Menjadi kaya sejak lahir, tak lantas membuat hidup seorang Langit Biru begitu sempurna. Nyatanya di usia yang ketiga puluh lima tahun, pria itu sudah harus merasakan menjadi orangtua tunggal bagi putrinya.
Apapun akan Langit lakukan demi kebahagiaan juga keselamatan sang putri. Termasuk di dalamnya ketika Langit harus memaksa seorang gadis ambisius juga keras kepala agar mau menjadi istrinya. Siapa lagi jika bukan Bulan Purnama. Wanita yang memang memiliki ambisi demi kemajuan bisnisnya.
Sebuah kisah kehebatan seorang Ayah tunggal yang mencintai putrinya dengan cara yang luar biasa.
Juga bagaimana seorang wanita tangguh dan mandiri yang harus terpaksa hidup bersama seorang duda dengan putrinya.
Ikuti kisah selengkapnya hanya di story Bulan di Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heni Heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh Empat
Andai tidak ada Aya, mungkin saja Bulan tak akan mau ikut dalam jamuan makan malam yang diberikan Daddy-nya pada Langit Biru. Sayangnya, karena Aya lah Bulan yang malam ini tampak biasa saja dengan penampilan rumahan tanpa make-up, menyambut kedatangan Aya di rumahnya. Dengan dijemput oleh driver yang Daddy-nya tugaskan, Langit Biru beserta Aya sudah memasuki rumah mewah milik Bumi Perkasa.
"Selamat malam Pak Bumi. Terima kasih karena sudah mengundang kami untuk datang ke rumah Anda. Sebuah kebanggaan bagi saya dapat bertemu dan berkenalan secara langsung dengan Pak Bumi sekeluarga."
Langit dengan sopan dan keramahan menyapa Bumi Perkasa yang menyambut kedatangannya. Lihat saja bagaimana Bulan yang sudah mencebik mengata-ngatai Langit Biru. Jika bersamanya saja sok bersikap arogan. Tapi jika dengan Daddy-nya sok ramah, sok kenal juga sok dekat.
"Saya juga senang sekali karena Pak Langit telah sudi datang menerima jamuan makam malam di rumah ini. Maaf jika sudah menyela dan mengganggu waktu libur Anda bersama Cahaya."
"Oh, tidak Pak Bumi. Sama sekali tidak mengganggu kami."
Bumi mengenalkan Langit Biru pada Alisha, istrinya.
"Panggil saja saya Elang."
Begitu kira-kira Langit mengucap pada Bumi dan istrinya agar memanggil dirinya dengan sebutan Elang.
Dan lihat betapa girangnya sosok Cahaya yang dapat kembali dipertemuan dengan Bulan. Bahkan dengan kedua orang tua Bulan juga. Berpikir dalam hati jika tak akan lama pasti Kak Bulannya akan menjadi mama baru untuknya.
"Mari ... silahkan Pak Elang ... Aya." Bumi menggiring mereka untuk menuju ruang makan.
Jika Langit sempat menoleh sekilas pada Bulan, sebelum mengekori Bumi. Dalam hati pria itu tak pernah bisa berandai-andai atau berharap akan memperistri Bulan.
Namun, berbeda dengan Cahaya yang sudah bergelayut manja di lengan Bulan ketika keduanya menuju ruang makan.
"Kak Bulan."
"Ya."
"Opa baik ya. Dan Oma cantik sekali seperti Kak Bulan."
Celetukan Cahaya, masih sanggup terdengar oleh Langit. Pria itu juga sempat dibuat terkejut ketika tadi berkenalan dengan Mommy-nya Bulan di mana perempuan itu masih tampak muda dan kecantikannya sebelas dua belas dengan Bulan. Jika bersanding dengan Bumi Perkasa yang rambutnya sudah mulai beruban, rasa-rasanya Langit berpikir jika mereka berdua lebih cocok menjadi Ayah dan anak ketimbang suami istri. Astaga, Langit harus merutuki kebodohannya yang bisa-bisanya berpikiran demikian. Itu bukan urusannya dan Langit rasa fokusnya saat ini adalah Bumi Perkasa juga Cahaya. Jangan sampai dengan adanya acara makan malam dengan keluarga Bulan Purnama maka putrinya akan salah paham mengira jika dia dengan Bulan memang memiliki hubungan yang rapat juga dekat.
"Terima kasih, Aya. Aya juga cantik."
"Jadi, jika Aya cantik apakah sudah pantas menjadi anak Kak Bulan juga menjadi cucu Oma Alisha?"
"Eh," ucap Bulan tak berani menjawab apa-apa karena takut Cahaya makin salah paham saja. Konsepnya tidak demikian kenapa Cahaya tidak mengerti juga. Sepertinya Bulan perlu berhadapan dengan Langit demi meluruskan ini semua dan agar Langit memberikan pengertian pada putrinya itu untuk tidak memiliki harapan lebih padanya. Bukan Bulan tidak memiliki perasaan. Justru karena Bulan tidak mau Cahaya kecewa nantinya, jadi dia tidak ingin menaruh harapan pada gadis baik itu.
•••
Cahaya yang tampak akrab juga manja pada Bulan, tentu menimbulkan banyak pertanyaan terutama bagi Alisha. Bagaimana bisa mereka sedekat itu? Cahaya memang tidak terang-terangan mengatakan pada kedua orang tua Bulan jika gadis kecil itu menginginkan Bulan menjadi mamanya. Namun, dari nada bicara yang manja, tatapan juga beberapa cerita yang Cahaya berikan terkait perkenalannya dengan Bulan, kecurigaan Alisha makin menjadi dan usai makan malam wanita itu akan mencari tahu langsung dari putrinya. Ada hubungan apa sesungguhnya di antara mereka?
Satu hal lagi yang juga baru Bumi tahu terkait status Langit Biru yang seoarang duda. Menambah daftar pertanyaan mereka.
Usai acara makan malam, dengan terang-terangan Bumi justru membahas perihal lahan. Diluar dari dugaan Bulan juga Langit tentunya.
"Jadi Pak Elang inikah pemilik lahan yang ingin dibeli oleh putri saya?"
Bulan melotot pada papanya akan tetapi tak dihiraukan oleh lelaki itu. Tujuannya mengundang Langit karena ingin menjalin kedekatan dengan pria itu juga membantu Bulan. Siapa tahu saja Langit berubah pikiran lalu melepaskan lahan itu.
Langit sendiri memaksakan sedikit senyuman sembari mengangukkan kepalanya. "Benar Pak Bumi."
"Wah, kebetulan sekali. Awalnya saya juga tidak paham jika Anda pemiliknya. Bulan lah yang memberi tahu saya."
Kali ini Bulan memilih menundukkan ketika Daddy Bumi menyebut namanya.
"Iya, Nona Bulan beberapa kali memberikan proposal penawaran lahan tersebut. Tapi saya mohon maaf karena lahan itu adalah milik Cahaya. Jadi saya tidak berhak menjualnya."
Bulan sontak menoleh pada Cahaya. Benarkah apa yang Langit katakan? Kenapa jawaban pria itu berbeda di hadapan Daddy-nya. Bulan dibuat bingung saja.
Namun, satu hal yang membuat mereka semua sama-sama bungkam dengan pandangan mengarah pada sosok gadis kecil bernama Cahaya Senja.
"Jika begitu, Kak Bulan menikah saja dengan Papa. Nanti lahan itu akan Aya berikan pada Kak Bulan sebagai hadiah."
Alisha dan Bumi saling pandang, menelan ludah dalam kebingungan. Terlebih wajah polos Cahaya seolah tak ada beban mengatakan itu.
Bulan, wajah wanita itu pucat pasi. Kenapa di hadapan kedua orang tuanya harus berkata demikian. Inilah yang sejak tadi Bulan juga Langit takutkan. Sungguh, meski masih sepuluh tahun, Cahaya sangat pandai bicara. Bulan siap-siap diinterogasi oleh Daddy dan Mommy nanti. Lantas, Bulan akan menjawab apa.
Melirik sekilas pada Langit yang juga merah padam wajahnya karena malu. Mungkin? Putrinya ini kenapa selalu saja menyulitkannya seperti itu.
Dengan lembut dan penuh kasih sayang, Langit mencoba memberikan pengertian pada Cahaya. "Aya, tidak boleh berkata begitu, ya?"
"Memangnya kenapa, Pa? Bukankah papa sendiri yang mengatakan jika lahan yang kalian bicarakan itu adalah milikku. Jadi aku tidak keberatan sama sekali memberikannya pada Kak Bulan jika memang Kak Bulan sangat menginginkannya."
"Aya ... tapi ini adalah pembicaraan orang dewasa. Terkait proyek juga. Sebaiknya Aya tidak boleh ikut campur. Okay."
Gadis itu mengangguk lesu. Terlihat selali kekecewaan di wajahnya.
Langit yang sudah tidak enak hati pada tuan rumah segera menatap bergantian pada Bumi dan juga Alisha. "Pak Bumi saya minta maaf atas kelancangan omonga Cahaya tadi. Maaf, karena Cahaya sudah tidak sopan."
"Tidak apa-apa Pak Elang. Namanya juga anak-anak." Bumi mengulas senyuman.
Meksi pun demikian Langit tetap saja merasa tidak enak hati. Terlebih ketika Cahaya selalu saja mengutarakan keinginan yang sangat sulit ia wujudkan
penasaran sm kehidupan rumah tangga bulan langit...
terimaksih kak, lanjut terus donk....🙏🙏
petaba dimana thor?😁✌️
terima kasih ya Thor🙏
Kirain g d lanjut...