Sebuah tragedi memilukan menghancurkan hidup gadis ini. Pernikahan impiannya hancur dalam waktu yang teramat singkat. Ia dicerai di malam pertama karena sudah tidak suci lagi.
Tidak hanya sampai di situ, Keluarga mantan suaminya pun dengan tega menyebarkan aibnya ke seluruh warga desa. Puncak dari tragedi itu, ia hamil kemudian diusir oleh kakak iparnya.
Bagaimana kisah hidup gadis itu selanjutnya?
Ikuti terus ceritanya, ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aysha Siti Akmal Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Hari ini genap dua bulan Alfa tergolek di dalam ruangan itu. Kondisinya terus menunjukkan kemajuan. Masa kritisnya pun sudah lewat, tetapi lelaki itu masih belum sadarkan diri.
Berita tentang kecelakaan yang menimpa Alfa terdengar hingga ke telinga mantan kekasih lelaki itu, Cecilia Romano, 25 tahun. Seorang model cantik berdarah campuran Indo-Jerman.
"Bagaimana kondisi Alfa? Apa dia sudah sadar?" tanya Cecilia kepada asistennya yang bernama Betty, seorang laki-laki belok yang menyerupai perempuan.
"Masih belum, Non Cecil. Tapi katanya sih, lelaki itu sudah mulai membaik. Tuan Alfa beruntung, dia masih selamat setelah kecelakaan yang mengerikan itu terjadi. Coba lihat dua sahabatnya, Tuan Arman dan Ervan. Arman meninggal di tempat dan satunya lagi sekarang hanya bisa duduk di kursi roda karena kakinya sudah di amputasi," tutur Betty dengan gayanya yang khas.
Cecilia mengangguk pelan sambil menyeruput kopi susu kesukaannya. "Kamu benar, Betty. Alfa memang beruntung."
Cecilia menghembuskan napas berat sambil menatap dinding ruangan dengan tatapan kosong menerawang. Ia mencoba mengingat-ingat kisah manisnya bersama Alfa beberapa bulan yang lalu. Sebelum ia ketahuan berselingkuh bersama teman satu profesinya yang bernama Mateo Louis.
"Aku menyesal, Bet." Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Cecilia.
"Menyesal kenapa, Non?" Betty mengerutkan dahinya sambil menatap lekat wanita cantik itu.
Lagi-lagi Cecilia menghembuskan napas beratnya. "Aku menyesal karena saat itu aku lebih memilih Mateo dari pada Alfa."
Betty memutarkan bola matanya setelah mendengar pengakuan dari Cecilia barusan. "Betty bilang juga apa, Non! Tuan Alfa itu jauh-jauh lebih baik dari Tuan Mateo. Buktinya, selama beberapa tahun pacaran dengan Nona, Tuan Alfa tidak pernah menyentuh Nona sedikitpun. Ya, walaupun lelaki itu tampak seperti seorang bajingan, tetapi dia tetap menjaga kehormatan Non Cecil."
"Ya, itu memang benar. Tapi, hal itulah yang kadang membuat aku kesal, Bet! Alfa sok suci," kesal Cecilia.
"Tapi Non Cecil lupa, Alfa adalah seorang pewaris tunggal Algra group. Dia bisa mendapatkan wanita manapun yang dia inginkan dan Nona Cecil sudah menyia-nyiakan kesempatan itu untuk memilih Tuan Mateo," sahut Betty dengan tatapan mengejek kepada Cecilia.
"Diam kamu, Betty! Bukannya memperbaiki mood-ku, kamu malah semakin memperburuknya," kesal Cecilia sambil menekuk wajahnya.
Sementara Betty hanya tersenyum seolah senang melihat bossnya itu dilanda penyesalan yang begitu dalam.
"Ya, ya! Aku salah! Salah, salah, salah! Puas kamu," lanjut Cecilia sembari meraih cangkir kopinya kemudian menyeruputnya lagi.
Sementara itu di Rumah Sakit.
Tuan Harry masih duduk di samping tempat tidur Alfa sambil terus menatap anak lelakinya itu tanpa berkedip sedikitpun. Ia sangat berharap Alfa sadar dan kembali bersamanya.
"Sampai kapan kamu begini, Nak? Sampai kapan? Daddy berjanji tidak akan pernah menuntutmu untuk berubah. Tetaplah menjadi Alfa yang dulu, nakal dan selalu membuat onar. Tapi Daddy mohon, kembalilah! Kembalilah, Alfa!" gumam Tuan Harry dengan mata berkaca-kaca.
Di tengah rasa sedihnya, tiba-tiba Tuan Harry melihat ada pergerakan kecil di jari telunjuk Alfa sebelah kanan. Tuan Harry mengucek matanya, ia takut apa yang ia lihat hanyalah sebuah ilusi semata. Sebuah ilusi yang terjadi karena ia begitu mengharapkan kesembuhan putra kesayangannya itu.
"Alfa, kamu dengar Daddy?" ucap Tuan Harry sembari memperhatikan jari telunjuk Alfa lebih serius lagi.
Untuk beberapa saat, jari itu tampak diam dan tak menujukkan bahwa ada pergerakan yang terjadi di sana. Tuan Harry menghembuskan napas panjang dan tampak kekecewaan di raut wajah lelaki tua itu. Ia kembali menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan mencoba berpikiran positif.
Namun, beberapa detik berikutnya tiba-tiba mata Tuan Harry kembali menangkap sebuah pergerakan di jari Alfa. Dan kali ini lelaki itu yakin bahwa apa yang ia lihat bukanlah sebuah ilusi. Tidak hanya sampai di situ, jakun Alfa pun tampak bergerak karena lelaki muda itu menelan air liurnya.
"Da ... ddy!" lirih Alfa dengan suara terpatah-patah dan terdengar serak.
"Alfa!" Tuan Harry segera bangkit dan menghampiri tempat tidur Alfa. Ia mencoba memastikan apakah benar Alfa memanggilnya.
Tuan Harry memperhatikan kelopak mata Alfa yang mulai bergerak-gerak dan hal itu membuatnya benar-benar yakin bahwa anaknya sudah mulai sadar. Ia menekan tombol Nurse Call yang ada di dinding ruangan, tepatnya di atas kepala Alfa berkali-kali.
Wajah lelaki tua itu tampak bahagia. Ia bahkan tidak bisa menahan air mata haru yang siap merembes dari pelupuk matanya. Ia menggenggam tangan Alfa dan menciumnya. "Ini Daddy, Nak. Bangunlah dan buka matamu," ucap Tuan Harry.
Tidak berselang lama, seorang Dokter yang bertugas merawat Alfa tiba bersama beberapa orang perawat. "Ada apa, Tuan Harry?"
"Alfa, Dok! Alfa sudah sadar, anakku sudah sadar!" sahut Tuan Harry dengan begitu antusias.
Dokter pun tersenyum puas. Ia dan para perawat yang tadi menemaninya, segera menghampiri tempat tidur Alfa kemudian memeriksanya.
...***...