Meidina kini telah resmi menjadi istri seorang Kapolsek, Nyonya Radit Al Farizi. Pria yang mencintai nya tulus tanpa, memandang status masa lalunya.
Derajat Meidina, kini terangkat setelah menikah dengan Radit. Pria yang mampu menutupi masa lalunya sebagai wanita malam, dan memberikan sebuah kebahagiaan yang selama ini dia cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Herliyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rindu Kamu
Anisah berusaha untuk berjalan mendekati kaca, saat Bagas sedang menatap nya. Anisah tersenyum, dengan kedua mata berkaca - kaca.
"Mas." panggil Anisah.
"Iya sayang, Mas dengar kamu." ucap Bagas.
"Saya kangen sama Mas, hiks.. hiks.. hiks.. saya ingin peluk Mas." ucap Anisah terisak.
"Maaf sayang, Mas tidak bisa buka rantai nya. Kalau kata dokter boleh di buka, nanti kamu bisa jalan mendekat."
"Mas masuk sini, saya ingin peluk Mas."
"Mas, cari dokter nya dulu."
Bagas mencari dokter Siska, yang menangani Anisah. Hingga Bagas menyuruh, pada perawat untuk meminta datang ke kamar Anisah.
"Pak Bagas, ada apa?" tanya dokter Siska datang, setelah 30 menit menunggu.
"Dok, istri saya ingin di lepas rantai nya. Dan meminta saya, untuk masuk ke dalam." ucap Bagas.
"Saya khawatir, dia akan mengamuk Pak. Dan saya khawatir, ini hanya akal - akal an nya saja."
"Tolong dok, kalau pun dia mencelakai saya. Saya rela terluka, saya juga sudah 5 bulan lebih, belum menyentuh nya dok. Tolong, tolong buka rantai nya, dan ijinkan saya masuk."
"Iman, Sanusi temani saya masuk, kalian berjaga takut pasien berontak." ucap dokter Siska.
Imam pun membuka kunci pintu kamar rawat, Bagas masuk dan untuk pertama kali nya, Bagas melihat Anisah dari dekat.
Salah satu perawat membuka, rantai tersebut yang melingkar di pergelangan kaki kiri Anisah.
"Mas..!!! " Anisah langsung turun dari atas tempat tidur, dan langsung memeluk tubuh Bagas.
"Sayang, Mas kangen kamu." ucap Bagas memeluk erat istri nya.
Dokter Siska, dan dua perawat tersebut langsung pergi meninggalkan Bagas.Bahkan dua perawat tersebut, berjaga di depan pintu.
"Mas, saya ingin pulang." ucap Anisah.
"Nggak boleh sayang, kamu tidak boleh pulang. Nanti kalau sudah sembuh benar, baru boleh pulang."
"Saya sudah sembuh Mas, saya tidak sakit."
"Iya, tapi nanti ya." ucap Bagas menangkup kedua pipi Anisah.
Anisah terus memeluk tubuh suami nya, begitu juga Bagas. Rasa rindu, memeluk tubuh istri nya setelah 5 bulan lebih, tidak kontak fisik.
****
Meidina mengusap perut nya, saat merasakan sedikit kencang. Mami Rosa, yang sedang membantu memasukan souvenir dalam sebuah Paper bag, yang di desain khusus untuk pernikahan Angga dan Arumi.
"Kamu kenapa?" tanya Mami Rosa.
"Kencang banget Mam, rasanya ingin di usap terus." jawab Meidina.
"Kamu istirahat, jangan di paksa ikut bantu kami." ucap Ibu Mira.
"Benar Mba, kasihan lihat mba begitu." ucap Angga.
"Saya masuk ke kamar dulu, nggak kuat duduk lama - lama." ucap Meidina langsung bangun dari duduk nya.
"Saya kok khawatir sama kandungan Meidina ya." ucap Ibu Mira langsung berdiri, dan menyusul Meidina masuk ke dalam kamar nya.
"Mei, gimana nak?" tanya Ibu Mira panik.
"Nggak apa - apa bu, mungkin capek saja. Ini juga kandungan kan, mau masuk 8 bulan. Sudah nggak kuat duduk lama, ingin nya rebahan." jawab Meidina.
"Ya udah rebahan saja, jangan banyak gerak terlalu capek."
"Iya bu."
"Ya sudah, Ibu bantu Mami kamu lagi."
"Iya bu."
Meidina mengusap perut nya, sambil tersenyum ke arah photo Radit, yang terpasang di tembok kamarnya.
"Bang, lihat anak kamu aktif sekali di dalam perut. Bahkan, anak kamu tidak rewel, dia mengerti kalau Mamah nya ngidam nya terlalu, sama siapa akan bermanja. Seandainya, Abang masih ada. Pasti saat ini, Abang sedang mengusap perut saya, dan lalu berkata. Nak, cepat lahir dong, biar kita main bola." ucap Meidina sambil meneteskan air mata nya.
"Abang, disana sedang apa? saya kangen sama Abang." ucap Meidina mulai terisak.
"Kalau sedang seperti ini, rasa kangen nya semakin luar biasa.Hiks.. hiks.. Abang, saya ingin memeluk tubuh Abang, saya kangen pelukan dan bau tubuh Abang.Hiks.. hiks.. hiks.. saya kangen Abang, dikamar ini saya berharap, Abang datang duduk di samping saya, sambil berkata, sayang Abang juga rindu sama kamu. Abang juga, hiks... hiks... Bang Radit.. hiks.. hiks... "
Meidina akhirnya tertidur, sambil memeluk bantal tidur. Matanya yang terasa berat, begitu mudah pulas.
****
Anisah makan, di suapi Bagas, hingga makanannya habis tidak tersisa. Bagas membersihkan sudut bibir dengan ibu jarinya.
"Kenyang?" tanya Bagas, Anisah menganggukkan kepala nya.
"Mas, jangan pulang ya, saya ingin dekat sama Mas terus."
"Iya sayang, Mas akan disini temani kamu."
"Saya kangen sama Mas, kangen sentuhannya, kangen belaiannya, kangen segalanya."
"Mas juga kangen kamu sayang, kangen kamu yang selalu ceria, selalu marah - marah, Mas kangen masa - masa itu. Kamu harus sembuh, biar bisa keluar dari rumah sakit."
Anisah kembali memeluk tubuh suami nya, satu kecupan yang diberikan Bagas untuk Anisah, didaratkan tepat pucuk kepala nya.
"Sayang, apapun yang terjadi, pelukan ini tidak akan pernah lepas. Hingga, kita sama - sama nafas ini terhenti, hanya ada satu cinta." ucap Bagas.
"Mas janji ya, untuk tetap selalu setia."
"Iya sayang, Mas akan setia."
*****
Meidina membuka kedua mata nya, lampu kamar nya menyala. Terlihat pukul 7 malam, Meidina tertidur selama 5 jam.
"Ya Allah, tidur saya pulas sekali. Sampai malam begini." ucap Meidina langsung turun dari tempat tidur nya.
Saat membuka pintu, Meidina kaget saat melihat sosok pria yang sedang tersenyum ke arahnya.Meidina melihat, Radit berjalan ke arah nya. Pakaian yang serba putih, kini mendekat.
"Bang Bagas." ucap Meidina mengangkat tangan nya, yang akan menyentuh pipi.
"Bang." ucap Meidina kembali, saat tangan nya menyentuh pipi.
"Mba."
"Bang."
"Mba, sadar mba." ucap Angga sambil menggoyang tubuh Meidina.
"Astagfirullah." ucap Meidina langsung menurunkan tangan nya.
"Mba kangen sama Almarhum ya?" tanya Angga.
"Iya, saya kangen." jawab Meidina.
"Kirim doa mba, kalau mba kangen."
"Iya Angga, maaf kan saya." ucap Meidina langsung pergi meninggalkan Angga.
****
"Kata Ibu, kamu tidur nya pulas sekali, jadi Ibu tidak berani bangun kan kamu." ucap Pak Halim.
"Tadi saya capek sekali Ayah, makan nya saya itu tidur." ucap Meidina.
"Kandungan kamu masih kencang?" tanya Ibu Mira.
"Alhamdulillah, sudah tidak bu." ucap Meidina.
"Kalau ada apa - apa, kamu bilang sama Ayah dan ibu. Kami tidak mau, terjadi sesuatu dengan kamu dan calon cucu kita." ucap Pak Halim.
"Iya Pak, saya akan jaga, dan hati - hati biar tidak kenapa - napa." ucap Meidina.
" Ibu,Ayah nanti kalau sudah dekat hari H, Angga ingin ke makam kedua orang tua Angga." ucap Angga.
"Kenapa tidak besok atau lusa? jangan terlalu dekat dengan hari H. Kamu sudah tidak boleh kemana-mana,kalau sudah mau satu minggu,menuju hari H." ucap Pak Halim.
"Nanti Ayah dan Ibu,antar kamu. Sudah lama, tidak berziarah ke makam kedua orang tua kamu."ucap Pak. Halim.
.
.
.
7 bln & 8bln sudh dlam kandungan ku bawa kmna2 tp dia lbh senang memilih Allah,.
tunggu mamah disana ya 2bidadari kecilku
perempuan itu tipe nya setia jika di tinggal meninggal suaminya. Jika di sakiti lelaki jangan memikirkan cari pasangan baru. karena anak lebih penting dari cari suami baru.