Season 1: Bara x Retha
Jalinan cinta antara dua orang yang saling menguntungkan antara seorang duda dengan seorang guru yayasan yang memiliki pekerjaan sampingan. Bara membutuhkan wanita untuk mengobati kesepiannya dan Retha membutuhkan uang untuk melunasi hutang ayahnya.
Bagaimana perjalanan kisah cinta mereka dan lika-likunya menghadapi dunia? Akankah keduanya akan bersatu?
Season 2: Hendry x Citra
Cinta masa SMA yang dipertemukan kembali saat keduanya baru saja mengalami kegagalan berumah tangga. Hendry ditinggalkan istrinya karena permasalahan kesuburan. Sedangkan Citra memutuskan bercerai dari suaminya yang telah berselingkuh dan menghamili wanita lain.
Akankah mereka bisa menghadapi trauma hubungan sebelumnya? Bagaimana cara mereka bisa kembali membuka hati dan akhirnya hidup bahagia bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momoy Dandelion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kakak Beradik
Edis mendorong tubuh kakaknya agar berhenti memeluknya. Sontak Retha terkejut dengan perlakuan Edis padanya. Ia kira Edis akan sangat senang ia kunjungi, namun sepertinya hal itu sebaliknya.
"Kakak kemarin sudah membelikan tas yang kamu inginkan, kamu pasti suka. Kakak juga membelikanmu beberapa pakaian." Retha dengan senang hati memperlihatkan paper bag yang dibawanya untuk Edis.
Edis terkejut saat kakaknya mengeluarkan sebuah tas bermerk Fos*il yang selama ini ia inginkan. Harga yang ia tahu sekitar empat jutaan. Belum lagi kakaknya membawakan beberapa lembar kaos bermerk Za*a yang sudah pasti harganya ratusan ribu.
"Pilihan kakak bagus, kan? Meskipun sudah cukup tua, tapi seleraku masih masuk lah untuk anak muda." Retha tersenyum lebar. Ia yakin adiknya akan menyukai apa yang ia bawa. Retha membelikan barang-barang tersebut saat bersama Bara. Bara memintanya untuk membeli barang, namun ia memilih untuk membelikan barang yang diinginkan adiknya.
"Dari mana Kakak mendapatkan uang untuk membeli barang-barang ini?"
Senyuman di wajah Retha pudar kala melihat raut wajah Edis yang terlihat tidak kesal kepadanya. "Tentu saja Kakak menggunakan uang tabungan untuk membelikan barang kesukaanmu. Sekali-kali kakak ingin menyenangkanmu," ucapnya.
"Jangan bercanda!" Edis menertawakan jawaban kakaknya seolah menunjukkan rasa tidak percaya. "Untuk membayar kontrakan saja Kakak kesulitan apalagi memikirkan membeli barang-barang mahal ini."
"Kamu jangan merendahkan kakak. Sebentar lagi Kakak juga akan mencari kontrakan baru. Sekarang, Kakak memang ingin menyenangkanmu."
"Memangnya gaji Kakak di yayasan cukup?"
"Kalau tidak cukup, tidak mungkin selama ini kita bisa bertahan sampai sekarang. Aku tetap bisa menyekolahkanmu, memberikan uang jajan untukmu. Apa itu tidak cukup membuktikan?"
"Kakak pasti punya pekerjaan selain mengajar di yayasan."
Retha kembali terdiam. Ia merasa adiknya sedang mencurigainya. "Maksud kamu apa sih? Kakak tidak paham dengan kelakuanmu sekarang. Sudah sulit dihubungi, marah-marah saat dijenguk begini. Apa Kakak punya salah padamu? Seolah kamu sedang jijik dengan kakakmu sendiri." Ia kecewa. Padahal saat ini perasaannya sedang sangat sedih setelah mengundurkan diri dari yayasan. Ia ingin mengunjungi adiknya untuk berbagi keluh kesah, berharap ada orang yang mau mengerti dirinya. Bukannya sambutan baik, Edis justru kesal dengan kedatangannya.
"Jawab dulu, Kakak sebenarnya punya pekerjaan lain atau tidak?"
"Tentu saja tidak, Edis. Kakak hanya bekerja sebagai pengajar di Yayasan."
"Lalu ini apa!" Edis memberikan foto yang didapatkan dari Lova kepada kakaknya.
Retha syok. Sekali lagi ia harus menerima kenyataan bahwa foto-foto dirinya saat bekerja di klab tersebar kepada orang lain. Sebelumnya Ibu Jihan yang mendapatkannya, sekarang giliran adiknya sendiri yang mengetahui tentang foto-foto itu.
"Dari mana kamu mendapatkan foto-foto ini?" Retha rasanya langsung lemas.
"Bukankah itu tidak penting? Aku hanya ingin Kakak menjawab, apa foto-foto itu benar? Selama ini Kakak bekerja di klab malam? Atau memang Kakak suka jual diri?"
Plak!
Satu tamparan keras diberikan Retha kepada adiknya. Ucapan Edis sangat menyakiti perasaannya. Seburuk apapun hal yang pernah dilakukannya, ia berharap adiknya bisa sedikit mengerti tentang posisinya.
"Jadi benar, ya?" Edis memegangi pipi yang ditampar kakaknya.
"Ya! Itu memang benar. Kakakmu memang selama ini bekerja di klab malam demi mendapatkan uang. Bagaimana mungkin kita bisa bertahan hidup kalau aku tidak bekerja siang malam, apalagi saat memiliki seorang ayah yang tidak bekerja, hobi minum, judi, dan berhutang pada tentenir. Dari mana coba kalau Kakak tidak melakukan pekerjaan ganda?" Mata Retha berkaca-kaca seakan ingin menangis.
"Kakak juga sudah berusaha menjauhi pekerjaan itu, namun tidak ada solusi selain bekerja di sana. Meskipun begitu, Kakak juga tidak serendah yang kamu pikirkan untuk mudah menjual diri."
"Makanya kamu belajar yang rajin, jadi anak sepintar mungkin. Jangan sampai nasibmu sama seperti kakakmu yang bodoh ini."
"Kakak mau pulang sekarang. Rasanya sedih sekali dimusuhi oleh adik sendiri. Ini ada uang untuk jatahmu satu bulan. Kalau kamu memang tidak menyukai barang-barang pemberian kakak, kamu bisa membuang atau membakarnya."
Retha meninggalkan barang-barang untuk Edis begitu saja. Ia berlari pergi meninggalkan adiknya sambil berderai air mata. Hari ini rasanya ia ingin menangis sekencang mungkin meratapi takdirnya.
Edis mengalami hal yang sama. Ia langsung menangis setelah kakaknya pergi. Ia merasa sebagai seorang adik yang tidak tahu diri karena berani memarahi kakak yang selama ini merawatnya, menggantikan peran orang tuanya.
Kakaknya mungkin salah, pekerjaannya mungkin hina, namun kasih sayangnya kepada adik benar-benar tulus dan mulia. Retha tipe kakak yang sangat mengutamakan adiknya. Ia lebih memilih kelaparan asal adiknya bisa makan. Tidak seharusnya ia marah-marah seperti tadi.
"Edis, kamu kenapa?" Sebuah suara tiba-tiba terdengar. Edis mendongakkan kepalanya. Menyadari orang yang saat ini sedang berdiri di hadapannya adalah Angga, ia langsung mengusap air matanya.
Angga merendahkan badan agar sejajar dengan Edis. "Ada masalah apa?" tanya Angga khawatir. Meskipun Edis sudah pernah menolak perasaannya, namun ia tidak bisa begitu saja mengabaikan wanita yang dipedulikannya.
"Aku tidak apa-apa. Kak Angga sudah boleh pergi!" tegas Edis. Ia tidak ingin menambah masalah dengan Lova jika ada yang melihatnya bersama Angga.
"Edis ...." Angga mencoba memegang pundak Edis, namun tangannya ditepis.
"Kamu sebenarnya sedang mencari musuh atau bagaimana? Aku tahu kamu sudah menolak perasaanku, tapi apa tidak bisa kita saling peduli sebagai kakak kelas dan adik kelas?"
"Tidak bisa!" tegas Edis.
Angga terkekeh dengan jawaban Edis. "Kamu jahat, ya. Aku sudah cukup terluka dengan penolakanmu. Kalau boleh jujur, hatiku juga masih sakit namun ingin berusaha menerima keputusanmu tidak menerima perasaanku." Raut wajahnya terlihat kecewa.
"Aku tidak bisa untuk tidak peduli padamu."
"Tolong, jangan peduli padaku!" sekali lagi Edis mengatakan keteguhannya untuk tidak ingin dekat, bertemu, atau berhubungan dengan Angga.
"Beri alasan yang jelas agar aku bisa menerimanya. Jangan hanya bisa menghindar terus dariku."
"Alasan apa yang Kak Angga mau? Aku sudah bilang tidak menyukai Kakak."
"Kita masih bisa berteman."
"Aku tidak kuat kalau harus berhadapan dengan seluruh murid perempuan di sini hanya karena berteman dengan Kak Angga."
Edis membenahi barang-barangnya. Ia berniat segera membawanya ke dalam kamar sebelum ada yang memergokinya dengan Angga.
Sekali lagi Angga mencegah tangannya. "Kamu begitu peduli dengan perasaan orang lain. Apa kamu juga tidak bisa memikirkan perasaanku?"
"Maaf, Kak. Aku hanya ingin menjalani hari-hari sekolahku dengan tenang. Dekat dengan Kak Angga akan membuat aku jadi pusat perhatian. Dan aku tidak suka jadi pusat perhatian."
Akhirnya Angga mau melepaskan tangan Edis, membiarkannya pergi. Ia selalu berpikir apa kurangnya dia sampai Edis menolaknya.
ceritanya bagus
paling paling kau..
haaa
keluar juga sifat aslinya
guut Bara..
puas dah tawain thea