Shasha hanyalah gadis desa biasa yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya lewat beasiswa. Namun, hidupnya hancur dalam semalam ketika ia diculik oleh Jake Giordino, seorang pemimpin organisasi hitam yang paling ditakuti.
Shasha tidak melakukan kesalahan apa pun. Dosanya hanyalah satu, yaitu karena ia dicintai oleh pria yang diinginkan Lana, adik perempuan Jake.
Demi memuaskan obsesi sang adik, Jake mengurung Shasha di sebuah mansion tersembunyi. Shasha dipaksa menghilang dari dunia agar pria yang mencintainya bisa berpaling pada adik sang mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suasana Panas di Ruang Buku
Baru saja melintasi ambang pintu utama, langkah Shasha seketika tertahan. Matanya mengerjap, mencoba mencerna pemandangan yang tersaji di hadapannya. Selama ini, ia mengira bagian dalam bangunan klasik ini akan terasa sederhana dan mungkin sedikit berdebu seperti gedung tua pada umumnya.
Namun dugaannya meleset jauh.
Interior bangunan itu ternyata jauh dari kata sederhana. Arsitekturnya luar biasa megah, dengan langit-langit tinggi yang dihiasi ukiran detail, dan tidak kalah mewah dengan mansion yang selama ini menjadi penjara bagi dirinya. Lantai kayu yang mengilap memantulkan cahaya dari lampu gantung di atasnya, memberikan kesan kekayaan yang tidak terbatas.
Suasana di dalamnya pun sangat kontras dengan kesunyian yang ia bayangkan. Tempat ini layaknya sebuah pusat komando yang sangat sibuk. Pria-pria berpakaian rapi yang Shasha kenali sebagai anak buah Jake tampak berlalu-lalang dengan langkah cepat. Lorong-lorong bangunan itu hidup dengan aktivitas yang terorganisir. Beberapa orang tampak sibuk membawa tumpukan berkas penting, sementara yang lain terlibat dalam percakapan serius yang dilakukan dengan suara rendah.
Setiap kali mereka berpapasan dengan Jake, para pria itu akan menghentikan langkah sejenak untuk mengangguk hormat kepada sang Tuan. Setelah Jake memberikan gestur kecil sebagai balasan, mereka segera melanjutkan langkah menuju ruangan-ruangan yang tersebar di balik pintu-pintu kayu besar, dan kembali ke kesibukan mereka yang penuh rahasia.
Shasha hanya bisa mematung, menyadari bahwa di balik kemegahan arsitektur klasik ini, terdapat sebuah roda organisasi besar yang digerakkan oleh pria di depannya.
Langkah mereka semakin masuk dan akhirnya di depan sana, sebuah tangga berdiri dengan kokoh, membelah menjadi dua arah ke sisi kiri dan kanan.
Tangga itu tampak sangat mewah dengan aksen cahaya matahari yang masuk dengan melimpah melalui jendela-jendela kaca besar di belakangnya yang memperlihatkan pemandangan hijau di luar sana.
Jake mulai menaiki undakan itu dengan langkah yang tidak ragu sedikit pun. Shasha juga mengekor tepat di belakangnya, tangannya sesekali menyentuh pegangan tangga, sementara matanya masih sibuk mengagumi lampu-lampu dinding bergaya klasik yang memberikan pencahayaan temaram di area itu.
Begitu sampai di tengah persimpangan tangga, Jake langsung memutar tubuhnya ke arah kanan tanpa sepatah kata pun. Ia berjalan menuju sebuah lorong yang lebih rahasia, tempat di mana pertemuan penting dengan tamu misterius yang dikatakan Kevin tadi akan berlangsung. Suasana yang tadinya sedikit santai akibat ejekan Shasha kini kembali menegang, seiring dengan wibawa Jake yang kembali mengeras saat mendekati ruang pertemuan itu.
Langkah kaki mereka beradu dengan lantai kayu yang kokoh, menciptakan irama yang mengisi kesunyian di lantai atas. Perjalanan ternyata belum berakhir di ujung tangga tadi. Shasha masih harus mengikuti Jake melewati beberapa belokan lorong yang terasa begitu mengintimidasi.
Di sepanjang dinding, berjejer pajangan seni yang pastinya bukan sekadar hiasan biasa. Shasha menoleh ke kiri dan ke kanan, mengamati lukisan-lukisan potret klasik dalam bingkai emas yang tampak bernyawa, seolah mata di dalam kanvas itu sedang mengawasi gerak-geriknya. Ada juga patung-patung kecil dan vas bunga yang tertata rapi di atas meja konsol berkaki ukir, memberikan kesan bahwa setiap sudut tempat ini memiliki makna khusus dan sejarah yang dalam.
Dan akhirnya di ujung lorong, sebuah pintu kayu besar terbuka lebar, seolah sedang menunggu kehadiran mereka dengan aura yang penuh rahasia. Shasha sedikit berjinjit, mengintip dari balik punggung lebar Jake untuk melihat apa yang ada di balik pintu itu.
Jake masuk begitu saja, begitu pula dengan Shasha, walaupun gadis itu lagi-lagi harus terpaku setelah melewati ambang pintu. Di hadapannya, terbentang sebuah perpustakaan pribadi yang luar biasa megah.
Sebagai seorang mahasiswa, pemandangan ratusan koleksi buku yang tertata rapi di rak-rak kayu itu adalah surga dunia baginya. Aroma kertas tua dan sampul kulit menyeruak, membuat Shasha tanpa sadar membuka mulutnya karena takjub. Rasanya ia ingin segera berlari ke arah rak-rak itu, memanjat tangga kayunya, dan menenggelamkan diri dalam setiap baris kata yang ada di sana.
Namun lamunan indah itu pecah saat sebuah suara bariton yang berat memecah keheningan ruangan.
“Jake.”
Shasha tersentak dan segera menurunkan pandangannya dari deretan buku. Di bagian tengah ruangan, di antara sofa-sofa kulit cokelat yang empuk dan karpet merah bermotif mewah, seorang pria sedang duduk di sebuah sofa tunggal.
Pria itu, Aditya, segera bangkit dari duduknya, berniat melangkah mendekat untuk menyambut kedatangan Jake. Namun Jake secara spontan mengangkat tangannya. Sebuah isyarat dingin yang memerintahkan Aditya untuk tetap berada di posisinya. Aditya tampak ragu sejenak, ia mengangguk patuh lalu kembali berdiri diam di dekat sofanya, tidak berani melangkah lebih jauh tanpa izin Jake.
Tatapan Jake kini teralih tajam ke sofa yang berada tepat di hadapan Aditya. Di sana, seorang pria duduk dengan gaya yang sangat angkuh. Kakinya menyilang dengan santai, sementara satu tangannya terentang lebar di sandaran sofa. Tangan lainnya memegang sebatang rokok yang ia sesap dalam-dalam, sebelum kemudian menjentikkan abunya ke lantai dengan gerakan yang disengaja.
Jake berdecak halus, sebuah reaksi yang ia samarkan dengan senyuman miring yang berbahaya. Pria itu benar-benar mengganggu estetika perpustakaan pribadinya. Terlebih lagi, sang tamu bersikap seolah dialah pemilik tempat ini, tanpa sedikit pun rasa hormat.
“Tuan Ronald,” tegur Aditya pelan, mencoba memperingatkan atasannya agar menjaga sikap di depan Jake.
Pria bernama Ronald itu mendongak sekilas pada Aditya, lalu menoleh ke arah Jake dengan tatapan acuh tak acuh, “Oh, kau sudah sampai. Duduklah,” ucapnya tanpa beban. Ia kemudian menjatuhkan sisa rokoknya tepat di atas karpet. Karpet itu kini dipenuhi bintik-bintik hitam bekas terbakar, dan dengan santainya, Ronald menginjak puntung itu hingga apinya padam di bawah sepatunya.
Shasha berdiri mematung, menatap bergantian antara dua pria asing itu dan punggung Jake. Dari posisinya, ia bisa melihat bagaimana otot-otot punggung Jake mengeras. Sebuah tanda bahwa pria itu sedang menahan amarah yang meledak-ledak.
Jake menghela napas panjang, mencoba menguasai diri, “Selamat datang di markasku,” ucapnya dengan nada yang berusaha ramah namun tetap terasa sedingin es. Ia kemudian menoleh sedikit ke belakang, “Mendekatlah.”
Seketika, perhatian Ronald dan Aditya teralih sepenuhnya pada Shasha. Tatapan mereka penuh dengan tanda tanya besar. Mereka tidak menyangka Jake akan membawa seorang wanita ke dalam pertemuan sepenting ini. Ronald bahkan menegakkan posisi duduknya, matanya begitu lancang mengamati penampilan Shasha dengan teliti dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“Duduklah denganku,” ucap Jake. Tanpa menunggu jawaban, ia meraih tangan Shasha dan menggenggamnya dengan erat.
Shasha terpaku. Ia hanya bisa menurut, membiarkan dirinya dituntun sambil terus menatap tangannya yang tenggelam dalam genggaman kuat Jake. Mereka melangkah menuju sofa panjang yang masih kosong dan duduk bersebelahan.
“Siapa dia, Jake? Kau sekarang sudah berubah dan tidak alergi lagi pada wanita,” ucap Ronald dengan nada mencemooh. Tatapannya yang lapar dan lancang menyapu tubuh Shasha, menciptakan rasa mual yang seketika naik ke kerongkongan gadis itu.
Merasa terancam, Shasha secara refleks menggeser duduknya, merapat ke arah Jake karena menganggap pria itu adalah satu-satunya benteng perlindungan yang ia miliki di ruangan penuh serigala ini.
Jake hanya terkekeh rendah, suara yang terdengar sangat tenang namun menyimpan belati di dalamnya, “Kau menganggapku alergi pada wanita. Tapi kau juga yang pernah menuduhku membunuh seorang wanita.”
Kalimat itu menghantam Ronald dengan telak. Pria itu seketika berdehem kaku dan memalingkan wajahnya, menghindari kontak mata dengan Jake.
Di seberang mereka, Aditya yang baru saja duduk tampak menegang. Sebagai kuasa hukum, ia memberikan tatapan peringatan yang tajam kepada Ronald agar kliennya itu bisa menjaga lisan. Ia tahu betul, menyinggung Jake di markasnya sendiri adalah tindakan bunuh diri, apalagi saat mereka datang untuk meminta bantuan.
“Maafkan kami, Jake,” ucap Aditya, suaranya sarat dengan rasa bersalah dan kecemasan.
“Tidak perlu meminta maaf. Aku selalu berpandangan terbuka. Masa lalu, ya sudah, lupakan saja,” sahut Jake enteng.
Aditya mengangguk setuju, mengembuskan napas lega yang sempat tertahan. Ia pikir kerja sama ini akan hancur sebelum dimulai.
“Oh ya, kau bertanya siapa dia, bukan?” tanya Jake kembali pada Ronald. Tiba-tiba, ia melingkarkan lengannya dan merangkul bahu Shasha dengan posesif.
Gadis itu pun tersentak, jantungnya berpacu liar saat ia menoleh dan mengamati profil samping wajah Jake dengan penuh tanda tanya.
Ronald kembali menatap mereka, namun fokusnya kini terkunci pada wajah cantik Shasha yang tampak pucat, “Kekasihmu?” tanya Ronald penuh selidik.
Pertanyaan itu membuat tawa Jake pecah sejenak, sementara Shasha membelalakkan mata. Baru saja Shasha hendak membuka mulut untuk membantah, tapi Jake sudah lebih dulu merebut kalimatnya.
“Dia sengaja kusiapkan untukmu.”