Laila adalah seorang wanita cantik dan sederhana yang bekerja di sebuah perusahaan terbesar di kota, sang CEO yang memimpin perusahaan tersebut begitu menyukai nya.
Dia sering membelikan perhiasan dan tentu nya memberikan perhatian, dan yang pasti yang membuat Laila suka adalah perhatian nya.
Dia pun selalu berusaha untuk menjadikan Laila milik nya, tapi sayang nya di saat Laila sudah jatuh cinta pada nya bahkan sudah menyerahkan kehormatan nya, kedua orang tua sang CEO tak menyetujui nya.
Laila pun di ancam, akhirnya dia pun pergi dan menghindar dari pujaan hati nya.
Yuk, bantu baca karya ku si penulis yang masih amatiran ini.. Mohon dukungan nya ya..
IG @suliani_cucu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikmati Sunset
Sore ini Adam, Arkana dan juga Laila sudah berada di Battery Park. Taman umum seluas dua puluh lima hektar are ini terletak di ujung selatan pulau Manhattan, karna letak nya yang menghadap pelabuhan, mereka dapat melihat kapal ferry yang berlalu lalang .
Dan yang pasti Adam mengajak ke dua orang tua nya ke sana bukan hanya karna itu, tapi dia ingin melihat matahari tenggelam di sana.
Saat pertama datang, Adam mengajak ke Dua orang tua nya untuk menikmati keindahan taman di sana. Sekitar pukul lima sore, Adam mengajak ke dua orang tua nya untuk melihat sunset.
Tentu nya Adam selalu mengabadikan momen kebersamaan mereka lewat camera ponsel nya, dia juga selalu langsung mengirim hasil jepretan nya pada sang paman Devano dan kepada kakek dan nenek nya.
"Ini sangat indah, Bu, Yah. Adam sangat senang bisa berkesempatan pergi ke tempat ini," ujar Adam.
"Banyak-banyak bersyukur, Sayang. Karena Allah selalu memberikan jalan untuk memberikan nikmat yang tiada tara kepada kita," ujar Laila.
"Iya, Bu. Adam selalu bersyukur dengan apa yang Adam dapatkan, Adam selalu bersyukur dengan kemampuan yang diberikan oleh Tuhan kepada Adam."
Arkana begitu kagum terhadap putranya tersebut, karena ternyata Adam merupakan titipan Tuhan yang sangatlah luar biasa. Arkana merasa senang sekali, dia juga merasa kalau Tuhan begitu baik kepada dirinya.
Arkana sudah melakukan kesalahan di masa lalu, dia melakukan hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan sebelum menikah dengan Laila, tetapi dia begitu bersyukur karena Tuhan malah memberikan anak yang sangat baik dan juga jenius.
"Ibu tahu itu, Adam memang anak baik."
Mata Adam seakan tak mampu untuk berkedip saat melihat keindahan yang berada di depan mata nya, sedangkan Laila dan Arkana kini saling memeluk sambil menikmati matahari tenggelam.
Sesekali Arkana mencium pipi Laila, bahkan kadang dia mengecup bibir Laila. Tentu nya sambil curi pandang, karena takut ketahuan oleh putra nya. Sedangkan Laila terlihat memelototkan mata nya, dan terkadang memberikan cubitan di tangan Arkana. Namun pria itu seakan tak perduli, dan tetap saja mengulang nya lagi.
"Kamu itu jangan nakal, Mas."
Laila berkata dalam bisikan, karena dia takut kalau putranya akan mendengar apa yang dia katakan. Arkana tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya.
"Nakal juga sama istri sendiri, Yang. Tak apalah nakal, Adam juga tidak melihatnya."
"Tapi risih," ujar Laila dengan bibirnya yang mengerucut.
"Jangan cemberut seperti itu, nanti aku malah tidak tahan."
Laila menghela napas berat, lalu dia menolehkan wajahnya ke arah lain. Rasanya begitu sulit berbicara dengan Arkana, tetapi dia paham karena Arkana melakukan hal itu karena begitu mencintai dirinya.
Langit mulai gelap, kini tiba saat nya untuk mereka kembali ke hotel. Mereka seakan masih ingin di sana, tapi mereka ingat, jika mereka masih mempunyai kewajiban terhadap sang Maha Pencipta.
"Lain kali kalau ada waktu kita liburan ke sini lagi ya, Bu, Yah?"
"Iya," ujar Keduanya membesarkan hati Adam.
Sampai di hotel mereka pun langsung melaksanakan kewajiban mereka terhadap Sang Khalik, setelah itu mereka pun menikmati makan malam bersama.
Senyum dari bibir Adam selalu mengembang, bahkan anak itu terlihat begitu menikmati masa liburan nya. Bahkan Adam hanya sesekali melihat laptop nya, jika ada pesan email dari langganan nya pun, Adam selalu membalas nya dengan kata yang begitu sopan.
"Saya sedang beelibur, jika anda masih setia menunggu hasil karya saya, tunggu lah sekitar satu minggu lagi. Terima kasih atas pengertian nya."
Ya, itu lah Adam, si anak jenius yang tak hanya kecerdasan dalam berpikir nya yang mempuni. Tapi tutur bahasa nya pun begitu mampu menghipnotis siapa pun yang mendengar nya, bahkan yang mengagum kan dari nya ,dia sudah menguasai sembilan bahasa dengan pasih.
Laila pun terkadang merasa bingung, kapan anak itu belajar tentang bahasa asing? Karna setahu nya, Adam tak pernah terlihat serius dalam belajar.
Adam terkesan santai, Adam hanya terlihat serius saat mengerjakan hal yang dia sangat sukai. Seperti menciptakan sebuah maha karya baru dari barang bekas, dan tentu nya membuat desain yang begitu indah.
Malam ini Adam terlihat begitu lelah, kini Adam sedang merebahkan tubuh nya sambil memeluk guling nya. Mata nya sudah mulai terpejam, tapi dia merasa masih ingin mengobrol dengan ibu nya.
"Bu," panggil Adam.
Laila yang mendengar panggilan anak nya pun langsung menghampiri nya, Laila pun langsung merebahkan tubuh nya dan memeluk Adam dengan erat.
"Ada apa Sayang?" tanya Laila seraya mengecupi puncak kepala Adam, Laila merasa sangat gemas saat melihat Adam yang mata nya sudah terpejam tapi otak nya seakan menolak untuk tidur.
Anak itu benar-benar karunia terindah dari Tuhan, dia merasa kalau Adam benar-benar sangatlah luar biasa dan kemampuannya di luar nalar.
"Besok aku akan berlomba dan bersaing dengan seratus enam orang peserta lain nya Bu, lima puluh orang bergelar S. Ars, lima puluh empat orang bergelar M. Ars, dan dua orang remaja yang berasal dari Austria .Apa kah Adam bisa menang Bu?"
Anak itu memang yakin kalau dia memiliki kemampuan yang begitu besar, tetapi tetap saja yang namanya anak kecil ada rasa tidak percaya diri di dalam hati.
Laila pun langsung tersenyum mendengar ucapan putra nya, tak bisa di pungkiri memang, walaupun Adam memang sangat lah pandai, tapi dia hanya anak kecil berusia lima tahun tujuh bulan.
Pasti akan banyak rasa khawatir yang melipir di hati nya, pasti ada juga rasa kurang percaya diri saat melihat daftar siapa para pesaing nya.
"Kamu harus optimis Sayang, jangan memikir kan hal yang akan membebani pikiran. Yang penting kamu berkarya saja dengan baik, urusan menang atau kalah itu urusan belakangan."
Laila mencoba untuk memberikan semangat yang besar kepada putranya, Adam begitu bersemangat dan langsung berkata.
"Ibu benar, kalau begitu Adam tidur dulu." Adam berkata dengan suara yang makin melemah.
Laila pun tersenyum seraya mengelus kepala putra nya, dia pun selalu berdo'a semoga Allah memberikan yang terbaik pada putra nya.
Ini adalah lomba, pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Hanya saja, Laila berharap jika Adam tak menang semoga anak itu bisa berlapang dada.
"Semoga kamu bisa menang, Nak. Tapi, jika kamu kalah, semoga kamu bisa berlapang dada. Ibu sayang sekali kepada Adam," ujar Laila.
Waktu masih menunjuk kan pukul delapan malam, tapi Adam sudah terlelap dalam tidur nya. Setelah melihat putra nya yang sudah terlelap, Laila pun menghampiri Arkana yang sedang menikmati secangkir kopi di kursi malas yang ada di balkon.
Laila pun kini langsung duduk di samping Arkana, Arkana yang melihat kehadiran istri nya langsung menyimpan kopi nya dan memeluk istri nya .
"Mas," panggil Laila.
"Kenapa? Apa Adam belum tidur?"
Laila menatap dirinya dengan tatapan penuh protes ketika dia memeluk istrinya tersebut, Arkana jadi takut kalau Adam belum tidur dan nantinya kegiatan mereka akan terganggu.
"Sudah, Adam sudah tidur. Tadi aku sempat mendengar nada khawatir dari Adam, Aku jadi kasihan pada nya."
Laila pun membalas pelukan Arkana dan menyandarkan kepala nya di dada bidang milik suami nya, Arkana pun berdecak senang.
"Itu hal yang wajar Sayang, karena dia memang masih sangat kecil. Tapi aku selalu bangga pada nya, karena daya pikir nya benar benar melebihi orang dewasa."
Bagi Arkana, walaupun nanti Adam kalah dalam perlombaan, bagi dirinya Adam adalah putra kebanggaannya. Adam adalah anak jenius yang tidak akan tertandingi.
Laila pun langsung terkekeh, Laila mengakui apa yang di ucap kan oleh Arkana itu memang benar ada nya.
"Kamu benar Mas, cuma kadang aku suka ngga tega sama dia. Adam selalu berusaha untuk membahagiakan ku dari dulu, dia selalu bekerja keras dan berusaha untuk membuat desain dengan daya jual tinggi."
Tangan Arkana pun mulai turun dan mengelus paha istri nya yang terbungkus baju tidur tipis di atas paha, Laila pun menepis tangan nakal itu.
Laila berkata kalau putra mereka sudah tertidur dengan pulas, dia merasa heran karena Laila malah seperti menolak dirinya untuk melakukan hal yang lebih.
"Kenapa sih Yang? Mas cuma megang aja. Ngga berani macem macem," ucap Arkana.
Bukannya luluh dengan apa yang dikatakan oleh Arkana, Laila malah terlihat semakin kesal. Lalu wanita itu pun mulai bersuara kembali.
"Iya aku tahu, Mas ngga berani macem macem tapi cuma satu macem aja . Dan hal itu ngga jauh dari itu," ucap Laila dengan raut kesal nya.
Arkana pun terkekeh, dia begitu suka melihat wajah istri nya yang cemberut karena kesal pada nya. Semakin istrinya kesal, dia merasa kalau istrinya itu semakin cantik saja.
"Jangan marah dong Sayang,, kan' kamu juga suka saat Mas sedang bekerja dengan keras nya."
Ya, setiap kali dia bekerja dengan keras untuk menyenangkan hati istrinya, Laila selalu terlihat menyukainya. Apalagi ketika dia mampu membawa Laila menuju puncak nirwana, wanita itu terlihat begitu suka dan keenakan.
Laila terlihat mengerutkan kening nya, wanita itu belum nyambung dengan apa yang dikatakan oleh Arkana. Dia langsung bertanya kepada suaminya tersebut.
"Bekerja keras?"
"Yes Baby, kalau aku tidak bekerja keras. Aku takut kamu ngga akan puas," ucap Arkana.
Laila pun langsung tersipu, dia pun langsung memukul paha Arkana. Dia tidak menyangka kalau suaminya itu ternyata sedang membicarakan yang keras-keras, baik dalam bekerja dan juga alat untuk bekerja itu yang harus keras.
''Mas nakal, aku mau masuk dulu."
Laila pun bangun dari duduk nya, tapi dengan cepat Arkana menarik nya hingga Laila jatuh tepat di pangkuan suami nya.
"Mas!!" kesal Laila dengan penuh protes.
Sebenarnya Laila suka dengan posisi seperti itu, tetapi saat ini biasanya begitu berbeda. Mereka berada di tempat yang sama bersama dengan Adam. Tak boleh melakukan apa pun dengan sembarangan.
"Suut, jangan berisik. Kamu ngga mau nyoba main di sini?" tanya Arkana dengan tatapan nakal nya.
Laila langsung membulatkan matanya mendengar apa yang dikatakan oleh Arkana, karena bisa-bisanya pria itu mengajak dirinya untuk melakukannya di tempat terbuka seperti itu.
"Dalam mimpi kamu Mas," ucap Laila seraya bangun dan meninggalkan suami nya.
Arkana pun langsung terkekeh, dia memang hanya bercanda. Tapi kalau Laila mau, apa salah nya mencoba. Mereka sudah menjadi pasangan suami istri, berarti halal untuk melakukan hubungan itu di manapun.