NovelToon NovelToon
Luka Yang Menyala

Luka Yang Menyala

Status: tamat
Genre:Mafia / Balas Dendam / Bullying dan Balas Dendam / Tamat
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.

Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.

Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.

Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.

Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Siang itu, kamar hotel lantai delapan dibalut tirai tebal yang menahan cahaya. Udara di dalam terasa pengap, bercampur aroma parfum manis yang terlalu menyengat.

Zainal Buana terbaring di ranjang, napasnya belum sepenuhnya teratur. Di sampingnya, perempuan muda seumuran Pitaloka itu tersenyum puas, rambut panjangnya tergerai berantakan di atas bantal putih.

Keduanya masih berada dalam sisa-sisa euforia, dunia seakan berhenti sejenak di ruangan bercat putih cerah itu yang mereka pilih sebagai tempat memadu kasih.

Zainal menoleh, matanya menyapu jam dinding. Waktu makan siang sudah lewat. Ia meraih ponsel di meja samping, lalu meletakkannya kembali, seolah ragu pada sesuatu yang tak ia pahami.

Perempuan itu mendekat, suaranya manja, seakan ingin mengulur waktu lebih lama. "Babe ... jangan dulu pergi, aku ... masih kangen kamu. Masih pengen ditunggangi sama kamu. Semenjak kamu sibuk kampanye ... kamu jarang banget nemuin aku."

Zainal tersenyum tipis, tangannya terangkat hendak merangkul tubuh polos sugar baby-nya, namun ketukan keras di pintu memotong gerakannya.

Ketukan itu tidak ragu, tidak sopan, seperti tuntutan. Keduanya saling pandang. Perempuan muda itu mengerutkan dahi, rasa kesal berkelebat. "Siapa sih?" gumamnya. "Ganggu aja!" Wajahnya ketus.

Zainal menghela napas, berusaha tetap tenang. "Biar aku yang buka," katanya, suara dibuat santai, meski dadanya tiba-tiba berdebar, aneh.

Ia bangkit, merapikan diri sekadarnya, hanya melilitkan handuk tipis di perutnya sampai paha, untuk menutupi area vitalnya.

Lalu melangkah ke pintu. Setiap langkah terasa berat. Begitu gagang pintu diputar dan daun pintu terbuka, wajah Zainal seketika memucat. Di ambang pintu ... berdiri Lastri Rukmiati ... istrinya. "B-Bun ...?" Suaranya tercekat di tenggorokan.

Tatapan Lastri tajam, menyala, dan yang membuat Zainal terperanjat ... ponsel di tangannya menyala, kamera menghadap lurus ke dalam kamar.

"Lihatlah oleh kalian," ujar Lastri dengan suara bergetar, antara marah dan luka. Tanpa menunggu jawaban, ia menjerit nyaring dan menerobos masuk. "Pengkhianat!" teriaknya, suaranya menggema. Siaran langsung itu menangkap segala kekacauan. "Kau menduakan cintaku, Zainal!" jeritnya sambil menatap ranjang yang tak rapi, gelas minum yang terbalik, dan wajah Zainal yang kehilangan kata.

Lastri berjalan cepat, matanya menyapu kamar, lalu berhenti pada sosok perempuan muda di ranjang. "Dasar wanita jalang!" Lastri mengamuk. Ia mendekat, tangannya gemetar.

Perempuan itu terkejut, refleks menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos, wajahnya memucat.

Lastri tak peduli. Dengan satu gerakan cepat, ia menjambak rambut panjang perempuan itu, menariknya hingga terduduk. Lalu meludahi wajah gadis muda itu. Mencakarnya dengan satu tangan karena tangan satunya sibuk merekam.

Teriakan bercampur tangis memenuhi kamar.

Zainal maju selangkah. "Lastri, cukup. Berhenti merekam ..." katanya panik.

Namun Lastri berbalik, menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Diam!" bentaknya. "Aku tidak akan berhenti! Biar semua orang tahu ... seperti apa kelakuanmu yang sebenarnya, Zainal Buana!" Ia mengangkat ponsel lebih tinggi, memastikan wajah Zainal tertangkap jelas di layar. "Selama ini kamu selalu kampanye soal moral, soal keluarga!" Lastri menuding, suaranya pecah. "Dan ini yang kamu lakukan sebenarnya, menjijikan!"

Komentar demi komentar bermunculan di layar, membanjiri siaran langsung itu. Nama Zainal, jabatan, dan janji-janji yang pernah diucapkan kini runtuh dalam hitungan detik.

Perempuan muda itu menangis, meminta dilepaskan. Lastri mendorongnya menjauh, lalu berdiri tegak. Napasnya tersengal, namun suaranya kembali tegas. "Aku datang untuk memastikan segalanya!" katanya pada kamera. "Lihatlah oleh kalian semua! Seperti apa kelakuan calon pemimpin provinsi ini!" jeritnya tak terkendali.

Zainal berdiri terpaku. Kata-kata yang ingin ia ucapkan tertahan di tenggorokan. Ia mencoba mendekat, tetapi Lastri mengangkat tangan, memberi isyarat agar ia menjauh. "Jangan sentuh aku," katanya dingin. "Mulai hari ini, semuanya selesai. Aku akan meminta cerai!"

Sirene di kejauhan seakan menyahut kegaduhan di kamar itu. Lastri menutup siaran dengan satu kalimat terakhir, "Kebenaran tidak bisa disembunyikan. Dan siang ini ... semua kebusukan dan pengkhianatanmu sudah terbongkar." Ia menyorotkan kamera sekali lagi ke wajah suaminya dan juga ani-ani yang meringkuk di lantai, ketakutan.

Zainal berusaha merebut ponsel dari tangan istrinya, tapi Lastri dengan cepat menendang selangkangan suaminya.

Zainal terjerembab dan jatuh telentang sambil mengaduh.

"Sakit itu tidak seberapa dengan perih yang kurasakan, lelaki sialan!" Ia pun berbalik meninggalkan kamar hotel itu.

Freya bersandar di dinding dekat lift. Menunggu Lastri yang tak kunjung kembali.

Ia menghidupkan ponselnya, layar menyala menampilkan siaran langsung Lastri masih berlangsung dan banyak dipenuhi komentar.

Sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai kecil yang penuh kepuasan. Matanya menyipit, menikmati tiap detik kekacauan yang ia tunggu-tunggu. "Hari ini, kau benar-benar hancur, Zainal Buana," gumamnya pelan, nyaris seperti doa yang terjawab.

Jarinya menggulir komentar yang mengalir deras, nama Zainal disebut-sebut, dicaci, dihakimi.

"Ibu ... Galih ... lihatlah oleh kalian ... keluarga yang dulu menghancurkan kita, hari ini mengalami hal yang sama."

Freya menegakkan punggung, merapikan rambutnya, karena Lastri sudah terlihat berlari menghampirinya.

Wanita paruh baya itu langsung meraung dan memeluk Freya.

Dan dengan aktingnya yang meyakinkan ... Freya menenangkan Lastri dan mengajaknya pergi.

Tak butuh waktu lama. Potongan video siaran langsung itu terpotong-potong, diunggah ulang, menyebar seperti api di musim kemarau.

Dalam hitungan menit, tagar dengan nama Zainal Buana merajai linimasa.

Grup-grup pesan berdengung, notifikasi berderet. Freya tersenyum lebih lebar dalam benaknya.

Rencana yang disusunnya perlahan, sabar, kini meledak di waktu yang tepat.

Di tempat lain, di bangku taman kampus yang teduh, Pitaloka duduk sendirian. Ia baru saja menyelesaikan kelas siang, berniat memejamkan mata sebentar sebelum perkuliahan berikutnya.

Ponselnya bergetar. Satu notifikasi. Lalu dua. Lalu puluhan. Ia mengernyit, merasa ada yang aneh.

Sebuah video muncul di berandanya ... akun TikTok ibunya.

Dada Pitaloka mengencang. Tangannya gemetar saat menekan play. Suara jerit, kekacauan, wajah ibunya yang marah dan terluka memenuhi layar. Lalu berganti keadaan ayahnya yang nyaris telanjang. Hanya memakai handuk tipis dari area pusar ke paha.

Ia menutup mulutnya, napas tercekat. Jantungnya berdegup terlalu cepat, seolah ingin meloncat keluar. "Apa-apaan ini? A-Ayah ... selingkuh?" Kalimat itu lolos bagai belati yang menikam hati.

Lalu kamera bergeser. Ke arah ranjang hotel. Kekacauan. Dan seorang perempuan muda di atasnya tanpa busana, dengan wajah yang berantakan. Tapi dada wanita itu penuh cakaran dan juga bekas hisapan merah keunguan.

Pitaloka membelalakkan mata. Dunia seakan runtuh tepat di bawah kakinya. Rambut panjang itu, wajah pucat dan tirus itu ... ia kenal betul. Gerak tubuh yang panik, tatapan ketakutan yang familiar. Pitaloka berdiri terlalu cepat hingga pandangannya spontan berkunang-kunang. "B-Bella?" lirihnya, nyaris tak bersuara.

1
Mohammad Sokeh
bagus sekali
Ama Apr: Maaksih Kk🫰
total 1 replies
Mohammad Sokeh
sàkit ya saat menuai apa yg sdh kamu tabur..
satu keluarga bejat smua tinggal usir smua warga yg kerja d perkebunanmu fre mereka juga tega sama kamu.
Ama Apr: Iya, karma datang tepat waktu
total 1 replies
partini
potong aja burung nya ,kan bagus nafsu membara tapi tidak bisa
Ama Apr: haha iya
total 1 replies
partini
hemmmm tuh lobang ndowerr ya Thor 🤣🤣🤣🤣
Ama Apr: haha, kayaknya sih kk
total 1 replies
partini
waduh
Ama Apr: 😵😵😵 Wkwk
total 1 replies
partini
lanjut
Ama Apr: Siap, makasih kk Parti😘
total 1 replies
partini
tadi dapat notif belum ku buka
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!