Mahira Amalia Hamarung, tak menyangka Teddy akan meninggalkan dia saat Mahira justru telah menyerahkan kesuciannya pada pria itu. Dalam ketakutannya perbuatan mereka itu akan membuat Mahira hamil, Putri sahabat baiknya menghubungi Edmond Moreno. Pria yang dulu sangat mencintai Mahira. Edmond akhirnya bersedia menikahi Mahira sekalipun Mahira nantinya hamil. Pernikahan itu pun terjadi. Saat telah resmi menjadi istri Edmond, Mahira pun tahu masa lalu Edmond yang membuatnya terguncang. Ketika Mahira hampir menyerah, Teddy justru hadir kembali untuk mendapatkan kembali cinta Mahira. Bagaimana pernikahan itu akhirnya mendapatkan kebahagiaannya?
Ini sebuah cerita sederhana tentang memahami cinta yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percaya Yang Mana?
"Edmond menculik mu? Dari mana kamu tahu kalau itu Edmond?"' Tanya Mahira.
"Karena salah satu anak buahnya yang menelepon menyebutkan nama Moreno. Di tempat aku disekap, mereka menunjukan prosesi pernikahan kalian. Aku sakit, Ra. Ingin sekali aku hadir di sana dan menarik mu untuk pergi bersamaku.Hanya satu bulan saja dan kau sudah berlari ke pelukan Edmond." Teddy menatap Mahira dengan wajah yang sedih. "Waktu itu aku pergi hanya ingin membuat sock therapi bagi kamu karena kamu tak mau ikut denganku ke Singapura. Aku menunggu mu untuk menyusul ku ke Singapura. Aku memang memblokir nomormu tapi kamu kan punya nomor adikku, punya nomor orang tuaku, kenapa kamu nggak menelepon mereka dan bertanya tentang aku? Aku sadar kalau aku sudah mengambil kesucian mu. Aku harus bertanggungjawab untuk itu. Mengapa secepat itu kau berpaling, Ra?"
"Aku......." Mahira diam sejenak. Ia tak mungkinkan mengatakan kalau ketakutannya hamil tanpa ada yang bertanggungjawab. "Aku tak suka dengan caramu mempermainkan hubungan diantara kita. Kalau Edmond tulus mau bersama ku, kenapa tidak? Lagi pula ia tak memaksa aku untuk meninggalkan Oma Yohana. Kisah kita sudah menjadi masa lalu, Ted. Sekarang katakan apa yang kau ketahui tentang Edmond?"
Teddy menatap Mahira tanpa berkedip. "Dia tak mencintaimu! Dia hanya ingin membuktikan padaku kalau dia bisa menikahimu. Dia juga seorang Mafia, Ra. Dia hanya berkedok dibalik usahanya itu. Aku takut suatu saat nanti, ketika ia sudah bosan padamu, maka dia akan menyakitimu. Dia bahkan mungkin akan membunuhmu. Kembilah kepadaku, Ra. Aku siapa menerima dirimu dan anakmu. Aku akan tulus menyayangi kalian."
"Aku tak percaya dengan kata-katamu. Edmond orang yang baik. Kalau dia hanya ingin mempermainkan pernikahan kami, mengapa dia harus melibatkan orang tuanya? Orang tua Edmond sangat menyayangiku." Mahira menggelengkan kepalanya. Ia segera berdiri namun Teddy menahan tangannya.
"Ira, aku mohon padamu! Jangan sampai kau terlalu jauh terlibat dengannya. Ayolah, kembali bersama ku. Kita kembali ke Singapura dan hidup bahagia di sana."
Mahira menarik tangannya. "Maaf, Ted. Jangan menghubungi aku lagi. Aku sudah mencintai, Edmond. Cintaku padamu sudah berakhir." Kata Mahira dengan nada tegas. Ia meninggalkan uang seratus ribuan di atas meja lalu segera melangkah pergi.
Dengan langkah cepat, Mahira segera meninggalkan kedai kopi itu. Dia merasa sangat galau mendengarkan penjelasan Teddy. Bukan soal perasaan Teddy padanya melainkan tentang apa yang dikatakannya soal kehidupan Edmond.
Saat ia masuk ke dalam hotel, Mahira memilih untuk duduk di salah satu sofa yang ada di lobby. Ia belum ingin kembali ke kamar karena perasaannya masih bingung. Apakah Edmond berkedok dibalik semua kebaikannya padaku? Apakah dia adalah seorang Mafia? Ya Tuhan, aku harus bagaimana jika ternyata Edmond seorang penjahat?
Sudah hampir satu jam Mahira duduk sendiri di lobby, sampai akhirnya hp nya berbunyi. Ada nama "My Hubby" yang tertera di sana. Edmond ternyata menghubunginya. Mahira tak menjawab pertanyaan itu namun ia akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar.
Mahira membunyikan bel pintu karena memang ia tak memegang kunci kamar. Edmond membukanya. Ternyata ia sedang menggendong baby Wina. Anaknya itu terlihat sudah ganti pakaian.
"Sayang, aku sangat khawatir karena kau perginya sudah satu jam lebih." Sambut Edmond dengan wajah khawatirnya.
Tak ada suara dari Mahira. Ia melangkah masuk melewati Edmond yang masih berdiri di depan pintu.
"Sayang .....!" Edmond menutup pintu dan menyusulnya. Mahira berjalan ke kamar mandi untuk mencuci tangannya lalu ia mengambil kotak makanan Wina.
"Wina sudah makan, sayang. Ini kan sudah hampir jam setengah tujuh malam."
Mahira mendekati Edmond dan mengambil anaknya dari pelukan suaminya itu. Ia membawa Wina ke atas tempat tidur dan berusaha bermain dengan anaknya itu untuk mengusir gundah di hatinya.
Edmond pun mandi. Selesai mandi, ia segera ganti baju. Celana kain berwarna hitam dan kemeja lengan pendek. Ia lalu mengambil tas kerjanya.
"Ra, aku mau pergi untuk menandatangani kontrak kerja sama. Kau tunggu sebentar ya? Apakah kita akan makan malam di luar atau pesan layanan kamar saja?" tanya Edmond sambil memakai sepatunya.
"Aku tak mau makan."
"Tapi, sayang. Nanti kamu sakit." .
Mahira menatap Edmond yang sudah siap dengan tas kerjanya. Lelaki yang baik dan selalu sabar dengan ku, apakah benar dia seorang mafia?
"Aku akan memesan makan malam dari restoran hotel untuk kita, sayang." ujar Edmond. Ia mendekati ranjang. Ia mencium baby Wina.
"Papi pergi dulu ya, sayang." Saat Edmond akan mencium Mahira, perempuan itu menghindar. Edmond pun pergi dengan wajah kecewa.
************
Makan malam pesanan Edmond sudah datang. Mahira pun menikmatinya sendiri karena Edmond belum kembali. Baby Wina sudah tertidur setelah meminum susunya.
Hati Mahira masih gelisah. Ia tak tahu harus mempercayai siapa. Ia bingung dengan apa yang akan dilakukannya. Apa yang dikatakan Teddy rasanya masuk akal. Namun apa yang ditunjukan Edmond selama ini menunjukan kasihnya yang tulus pada Mahira. Ia ingat bagaimana Edmond selalu bangun tengah malam dan menyiapkan susu untuk Edewina. Bagaimana Edmond selalu mengurus Edewina 1x24 jam jika hari Sabtu dan Minggu.
Mahira terus berpikir sampai akhirnya ia merasa lelah dan langsung tertidur. Waktu baru menunjukan pukul 9.30 malam. Mahira tak mau menelpon Edmond untuk bertanya di mana suaminya itu berada. Ia terlalu lelah dan butuh tidur.
Saat Mahira bangun keesokan harinya, ia merasakan kalau Edmond sedang tidur dan memeluknya dari belakang. Mahira dapat merasakan hangatnya napas Edmond yang menyentuh tengkuknya. Mahira perlahan mengangkat tangan Edmond dan meloloskan dirinya dari pelukan lelaki itu. Ia tak tahu jam berapa Edmond kembali. Namun saat melihat makan malam yang ada di atas meja isinya berkurang banyak, Mahira yakin kalau Edmond datang sebelum jam 10 karena lelaki itu tak akan pernah makan di atas jam 10 malam. Edmond sangat disiplin mengatur pola hidupnya untuk kesehatan dan mungkin menjaga bentuk badannya.
Baby Wina pun masih terlelap dalam tidurnya. Sekarang ternyata masih jam 5 subuh. Namun rasa kantuk itu telah pergi. Mahira menyisir rambutnya perlahan. Setelah itu ia membereskan pakaian miliknya dan Edewina. Ia sudah memutuskan untuk ikut pulang bersama Edmond hari ini walaupun ia tak tahu apakah hubungannya dengan Edmond akan menjadi lebih baik.
************
Samarinda, 2 Minggu kemudian......
Ternyata mengembalikan kepercayaan itu rasanya sangat sulit bagi Mahira. Ia masih saja bersikap dingin pada Edmond walaupun di depan para pelayan Mahira berusaha bersikap biasa. Ia masih membuatkan kopi bagi Ed sesuai kebiasaannya minum kopi. Ia juga masih menyiapkan pakaian Edmond saat suaminya itu mandi. Namun jika di kamar, Mahira berusaha seminim mungkin menciptakan percakapan dengan Suaminya itu.
Dan sudah 2 hari ini Edmond tak masuk kerja. Yang Edmond lakukan hanyalah bermain dengan Wina. Mahira pun enggan bertanya.
Namun di hari ke-3, Mahira kaget saat melihat Edmond yang sedang membersihkan semua koper. Apakah Edmond akan pergi? Namun mengapa semua koper yang ia bersihkan?
"Sayang, aku mau ke toko sebentar. Mau membeli tas baju." kata Edmond setelah koper-koper itu ia bersihkan.
"Tas baju untuk apa?" Akhirnya Mahira bertanya.
"Untuk mengisi pakaian Edewina."
"Memangnya kita mau kemana?"
"Kembali ke Manado."
Mahira terkejut. Ia ingin bertanya lagi namun Edmond sudah pergi dengan mobilnya.
Selang beberapa menit kepergian Edmond, Lita datang memberitahukan kalau ada Lerry di depan. Mahira pun menyerahkan Wina pada Lita lalu ia segera menuju ke ruang tamu.
"Lerry, mau mencari Edmond? Dia sedang keluar sebentar." kata Mahira lalu duduk di hadapan Lerry.
Lerry tersenyum. "Aku tahu. Tadi aku melihat mobilnya namun aku sengaja tak memanggilnya karena memang tujuanku ke sini adalah untuk bertemu denganmu, Mahira."
"Bertemu denganku?"
"Iya. Tolong bujuk Edmond agar tak resigh dari perusahaan."
"Edmond resigh?"
"Kamu tak tahu?"
Mahira menggeleng.
"Senin ini, selesai rapat pemilik saham, Edmond menyerahkan surat pengunduran dirinya di ruangan ku. Ia bahkan menjual seluruh sahamnya kepadaku. Aku memang belum menyatakan ia untuk membeli saham nya. Namu Edmond tak lagi masuk kerja. Ia bahkan tak mengaktifkan ponselnya."
"Alasannya untuk berhenti karena apa?"
"Dia ingin pindah ke Manado dan mengolah perusahaan keluarganya di sana. Dia juga ingin hidup tentram dengan kamu di sana. Jauh dari Monalisa yang berkerja satu perusahaan dengannya."
Mahira diam sejenak. Itukah sebabnya Edmond membersihkan semua koper yang ada?
"Mahira, aku mohon kepadamu, bujuk lah Edmond agar ia tak resigh dari perusahaan. Kami membangun perusahaan ini dari nol. Edmond adalah panglima dalam perusahaan ini. Jika Edmond tak ada, aku yakin perusahaan ini akan goyah walaupun kami punya pekerja hebat seperti Monalisa dan Sofia."
"Aku....."
"Aku yakin Edmond juga sebenarnya tak mau meninggalkan perusahaan itu. Namun, demi keutuhan rumah tangga kalian, Edmond rela meninggalkan semuanya. Tapi aku berani bersaksi padamu, kalau Edmond sungguh-sungguh telah berubah semenjak menikah denganmu. Apalagi ketika anak kalian lahir, Edmond terlihat sangat bahagia dan selalu ingin cepat pulang karena ia kangen dengan Wina. Dia mencintaimu, Mahira. Tak mungkin dia akan mengkhianati mu. Monalisa hanyalah masa lalu baginya."
Lerry akhirnya pulang. Ia terlihat sedih karena Mahira memang tak menjanjikan apapun. Mahira sendiri masih kaget karena Edmond resigh dari perusahaan. Mahira memang memerhatikan beberapa hari ini Edmond terlihat stres. Makan saja ia sangat sedikit. Ia sengaja bermain dengan Wina untuk mengalihkan pikirannya yang sedang galau.
Bel pintu pagar kembali terdengar. Juminten berlari untuk membukanya. Mahira masih duduk di ruang tamu dengan perasaan bingung.
"Nyonya, coba lihat siapa yang datang?" ujar Juminten. Di tangannya ada sebuah koper.
"Siapa, bi?"
"Surprise.....!"
Mahira terbelalak. "Mommy?"
Rahel tersenyum senang dan langsung memeluk menantunya.
***********
Selamat pagi.....
Apakah mereka akhirnya kembali ke Manado?
Jangan lupa dukung emak ya guys.....
emang ratu setan si muna.....😤👻
good Ed 👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼
1*istri tidak percaya suami, suami salah karena tidak bisa jaga perasaan istri
*suami tidak percaya istri, suami tetap salah karena hubungan harus dilandasi kepercayaan
2*PEBINOR, lelaki lain yang menyukai istri, cintanya tulus, tidak boleh dihukum apapun kesalahannya, harus berakhir bahagia
*PELAKOR, wanita lain yang menyukai suami, cinta obsesi, jalang, harus dibinasakan
3*istri buat salah, jangan dibesarkan, harus langsung dimaafkan
*suami buat salah, tidak boleh langsung dimaafkan, suami harus dibuat mengemis dan berjuang dulu
4*intraksi istri dengan lelaki lain, tidak masalah, itu hanya intraksi biasa
*intraksi suami dengan wanita lain, menjijikan, laknat
5*istri tidak Terima masa lalu suami, itu wajar, suami harus membuktikan diri
*suami tidak Terima masa lalu istri, kesalahan besar, hubungan harus saling menerima keadaan masing2
6*istri berbohong pada suami, biasa saja jangan terlalu dimasalahkan
*suami berbohong pada istri, kesalahan besar, hubungan harus saling jujur
dan ini semua ada dinovel ini dan mirisnya author selalu membela mahira dan selalu membiarkan kesalahan mahira dan selalu membiarkan kesalahan teddy (PEBINOR) tapi author membesar2kan kesalahan edmond dan edmond selalu salah dan dibuat menebus kesalahannya, mengemis cinta dan berjuang, dan pelakor dilalnat dan dibinasakan
dimana keadilan kalau sudah begini????? miris