NovelToon NovelToon
Rahasia Hati

Rahasia Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:1.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: maylazee

Kia dan Bimo, dua orang yang berusaha bersatu, Tetapi halangan yang mereka hadapi tidak mudah. Bisakah mereka melewatinya? Kenapa Bimo meninggalkan Kia? Apa alasan Kia sangat membenci Bimo? Rahasia apa yang mereka simpan ? Apa ada orang lain yang sama dengan Bimo mencintai Kia? Dengan siapa Kia bisa bahagia? Temukan disini di "Rahasia hati"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maylazee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Healing

Aku terkejut ketika membuka mataku dan aku ada di kamar Bimo kapan dia memindahkanku pikirku.

Aku keluar melihat Bimo tidur di sofa dan luthfi tidur di bawah. Aku mengambil air mineral di atas meja dan meminumnya kemudian berbaring di samping Bimo.

Bimo kaget dan memberikan ruang untukku supaya bisa berbaring. Dia memelukku dari belakang dan mencium kepalaku. Aku pun tertidur malam itu di sampingnya.

**********************

Lamat-lamat kudengar suara denting sendok. Aku bangun dan melihat Mas Tito sedang membuat teh. Aku membasuh mukaku di wastafel di depan meja makan.

"Eh, Kia sudah bangun?" tanya Mas Tito. Aku mengangguk pelan sambil tersenyum.

"Sini! Sarapan," ajak Mas Tito.

Aku menghampiri dan duduk di depan mas Tito. Dia memberikanku segelas teh hangat.

"Mau yang mana? Strawbery? Nanas? Coklat?" tanyanya.

"Coklat," jawabku pelan.

"Sudah Mas duga karena Bimo sering memanggilmu, Coklat," kata Mas Tito sambil tertawa.

Aku tersenyum kecil. "Mas Tito mau kerja?" tanyaku.

"Iya, Mas harus kerja," jawab Mas Tito. "Memang Bimo jahat, ya? Sampai bikin Kia menangis begitu?" tanya Mas Tito sambil memberikan roti padaku.

Aku menggeleng sambil memakan roti.

"Bimo kayaknya cinta mati sama Kia," ujar Mas Tito.

"Benar, Mas? Kalau cinta, mau nggak maafin kesalahan Kia?" tanyaku.

"Iya dong! Seperti Mas yang selalu maafkan kesalahan pacar, Mas," jawabnya sambil tersenyum.

"Emangnya, Mas Tito punya pacar?" tanyaku.

"Hmm...jangan meremehkan Mas Tito," katanya sambil mengambil handphonenya lalu memperlihatkan, padaku.

"Nih, pacar Mas Tito," candanya sambil tersenyum.

Dan ternyata gambar monyet aku tertawa bersama Mas Tito.

Mas Tito melihat ke samping lalu mengangguk. Ternyata Bimo ada di situ. Dia berdiri sambil, memperhatikanku.

Dia tersenyum padaku. "Sudah baik?" tanyanya.

Aku tersenyum dan mengangguk. Dia duduk di sampingku lalu menunjuk roti.

"Coklat, selamat pagi," katanya sambil mencium pipiku.

"Tidak sopan, di depan yang lebih tua ciuman," ujar Mas Tito.

"Nggak... perduli," sahut Bimo sambil menatapku.

"Memang kalau Kia salah, kamu mau maafkan?" tanyaku pada Bimo.

"Selalu," jawabnya memegang kepalaku.

"Sudah, ah...Mas berangkat, ya... biarkan Kia di sini dulu, aku sudah bicara sama Ibu di depan, kalau Adik iparku datang," jelas Mas Tito sambil menghabiskan teh nya.

"Memang tidak mau cerita?" tanya Bimo sambil makan roti yang kuberikan.

"Nanti kalau saatnya tepat aku akan ceritakan, tapi janji tidak boleh marah," pintaku.

"Makin penasaran saja, apa ada cowok lain?" tanyanya sambil menatapku penuh selidik.

Aku menggeleng sambil memeluknya. Bimo seperti merasa ada sesuatu yang salah padaku. Tapi anehnya dia tidak memaksaku seperti dulu, harus menceritakannya.

Dia lebih dewasa sekarang, lebih mengerti bagaimana caranya menghargai pendapat orang lain.

"Aku mau beli nasi kuning yang di dekat lampu merah, tidak cukup hanya ini," katanya menunjuk roti.

"Aku ikut mau mandi di kost," kataku cepat.

"Disini, kan... bisa," ujarnya.

"Aku lagi kedatangan tamu, nggak enak di sini," kataku.

"Bawa baju ganti nanti aku dua hari di sini sudah minta izin sama kantor, di sini saja sementara, ya..." bujuknya sambil memegang tanganku.

Perasaanku sedikit terobati karena ada Bimo. Ternyata aku harus punya teman yang bisa menemaniku.

Aku selama ini cuma punya Rima dan Rima akan menikah. Sedikit banyaknya aku merasa kehilangan.

Di sini aku sendiri tidak punya teman bercerita. Apalagi aku dihadapkan dengan masalah seperti ini. Yang tidak mudah untuk bangkit kembali tanpa dukungan.

Aku harus punya seseorang yang memegang tanganku dan membuatku bisa berdiri kembali.

Bimo sampai izin kerja supaya bisa menemaniku. Luthfi bahkan membawa serta Erwin supaya aku merasa tidak sendiri.

Rima langsung pulang sesudah acara lamaran. Dan rencana langsung ke tempatku. Aku punya teman-teman dan pacar yang sangat perduli padaku.

Tapi aku tidak bisa menceritakan apa yang ku alami . Harus memendam sendiri seperti menelan sesuatu yang membuatku sangat sakit.

*******************

Bimo memelukku dari belakang ketika aku duduk di sofa depan sambil melihat televisi. Dia baru saja selesai mandi dan langsung mencariku.

"Skripsinya sudah selesai?" tanya Bimo saat kami duduk bersama di sofa.

Aku mengangguk pelan. "Tinggal pengujian," jawabku sambil berbaring di bahunya.

Dia meletakan kepalanya di atas kepalaku sambil memejamkan mata.

"Aku kangen sama Heri," kataku pelan.

Kalau Heri di sini aku pasti terhibur, dia orang yang paling bisa membuatku tertawa lepas.

"Kita panggil Heri ke sini," kata Bimo mengambil handphonenya.

Dia menelpon Heri dengan mode suara speaker.

Heri langsung mengangkat. "Ada apa, Bim?" tanyanya.

Mendengar suaranya dan tersenyum, Bimo melihatku dengan senang.

"Kamu di mana?" tanya Bimo.

"Di kampus!" jawabnya.

"Ke sini!" kata Bimo.

"Kemana?" tanyanya seperti bingung.

Kami langsung tertawa bersama.

"Ke sini..." suruh Bimo.

"Ke sini di mana? Emang kamu di mana, sih?"

"Jangan main tebak-tebakan gitu, Bim... ahh..." kata Heri seperti putus asa.

"Ke tempat Mas Tito...sekarang, bawa Vitamin, ya," kata Bimo. Aku memandangnya sambil menggeleng kepala.

"Minum lagi?" tanyaku pada Bimo tapi dia hanya tersenyum.

"Berapa?" tanya Heri.

"Kamu mau?" tanya Bimo pada Erwin dan Erwin mengangkat jarinya tanda setuju.

"Tujuh," kata Bimo.

"Kenapa tidak sekardus sekalian, memang banyak anggotanya?" tanya Heri seperti mau protes.

"Jangan cerewet, uangnya ku ganti lebih," jawab Bimo.

Aku memandang Bimo dengan kesal.

"Heri kalau tidak di recoki tidak lucu, santai saja," ujar Bimo. Luthfi tertawa mendengarnya.

"Ihh... jahat," kataku Bimo tertawa sambil memelukku.

*****************

Heri datang kulihat dia membawa karung sambil menggerutu.

"Dasar, sial! Kalau bukan Bimo aku tidak mau melakukannya," gerutunya sambil mengangkat karung berisi botol bir.

Luthfi dan Erwin tertawa. Luthfi sampai terduduk di depan pintu.

Bimo tertawa lepas sambil menaruh kepalanya di sandaran sofa.

Aku tertawa sambil memeluk Bimo dan perutku sakit jadinya.

"Puas! Kalian, membuatku seperti pemulung," teriaknya kesal.

Heri ikut tertawa juga akhirnya melihat kami semua tertawa.

"Kenapa pakai karung, sih... membawanya?" tanyaku.

"Kalau aku tertangkap, kamu mau tanggung jawab?" tanya Heri padaku.

"Bimo benar-benar membuatku seperti kriminal," kata Heri sambil menyerahkan karung pada Erwin.

Bimo mengeluarkan uang di dompet, sepertinya Satu juta rupiah dan langsung memberikan kepada Heri.

"Begini! Yang aku tidak bisa menolak maunya Bimo," katanya sambil tersenyum memandangku.

"Hmm... mata duitan," ejekku.

Bimo tersenyum melihatku, sudah bisa fighting dengan Heri.

*******************

Heri duduk di sebelahku sambil memandangku. Dia kelihatan sedikit khawatir aku adalah orang yang sering digodanya sampai emosi tapi kini sangat lemah seperti memiliki beban yang dalam.

"Sakit, Kia? Pucat sekali? tanya Heri padaku.

Aku mengangguk dan tersenyum padanya.

"Di mana?" tanyanya lagi.

"Di sini!" kataku sambil menunjuk dadaku.

"Liver? jantung? Paru?" tanyanya dengan wajah khawatir tapi tetap dengan tingkahnya yang lucu.

"Ihh... kenapa penyakit, yang mematikan semua, sih?" tanyaku kesal sambil mendorong badan Heri.

"Senang, ya? Kalau aku cepat mati?" tanyaku lagi pada Heri.

"Hmm.." sahut Heri mencibir.

"Aku kangen kamu, Her..." kataku pelan sambil memandangnya.

Dia langsung berdiri. "Tuh kan Bim! Sudah kuduga dari dulu, Kia memang naksir aku," katanya sambil memandang Bimo.

"Di depanmu saja, terang-terangan bilang merindukanku, tidak bisa, Kia...aku tidak bisa mengkhianati Bimo," kelakarnya sambil tertawa memandang Bimo.

Bimo juga tertawa mendengar kata Heri. Aku memukul kepala Heri dengan koran sambil tertawa.

Kami bersama-sama bercanda dan tertawa. Hatiku sudah mulai terobati. Heri menceritakan kisah waktu SMA,m dengan lucunya. Kulihat Bimo juga ikut larut dengan cerita Heri ternyata aku tahu bahwa aku harus membuka diriku. Untuk berteman dengan siapaapun.

Bimo melakukan apapun membantuku kembali ceria. Aku sekarang sering memandang wajahnya diam-diam, melihatnya tertawa dan tersenyum.

***************

Bimo mencoba menghiburku dengan selalu memegang tanganku. Dia merasa aku harus punya teman yang bisa membuatku tenang.

"Aku akan pulang kalau Rima sudah datang," kata Bimo memeluku saat kami berbaring di sofa depan.

"Begini langkahnya, selesaikan skripsi pulang ke rumah, aku berusaha mencari cara, bagaimana cepat diangkat permanen baru kita menikah, tunggu sebentar lagi," jelasnya.

Aku mengangguk dan mengerti bahwa aku harus menuruti Bimo. Untuk kembali seperti dulu. Walaupun tidak sepenuhnya bisa, paling tidak aku harus mencobanya. Aku tahu Bimo pasti ada untukku.

Aku mencium pipinya dan memeluknya erat. Aku ingin selalu di dekatnya dan aku rasa dia juga begitu.

**********************

Dua hari kemudian Rima berjanji akan pulang menemuiku.

"Kamu di mana?" tanya Rima.

"Aku sudah di jalan tiga jam lagi sampai jangan kemana-mana," kata Rima menelponku.

"Aku di tempat Mas Tito sama Bimo," jawabku.

"Ya, sudah...aku langsung ke sana saja," katanya.

"Rima sudah datang kamu bisa pulang," ucapku, pada Bimo.

Dia memegang tanganku. "Ingat, ya...harus selesai skripsinya, nanti kalau sudah wisuda aku akan datang ke Papamu," janjinya.

"Aku cinta kamu," kataku pelan.

"Kenapa? tidak pernah mengatakan cinta padaku?" tanyaku.

"Selalu aku yang mengatakannya, heh..." kataku sambil mencubit hidungnya.

"Entahlah, aku tidak terbiasa saja," jawab Bimo.

"Berarti aku kalah sama kamu yang mengatakan cinta dulu berarti cintanya lebih besar," jelasku.

"Memangnya begitu? Dari mana melihatnya? Kamu percaya?" tannyanya.

Sekarang sepertinya berbalik. Dulu aku yang sering memanjakan Bimo kali ini dia seperti pelindungku, aku merasa aman kalau dia di dekatku.

"Berapa banyak cintamu padaku? Satu sampai sepuluh?" tanyaku menghadap wajahnya.

"Tujuh," jawabnya cepat.

"Hah... cuma segitu?" tanyaku tidak percaya.

"Sisanya buat aku dan keluargaku, jangan serakah!" jawabnya memegang dahiku. Kami pun tertawa bersama, sambil berpegangan tangan.

************

Bimo pulang sore ketika Rima datang. Dia mengantarku dan Rima ke kost. Kekhawatirannya sedikit berkurang dengan adanya Rima.

"Jangan nangis lagi jangan sakit lagi," pesannya padaku.

"Minggu depan aku ke sini, usahakan skripsinya selesai cepat," lanjutnya.

"Aku tidak mau jauh dari kamu," katanya mencium pipiku lalu berangkat.

***********************

Aku dan Rima sampai di kamar kostku. Betapa kagetnya Rima melihat kamarku berantakan. Bahkan ada beberapa gelas yang pecah. Aku langsung menyimpan foto USG yang ada di atas meja ke dalam lemari pakaian.

"Kenapa?" tanya Rima sambil memelukku.

Aku tidak bicara aku cuma memeluknya.

"Mamamu bingung dan mengira kamu sakit," katanya.

"Sudah baikan," kataku.

"Maaf, tidak bisa datang," sesalku sambil memegang tangan Rima.

Hari itu juga Rima merasa ada yang aneh padaku. Tapi dia diam, tidak menanyakannya. Rima membantuku membemahi kamarku. Dia bahkan membersihkan pecahan gelas yang ingin kugunakan menyayat tanganku.

Kalau ingat kejadian itu aku merasa bersalah padanya. Sampai tujuh tahun dia tidak pernah tahu kejadian yang menimpaku saat itu.

Saat reuni aku bertemu Bimo. Baru dia tahu yang sebenarnya. Aku menyimpan rahasia ini sendiri rapat sekali, hanya seseorang yang tahu yang menolongku saat itu.

Sekarang aku sering menelpon Mama Bimo. Dia tetap menyuruhku jangan bicara apapun dengan Bimo. Aku menuruti kata-katanya walaupun akhirnya aku juga menyesalinya.

** Kasih ratenya dong buat Bimo sama Kia 😉

** Bimo membawa seseorang, yang menbuat Kia meloncat kegirangan, siapa? Bagaimana serunya... lihat episode mendatang .... terima kasih sudah membaca....

1
$!€N4**LKPL
Usul thor gimana kalau bab yg blm terbit kalo mau bisa tukar dgn dana per 5 bab gitu supaya aku tdk pingsan krn penisirin
malas terima nasib jadi wait reader 😓
REKA95
coba analis
gadis sakit
rahasia miko kebuka
kia marah
mereka bercerai
kia bantu gadis
miko kecelakan
staga aaa kenapa otakku traveling thor
lama banget update
★ℳ𝓇~ ℰ𝓂★
next
Binar Pelangi W
semangaaaats kia🤗
Tip 20202
Kia pasti lupa sama gadis ampe nanya gitu lah
CoNie_
kaget eh, apa isi kotak foto2 mesra miko sama gadis? kalo benar nggak ok thor udah kebaca
bab baru kapan terbit
🎯JAY~~
mantap
€DeN7006
comeback
𝑯𝒆𝒊𝒔𝒕_𝑻𝒆𝒛𝒛
_____up up up_____
Syerrin Adiba🌼
poor to gadis😢
7474N✔
lagi
:)𝘼𝙣𝙟𝙖𝙣𝙞°_^
terlambat aku liat kia, sorry kia 😚😚
JeaNny2.60
aku percaya pada kia, dia tidak kan bertindak bodoh hanya karena muncul gadis, ayo kia semangat kamu harus update biar bisa tahu endingmu
Winda Aprilianty
semangat author/Angry/
Rona Merah
apakah seperti aac harus ada perkawinan disaat sakit, tolonglah update cepat thor
---𝘼𝙠𝙝𝙆𝙖𝙪---
up
--𝚁𝚘^^123•••
are u ok dis?

i ok i fine
not bad not bd
-----------
kumerasa sakit----sakit

😂😂😂😂
Faradilla99
jenis sad komplek ekonomi cinta sepihak iri dendam tambah sakit parah, berlebihan bnget thor, author kita cinta mati sama kia semua yg jahat dibikin mokat
H⃠𝗮𝘆𝗶_𝗧𝗿𝗧
kaka author sembuhin gadis kit a jodohin sama kk arya aja jadi enggak sad kan
Vonny Maria Sianipar
masih percaya sama janji miko di depan bimo, kia digempur sama hal begituan gak ngaruh deh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!