Jenderal tinggi di tinggal kan oleh sang istri. Menjadi duda dengan satu orang Putri. Banyak wanita yang berlomba-lomba menginginkan Bara Dirgantara. Namun tak semua nya tulus pada Putri cantik nya. Hingga, ke dua orang tua sang Hot Jenderal itu memutuskan untuk menikahkan Bara dengan adik dari Nana Wijaya. Turun Ranjang, begitu lah orang-orang menyebutnya. Akan kah cinta antara mereka berdua bersemi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fara Dela Sandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 (Rahasia kematian)
Mohon dukungan nya selalu ya Kakak-kakak dengan cara Vote poin agar cerita ini mendapat rengking untuk pengikutan lomba #YouAreAWriterS3 dan juga jangan lupa untuk selalu Like dan rame kan dengan Komentar tentang cerita satu ini.🙏🙏🙏☺️☺️☺️☺️☺️☺️ cerita nya akan up tiap hari
.
.
.
Jari jemari menari lugas di atas layar benda persegi panjang. Garis bibir tak pernah luput di tarik ke atas, chat group gilanya selalu mampu mengusir rasa bosan di dalam hati Aurora. Wanita berpipi chubby mendesah letih, membuang asal ponsel mahalnya ke atas tempat tidur. Sebelum menurunkan ke dua kaki jenjang nya. Dahinya berlipat kala telak kaki menginjak dinginnya lantai marmer. Gemuruh dari dalam perut menjadi penggerak rasa malas yang menumpuk. Kewajiban mengisi cacing-cacing kelaparan yang juga bar-bar meminta jatah makan siang.
"Bersabarlah duhai cacing-cacing peliharaan ku. Aku harus memasak dulu bukan agar bisa memberi kan kalian makan. Tapi masalah nya di sini, aku tidak bisa memasak makan yang kalian ingin kan!" Monolog Aurora mengusap permukaan perut nya yang menonjol.
Hembusan napas kasar dari mulut melambung bersamaan dengan deburan ombak di bawah sana."Kenapa perut ku menjadi membesar begini ya? Cih! Ini terjadi karena napsu makan yang tak lagi terkontrol. Apalagi tidak ada Kak Bara di sini. Membuatku lebih tidak bisa menahan lapar!" Keluh nya menguap permukaan perut yang sedikit membuncit.
Aurora melangkah keluar kamar. Menuju anak tangga, menuruni satu persatu undak anak tangga. Bibir merah merekah basah itu tak diam. Senandung mengalun mengisi kekosongan rumah. Baru dua hari di tinggali oleh sang suami. Rasanya sudah dua bulan. Apalagi di rumah tidak ada siapa-siapa yang bisa di ajak untuk berbicara. Tidak ada Sora yang akan membuat ia merasa bahagia. Hanya karena melihat anak itu tersenyum dan tertawa. Aurora sudah merasa mendapat kebahagiaan yang tak terhingga. Sejatinya seorang Ibu memiliki kebahagiaan yang sederhana.
Jika di Ukraina wanita cantik yang tak sadar dengan kondisi tubuh nya. Maka di belahan Indonesia, ada wanita cantik lain nya yang terbaring di ranjang pesakitan. Hembusan napasnya teratur, ke dua mata terpejam sempurna. Hanya ada alat-alat menyokongnya kehidupan nya. Wajah yang dulu begitu cantik dengan ke dua pipi yang berisi. Tak lagi terlihat, wanita yang tengah terbaring itu tampak pucat dan bibir yang begitu kering. Cairan infus menetes perlahan memberikan wanita berwajah pucat itu makanan.
Derit pintu membawa dua orang memasuki ruangan khusus. Dengan kadar suhu yang mampu membekukan. Aroma obat-obatan menyerbu masuk ke dalam paru-paru. Pria berusia lima puluh lima tahun itu terlihat begitu letih. Di balik masker dan baju khusus. Ia melihat sang keponakan dengan pandangan sendu.
"Ini sudah bulan ke tujuh ia begitu Erik," jelas sang Dokter dengan wajah letih kala ke duanya sudah sampai di samping ranjang.
"Ya, aku tau. Hanya saja aku tidak bisa menyerah pada keponakan ku!" ujarnya dengan nada pelan,"Dia adalah putri adik ku yang harus aku jaga dengan baik. Setelah adiknya, ia terlalu baik berbeda dengan adiknya. Yang begitu kuat dan tangkas. Nana dia begitu lembut dan rela berkorban. Sama seperti adik ku. Aku ingin menjaganya untuk tetap bernapas. Aku ini adalah kakak yang gagal menjaga adiknya. Setidaknya aku tidak mau juga menjadi Papan yang gagal menjaga ke dua keponakan nya," lanjut nya lirih.
"Ini pasti menyakiti nya juga Erik. Aku masih tak bisa melupakan bagaimana kritisnya ke adaan nya saat itu. Dan kau! Dirimu bersikeras memberikan pemberitahuan jika Nana sudah mati pada keluarga Dirgantara dan Wijaya. Saat itu, aku tak tau. Apakah sampai sekarang aku pun tak tau apakah keputusan yang aku lakukan dulu adalah keputusan yang terbaik untuk Nana dan kau," tutur Dokter Dino meragu. Pria paruh baya ini juga tak tau apakah keputusan dulu itu adalah keputusan yang tepat.
Membantu sahabat karibnya untuk memanipulasi kematian Nana. Erik beralasan jika keponakan nya masih bernapas. Maka tidak menutup kemungkinan jika pembunuh itu akan melakukan asiknya lagi. Pria tua ini tidak tau apa yang membuat kemalangan menimpa adik satu-satunya dan juga keponakan nya yang pertama. Bagi pria ini, masih teka-teki. Kematian sang adik dan percobaan pembunuhan Nana.
Sebenarnya apa yang mereka inginkan dari kematian Ani sang adik. Dan juga Nana sang keponakan. Apa yang membuat ini terjadi? Erik merasa begitu frustasi. Hanya bekerja sendiri, dalam gelap.
"Yang kita utamakan saat ini adalah sadarnya Nana dari koma. Dan menyembuhkan nya, hanya itu yang kita butuhkan saat ini Dino. Untuk kematian Palsu Nana aku akan menjamin. Kau dan Rumah Sakit mu ini tidak akan mendapatkan imbas apapun," tutur Erik pelan,"Aku mohon tolong jaga Nana. Aku harus meletakan ke dua mataku pada Aurora untuk ke depannya. Aku tidak ingin Aurora juga mendapatkan kemalangan yang sama. Meski aku tau, Aurora adalah gadis yang tangkas dan hebat. Hanya saja, anak itu terkadang juga memiliki sisi ceroboh," lanjut nya letih.
Tepukan di bahu Erik membuat pria paru baya itu tersenyum lembut di balik masker.
"Baiklah. Aku akan melakukan yang terbaik untuk Nana. Kau jaga kondisi tubuh mu juga Erik. Kita sudah cukup tua, kawan!" Ujar Dokter Dino menepuk punggung Erik pelan.
***
Uap asap mengepul melambung di udara. Beberapa kertas laporan tergeletak setinggi empat puluh cm. Pria tampan berahang tegas itu merapat kan jaket kulitnya. Udara malam sangat mampu menyelusup menusuk tulang. Lampu di ruangan khusus untuk nya menyala terang. Jenderal tinggi Indonesia itu terlihat duduk di temani kopi panas dan ponsel di genggaman. Ibu jari tangan nya terlihat tak ingin diam. Menggeser layar, dari satu gambar ke gambar yang lainnya. Manik mata tajam hitam legam bak elang itu terlihat berbinar-binar. Kala membuka galeri fotonya. Melihat satu persatuan foto sang istri dengan senyum mengembang lebar.
"Aku merindu kan mu sayang. Tunggu lah, lima hari lagi. Aku akan sampai di desa. Dan kita bisa langsung terbang ke Indonesia." Ujar Bara mengusap permukaan layar ponsel. Sebelum membawa benda persegi panjang itu masuk ke dalam dada bidang nya. Ke dua kelopak matanya tertutup. Memeluk erat-erat ponsel milik nya. Berharap benda mati itu bisa mengurangi rasa rindu yang membuncah.
TOK!
TOK!
TOK
Tiga ketukan di luar ruangan membawa ke dua kelopak mata nya terbuka cepat. Bara tidak berdiri dari posisi duduknya.
"Siapa?" seru Bara keras menembus ruangan.
"Ini aku, Kak!" balasan di luar sana dengan bahasa Indonesia membawa kerutan dalam di dahi Bara.
Bara mendesah kasar. Bangkit dari posisi duduknya, sebelum melangkah mendekati pintu. Telapak tangan besarnya membuka pintu dengan perlahan. Sebelum mendorong pintu kayu ruangan nya ke dalam. Senyum manis lebih dulu menyapa atensi tajam milik nya. Pria Dirgantara itu hanya menatap gadis bermata rubah di depan nya dengan raut wajah dingin.
"Ada apa?"
Tidak perlu berbasa-basi. Bara langsung menanyakan maksud ke datangan gadis di depannya ini. Manik mata hitam rubah itu terlihat menyapu ruangan khusus milik Bara dengan tatap tak mampu di baca.
"Boleh aku masuk, Kak? Aku membawa makanan malam mu, Kak!" Ujarnya dengan nada manis mengangkat rantang di tangannya.
Belum sempat Bara menjawab sekedar memberikan izin pada Keyla. Gadis itu melesat masuk ke dalam ruangan bahkan langsung duduk di sofa panjang. Tepat di samping dimana pria tampan itu sempat duduki.
"Ayo, duduk kak." Titah Keyla menepuk sofa tepat di samping nya. Sebelum ke dua tangannya terlihat sibuk mengeluarkan isi rantang.
Bara hanya diam. Berdiri di tempat semula. Tidak bergerak seinci pun. Menatap aneh ke aneh Keyla. Jujur saja, Bara Dirgantara tidak suka dengan apa yang baru saja di lakukan oleh Keyla. Gadis ini memang sempat hampir menjadi istri nya. Dan Bara tidak suka dengan sikap Keyla yang terlihat memaksakan kehendak nya. Melakukan apapun semaun nya.
"Kemana yang bisanya mengantarkan makan?" tanya Bara dengan nada beratnya.
"Paman yang biasa mengantarkan makan sedang sakit kak." Bohong Keyla mengulas senyum.
"Kalau begitu. Letakan saja makan nya di sana. Dan keluarlah!" ucap Bara dingin.
Senyum yang sempurna di ukir. Luntur begitu saja kala titah di keluarkan dengan nada dingin. Apa? Keluar dari ruangan Bara begitu saja? Tidak. Keyla tidak ada melakukan nya. Gadis ini sudah membayar mahal hanya untuk bisa mengantarkan makanan Bara. Beberapa kali berdebar dengan pria tua Ukraina itu. Hanya untuk mendapatkan harga yang sesuai.
"Kak——"
"Sayang!!!" Seruan dan belitan di perut keras berotot itu memberikan sensasi nyaman. Kala wajah cantik itu terbenam di belakang punggung Bara.
Keyla membulatkan ke dua matanya. Kala nada yang ia hempas kan terpotong dengan kehadiran sosok yang tidak ia harapkan. Bara membalikkan tubuhnya tanpa melepaskan belitan tangan sang wanita.
Kepala Aurora mendongkrak menatap wajah tampan sang suami. Mengulas senyum manjanya.
"Kenapa kau disini?" tanya Bara tak percaya dengan penglihatan nya.
"Aku bosan di sana sendiri. Karena itu tadi sore aku berangkat untuk ke sini. Aku merindu mu, sampai mau mati jika tidak melihat dan memeluk mu seperti ini Kak!" jawab Aurora mengeratkan pelukannya.
Ugh! Romantis nya. Dan menjijikan di mata Keyla. Gadis itu berdiri dengan hati dongkol.
TBC......
Mohon dukungan nya selalu ya Kakak-kakak dengan cara Vote poin agar cerita ini mendapat rengking untuk pengikutan lomba #YouAreAWriterS3 dan juga jangan lupa untuk selalu Like dan rame kan dengan Komentar tentang cerita satu ini.🙏🙏🙏☺️☺️☺️☺️☺️☺️ cerita nya akan up tiap hari**
.
kasian tp lucu 😅😅
konspirasi konspirasi