NovelToon NovelToon
Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua

Status: tamat
Genre:Cerai / Penyesalan Suami / Selingkuh / Konflik etika / Tamat
Popularitas:171.7k
Nilai: 5
Nama Author: Triyani

Gendis merasa jika hidupnya sudah hancur setelah mengetahui jika suaminya berselingkuh dengan teman semasa sekolah suaminya, dulu.

Gendis yang tidak terima dengan pengkhianatan itu pun akhirnya menggugat cerai Arya. Namun, disaat proses perceraian itu sedang berjalan. Arya baru menyadari jika dia sangatlah mencintai Gendis dan takut kehilangan istrinya itu.

Sehingga, Arya pun berusaha berbagai cara agar Gendis mau memaafkan nya dan kembali rujuk dengan nya.

Sayang, Gendis yang terlanjur kecewa dan sakit hati karena telah dikhianati pun tetap melanjutkan perceraian itu.

Hingga suatu hari, Gendis pun mendapatkan kabar yang mengejutkan. Dimana, dirinya dinyatakan hamil anak ketiga.

Lalu, apa yang akan Gendis lakukan? Akankah dia tetap melanjutkan perceraian itu? Atau memberikan Arya kesempatan kedua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.34

Usai menikmati hidangan makan malam, Arya menggandeng tangan Gendis menuju kamar mereka. Namun, alih-alih menuju ranjang king size yang ada di sana, Arya justru membawa Gendis ke sudut ruangan yang lebih hangat.

Di sana, ada sofa besar berwarna abu-abu terbentang menghadap televisi layar datar yang tergantung di dinding.

“Duduklah,” ucap Arya lembut, menuntun Gendis untuk duduk disampingnya. Tatapan matanya melembut, penuh penyesalan yang selama ini ia pendam.

“Mas yakin, kalau ada banyak yang ingin kamu katakan kepada Mas. Setelah apa yang Mas lakukan, dulu.” lanjut Arya bagai anak panah yang tepat mengenai sasaran. Gendis tersentak kecil, hatinya kembali terusik oleh luka lama yang belum sepenuhnya mengering.

Arya benar. Ada banyak hal yang harus mereka berdua bicarakan. Termasuk, alasan dibalik perselingkuhan yang dilakukan oleh Arya bersama dengan Sharon.

Arya mendudukkan istrinya dengan hati-hati, seolah takut menyakitinya lebih dalam. Ia mengambil tempat di sisi Gendis, merasakan jarak dingin yang masih membentang di antara mereka meskipun tubuh mereka berdampingan.

Malam ini, ia telah membulatkan tekad. Ia akan menghadapi badai amarah dan kekecewaan dari istrinya. Ia harus menyelesaikan semua ini sebelum menjemput kedua buah hati mereka untuk memulai babak baru dalam hidup mereka di rumah itu.

“Katakan lah,” lanjut Arya, suaranya rendah dan penuh harap.

“Apa yang ingin kamu katakan. Aku, akan menerima semuanya tanpa perlawanan. Sekalipun, itu adalah cacian dan makian. Karena aku, pantas mendapatkannya.” lanjut Arya, setelah dia dan istrinya duduk berdampingan.

Gendis tidak langsung merespon. Keheningan menyelimuti mereka, hanya suara lembut pendingin ruangan yang terdengar.

Wanita itu menatap lurus ke depan, ke arah layar televisi yang mati. Pikirannya berkecamuk, ribuan pertanyaan berdesakan untuk keluar dari bibirnya.

Hingga akhirnya, ia menghela nafas panjang, mencoba merangkai kata-kata yang tepat, yang tidak akan semakin memperburuk keadaan.

“Jujur,” ucapnya. Suara Gendis tercekat serta terdengar bergetar.

“Setelah melihat kejadian itu…setelah semua yang terjadi… banyak sekali pertanyaan yang ada di dalam hati ini.”

Ia menjeda ucapannya lagi, menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan gejolak emosi yang masih bergolak di dadanya.

Rasanya terlalu berat untuk membuka kembali luka lama, yang berusaha ia kubur dalam-dalam. Namun, ia tahu, kebisuan ini tidak akan membawa mereka ke mana-mana.

Mereka harus bicara, meskipun itu menyakitkan. Mereka harus saling jujur satu sama lain, meskipun kejujuran itu pahit.

 Baik Gendis maupun Arya harus sama-sama menekan ego mereka masing-masing agar bisa menyelesaikan masalah yang sedang mereka hadapi.

“Tapi,” lanjut Gendis akhirnya, menolehkan kepalanya menatap mata Arya yang menunggunya dengan cemas.

“Aku hanya akan bertanya dua hal saja dan tolong, jawab dengan sejujur-jujurnya.”

Arya menelan ludah, jantungnya berdetak semakin kencang. Ia merasakan ketegangan yang luar biasa menyelimuti dirinya. Inilah saatnya. Saat di mana ia harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya.

“Apa itu? Katakan lah,” tanya Arya, berusaha mempertahankan ketenangan meskipun badai kecemasan menerjang hatinya. Gendis menatap mata Arya lekat-lekat, mencari kejujuran di sana.

“Kenapa Mas melakukan itu?” suaranya lirih namun sarat akan kepedihan.

“Apa, Mas sangat mencintainya?”

Deg.

Bagai terhantam bongkahan batu besar. Pertanyaan itu menghantam Arya bagai palu godam. Ia terdiam, tatapannya terpaku pada mata Gendis yang menantinya dengan penuh harap dan kecemasan.

Bagaimana ia harus menjawab pertanyaan yang begitu jujur dan menyakitkan ini? Kebohongan hanya akan memperburuk keadaan, namun kejujuran… apakah Gendis siap mendengarnya?

 “Iya,” jawab Arya, suaranya berat dan jujur, menembus keheningan yang mencekam di antara mereka.

 “Jujur, dulu Mas memang pernah mencintainya.”

Bagai petir di siang bolong, pengakuan itu menghantam Gendis. Jantungnya mencelos, napasnya tercekat. Dunia di sekitarnya terasa berhenti berputar. Kata-kata Arya bagai bongkahan batu besar yang menghantam dadanya, meremukkan setiap pertahanan yang selama ini ia bangun.

Tubuh Gendis membeku di tempatnya. lidah nya kelu. Tak mampu lagi berkata-kata. Matanya memanas, dan cairan bening yang sedari tadi tertahan akhirnya tumpah, mengalir deras membasahi pipinya yang pucat.

Tatapannya nanar, kosong, seolah jiwanya ikut melayang bersama pengakuan sang suami. Arya menghela napas panjang dan berat, merasakan sakit yang sama menusuknya saat melihat air mata istrinya.

Ia meraih tangan Gendis yang terasa dingin, menggenggamnya erat, mencoba menyalurkan sedikit kehangatan dan penyesalan yang membuncah di dalam dadanya.

“Kami,” Arya memulai penjelasannya dengan suara yang serak.

“Pernah memadu kasih selama satu tahun lamanya. Cinta pertama, mungkin kamu bisa menyebutnya begitu. Namun, hubungan kami ditentang oleh kedua orang tua kami masing-masing karena perbedaan keyakinan,” jelasnya. Arya menarik nafas lagi, mencoba menata kembali ingatannya di masa lalu.

“Hingga akhirnya, setelah kami lulus. Sharon memilih kuliah di luar negeri dan aku menetap di sini. Jarak dan waktu perlahan memisahkan kami dan seiring berjalannya waktu. Aku pun mulai melupakannya, mencoba mengubur kenangan tentangnya, lalu… aku bertemu denganmu,” Arya menatap Gendis dengan penuh penyesalan.

“Kehadiranmu, bagaikan sinar mentari yang menghangatkan duniaku yang dingin dan gelap setelah kepergiannya. Kamu membawa warna baru dalam hidupku. Karena itu lah, aku memutuskan untuk menikah denganmu meski kala itu, kamu masih berstatus seorang mahasiswi. Karena aku yakin, kamulah masa depanku.” jelas Arya, panjang lebar.

Air mata Gendis semakin deras mengalir, namun ia tetap diam, mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir suaminya. Hatinya terasa seperti diremas-remas, antara sakit, kecewa, dan rasa tidak percaya.

“Lalu,” tanya Gendis akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar, lirih seperti bisikan angin.

“Apa cinta itu… masih ada untuknya?”

Arya menggenggam erat tangan Gendis, menatapnya dengan mata yang penuh kesungguhan.

 “Awalnya aku pikir, iya. Kisah kami yang belum selesai di masa lalu, rasa penasaran akan ‘bagaimana jika’ itu, membawa aku masuk ke jurang kekhilafan itu. Aku bodoh, Gendis. Aku mencoba mencari apa yang hilang di masa lalu, padahal aku sudah memiliki segalanya bersamamu.”

Suara Arya bergetar, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya sendiri.

“Namun, setelah kehilanganmu… setelah kehilangan anak-anak… aku baru benar-benar sadar, kalau aku telah memutuskan hal yang salah. Aku telah menyia-nyiakan permata yang ada dihadapanku demi mengejar bayangan masa lalu. Maafkan aku, Gendis. Aku benar-benar keliru menafsirkan perasaanku kepadanya. Yang kurasakan padanya hanyalah sisa-sisa kenangan, bukan cinta yang sesungguhnya. Cintaku… cintaku ada di sini, bersamamu.”

Arya langsung menarik tubuh Gendis, masuk kedalam dekapannya. Memeluk erat wanita yang selama ini membersamainya dalam suka maupun duka. Jatuh bangun bersama dalam membina rumah tangga yang mereka bangun selama belasan tahun lamanya.

1
Sapna Anah
sekuat kuatnya perempuan ga mungkin mengalakan kekuatan laki lski
Sapna Anah
sinting istri pergi dari rmh bukanya d cari Mala membawa lacurnya kerumh😭😭
Sapna Anah
Uda tau mau ketemu klien Mala nganu"
ichapurie
patut dibaca sama laki2 yg ingin selingkuh, biar dimaafin 🤭
pipi gemoy
seharusnya Arya juga kena karma, yang berbuat berdua jgn cuma Sharon yg sial👻🤔
pipi gemoy
👍🏼🙏🏼🌹
pipi gemoy
setres ini laki kepergok nya sdh 1 bulan lebih, katanya khilaf waktu ketahuan kenapa baru putus sekarang gebleknya 🤦🤦🤦🤦
pipi gemoy
si Arya ini anak buah bergerombol dekat ruangannya nga di suruh bubar🤔🤔🤔
plin plan bgt JD bos nga tegas sama anak buah
pipi gemoy
idih jijay si Arya ada niat ketemu lagi sama selingkuhan 👻😂
pipi gemoy
orang selingkuh akan preettttt pada waktunya 👻
pipi gemoy
begitu lah perselingkuhan terlena pada saat belum ketahuan 👻👻👻
setelah kepergok maka dimulailah ketidak tenangan, dan ujung ujungnya mengaku khilaf, coba nga ketahuan beh serasa diri pasangan selingkuh paling bahagia 👻👻👻👻👻👻
pipi gemoy
mampir Thor
Sari Nilam
siapa yang kasih tahu sharon ?
Sari Nilam
pelakor mmg hebat triknya ...dan lelakinya juga bodoh
RiJi08
panggilannya ayah ibu atau mama papa seh???
RiJi08
ketiga istrinya??? harusnya tulisnya kehamilan anak ketiga bagi keluarga mereka
RieNda EvZie
/Good//Good//Good//Good//Good/
SisAzalea
kesimpulannya Arya adalah type lelaki yg LEMAH
ayu cantik
bagus
Anifa Anifa
ayo ketemu, kata2 nya kek orang pacaran padahal dah suami istri bangkotan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!