NovelToon NovelToon
KERIKIL BERDURI - Sucinya Hati Dan Berdarahnya Janji

KERIKIL BERDURI - Sucinya Hati Dan Berdarahnya Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Gangster / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan / Barat / Persaingan Mafia
Popularitas:200
Nilai: 5
Nama Author: Ardin Ardianto

rapuhnya sebuah jalan bersih yang dipilih, membawanya ke arah yang berlawanan. Setiap langkahnya seperti berjalan di atas kerikil yang berduri tajam—menyakitkan berbahaya, dan tak mudah untuk kembali pada jalan yang bersih, Di tengah kekacauan, hanya satu yang tetap suci: hati dan janji. Namun janji yang dipilih untuk di ucapkan kini tersayat oleh darah dan pengkhianatan karna arus sebuah jalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardin Ardianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana di balik Rencana.

Pagi yang tersisa.

Pagi hari selasa itu terasa seperti sisa-sisa mimpi buruk yang belum benar-benar berakhir. Matahari baru saja merangkak naik di ufuk timur Jakarta Utara, sinar kuning pucat menyusup pelan lewat celah gorden tipis di kamar tidur. Shadiq terbangun dengan tubuh pegal, kepala berat seperti ditindih batu. Ia duduk di tepi kasur busa yang sudah tipis, menggosok wajah dengan tangan kasar. Jam dinding plastik retak menunjukkan pukul 04:47—masih gelap di luar.

Ia bangkit pelan, ambil sarung dari gantungan, lalu sholat Subuh di ruang tamu yang sempit. Gerakan sholat terasa lambat, pikiran melayang ke Arva dan Irva di Cianjur. Setiap sujud seperti permohonan diam-diam: *Ya Allah, lindungi mereka. Kembalikan kepercayaan Arva. Beri aku jalan keluar dari jurang ini.*

Selesai sholat, ia duduk di teras depan rumah. Udara pagi dingin menusuk kulit, angin sepoi membawa bau comberan dan asap knalpot dari jalan raya jauh. Di atas meja kayu reyot, ada ponsel baru—ponsel yang diserahkan pria kelinci perak kemarin. Layar hitam, belum disentuh sejak malam itu. Shadiq tatap ponsel itu lama, seperti tatap musuh yang belum jelas bentuknya.

Flashback malam kemarin muncul lagi, seperti film yang diputar ulang di kepala:

Rekan pria dengan tas gantungan kelinci perak—pria kurus berjaket hitam— berdiri di sebelah kiri pemakaian tas kelinci perak, bersuara suara pelan tapi tajam. matanya tak menunjukkan keraguan.

“Agung dan Farhank adalah bagian dari kita. Tim Kelinci Perak. Agung ketua pengedar barang haram milik kami, putau. Kami bentuk tim keamanan untuk lindungi Agung. tim tersebut bersenjata api senapan laras panjang dan pendek warna emas eksklusif rakitan Kelinci perak. Farhank pengimpor komponen senjata api.”

Pria pemakai gantungan kelinci perak menyambung, suara seperti bisik ular.

“Saat bos kita mati di tangan polisi, mereka malah bergerak masing-masing. Tanpa peduli kami. Tanpa peduli uang kami yang ditangan mereka. tujuan kita-kita merebut kembali hak kita yang mereka rampas."

Shadiq saat itu menatap mereka dingin. “Itu uang bos mu. Hak bos mu. Kau tak pantas rebut.”

Teman pria kelinci perak satunya, yang berdiri di kanan . menjawab, suara rendah. “Bos itu adalah kakak dari…” Ia berhenti bicara, lalu menepuk pundak pria pemakai tas kelinci perak.

Rekan satunya di sebelah kiri melanjutkan, suara dingin. “Kau tahu terlalu banyak. Cukup. Sekarang kau harus…” Pria langsung menodongkan pistol ke kepala Shadiq.

Shadiq mundur pelan, tangan angkat separuh.

Pria pemakai tas kelinci perak menggebrak meja keras.

Ia berdiri, mendekat ke Shadiq. “Ku lihat kau punya banyak masalah. kita bisa keluarkan dirimu dari masalah ini.” ucapnya tanpa desakan berlebih.

Shadiq tatap mata pria itu.

“ musnahkan bisnis Agung. jatuhkan Farhank. Kau dapat gaji.” lanjut pemakaian gantungan kelinci perak " kau pasti tahu maksud kita."

Shadiq saat itu diam, membalas tanpa senyuman. “Aku tak sudi.”

Pria pemakai gantungan kelinci perak tersenyum tipis. “Kita masih punya tim keamanan. Matilah kau jika Farhank tahu kau pencuri petinya. Tapi tim keamanan, mereka tidak biarkan dirimu mati di tangan Farhank, pastinya jika kamu berguna.”

Shadiq memikirkan jawaban itu seperti jalan keluar, tapi juga jurang baru yang lebih dalam.

Pria lanjut. “Kau punya koneksi dengan Agung dan Farhank. Kau bisa bohongi mereka soal peti—itu memudahkan tugas kita nantinya ya kan mantan petinju." ucapnya menyipitkan mata , wajahnya mendekat.

Shadiq terkejut, karna masih ada yang ingat bahwa dirinya adalah petinju.

pria Pemakai gantungan kelinci perak melanjutkan dengan tatapan makin tajam " Mantan petinju tingkat provinsi. Jika kau nggak habisi musuh arena mu, mungkin kau bisa naik tingkat nasional. tapi Lupakan tingkat provinsi atau nasional. Ayo bertarung ke tingkat internasional lewat jalur kita. Ambil AK curian mu, bawa. Lupakan putau atau bisnis senjata gelap. Rebut kembali hak kita. bantu aku. Selesai.”

Pria-pria meninggalkan Shadiq.

Pria pemakai gantungan kelinci perak menyerahkan ponsel terlihat sangat mahal dan baru.“Kontakku di dalam ponsel itu.” ucap pria sambi berjalan keluar, seperti Sangat yakin bahwa Shadiq pasti ikut dengannya.

Shadiq meraih ponsel itu kemarin. Ia buka kontak.

Satu nomor tersimpan: “Kelinci Perak”.

Flashback selesai.

Shadiq tatap ponsel itu lagi. Jari ragu di atas layar. Ia belum buka kontak itu sejak malam kemarin. Tapi sekarang, pagi ini, rumah kosong tanpa Arva dan Irva, ia merasa terpojok lebih dalam.

Ia buka kontak. Nomor itu ada.

Jari berhenti di atas tombol panggil.

*Kalau gue hubungi, gue masuk jurang baru. Kalau nggak, Farhank akan bunuh gue. Arva pergi. Irva jauh. Gue sendirian.*

Ia tarik napas dalam.

Shadiq suara batinya keluar lewat mulut, nada rendah. “Gue nggak percaya kalian. Agung, Farhank, kelinci perak-kalian semua sama busuknya.”

Shadiq tertawa sendiri, ia menatap langit-langit rumah . “. Tapi aku nggak punya pilihan lagi. aku butuh jalan keluar. "

Shadiq diam sebentar.

Shadiq tatap foto Arva dan Irva di ponsel lama.

*Gue nggak mau masuk jurang berbeda. Jurang tetap jurang apapun rupanya.*

Ia membatin dalam hati: *Berhentilah sebut kita. Pada akhirnya kalian juga alatku untuk kabur.*

Shadiq lirik ponsel baru itu. “Kelinci Perak”.

*aku nggak akan masuk tim manapun. Tapi aku juga nggak akan mati.*

Ia berdiri, tatap ke arah pelabuhan jauh.

*Besok meeting lagi dengan Farhank. aku harus main cerdas. Alihkan tuduhan pada kelinci perak jika tuduhan pada diplomatik gagal. Simpan peti. Dan cari jalan pulangkan Arva & Irva.*

Pagi rabu itu, Shadiq sendirian.

Tapi di dalam kepala, rencana mulai terbentuk.

Kebohongan dalam kebohongan.

Dan sekarang, ia harus jadi dalang sendiri.

* kelinci perak akan jadi kambing hitam baru jika yang lama gagal. dan aku akan jadi jembatan pertarungan kelinci perak merobohkan Farhank dan mungkin agung *

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!