Berawal dari bermusuhan kemudian menjadi teman dekat. Rahma Dewanti dan teman-temannya memutuskan melanjutkan kuliah ke ibu kota setelah lulus SMA. Untuk meraih mimpi mereka.
Setelah sampai di ibu kota, ternyata Rahma tidak sengaja bertemu dengan ayah kandungnya. Selain itu dia juga menjadi korban pemerkosaan oleh teman dekat sendiri.
Kisah ini dibumbui dengan kisah cinta anak muda yang menguras emosi dan air mata.
Sanggupkah Rahma menjalani hidupnya setelah terjadi pemerkosaan? Akankah dia bisa menggapai mimpinya untuk menjadi orang sukses? Yuk baca kisah selengkapnya di Menggapai Mimpi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
"Ambil jurusan apa?" tanya Frans melirik ke arah spion untuk melihat wajah Rahma.
"Di formulir disuruh isi dua jurusan yang diminati, pilihan pertama TI sedang pilihan kedua MI. Sebenarnya aku lebih menginginkan masuk TI karena peluang kerja masih tinggi. Akan tetapi jika tidak bisa, masuk manajemen informatika gak apa-apa." jawab Rahma dengan lugas.
"TI? Nggak takut Lo masuk kandang buaya?" tanya Rio antara percaya dan tidak.
"Kenapa memang kalau Aku ambil jurusan TI? Salah?" tanya Rahma heran dengan pertanyaan Rio.
"Nggak salah sih! Cuma kamu tahu nggak kalau di jurusan TI itu cewek langka, paling satu kelas cuma ada satu dua doang. Paling banyak lima orang, asal kamu tahu!" jawab Rio menakut-nakuti Rahma.
"Ngga apa-apa sih cewek masuk jurusan TI, hanya saja sanggup nggak kamu bergaul dengan anak-anak cowok. Masuk TI bukan memakai otak saja tapi juga harus bermental baja, kebal dengan kata-kata kasar. Biasanya anak-anak TI cowok yang sulit berinteraksi dengan cewek. Mereka memilih komputer dari pada cewek. Nggak tahu juga gimana sebenarnya! Coba aja, semoga bisa lolos masuk ke jurusan TI." Frans menjadi penengah antara Rio dan Rahma, menjelaskan pada Rahma bagaimana kondisi jurusan TI.
"Rahma pasti bisa! Iya 'kan, Rahma?" sahut Tiara memberi semangat pada Rahma.
"In shaa Allah!" jawab Rahma sambil tersenyum.
Rio berulangkali memberi kode pada Frans agar segera mengatakan keinginannya. Akan tetapi Frans masih bingung harus memulai dari mana percakapannya.
"Ma, kalau kamu jadi ke ibukota dan butuh pekerjaan hubungi aku saja!" kata Rio akhirnya karena menunggu Frans hanya membuang waktu saja.
"Lho, bukannya di rumah Frans nggak ada yang mengurus? Rahma aja yang kerja di sana biar rumah Lo terurus!" tanya Tiara.
"Iya, itu maksud Gue tadi. Kalau Lo butuh pekerjaan hubungi Gue. Mau kerja di rumah Frans boleh, malah enak bisa makan dan tidur gratis. Atau mau cari kerja lain juga bisa tapi kalau kerja tempat lain gak bisa jamin dapat makan dan tempat tinggal. Cuma di rumah Frans yang bisa kuliah dan kerja dapat gratisan makan dan tempat tinggal." Penjelasan Rio sangat panjang hingga membuat Rahma sedikit memikirkan kata-kata Rio
"Mau pilih yang mana? Bebas!" lanjut Rio.
"Kenapa jadi Lo nawarin kerja buat Rahma, bukan Frans yang nawarin langsung ke Rahma?" tanya Tiara heran. Tiara heran kenapa bukan Frans aja yang tanya langsung ke Frans.
"Frans lagi sibuk nyetir! Pakai otak Lo yang cuma separuh itu!!" jawab Rio menahan kekesalannya karena jiwa kekepoan sang ratu yang cukup membangongkan.
Tiara sering dijuluki Ratu oleh Frans dan teman-temannya. Sikapnya yang manja dan ingin selalu diikuti semua kemauannya membuat ia mendapatkan julukan itu. Akan tetapi yang mendapat julukan tidak merasa, jika keburukannya yang membuat dia mendapat julukan itu.
Mendengar perdebatan antara Tiara dan Rio akhirnya Frans buka suara, sedangkan Rahma menjadi pendengar yang budiman.
"Kalau kamu mau, kamu bisa kuliah sambil kerja di rumah. Kalau kamu tidak mau tinggal bersama kami, kamu boleh kerja di tempat lain. Aku hanya bermaksud mencari orang untuk mengurus rumah sekalian menolong orang yang butuh pekerjaan. Aku dan Rio tidak memaksa kamu harus mau. Kamu boleh memikirkannya terlebih dahulu. Ingat tak ada paksaan!" ucap Frans akhirnya, kata-kata Frans paling panjang selama Rahma mengenal.
Rahma menjadi bimbang untuk memutuskan pilihan yang tepat. Selama ini dia jarang bergabung dengan teman-teman SMA-nya karena merasa insecure dengan keadaannya.
"Tidak harus dijawab sekarang! Kamu boleh jawab esok pagi atau sore, kapan kamu sempat aja deh! Yang penting aku sudah menyampaikan lowongan kerja ini. Kamu mau atau tidak kami tidak memaksa!" ucap Frans ketika melihat raut wajah bingung tampak jelas di wajah dan matanya.
"I-iya! Nanti aku akan segera mengabari jika hatiku sudah mantap memilih," jawab Rahma sambil menunduk.
"Kalau aku jadi kamu sih, setuju aja! Kapan kita memiliki kesempatan dapat beasiswa dan pekerjaan sekaligus?" Tiara pun tidak mau tertinggal obrolan mereka tadi.
Tak terasa mereka sudah sampai di rumah Rahma lima belas menit sebelum adzan Maghrib berkumandang.