Perjodohan
Terdengar klasik tapi masih banyak praktik tersebut di tengah masyarakat. Capella Permata Adityawarman, gadis 23 tahun yang baru saja menyelesaikan studinya dan bekerja sebagai jurnalis. Capella sudah dijodohkan saat ia kecil dengan Mahen. Kedua orang tersebut saling mencintai. Sebentar lagi Mahen dan Capella akan menikah, namun beberapa hari lagi pesta yang akan diselenggarakan berubah kacau saat Mahen menjadi tersangka pemerkosaan dan pembunuhan. Capella ingin membatalkan pernikahan itu dan orangtua Mahen yang terlanjur menyukai Capella serta persiapan pernikahan 90% memaksanya menikah dengan anak bungsunya yang super dingin dan nakal, Januari Harrisman Trysatia, pemuda yang masih 19 tahun. Capella harus menikahi Januari yang jauh di bawahnya dan masih labil.
"DASAR PELACUR!!" Januar meludahi Capella di depan orangtunya.
"JANUARI! DIA ISTRIMU!" teriak Megan kepada anak bungsunya.
"Sampai kapan pun gue tidak akan pernah menganggap lo istri." Januar mendorong Capella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Ferina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 34
JIKA ADA TYPO BISA DIKOMENTARI YAH TEMAN-TEMAN.
Januar panik bukan main saat sang istri pingsan. Segera Januar membawa Capella ke rumah sakit. Mahen yang posisinya saat itu masih berada di tengah jalan melihat mobil Januar yang melaju kencang mengernyitkan keningnya.
Ia penasaran hal apa yang telah membuat Januar membawa mobil secepat itu. Merasa tidak enak, Mahen pun memutuskan untuk menyusul Januar.
Ia memberhentikan salah satu taksi yang kebetulan sedang melintas di sana. Mahen menyerahkan beberapa lembar uang yang ia dapatkan dari salah satu temannya yang membawa uang ke penjara dengan cara diseludupkan.
"Pak kejar mobil itu," pinta Mahen pada sang supir yang langsung disetujui oleh supir tersebut.
Taksi itu pun mengejar mobil Januar yang melaju kencang dan di atas rata-rata.
Januar yang panik bukan main menatap Capella sesekali ke samping. Ia menyentuh kening wanita itu yang terasa sangat panas.
Januar menghela napas panjang dan fokus pada jalanan. Namun ia terkejut saat mengetahui ada taksi yang mengejarnya. Tapi Januar tak memiliki waktu untuk meladeni taksi tersebut.
Januar makin meningkatkan kecepatan mobil yang ia bawa hingga tak membutuhkan waktu yang lama Januar pun sampai di salah satu rumah sakit terdekat. Ia keluar sambil menggendong tubuh lemah Capella.
Mahen yang melihat Januar keluar sambil mengangkat tubuh Capella pun terkejut bukan main. Ia langsung keluar dari dalam mobil dan berlari menuju Januar.
Namun tetap saja ia menjaga jarak antara dirinya dan Januar agar tidak diketahui oleh pria itu jika dirinya telah diam-diam membuntuti Januar. Januar membawa Capella ke ruang darurat. Ia juga telah menelpon bundanya karena jika panik seperti ini Januar tak bisa berpikir jernih.
Mahen menghampiri Januar. Ia menatap Januar yang tengah gelisah. Pria itu bahkan tak bisa berdiri dengan tenang dan terus mondar mandir.
"Kamu yang buat Capella sampai pingsan? Kamu apakan dia?" tanya Mahen mengintrogasi sang adik. Sudah ia duga jika Capella bersama Januar pasti wanita itu tidak baik-baik saja. Terlebih Mahen tahu jika Januar membenci Capella bahkan menolak secara terang-terangan jika Capella menjadi salah satu anggota kekuarga mereka dulu.
Januar pun menatap ke arah sumber suara dan mengerutkan keningnya melihat Mahen. Sudah dia tebak jika orang yang ada di dalam taksi itu adalah Mahen.
"Peduli apa lo? Dia istri gue jadi gue yang berhak atas dia, ngerti gak lo?"
"Bahkan dalam kondisi kaya gini kamu hanya mikirin diri mu dan lebih mementingkan pertengkaran kita? Woy Ella pingsan gara-gara kamu kan Januar? Kapan kamu akan berubah dan nerima Capella setidaknya!! Aku yang akan bawa Capella jika Capella terus bersama mu aku tidak bisa menjamin keselamatan dia."
Sebelum Mahen melakukan tindakannya pria itu lebih dulu dihentikan Januar. Januar menarik kerah baju Mahen dan mengangkatnya. Tatapan yang dilontarkan pria itu penuh dengan peringatan. Mahen sok tahu padahal semua itu tak seperti yang diduga oleh Mahen.
"Berani lo selangkah aja pergi dan bawa dia, nyawa lo taruhannya!"
"Kau pikir aku takut? Tidak Januar. Bahkan jika nyawa yang harus ku bayar demi keselamatan Ella aku akan memberikannya."
Januar terdiam dan melepaskan cengkraman di kerah leher pakaian Januar. Ia menghela napas panjang dan memandang Mahen penuh dengan kemarahan.
"Hentikan omong kosong ini. Yang penting kita pikirkan keselamatan Ella untuk saat ini." Januar berpikir berkelahi di tempat seperti ini adalah tempat yang salah.
"Dari tadi aku juga sudah mengatakannya." Januar tak menanggapi Mahen. Kali ini ia akui salah. Ia pun terpaksa untuk berdamai dengan Mahen sesaat.
Tak lama datang seorang dokter yang meminta agar salah satu dari mereka untuk ke ruangannya.
"Siapa di sini suami pasien?" tanya dokter tersebut pada Mahen dan Januar.
Keduanya malah menyatakan bahwa mereka berdua adalah suaminya. Januar yang tak suka dengan pengakuan Mahen pun menatap marah sang Kakak.
"Ada apa Dok? Saya suaminya," ucap Januar mematahkan kebingungan sang dokter.
"Anda suaminya? Bisa ikuti saya ke ruangan sebentar. Ada beberapa hal yang saya ingin bicarakan.
Ia pun mengikuti sang dokter dari belakang. Januar masuk ke dalam ruangan dokter tersebut. Dan dokter itu menyerahkan beberapa obat yang harus dikonsumsi Capella.
"Selamat yah Pak, istri Anda telah hamil sudah dua Minggu."
"Hah?" Januar terkejut mendengar pernyataan sang dokter.
Ia pun menatap dirinya sendiri. Januar tak percaya jika ia akan menjadi seorang ayah. Ayah? What, Januar akan menjadi seorang ayah di usia muda? Kenyataan apa yang telah diterima Januar? Atau dia hanya salah dengar.
"Dok bisa Anda ulangi lagi? Apakah saya salah dengar?"
"Anda tidak salah dengar. Anda benar-benar akan menjadi seorang ayah." Januar bodoh karena sempat heran bagaimana caranya Capella bisa hamil padahal ia sendiri yang sudah membuat wanita itu hamil sebab mereka melakukannya hampir tiap malam.
Mahen yang diam-diam mengikuti pun langsung terdiam mendengar ucapan dokter di dalam. Ia menyentuh dadanya yang berdetak sangat kuat hingga menyakiti dirinya.
Air mata tak bisa tertahan di matanya. Ia pun menangis dan pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan marah dan juga sedih yang bercampur menjadi satu.
____________
Capella mengerjapkan matanya. Ia pun menyentuh kepalanya ketika merasa sangat pusing saat membuka mata setelah sekian lama.
Capella menghela napas panjang dan menatap ke sekitar. Ia pun memandang Januar yang tengah memandangnya dengan sangat dalam.
"Sudah bangun?" tanya Januar pada Capella yang membuka matanya. Capella terdiam dan memandang Januar dari bawah.
Ia merasa Januar tampak tengah pusing. Capella merasa jika dirinya sudah terkena serangan penyakit yang mematikan.
"Ada apa? Ada apa denganku? Apakah aku mendapatkan penyakit yang mematikan?" tanya Capella bertubi-tubi kepada Januar.
Januar menghela napas dan menggelengkan kepala. Ia pun mengusap wajah Capella yang sangat gelisah.
"Tidak apa-apa. Kamu baik-baik saja."
Capella pun dapat menghela napas dengan lega setelah mendengar ucapan Januar. Ia pun bertanya-tanya lantas apa yang telah membuatnya dirawat di tempat ini.
"Januar? Ini di rumah sakit, bukan? Ada apa denganku? Kenapa bisa ada di sini?" tanya Capella kepada Januar.
Januar pun ragu untuk mengatakannya. Namun pria itu tetap memberikan senyuman di wjahanya untuk Capella.
"Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Semuanya baik-baik saja. Mungkin ada kabar gembira untuk mu. Kamu sekarang tengah mengandung anakku."
Capella terdiam. Ia memandang wajah Januar memastikan jika pria itu menerima keberadaan bayi yang tengah dikandungnya. Jujur ketakutan Capella adalah ketika Januar tidak bisa menerima anaknya.
"Januar," ucap Capella sedih, "maafkan aku. Aku tidak begitu hati-hati hingga ada seorang buah hati di dalam perutku."
Januar meraih tangan Capella dan menggenggamnya dengan sangat erat. Apapun kondisi Capella saat ini hanya wanita itu yang ada di hatinya.
"Jangan dipikirkan. Meski aku belum siap menerima kehadirannya tapi aku akan menerima dia."
Capella memandang wajah Januar dengan perasaan sangat senang. Ia pun menyentuh perutnya sangat tidak percaya jika di dalam perut itu telah bersemayam seorang bayi yang kelak akan ia lahirkan.
"Ini serius?" tanya Capella yang masih tidak percaya.
"Sayang, kamu tidak percaya? Ini adalah benar-benar anak kita. Kita akan berusaha menerima dia."
"Kamu akan menjadi ayah di usia muda karena kelalaian ku."
"Ella. Jika itu anak dari mu aku tidak masalah. Tidak ada yang salah. Aku akan menjadi ayah dan kamu akan menjadi ibu." Capella pun tersenyum bahagia.
___________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.