Kakak dan adik yang sudah yatim piatu, terpaksa harus menjual dirinya demi bertahan hidup di kota besar. Mereka rela menjadi wanita simpanan dari pria kaya demi tuntutan gaya hidup di kota besar. Ikuti cerita lengkapnya dalam novel berjudul
Demi Apapun Aku Lakukan, Om
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naim Nurbanah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Suara Wanda pelan, tapi ada nada kebohongan yang dia sengaja sembunyikan, apalagi kalau harus cerita rumah baru itu bukan hasil jerih payahnya, tapi hadiah dari Tuan Marcos yang menjadikan dia wanita kesayangan. Salwa menunduk pelan, jemarinya meremas ujung kain baju.
"Yang terpenting aku bisa setiap hari bareng kakak, supaya kita gak terpisah lagi karena beda tempat," katanya lirih, suara bergetar menutupi rasa cemas yang mengendap. Beberapa minggu terakhir, malam-malam terasa kosong dan hampa tanpa kehadiran kakaknya di samping.
Salwa rindu rasanya dipeluk hangat, merasa aman dan damai dalam dekapan kasih sayang yang dulu selalu mengisi hari-harinya. Di dalam hati Salwa berontak,
“Apa aku terlalu rapuh menghadapi semua ini?”
Begitu gelisah tapi penuh harap, dia menanti saat kebersamaan mereka kembali utuh, mengusir sepi yang selama ini melilit jiwa.
Wanda tersenyum tipis saat adiknya mengeluarkan pujian. Matanya sejenak menyimpan penat yang hanya dia sendiri yang tahu. Salwa tentu belum mengerti seberat pengorbanan yang selama ini Wanda jalani, bagaimana ia harus melayani pria-pria kesepian demi mencukupi kebutuhan mereka. Tapi kini, keberuntungan sedikit berpihak padanya setelah bertemu dengan Tuan Marcos, seorang duda yang memberinya pekerjaan tetap dan sebuah rumah nyaman.
"Wow, keren banget rumahnya, Kak!" seru Salwa dengan mata berbinar saat Wanda membuka pintu rumah baru mereka. Wanda membalas dengan senyum yang lebih hangat.
"Kamu suka, kan? Semoga betah ya tinggal di sini." Salwa langsung memeluk Wanda erat, suara kecilnya penuh kehangatan,
"Pasti betah, Kak, apalagi tinggal bareng kamu."
Mereka melangkah masuk bersama. Salwa berjalan perlahan, matanya menatap tiap sudut perabotan yang sudah tertata rapi, senyumnya mengembang tanpa menyadari beban berat yang masih menghimpit Wanda di balik bahunya.
Salwa melangkah pelan ke arah spring bed di kamar itu, matanya membesar menatap permukaan kasur yang tampak empuk dan rapi. Sebuah senyum lebar menghiasi wajahnya.
"Wah, kasurnya keren banget, Kak. Pasti mahal banget, ya?" katanya dengan nada takjub sambil duduk perlahan di pinggir kasur, merasakan teksturnya. Wanda tertawa kecil, berusaha menyembunyikan sesuatu.
"Bagus, dong! Kalau soal harga... ah, nggak juga, Dik. Paling cuma sekitar satu jutaan saja," jawabnya ringan, matanya berkedip seperti menyimpan rahasia, takut adiknya terkejut jika tahu harga sebenarnya.
Setelah itu, Wanda menggandeng tangan Salwa dan berjalan ke kamar sebelah, yang tak kalah rapi dan nyaman. Dengan suara lembut, Wanda membuka pintu dan berkata,
"Nah, ini kamar kamu, Dik. Kamar tadi milik Kakak. Kamu nggak keberatan, kan?"
Salwa menoleh, wajahnya penuh rasa terima kasih tapi juga sedikit canggung. Ia mengangguk pelan, mencoba menyembunyikan rasa sungkan di balik senyumnya.
Salwa tersenyum lebar sambil menatap kamar itu penuh kagum. "Kamar ini bagus banget, Kak! Aku suka banget," ujarnya antusias.
"Nanti aku pengen ngajak Salsa, sahabatku, main ke sini. Kita bisa tidur di sini, masak-masak juga!" Wanda mengerutkan kening, matanya menyipit mencoba mengingat nama itu.
"Salsa? Siapa, ya?" tanyanya hati-hati. Salwa segera menjelaskan dengan semangat,
"Salsa itu teman yang dulu sering jemput aku, terus ngajak aku nginep di rumahnya. Kak, rumah Salsa gede banget, kayak istana! Kamar ini mah nggak ada apa-apanya dibanding rumah dia." Wanda menarik napas panjang, wajahnya sedikit serius.
"Boleh aku kenalan sama Salsa nggak? Kamu kelihatan deket banget sama dia. Tapi Kakak cuma mau bilang, hati-hati ya. Jangan sampai kamu kebawa pengaruh buruk dari teman kaya kayak dia. Ingat, Kakak belum punya duit sebanyak orang tuanya Salsa."
Matanya menatap Salwa penuh perhatian, ada rasa khawatir terselip di balik kata-katanya.
Salwa menatap kakaknya dengan senyum lebar yang penuh keyakinan. "Salsa, kamu teman baikku, Kak. Tenang saja, aku akan tetap jadi Salwa yang rendah hati dan nggak sombong, walau nanti kita terkenal dan kaya raya."
Matanya berbinar, seolah ingin meyakinkan bukan cuma kakaknya, tapi juga dirinya sendiri. Dalam hati, Salwa mengulang, "Ini semua demi mimpi kita, demi hidup yang lebih baik untuk keluarga."
Di sisi lain, Wanda memeluk adiknya erat-erat. Dadanya naik turun pelan, berusaha menenangkan gelisah yang mengusik pikirannya. Betapa dalam ia menyayangi Salwa, satu-satunya keluarga yang selalu ada.
"Aku yakin, kamu tetap Salwa yang baik hati. Jangan pernah lupa kita, ya…," bisik Wanda dalam hati, menahan rasa khawatir agar tak pecah jadi kata.
Mereka berdiri dalam keheningan yang penuh janji dan tekad, saling menguatkan dalam langkah yang sama menuju masa depan.
Wanda tersenyum lebar, matanya berbinar-binar penuh semangat. "Kalau gitu, hari ini kita makan yang enak-enak, yuk! Aku ajak kalian makan di luar saja," ujarnya sambil menepuk-nepuk tangan teman-temannya.
Suaranya bergetar kecil karena antusias, seperti ada keinginan melepaskan penat yang selama ini terpendam..
*****
Wanda menekuk tubuhnya di pojok ruang tamu, dahi berdenyut keras seakan hendak meledak. Tangan gemetar tanpa henti, sementara keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. Napasnya memburu, menggigil menggigit tulang. Salwa duduk di sampingnya, wajahnya berkerut penuh kekhawatiran. Matanya berkedip cepat menatap kakaknya yang semakin lemah.
"Aduh, Kak... harus gimana ini?" gumam Salwa, pikirannya berputar cepat mencari solusi.
"Obat apa yang ada di rumah? Kita baru pindah, belum sempat beli apa-apa. Apotek jauh, ojek online entah ada enggak tengah malam begini... Mungkin tetangga?" Ia menoleh ke jendela, berharap ada secercah harapan di gelap malam itu.
Begitu banyak pertanyaan dan gelisah menggulung dalam benak Salwa. Wanda menatap adiknya dengan mata yang sembab, bibirnya gemetar saat berusaha membuka suara.
“Aku… sungguh tak mau merepotkan Salwa,” ucapnya pelan, suaranya serak.
“Kalau aku nggak demam, kita nggak bakal begini.”
Tangan Wanda menggenggam kain di pangkuan, napasnya tersendat, tapi rasa ingin meringankan beban Salwa makin kuat membuncah.
Di kegelapan malam yang pekat, mereka saling berpandangan tanpa kata, seolah mencoba membaca isi hati masing-masing. Kebingungan dan takut merayap ke seluruh sudut pikiran, disertai rasa sepi yang menyesakkan. Salwa menarik napas panjang, suaranya hampir bergetar,
“Aduh, gimana ini, Kakak sakit parah… Aku harus gimana ya?”
Tanpa menunggu jawaban, ia berdiri dan melangkah ke dapur, matanya mulai menelusuri tumpukan bahan herbal. Mungkin di sana ada secercah harapan untuk meredakan panas dan pusing yang menyerang.
Salwa berdiri di depan lemari es dua pintu, matanya menelusuri deretan buah-buahan segar di dalamnya.
"Apa, kakak asam lambungnya tinggi ya?" gumamnya pelan, suara hati yang mencerminkan rasa khawatir. Tiba-tiba ide terlintas di benaknya.
“Kalau apel merah ini aku parut, ampasnya bisa jadi kompres di dahi kakak. Airnya aku suruh kakak minum, siapa tahu demam dan pusingnya reda.”
Dengan cekatan, Salwa mulai menyiapkan semuanya. Waktu masuk ke kamar, ia melihat Wanda menggigil lemah di tempat tidurnya, wajahnya pucat dan dahi berkeringat dingin.
“Minum dulu, kak. Ini air apel, semoga cepat bikin kamu lebih enakan,” ujar Salwa sambil menaruh gelas di tangan kakaknya.
Wanda mengangguk pelan, lalu meminum air itu dengan pelan-pelan. Setelah itu, ia merebahkan diri kembali, tertunduk lelah. Salwa duduk di samping, mata penuh harap menunggu kesembuhan.
kau ini punya kekuatan super, yaaakk?!
keren, buku baru teroooss!!🤣💪