Season 1[END]
Season 2 [END]
Sequel Me VS Boss: Yes! We Are Twins [Ongoing]
Ini adalah kisah seorang boss besar yang selalu melakukan pertengkaran dan perdebatan kecil bersama sekertarisnya.
Chelsea Nolla Bravani, harus ekstra sabar menghadapi sikap bosnya yang sangat mudah berubah-ubah itu. Kadang bisa bersikap tegas, dingin atau bahkan bertingkah konyol dan menyebalkan. Satu hal yang Chelsea benci dari sosok bosnya itu,- Kenan Jiran Bagaskara
Dia sangat benci jika bosnya sudah terlanjur menjahilinya dengan segala cara. Hingga akhirnya, perdebatan dan pertengkaran diantaranya sering terjadi. Terkadang, salah satu dari merekalah yang harus menyerah dan meminta maaf. Namun, terkadang juga mereka berdua sama-sama keras kepala, dan tak ada yang memulai percakapan.
Lalu, akankah Chelsea kuat menghadapi tingkah konyol dan menyebalkan yang sudah melekat penuh pada diri bosnya itu?
Mudahkah bagi Chelsea untuk segera meninggalkan Kenan, sang Boss Besar yang kadang suka pamer, angkuh, dan murah senyum itu.
What?
Murah senyum?
Tidak salah?
Iya, murah senyum! Bahkan ketika Chelsea sedang ditimpa kesialan bertubi-tubi pun, ia akan menjadi orang pertama yang tersenyum licik dan menertawainya.
Sungguh murah senyum bukan?_-
Kisah mereka berawal disini....
Start: 23/08/19
Finish: 03/03/20
Beberapa episode sedang di revisi!
masih seorang penulis amatiran! mohon maaf bila terlalu banyak kesalahan!🙏
DILARANG PLAGIAT!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 33
Chelsea memanyunkan bibirnya sambil terus mendengkus kesal. Yah, gimana mau gak kesel coba? Boss nya ini kalo udah sekali maksa, susah di bantah.
Nyebelin.
"Kenapa sih, Chel? Kamu ngambek sama saya" suara sahutan dari arah kursi kemudi mobil mengalihkan perhatian Chelsea.
"Menurut Pak Boss?"
"Idih. Jutek banget deh jawabnya." kebalik. Sekarang Kenan yg memanyunkan bibirnya.
Chelsea yg melihat perubahan drastis tersebut langsung saja tertawa renyah. "Ih, kok ikut-ikutan sih?" ujar Chelsea saat dirinya sudah berhenti menertawai boss-nya.
"Emang kamu doang yg bisa kesel? Saya juga bisa kali!" ketus Kenan membuat raut wajah ceria Chelsea pun hilang.
"Emang Pak Boss kesel sama saya, gara-gara apa?" tanya Chelsea datar.
"Saya kesel karena kamu lebih mentingin tuh cowok curut daripada boss kamu yg satu ini!" Chelsea mengernyitkan dahinya, ia bingung dengan apa yg Kenan ucapkan padanya barusan.
"Hah? Mentingin cowok curut? Maksudnya Angga!?" Chelsea berteriak dengan sangat lantang. Kenan yg merasa telinganya sakit pun langsung mengerem mobilnya mendadak.
"Kamu ini..." Kenan mencubit hidung Chelsea gemas setelah mobilnya berhenti sepenuhnya. "Bisa gak sih, kalo ngomong itu gak perlu pake teriak-teriak!?" Kenan melepas cubitan pedas di hidung sekertarisnya. Ia kembali di sibukan dengan menjalankan mobilnya kembali.
Chelsea meringis merasakan sakit di hidungnya. Ia merogoh ponsel yg terletak di dalam tas selempang dan meletakannya bersejajaran dengan wajahnya. Chelsea mendengkus kesal saat melihat pantulan dirinya di layar ponselnya. Hidungnya memerah seperti tomat. Di tambah rasa sakit yg membuat dirinya susah untuk menggerakan hidungnya sewaktu-waktu.
"Iiih... Pak boss jahat. Hidung saya sakit ini..." Chelsea merengek sambil menepuk bahu Kenan dengan kesal. Kenan mencoba menghalau pukulan dari sekertarisnya tersebut, namun usahanya sia-sia. Kedua tangannya kan sedang sibuk menyetir saat ini!
"Udah dong mukulnya! Nanti kalo kecelakaan gimana?" Chelsea yg mendengar celotehan dari Kenan pun langsung memberhentikan aksinya ini. Mendengar kata kecelakaan saja sudah membuatnya bergidik ngeri.
Kenan tersenyum miring saat tahu reaksi dari wanita di samping nya ini akan seperti barusan. Kenan ingin tertawa namun, semuanya hanya tinggal rencana.
Sebuah panggilan di ponselnya membuyarkan suasana. Kenan merogoh headset yg terletak di laci mobilnya lalu memasangkannya di telinga.
"Halo, mih?" Kenan menyapa seseorang di seberang telfon. Bisa di tebak kalau panggilan telfon tersebut dari sang mama.
"Halo, Ken. Udah selesai kerja?"
"Belum, mih. Kerjaan Kenan masih numpuk, emang nya kenapa?"
"Oh gitu. Enggak, mami cuma mau nyuruh kamu pulang buat makan siang. Sekalian kamu ajak calon mantu mami ya?"
Kenan melirik ke arah Chelsea sesaat mama Lucy mengatakan tentang calon menantu. Berarti yg di maksud mama Lucy adalah...
Chelsea!?
"Ah, itu. Sebenarnya aku sama Chelsea baru aja makan siang di restoran. Ini juga lagi di mobil mau langsung ke kantor lagi" kata Kenan, Chelsea melirik saat namanya di sebut oleh sang Boss.
"Ada apa? Kok manggil-manggil nama saya!?" tanya Chelsea. Kenan nampak tersentak sedikit.
"Ken? Jadi bener nih, kamu lagi di mobil sama Chelsea?"
"I-iya, mih. Kan tadi Kenan udah bilang sama mami" jawab Kenan tergagap
"Ya udah deh kalo kalian udah makan siang. Tapi nanti pas pulang kantor, kamu ajakin Chelsea pulang dulu ke rumah kita ya? Bilangin, kita makan malam bersama. Daa"
"Tapi, mih---"
Tut tut tut.
Sambungan telfon pun terputus sepihak. Kenan hanya bisa menghembuskan nafasnya berat sambil terus menjalankan mobilnya.
"Kenapa, Pak? Tadi yg telfon mami-nya Pak Boss ya?" seru Chelsea sambil memiringkan wajahnya.
Mengangguk, "Nanti malem, kamu harus ke mansion saya dulu!" kata Kenan jengah.
"Kenapa? Mami-nya Pak Boss nyuruh makan malem bareng, ya?" tanya Chelsea lagi masih terus memiringkan wajahnya.
"He'em." kata Kenan hanya deheman saja yg dibarengi dengan anggukan kecil.
Chelsea menghempaskan punggungnya ke punggung kursi mobil sambil membuang nafas panjang.
"Kok jadi makin ribet, ya?" gumam Chelsea yg sedikit terdengar oleh pendengaran Kenan.
****
Malamnya, Chelsea tengah membereskan barang-barang di meja kerjanya sambil terus memandangi jam tangan yg dikenakan di pergelangan tangan kirinya.
Kreet.
Pintu ruangan CEO terbuka, menampilkan seorang laki-laki yg tak lain adalah Kenan. Dengan langkah lelahnya, Kenan menyandarkan punggungnya di pintu ruangan CEO yg sudah terkunci sepenuhnya.
"Udah, Chel?" sahut Kenan. Chelsea nampak melirik sekilas.
"Bentar lagi. Takutnya ada yg kelupaan" Kenan yg mendengarnya, hanya membalasnya dengan anggukan kecil.
"Udah. Yuk!"
Kenan membenarkan posisi berdiri nya kemudian berjalan bersama Chelsea beriringan menuju lift yg terletak tak jauh dari pandangan matanya.
Ting.
Pintu lift tertutup. Dengan cepat Chelsea pun menekan tombol angka satu.
Tak butuh waktu setengah jam, pintu lift pun terbuka dengan sendirinya.
Seperti biasa, Kenan yg selalu keluar awal dari balik pintu lift dan Chelsea yg selalu mengekori di belakang.
Terlihat bahwa lobi kantor sudah kosong, para resepsionis maupun pekerja sepert OB pun sudah tidak ada di ruang tersebut. Di liriknya sebuah arloji yg menunjukkan pukul delapan malam.
"Sesuai yg saya bilang siang tadi. Kamu harus ke mansion saya, ok?" seru Kenan sambil melirik ke arah Chelsea.
Mengangguk patuh. "Mau nolak gimana pun, tetep aja saya di paksa harus ikut!" kata Chelsea sambil menatap lekat ke arah sang boss.
"Ya udah, ayo!"
****
Seorang wanita paruh baya tengah terduduk di kursi meja makan sambil terus memainkan jemarinya di atas piring kosong.
"Ish, Ken sama Chelsea mana sih? Kelamaan ah!" Mama Lucy nampak cemberut kesal. Dari pukul tujuh malam, ia menyibukkan dirinya dengan memasak makanan untuk hidangan makan malam bersama dengan putranya dan juga calon menantunya.
Tapi sampai detik ini pun, mereka berdua belum menampakkan diri mereka di harapan mama Lucy.
Tin. Tin.
Suara klakson mobil terdengar sangat nyaring bagi mama Lucy yg tengah terduduk diam di ruang makan. Kini, semburat senyum di wajahnya muncul kemudian ia berjalan dengan langkah gontai menuju pintu depan rumahnya.
"Ini pasti Kenan!" gumam mama Lucy saat dirinya mencoba membukakan pintu rumahnya.
Mama Lucy makin melebarkan senyum di wajahnya, saat seorang wanita muda yg tak lain adalah Chelsea, keluar dari mobil.
"Akhirnya... Calon menantu mami datang juga!" seru mama Lucy saat Chelsea sudah berjalan menghampiri dirinya.
"Selamat malam, mami!" sapa Chelsea sambil memeluk erat wanita paruh baya tersebut yg pelukannya juga di balas tak kalah oleh mama Lucy.
"Selamat malam, Chelsea-ku sayang!" mama Lucy lalu melepas pelukan tersebut dan kini perhatiannya kini tertuju pada putranya yg berjalan mengitari mobil.
"Ken, cepetan masuk. Kasian calon mantu mami bisa kedinginan kalo kelamaan di luar terus!" Kenan nampak mendengkus kesal dengan apa yg baru saja di katakan sang mama.
Sebernya, anak nya ini Chelsea apa dirinya sih?
To be continue...
Kira-kira... Kelanjutannya bakal gimana lagi nih menurut kalian?
Hahaa, like komen sama beri nilai bintang lima yok!
Bye bye:*