Di usia yang baru menginjak 17 Tahun baru menyelesaikan pendidikan SMA. Kini Dinda harus di hadapkan dengan masalah besar yang tak pernah dia pikirkan akan menikah mudah di usia yang seharusnya dia bersenang-senang.
"Kenapa harus aku? aku ingin mengapai impian ku terlebih dahulu sebelum menikah!" Protes Dinda menolak.
"Impian yang kau katakan? Apa kau lupa Mama mu juga sama pernah berkata seperti itu, tapi lihat sekarang apa Mama mu berada di sisi kita setelah tergapai impian nya?" Tanya Papa Bara lantang menatap tajam putri kandung nya.
"Sudah sayang, ikuti mau Papa kamu jangan membantah. Anggap saja semua ini balas budi setelah apa yang di lakukan Mama mu, hanya Papa yang setia merawat dan membesarkan mu." Kata Mama Rita. Mama tiri Dinda.
"Baiklah." Ucap Dinda tanpa bisa berkata lagi. Hatinya kini sakit mengucapkan kata Baik yang berarti setuju dan siap menerima kehidupan yang akan terjadi ke depan nya.
Apa pernikahan Dinda akan membawa kebahagiaan yang mengubah kehidupan nya? Atau masih ada keterpurukan hidup yang harus di lalui Dinda?
Yuuk ikuti kisah kehidupan Dinda🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aulia rysa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku wanita kuat bukan wanita lemah
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
•
•
🌹✨💞✨🌹
Mendengar cerita wulan panjang lebar tentang kejadian hidup yang di alami saat ini, Dinda kaget, ia tidak menyangkah wanita ini ternyata lebih menderita dari nya.
Di usia 15 tahun yang masih sangat muda harus menerima jalan takdir yang begitu sulit.
Dia tidak bisa membayangkan apa jadinya jika semua berbalik padanya. Apa ia sanggup dan bisa menata hidup dengan baik kedepan nya. Kayak semua terasa sangat sulit, ia tidak kuat seperti wanita di hadapan nya. Dinda akui masalahnya tidak sebesar yang di hadapi wulan sekarang.
Dinda hamil, tapi saat itu masih memiliki keluarga, tapi Wulan tidak? ia hamil karena kejadian satu malam, bahkan tidak memiliki keluarga tempat ia bercerita tentang keadaan nya atau lain pun. Ia hanyalah anak yatim-piatu yang besar di panti asuhan.
Dinda sekarang menjadi sadar masalah nya tidak lebih besar dari Wulan, ternyata pemikiran nya salah diluar sana masih ada orang lain yang lebih besar cobaan darinya. Sebenarnya ia harus bersyukur dengan semua yang menimpa nya, karena ini ia di pertemukan dengan Mama kandung dan juga Papa sambung yang baik, bahkan kasih sayang nya sudah seperti Papa kandung.
Bersama Papa kandung nya dulu, Dinda tak pernah merasakan kasih sayang sebesar Papa Naldo berikan.
"Rencana kedepan nya bagaimana? apa yang ingin kamu lakukan dengan calon bayi yang kamu kandung?" Tanya Dinda lekat menatap Wulan dengan isakan tangis tak henti.
"Saya belum siap. Saya masih ingin sekolah Dok. Saya tidak ingin hidup saya hancur dengan hadir nya bayi ini. Bapak nya saja, saya tidak tau siapa? bagaimana bisa saya minta pertanggungjawaban nya?" Jawab Wulan dengan tangis besarnya.
"Jangan berkata seperti itu, bagaimana jika saya beri kamu solusi." Ucap Dinda pada Wulan.
"Solusi apa Dok?" Tanya Wulan menatap Dinda.
"Panggil kakak tidak usah dokter, saat ini kamu sudah saya anggap seperti adik saya sendiri." Kata Dinda meminta wanita di depan nya mengubah nama panggilan.
"Apa dokter serius? saya bisa memanggil dokter, Kakak? apa dokter tidak malu menganggap saya adik, dengan kondisi saya seperti ini?"
"Serius pakai banget. Saya tidak peduli apa perkataan orang, karena bagi saya omongan orang luar cukup kita jadikan kekuatan untuk kita terus semangat melangkah hidup. Jika kita mendengar perkataan mereka, kita sendiri yang akan jatuh dan hancur saat itu juga, mau tau kenapa? karena kita menganggap perkataan mereka benar adanya." Jelas Dinda panjang lebar memberi nasehat pada wulan.
Dia tidak ingin Wulan menyerah begitu saja, perjalanan hidup masih panjang, bahkan ini baru permulaan yang harus di lalui, Dinda berjanji akan membantu wulan, ia tidak ingin wanita ini mengambil langkah yang akan merugikan dirinya sendiri.
Mengingat wanita ini hidup sebatang kara tanpa adanya keluarga, membuat tekad nya menjadi yakin.
"Terima Dok."
"Eth, kakak, tidak ada kata dokter. Sekarang kamu sudah menjadi adik saya." Ucap Dinda memperbaiki perkataan wulan.
"Iya, kak. Makasih." Kata Wulan sembari memeluk Dinda dengan tangis bahagia, kondisi nya seperti ini ia di pertemukan dengan orang baik berhati malaikat.
"Sama-sama, sekarang kamu harus bangkit tunjukkan pada dunia, kamu wanita kuat bukan wanita lemah yang akan jatuh jika badai datang menerjang." Kata Dinda memberi kata motivasi semangat.
"Iya Kak. Aku janji akan menjadi wanita kuat, tapi aku ingin minta tolong sama kakak, apa bisa?" Tanya Wulan ragu.
"Apa? katakan saja, kakak akan bantu sebisa dan sekuat kakak." Kata Dinda.
Melihat wajah Wulan seperti hal serius yang akan ia katakan, Dinda merasa hal yang akan di bahas ini pasti ada kaitannya dengan kondisi nya, tapi ia masih tidak tau apa yang akan di katakan.
"Kakak janji dulu, jika kakak belum memberi kepastian, aku tidak bisa memastikan apa bisa menjadi wanita kuat." Kata Wulan.
Perkataan Wulan kali ini sungguh sudah sangat membuatnya bingung, tapi tidak ada kata lain selain mengiyakan.
"Baiklah, kakak janji. Sekarang katakan apa yang ingin kamu katakan?" Tanya Dinda memandang Wulan yang sudah siap mengatakan.
Sebelum membuka suara, perlahan ia menarik nafas panjang dan menghembus pelan, agar tenang dalam mengatakan apa yang ingin di katakan.
"Aku ingin Kakak menjadi Ibu dari anak ku." Kata Wulan menyampaikan permintaan nya pada Dinda.
Degh....
Mendengar perkataan Wulan, Dinda bingung apa yang di pikir kan wanita di hadapan nya ini? kenapa bisa berpikir dan berkata seperti itu? apa ia tidak ingin anaknya tau siapa Ibu kandung nya? Itulah pertanyaan yang terus memutari otaknya setelah mendengar permintaan Wulan.
****
Kanaya meletakkan ponsel dan kini berpindah pada laptop Alvaro. Ia terus merengek ingin bermain dengan laptop Alvaro.
Alvaro bingung kenapa anak seusia Kanaya begitu lincah mengotak-atik benda seperti ini, kenapa tidak bermain dengan mainan nya saja. Ia sudah membeli semua permainan perempuan yang mungkin akan di sukai kanaya sesuai usianya, namun apa yang terjadi sekarang? permainan yang di belikan tidak di sentuh, bahkan menoleh saja tidak.
Kanaya terus fokus pada barang milik Alvaro. Sikap nya ini sudah seperti orang besar, sungguh membuat Alvaro yang memandang lekat putri nya menggeleng kapala.
"Kamu ngidam apa Dinda, kenapa putri kita seperti ini? seharusnya di usia nya ini, bermain bersama teman-teman atau mainnya, bukan seperti sekarang ini." Batin Alvaro memandang kanaya tidak putus menatap lekat pada laptop.
Bahkan tangan mungil nya lincah mengotak-atik.
"Naya apa yang kamu lakukan? kenapa sangat serius?" Penasaran Alvaro. Jika saat ini Kanaya bermain game, wajahnya tidak akan terlihat serius dan tegang begini.
Dan suara game pun tak terdengar dari speaker laptop.
"Daddy kerjaan saja tugas Daddy, bukannya tadi bilang akan sibuk, kenapa sekarang jadi kepo seperti orang yang kurang kerjaan seperti ini?" Kanaya tidak menjawab pertanyaan Alvaro, ia malah bertanya balik.
"Bagaimana Daddy ingin kerja, jika laptop Daddy di pakai Naya, emangnya apa yang Naya lakukan? kenapa tidak bermain sama mainan Naya saja."
"Daddy kan, bisa pakai laptop lain, apa disini tidak ada laptop lagi, hingga Daddy hanya memiliki satu laptop? ishhh... ishhh... sungguh miskin Daddy, ternyata." Ledek Kanaya menatap ejek pada sang Daddy.
"Eee, siapa bilang Daddy miskin, Daddy memiliki banyak laptop, bahkan pabrik laptop pun bisa Daddy beli sekarang." Kata Alvaro pamer tidak terima ejekan dari sang putri.
"Ya sudah, kalau begitu beli saja pabrik nya, biar Daddy tidak kepo seperti ini." Ucap Kanaya santai.
Alvaro melongo tidak percaya dengan jawaban santai Kanaya. Sungguh bocah tengil, kenapa bicaranya sudah seperti orang sibuk saja.
Apa pikirnya ia tidak sibuk? jika bukan putri nya, sudah ia remas dan lempar ke laut biar sekalian di makan hiu. Itulah yang di pikirkan Alvaro saat ini sedikit kesal.
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...
2)Alvaro TERPERANGKAP melihat Dinda begitu cantik, TERPERANGKAP itu maksudnya apa thor??
walaupun tidak tau seperti apa nantinya