Sering dibully oleh keluarga sang suami, serta mertua dan ipar yang mulai ikut campur dalam rumah tangganya. Pernikahan impian yang semula tergambar indah, seketika berubah.
Memiliki suami yang mulai dingin, membuat Tari tergoda untuk berpaling.
Bermula dari reuni, Tari mulai bermain api. Akankah api itu menghangatkan atau justru membuatnya terbakar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selingkuh VS Selingkuh
Bukan Salahku, Indahnya Reuni Bagian 34
Oleh Sept
Tari ketar-ketir, dia takut Rio akan datang. Karena Tari tahu kalau Rio itu orangnya nekat. Tidak mau terjadi apa-apa, Tari masuk ke kamarnya, mengambil dompet dan langsung bergegas keluar dari rumah.
"TARI! TARI!" teriak Dewa.
Lelaki itu tidak menyangka Tari akan meninggalkan rumah. Padahal itu sesuatu yang tidak mungkin, karena Dewa menahan Ibel di kamar lain.
"Sialll!" Dewa mengumpat dan menendang pot bunga dekat kursi di teras.
Sedangkan Tari, wanita itu langsung pergi naik taksi.
"Pak ... boleh pinjam HP-nya?"
Driver taksi merasa curiga, takut dirampok mungkin. Namun, Tari kemudian memberikan KTP.
"Kunci saja pintunya, Pak. Saya cuma mau bicara penting, dan saya gak bawa HP."
Setelah berpikir sejenak, driver itu kemudian memberikan ponselnya sambil menepikan taksi.
"Jalan saja, Pak. Tidak apa-apa."
Mesin kembali menyala, dan mobil taksi itu kembali masuk dalam jalanan utama yang ramai.
Tari sedang menekan nomor telpon Rio. Dia tidak mau Rio nekat lalu ribut dengan suaminya.
Tari sangat hapal, karena ia memang sering komunikasi dengan Rio lewat telepon. Lagian dia juga sekretaris pribadi Rio, nomor telpon Rio wajib dihapal.
Tut tut tut
"Angkat Rio!" gumam Tari dengan suasana penuh kepanikan.
Setelah panggilan ketiga kali, barulah suara Rio terdengar.
"Tari ... Kamu di mana? Apa laki-laki itu menyakitimu?"
Rio menelpon menggunakan headset. Dia sedang mengemudi dengan kecepatan penuh.
"Aku baik-baik saja. Kamu jangan datang ke rumah. Aku sekarang pergi dari rumah."
CHITTT ...
Rio menepi.
"Kau di mana?"
"Jalan Thamrin, sekitar kantor Bank BRE pusat."
"Jangan ke mana-mana, aku ke sana sekarang."
"Ya."
Rio langsung tancap gas, ia menuju lokasi di mana Tari berada.
"Ini Pak, terima kasih." Tari memberikan ponselnya. Lalu dia membayar taksi tersebut dan turun. Tari menunggu di bawah pohon, sudah mirip kunti penunggu pohon randu.
Matamu menatap sekeliling, ia juga waspada, takut Dewa menyusul. Entahlah, dia sudah tidak mau bersuami laki-laki itu. Selama ini dia bertahan juga karena Ibel.
Ia tersadar, lalu bagaimana dengan anaknya itu? Ia mengusap wajahnya dengan berat. Situasinya tidak semudah yang ia bayangkan. Begitu syulittt!
Tin tin
Sebuah mobil mahal berhenti di bahu jalan, buru-buru Tari membuka pintu samping bagian depan. Ia sudah hafal pemilik mobil tersebut.
KLEK
Begitu Tari masuk, Rio langsung miring dan menatapnya.
"Kau tidak apa-apa? Aku khawatir dia akan memukulmu."
Tari menggeleng keras.
"Tidak, Dewa tidak pernah main tangan."
Mendengar Tari seperti memuji suaminya, Rio langsung kesal.
"Dia tidak main tangan, tapi sudah tidur dengan wanita lain!" cetus Rio dengan wajah masam.
Tari tidak kaget, tapi malah curiga. Jangan-jangan paket foto-foto itu dari Rio? Tapi untuk apa?
"Dari mana kamu tahu?"
"Kamu tidak usah tahu!" celetuk Rio kemudian memutar mobil.
"Lalu kita ke mana?"
"Aku yang akan mengurus, kamu diam saja."
Rio kemudian kembali memasang headset di telinga. Dan mulai menelpon seseorang.
"Siapkan tim pengacara terbaik, untuk kasus perceraian ... perselingkuhan. Cari yang paling mahal!"
"Baik, Pak," jawab laki-laki di telepon.
Rio lalu melepaskan headset, lalu melirik ke sebelah.
"Tenang saja, semuanya beres."
"Rio."
"Ya."
"Dewa sudah melihat bekas merah di tubuhku."
CHITTT ...
Kaget, Rio mengerem mendadak.