Arumi cuma wanita biasa yang hidupnya sangat sederhana. Sampai akhirnya, sebuah kecelakaan membuat hidupnya berakhir. Bukannya tenang, Arumi malah bangun dengan kondisi yang bikin pusing. Jiwanya terjebak di dalam tubuh pria bernama Bagas.
Belum selesai kagetnya, di kepalanya muncul suara sistem yang menyebalkan dan hobi banget mengejeknya. Sistem itu menuntut Arumi harus jadi koki hebat, padahal Arumi sendiri nggak bisa masak apa-apa.
Lebih parah lagi, Bagas ternyata adalah siswa di sekolah tentara dengan jadwal latihan yang super padat. Arumi harus berusaha keras biar nggak ketahuan sifat aslinya, sambil diam-diam menjalankan misi memasak dari si sistem yang sangat menyebalkan.
Dapatkah Arumi melewati hari-harinya di sekolah tentara tanpa ketahuan, dan bertahan dari ocehan sistem yang bikin emosi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tiga ~
Malam itu, dunia seakan berkonspirasi untuk menghancurkan Bagas. Tubuhnya benar-benar berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, seolah setiap inci otot di tubuhnya telah mengalami perobekan yang menyakitkan. Tidak ada satu pun bagian dari tubuhnya yang tidak terasa sakit, sendi-sendinya seolah-olah dipaksa untuk terus bergesekan tanpa pelumas, otot-ototnya kaku dan tegang seperti besi tua yang dibiarkan berkarat di tengah hujan, dan setiap kali ia mencoba mengambil napas panjang, dadanya terasa sesak seolah ada beban ribuan ton yang menindih paru-parunya. Begitu ia merebahkan tubuh di atas ranjang besi yang keras ia merasa jiwanya benar-benar ingin keluar dari raga ini dan pergi sejauh mungkin.
"Sistem." panggil Bagas lirih. Suaranya terdengar begitu parau, hampir menyerupai bisikan yang tertelan oleh kesunyian barak yang hanya diisi oleh suara dengkur halus dari rekan-rekannya yang telah terlelap dalam mimpi indah. "Aku rasa aku benar-benar akan mati kali ini. Jika besok pagi aku tidak bisa bangun, pastikan kau mencari Tuan Rumah baru yang jauh lebih tahan banting daripada aku. Aku sudah tidak sanggup lagi."
Ting!
Suara dentingan itu terdengar sangat nyaring dan dingin di telinganya, seolah sengaja mengejek kondisinya yang lemah.
[Deteksi kondisi Tuan Rumah: Kelelahan kronis, peradangan otot level tinggi, dan kadar glukosa dalam darah yang berada jauh di bawah batas normal. Kondisi fisik saat ini mencapai tingkat bahaya. Saran: Tuan Rumah sangat disarankan untuk membeli 'Obat Kuat Pemulihan' di Toko Sistem untuk memperbaiki kondisi fisik dan meningkatkan stamina secara instan.]
Mendengar kata Obat Kuat, mata Bagas yang tadinya sudah hampir tertutup rapat, kini terbuka lebar dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Harapan kecil tiba-tiba muncul di tengah rasa sakit yang mendera. "Obat kuat? Maksudmu seperti ramuan stamina yang bisa menyembuhkan segalanya? Kenapa kau tidak bilang dari tadi?! Cepat, buka tokonya! Aku butuh itu sekarang! Berikan aku sepuluh botol jika perlu, aku akan membayarnya dengan harga berapapun yang kau mau!" serunya dengan semangat yang sangat dipaksakan.
[Toko Sistem dibuka. Item: Obat Kuat Pemulihan (Efek: Memulihkan 100% energi dan meningkatkan stamina secara permanen). Harga: 100 Poin.]
Bagas menatap layar transparan yang melayang di depan matanya dengan antusiasme yang meledak-ledak. Namun, tepat di bawah tulisan harga itu, angka yang tertera di saldo poinnya membuat senyumnya membeku. 0 Poin.
Nol. Angka yang sama sekali tidak berarti.
"Nol? Kau bercanda kan?" Bagas nyaris berteriak, kalau saja dia tidak ingat dia sedang berada di barak yang penuh dengan tentara lain yang sedang tidur. "Kau menawarkanku penyelamat hidup, tapi kau memberiku poin nol? Sistem, kau ini sebenarnya alat atau penipu ulung? Bagaimana mungkin kau mengharapkan aku membeli itu kalau poinnya saja tidak ada? Apa kau sedang mengerjaiku? Apakah ini semacam tes kesabaran?"
[Sistem tidak melakukan penipuan. Poin diperoleh dengan menyelesaikan Misi Harian. Misi saat ini adalah Misi Makan Malam.]
"Makan malam? Aku bahkan tidak punya tenaga untuk sekadar mengangkat tangan ke arah langit, dan kau menyuruhku memasak?" Bagas memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. Rasanya kepalanya akan meledak menjadi serpihan kecil. "Sudah, cepat beri tahu aku apa misinya sebelum aku benar-benar mati konyol karena kelelahan di tempat tidur ini."
[Misi: Memasak menu makan malam. Pilihan menu tersedia di bawah ini:]
[a. Ayam cabe garam & nasi daun jeruk (100 Poin)]
[b. Ikan bumbu kuning & papeda (150 Poin)]
[c. Udang sambal mangga dengan nasi merah putih (200 Poin)]
Bagas membaca daftar menu itu dengan wajah pucat pasi. "Ini bukan misi, ini hukuman mati! Kau menyuruhku memasak menu selevel restoran di dapur barak yang berantakan ini? Aku ini Arumi! Aku sudah bilang berkali-kali, aku tidak tahu cara memegang pisau yang benar, apalagi memasak makanan yang butuh teknik tingkat tinggi seperti ini! Kau gila!"
Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. "Pilih menu yang paling simpel saja." gumamnya pada diri sendiri, meskipun di matanya, ketiga pilihan itu sama-sama tampak seperti sebuah musibah besar.
"Tunggu dulu." Bagas memicingkan mata ke arah layar dengan penuh curiga. "Kalau aku harus memasak, bahan-bahannya dari mana? Jangan bilang aku harus keluar barak jam segini untuk cari bahan. Dapur barak itu isinya cuma panci karatan dan sisa mie instan. Aku tidak punya uang, dan aku yakin dapur itu sudah digembok oleh penjaga!"
[Karena ini adalah Sistem Koki, maka seluruh bahan baku yang diperlukan untuk menu pilihan akan disediakan secara gratis oleh sistem tepat di meja dapur barak. Tuan Rumah hanya perlu menjalankan proses memasak dengan bantuan panduan Sistem.]
Bagas terdiam sejenak. Otaknya bekerja keras, mempertimbangkan antara rasa malasnya yang akut dan rasa sakit di tubuhnya yang sudah tak tertahankan. Akhirnya, dia menghela napas panjang. "Baiklah, baiklah, kau menang." desis Bagas dengan nada yang kalah. "Aku pilih menu yang pertama saja: Ayam cabe garam dan nasi daun jeruk. Sepertinya itu yang paling cepat dan tidak perlu banyak teknik aneh-aneh. Cepat, selesaikan ini, aku sangat lelah dan ingin segera tidur."
[Menu dipilih: Ayam cabe garam & nasi daun jeruk. Bahan baku telah dikirimkan ke dapur. Tuan Rumah memiliki waktu satu jam untuk menyelesaikan hidangan. Silakan segera menuju dapur.]
Bagas kembali mengeluh, kali ini suaranya lebih keras dan penuh dengan keputusasaan. Dia terpaksa memaksa tubuhnya turun dari ranjang. Kakinya gemetar hebat saat menyentuh lantai dingin barak. "Sistem, kau benar-benar penyiksaan berjalan. Lihat saja, kalau aku tidak bisa masak dan malah membakar dapur ini, itu sepenuhnya salahmu! Dan kalau aku ketahuan pelatih sedang berada di dapur jam segini, aku akan menuntutmu ke akhirat!"
Sambil terus mengomel, Bagas berjalan menyeret kakinya yang berat melewati lorong barak yang sunyi dan remang-remang. Suasana barak malam itu sangat mencekam. Dia benar-benar tidak percaya bahwa dia harus terjebak dalam misi memasak demi mendapatkan sebotol obat kuat. Ini gila, pikirnya. Seumur hidupku aku tidak pernah memasak apa pun selain mie instan, dan sekarang aku harus memasak menu yang seharusnya ada di buku resep koki profesional.
Dia sampai di depan pintu dapur. Dengan tangan yang masih gemetar karena rasa sakit, dia mendorong pintu dapur tersebut. Dia berharap bantuan sistem benar-benar ada, karena dia ingin sekali tidur selama seminggu.
kebalikan kita Thor,, aku cow yg masuk tubuh cew🤣
Ditunggu up berikutnya othor seksoy 😘