktu yang lebih lama, dua jam setengah perjalannya untuk kembali kerumah.
Sesampainya, ia membuka gerbang berwarna biru, melihat suasana rumah yang sepi. Ia mengerti, bahwa ayahnya telah berangkat bekerja, dan Adit pergi kesekolah.
Ibu, yang berada didalam kamar sedang membersihkan kamar Danu pun keluar melihat siapa yang datang dengan membuka pintu gerbang sendiri tanpa memanggil penghuni rumah.
“Danu, sudah pulang le?” tanya ibu berjalan menuju teras rumah.
Danu tersenyum,
“Assalamualaikum bu…” ucapnya mencium punggung tangan ibu.
“Walaikumsalam.”
“Danu, sebenarnya ada apa denganmu le, ibu melihatmu tidak seperti anak ibu yang dulu, yang semangat yang ceria. Kemana anak sulung ibu yang dulu?” tanya ibu sedih yang masih berdiri didepan pintu.
Danu menghentikan langkahnya, ia menatap dan mendengar baik-baik pertanyaan sang bidadari baginya.
“Bu, nanti Danu akan ceritakan. Sekarang Danu boleh istirahat dulu kan bu?” mintanya sembari menggengam tangan wanita berkerudung tersebut.
Ibu mengangguk, ia sedikit lega mendengar nada bicara putranya dan membiarkan Danu untuk istirahat.
Pukul satu siang, ibu yang selesai sholat dhuhur belum mendengar Danu keluar dari kamarnya.
“Tokktokkk!"
"Danu, le ayo sholat dulu setelah itu makan siang le, Danu…” panggilnya dengan nada sayang seorang ibu kepada putranya.
Ia terbangun mendengar ketukan halus dari tangan ibu,
“iya bu,” jawabnya dengan suara parau khas seseorang baru bangun tidur.
Ia mencari ponsel miliknya, dilihatnya layar ponsel, ia bergegas untuk sholat terlebih dahulu.
Beberapa menit kemudian ia keluar dan menemukan ibu sedang mempersiapkan makan untuknya.
“Ibu, tidak perlu seperti ini, Danu bisa mengambilnya sendiri” serunya.
Ibu tersenyum manis,
“tidak apa-apa le, nanti kalau kamu sudah menikah dan memiliki istri bukan ibu lagi yang akan melayanimu seperti ini” ujarnya teramat sayang.
Danu duduk sembari menatap wajah ibu yang semakin menua,
“maafkan Danu ya bu, belum bisa membuat ibu dan bapak bahagia” ucapnya membuat suasana menjadi hening.
Ibu terdiam,
“Danu, dengarkan ibu. Kamu anak yang baik, anak yang sholeh dan penurut . Ibu sudah bahagia dan bersyukur melihat anak-anak ibu seperti ini, do’a ibu semoga kedua putra ibu selalu sehat, bahagia dan mendapatkan apa yang kalian cita-citakan." tuturnya sembari mengelus kepala Danu.
Danu beranjak dari kursi dan mendekati ibu, ia memeluknya.
"Terima kasih, bu"
Dialah satu-satunya wanita yang tulus menyayanginya tanpa syarat. Untuk beberapa saat mereka berpelukan,
“sudah ayo makan dulu, lihat tubuhmu” ibu menunjuk tubuh anaknya.
“Semakin kurus, padahal ibu tidak kurang-kurangnya memberikan makanan yang bergizi untukmu” ibu bercanda.
Danu mengoreksi tubuhnya, ia tertawa pahit melihat kondisinya sekarang dengan berat badan yang semakin berkurang.
“Makanlah, nanti selesai makan kamu sudah janji pada ibu akan menceritakan masalahmu” ucapnya.
Danu melahap makanan sembari melirik ke ibu,
“kenapa aku tadi harus mengatakan akan cerita, ah menyesal” batinnya.
Setelah beberapa menit ia menghabiskan makannya, ia harus memenuhi janji pada ibu. Iya, menceritakan masalahnya yaitu antara dirinya dan Alisa.
Danu sedikit malu menceritakan tentang masalah seperti itu, tetapi ibu juga pernah muda, pikirnya.
“Le, tidak baik kamu berlarut-larut dalam pengharapanmu. Selama ini kamu sudah melakukan yang terbaik untuk Alisa, kamu berusaha mendekatinya dan memperjuangkan gadis itu. Tapi jika pada akhirnya ia memberi kesempatan pada lelaki lain, maka lepaskan. Ibu yakin, kamu akan mendapatkan gadis yang lebih baik dan bisa menghargai perjuanganmu” tutur ibu yang duduk bersebrangan dengannya.
Danu mengangguk paham, itu seperti sebuah vitamin yang baru ia dapatkan. Memang tidak pernah salah membagi keluh kesah kepada keluarga sendiri, terutama ibu.
Nasihat ibu mampu membuatnya bangkit dan menatap optimis pada harapan baru. Kini, ia hanya perlu mencari kesibukan untuk melupakan dan mengubur dalam-dalam perasaannya pada Alisa.
Danu berdiri didepan sebuah cermin panjang yang terletak dipojok ruangan kamar, sepanjang ukuran tubuhnya.
Ia pandangi sosok lelaki dihadapannya. Menghembuskan napas panjang,
“Bismillahiroohmaanirrohiim…” ucapnya optimis.
Danu membuka kotak kardus berwarna cokelat yang lama bersemayan diatas lemari, ia keluarkan barang-barang yang dulu pernah bersahabat baik dengannya.
Diambilnya sebuah kamera, ia tersenyum pada barang tersebut.
“Mas, mas Danu..” suara Adit telah pulang dari sekolah.
Tanpa menggubris panggilan adiknya, ia membersihkan kamera yang digenggam erat jemarinya.
“Hayooo…! Wiih mas Danu mau jadi fotografer lagi? masih bagus mas kameranya, coba aku lihat..” ucap Adit rusuh.
“Heeh! Jangan, mas mau bersihkan dan coba dulu masih bagus tidak. Sudah sana keluarlah, makan dulu sana” perintahnya keras.
“Yaelah mas, pelit sekali” suaranya mendengus kesal.
Danu melirik sinis pada Adit yang keluar dari kamarnya.
Ayah, ibu dan juga Adit berkumpul diruang tengah, sedang Danu masih berada dikamarnya entah apa yang ia lakukan.
“Mas, dipanggil ibu” panggil Adit berdiri ditengah-tengah pintu.
Ia menuruti panggilan ibu, ia duduk bersebrangan dengan kedua orang tuanya. Mereka terlihat canggung untuk mengatakan sesuatu hal pada putra sulungnya tersebut.
Ibu melirik ayah yang focus pada layar ponselnya,
“pak…”
“hmmmmm, ibu saja yang mengatakan” ucap ayah tanpa menggubris.
“Sebenarnya ada apa bu, katakan saja” sahutnya penasaran.
“Danu, sebenarnya ibu ingin mengenalkanmu dengan anak teman ibu, itu lo le anak bu Tati yang rumahnya dipertigaan.” Ujar ibu sembari menunjuk sebuah arah.
Danu mengingat rumah yang sedang ibu bicarakan,
“anak bu Tati juga sudah dewasa le, tapi sekarang bekerja di Bogor. Kalau Danu setuju, ibu akan mencarikan nomor telepon pada ibunya, atau kita kerumahnya saja untuk silaturahmi. Iya kan pak?” tuturnya.
Ayah melirik pemuda didepannya, ia membaca ketidak setujuan pada raut wajah putra sulungnya tersebut.
“Bu, kalau lain kali saja, bagaimana? Danu belum mood untuk membicarakan ini” ucapnya datar.
Ibu menarik napas panjang, ia menganggukan permintaan putranya.
Bersambung…
👍👍👍👍👍
lanjut
salam dari MAHABBAH RINDU