Haruskah cinta dan pernikahan yang diberikan sahabatnya, ia kembalikan?
Ini gila!
cinta dan pernikahan yang Elea jaga untuk Radjendra dan demi amanah yang diberikan sahabatnya, Erika. justru malah dihancurkan oleh Erika sendiri.
Apa yang harus Elea lakukan?
Haruskah ia kembalikan cinta dan pernikahan itu?
Atau ia harus mempertahankannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saidah_noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan pertama.
Rajendra terdiam mendengar perkataan asistennya, bahwa istrinya sedang berulang tahun. Ia sendiri tak ingat bahkan tak tahu, kapan tanggal lahir Elea?
Ia membalikkan badannya melihat asisten Sen dengan alis bertaut, otaknya penuh tanya dan amarahnya mereda. Seketika ia lupa tentang Elea dan Marcel.
"Kenapa kau baru beri tahu aku? Dasar goblok!" tanya Rajendra yang masih dalam perasaan kesal, walau begitu nadanya mulai melunak.
"Bukannya tak memberi tahu, tapi dulu tuan bilang hari ulang tahun nona Ele tidak penting. Jadi saya tak pernah memasukkan hari itu ke dalam tanggal penting tuan," ujar asisten Sen mengingatkannya dengan jelas.
Rajendra mengingat-ingat, kalau tak salah memang benar apa yang dikatakan asistennya. Itu saat ia tak bisa menerima perjodohannya dengan Elea, ia bahkan tak mau mengakuinya sebagai istri meski pernikahan mereka sah secara hukum.
Iya, dialah yang salah. Dia bahkan tak pernah memberinya kejutan apapun, malah ia bersikap biasa saja padahal seharusnya sebagai suami ia memberikan surprise untuk istrinya.
"Ehem, baiklah! Tapi mulai sekarang catat tanggal ulang tahun Ele, kalau bisa jadikan tanggal ini menjadi tanggal nasional," ujar Rajendra menyadari kesalahannya, ia membalikkan badannya kembali melihat Elea dan Marcel.
Mereka ternyata sudah saling kenal bahkan cukup dekat, ketika ia melihat gestur dua manusia itu. Meski jauh tapi penglihatannya masih jelas dan normal.
Sena termenung memikirkan ucapan sang tuannya, "Hari nasional, memangnya dia presiden negara ini. Dasar bos arogan!" kesal Sena melayangkan kepalan kosong pada angin malam ini, karena posisinya dengan pak bos lumayan berjarak.
"Aku tidak tuli, Sena!" kecam Rajendra menoleh kebelakang tempat asistennya berdiri, memicingkan matanya sejenak pada asistennya itu.
"Salah juga," gumam Sena mengeluh.
Lama Rajendra memperhatikan istri dan adik tirinya, yang kini tengah makan malam berdua. Ada panas yang menjalar ke dalam ulu hatinya, senyuman manis Elea begitu terpancar jelas didepan Marcel. Mana mereka mengobrol dan saling tatap dengan intens, tentu saja itu menambahkan api yang meletup didadanya.
"Sialan! Kenapa dia harus tersenyum didepan Marcel?" geram Rajendra tak suka.
Ia membalikkan badannya menghadap Sena, asistennya yang sudah diambang lelah harus kembali sigap melihat bosnya menatapnya tajam.
"Belikan kue ulang tahun untuk Elea, juga hadiahnya kalung saphir. Harus malam ini juga! Kalau besok sudah bukan ulang tahun Ele lagi, paham!" ujar Rajendra pada Sena berupa perintah.
Lelaki itu pergi meninggalkan asistennya yang terdiam bak batu manusia, ia tak peduli lagi bahkan tak menoleh sedikitpun.
"Apa telingaku penuh kotoran?" tanyanya pada diri sendiri sembari mengorek kuping yang terasa berdengung.
"Aku tak salah dengar kan? Sejak kapan tuan bermulut kasar itu memikirkan istrinya?" gumam Sena tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Sena!" panggil Rajendra dari belakang, "ayo kita pergi!" ajaknya.
"Ya ampun! Raja hutan sudah mengamuk," sebal Sena yang segera melangkahkan kakinya menyusul Rajendra.
Dua pria itu pun pergi mengendarai kijang besi berharga miliaran itu, mereka berdebat soal acara yang akan diadakan semendadak ini. Tak jarang Sena dibuat pusing oleh tingkah koboy bosnya tersebut, apapun harus segera dan secepatnya dilakukan.
Itulah yang membuat asisten Sen malas menjawab ucapan Rajendra, ia menjawab ala kadarnya saja karena matanya sudah diambang ngantuk.
"Hubungin bi Halim, ia harus melakukannya sekarang. Saat aku pulang semua sudah selesai," ujar Rajendra.
"Oh, iya. Hubungi seseorang untuk melindungi Elea mulai sekarang, ikuti dia kemana pun dan harus memberiku kabar setiap detik tentang Ele," lanjut Rajendra.
"Ikuti nona kemanapun dan ngasih kabar tiap detik, kalau nona ke toilet bagaimana? Apa harus dikasih tahu juga?" tanya Sena.
Tangan Rajendra terulur kemudian menjitak kepala asistennya yang tengah mengendarai mobil mahalnya, sementara ia duduk dikursi belakang. Namanya juga pak bos, semau dia aja.
"Kau ingin mengintip istriku, suruh bodyguard wanita untuk menjaganya. Enak saja, Ele itu istriku bukan istrimu. Dasar bujang karat!" kesal Rajendra, mengumpati asistennya.
Sena meluruhkan kedua bahunya, ia pasrah dengan pekerjaannya. Kalau bukan karena sifat royal Rajendra, ia sudah minta resign dari dulu. Ia sendiri digaji mahal, lebih gede dari asisten manapun yang bekerja dikantoran.
"Ingat, Sen! Kupotong gajimu bulan ini, jika kau pulang tanpa menyelesaikan tugasmu malam ini," ancam Rajendra dengan nada tegasnya, menggelegar bak petir dimalam hari.
Sena hanya diam tak berkutik lagi.
^
Sementara dimeja pengunjung, Elea dengan tenang menikmati potongan cake yang dibelikan Marcel. Ia begitu antusias sampai tak terasa tinggal setengah potong lagi, lain halnya dengan Marcel.
Lelaki itu melirik kesekitar resto tersebut, seolah mencari seseorang yang begitu penting baginya. Seharusnya sudah sejak tadi sosok itu muncul, tapi kenapa ia tak melabrak mereka?
"Aneh, dimana Rendra? Kenapa ia tak muncul juga?" batin Marcel bergelut sembari melirik arloji yang menempel ditangan kanannya.
Sudah ia rencanakan tentang malam ini, tapi ia merasa ada yang berubah.
Ting
Sebuah notifikasi muncul diponsel milik Marcel, segera ia ambil dan buka. Matanya membulat membaca pesan dari orang suruhannya, ia genggam kuat benda pipih itu. Rencananya berantakan, pesan itu memberitahukannya bahwa Rajendra sudah pergi dari Resto tersebut.
"Kurang ajar!" gumam Marcel yang bisa Elea dengar, wanita itu bahkan langsung terdiam dan menghentikan makannya.
Sejak itu sikap Marcel berubah sedikit dingin, didalam mobil kala pulang mengantarkan Elea pun sifatnya menjadi pendiam. Tak ada obrolan yang menjadi rayuan hangat seorang Marcel pada Elea, yang membuat wanita itu bertanya-tanya.
Ia berusaha untuk diam saja, ia tak ingin mencampuri urusannya walau ada rasa penasarannya yang tinggi. Bagaimana pun ini hari pentingnya dan bosnya adalah orang pertama yang memberinya kejutan pertama.
Sesampainya didepan rumah Elea menjadi lugu, ia berjalan menuju teras dan duduk disana memandang langit malam. Bintang yang menemani bulan, ramai dan berkelip menghiasi atap bumi itu. Berubahnya sikap Marcel menjadi dingin membuatnya mengingat sikap Rajendra dahulu.
"Apa ia ada masalah ya?" gumam Elea yang kemudian menundukkan kepalanya, lalu memeluk lututnya.
^
Rajendra berjalan mondar-mandir, sesekali ia melirik jam tangannya yang masih bertengger dilengan kirinya. Tak tenang hatinya melihat Elea belum juga masuk ke dalam rumah, padahal kabar kepulangannya sudah ia dengar dari penjaga depan.
Ia melirik pintu besar yang masih tertutup rapat, istrinya belum juga masuk untuk ia sambut dengan persiapan yang mendadak itu.
"Apa ia sudah lupa cara membuka pintu?" sebal Rajendra yang akhirnya melangkah untuk menyusulnya keluar teras.
Namun baru memutar knop, pintu itu ada yang membukanya sehingga mereka bertemu dilubang keluar masuk rumah tersebut. Sontak keduanya terkaget melihat pasangan masing-masing berada didepan mata.
Namun sekian detik kemudian, alis Elea bertaut. Ia berpikir suaminya akan pergi menemui kekasihnya yang rumahnya tak jauh dari rumah mereka, detik itu juga ia mendadak kesal.
"Ka–kamu baru pulang?" tanya Rajendra tergagap.
"Iya, kenapa? Kamu mau pergi? Silahkan!" ujar Elea menjawabnya dengan sinis.
Elea yang sudah diambang marah pun mengabaikan Rajendra, kakinya berjalan melewatinya dan langsung menjauhinya.
Sedangkan pria itu malah bingung sendiri, ia tak tahu caranya memberi kejutan. Ia pun menyusul kemana istrinya pergi, namun setelah sampai pintu kamar Elea ia terdiam sembari memutar knop berkali-kali. Membuka pintu saja sulit karena dikunci dari dalam, bagaiman ia mau memberinya kejutan?
"Kamu masih marah?" benak Rajendra, tangannya merogoh saku jasnya.
Ada sebuah kotak kecil yang ia simpan disana, ia hanya diam sambil memandang pintu yang menjadi penghalang diantara mereka.
Rajendra tak tahu bahwa Elea bersandar dipintu itu, meneteskan air matanya tanpa suara. Ia terisak pelan, merasakan kesunyiannya kembali menyapa hari ulang tahunnya.
Dua jiwa yang terikat oleh cincin tapi hati mereka masih meregang, apakah bisa seperti pasangan lain?
*
Keesokan harinya ...
Kebetulan hari ini weekend, Elea membuka pintu kamarnya hendak pergi menemui dua putrinya yang mungkin masih terlelap. Kakinya tak sengaja menginjak sesuatu, ia pun mengambilnya. Sebuah kotak polos berwarna biru itu mengejutkannya.
Ia melirik kesekitar, tak ada siapapun dilorong kamarnya. Ia membuka kotak itu dengan pelan, ia membeku dan terdiam sejenak.
Kalung yang sama, berbentuk sama tapi dari orang yang berbeda. Kalung saphir tanda cinta yang abadi, keagungan dan kesetiaan.