Dr. Rania "The Butcher" Wijaya adalah ahli bedah umum (General Surgeon) yang brilian tapi berantakan. Hidupnya adalah tentang UGD, darah, kopi instan, dan sandal Crocs karet. Baginya, estetika itu tidak penting, yang penting pasien selamat.
Dunia Rania jungkir balik ketika manajemen RS merekrut Dr. Adrian "The Prince" Bratadikara, spesialis bedah plastik dan estetika lulusan Korea Selatan, untuk meningkatkan pendapatan RS lewat klinik kecantikan VIP. Adrian adalah kebalikan Rania: obsesif dengan kebersihan, wangi parfum mahal, dan percaya bahwa "jahitan bedah adalah seni, bukan resleting celana."
Masalah utamanya? Mereka adalah musuh bebuyutan (dan mantan gebetan yang gagal jadian) saat kuliah kedokteran dulu. Kini mereka harus berbagi ruang operasi dan menyelamatkan RS dari kebangkrutan, sambil menahan keinginan untuk saling membunuh—atau mencium—satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Skandal Manikur Tengah Malam
Jumat malam. Pukul 02.00 WIB.
Rumah Sakit Citra Harapan sedang dalam mode senyap. Koridor sepi, lampu diredupkan. Hantu-hantu penunggu RS mungkin sedang istirahat, tapi cinta Adrian dan Rania justru sedang bergerilya.
Rania kelelahan setelah maraton operasi usus buntu tiga pasien berturut-turut. Dia tepar di sofa panjang Ruang Jaga Dokter. Kakinya selonjoran, mulutnya sedikit terbuka (pose tidur favoritnya), dan dengkuran halusnya mengisi ruangan.
Adrian, yang malam itu tidak ada jadwal jaga tapi sengaja "lembur" dengan alasan merevisi jurnal (padahal cuma mau nemenin Rania), duduk di kursi di samping sofa.
Pemandangan di ruang jaga itu sangat domestik dan... aneh.
Adrian sedang memegang tangan kanan Rania. Di pangkuannya ada set peralatan manicure lengkap berlapis emas (hadiah dari pasien VIP). Dengan kacamata baca bertengger di hidungnya, Adrian sedang memotong kuku Rania yang panjang dan berantakan dengan ketelitian seorang ahli bedah saraf.
"Ckckck," decak Adrian pelan. "Kutikula berantakan. Kuku jari telunjuk retak. Dokter bedah macam apa yang membiarkan tangannya sekasar parutan kelapa ini?"
Meski mengomel, gerakan Adrian sangat lembut. Dia mengikir ujung kuku Rania agar tumpul dan rapi, lalu mengoleskan cuticle oil beraroma lavender.
Rania menggeliat sedikit dalam tidurnya, tapi tidak bangun. Dia justru semakin membenamkan wajahnya ke arah Adrian, tangannya yang bebas memeluk pinggang Adrian secara refleks.
Adrian tersenyum. Dia menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Rania.
"Tidur yang nyenyak, Partner," bisik Adrian. Dia menunduk, mengecup kening Rania lama.
Suasana hening, damai, dan penuh cinta.
Sampai terdengar suara benda jatuh.
BRUK!
Adrian melonjak kaget. Gunting kuku di tangannya terlempar. Rania langsung terbangun dengan posisi siaga tempur.
"Hah?! Apa?! Gempa bumi?!" teriak Rania panik.
Mereka berdua menoleh ke arah pintu.
Di sana, berdiri Suster Yanti.
Matanya melotot selebar piring makan. Mulutnya menganga sampai lalat bisa masuk dan bikin sarang. Di kakinya, tergeletak nampan berisi teko kopi yang baru saja dia jatuhkan saking kagetnya.
Keheningan melanda Ruang Jaga Dokter selama lima detik penuh.
Adrian masih dalam posisi duduk di tepi sofa, tangan Rania masih di genggamannya, dan Rania masih memeluk pinggang Adrian. Posisi yang SANGAT TIDAK BISA DIJELASKAN.
"Suster... Yanti..." sapa Adrian kaku, keringat dingin mulai menetes di pelipisnya.
Yanti mengangkat telunjuknya yang gemetar, menunjuk mereka bergantian.
"Do... Dokter Adrian... lagi... lagi ngapain?" tanya Yanti gagap. "Itu... tangan Dokter Rania... dipeluk? Dicium?"
Otak jenius Adrian berputar 1000 kali per detik mencari alibi.
"Ini prosedur medis!" seru Adrian panik. "Ehm... Dokter Rania mengalami... Paronychia Akut! Infeksi kuku! Saya sedang melakukan... minor surgery! Ya, operasi kuku darurat!"
Rania menepuk jidatnya. Alibi macam apa itu, Ad?!
"Operasi kuku?" Yanti menyipitkan mata, melangkah masuk, mengabaikan kopi yang tumpah. "Operasi kuku kok pake cium kening, Dok? Itu anestesi model baru? Kiss-anesthesia?"
Skakmat.
Adrian bungkam. Wajahnya memerah padam. Rania menarik selimut menutupi kepalanya, ingin menghilang ditelan bumi.
Yanti menutup pintu ruang jaga, lalu menguncinya dari dalam. Klik.
Dia berbalik dengan senyum seringai yang mengerikan. Senyum kemenangan seorang pemburu gosip yang mendapatkan jackpot.
"Ngaku aja deh," kata Yanti sambil melipat tangan di dada. "Udah berapa lama? Sejak kapan? Sejak di Bandung? Atau sejak di kosan Pak Mamat?"
Rania menurunkan selimutnya perlahan. Dia menatap Adrian, lalu menghela napas pasrah. Tidak ada gunanya bohong pada Yanti. Dia punya mata elang dan insting detektif.
"Oke, Yan. Lo menang," kata Rania lemas. "Jangan teriak. Jangan sebarin di grup WA."
"JADI BENERAN?!" Yanti menjerit tertahan, melompat kegirangan. "AAA! KAPALKU BERLAYAR! My Ship is Sailing!"
"Suster Yanti, volume suara!" tegur Adrian, kembali berwibawa (sedikit). "Ini rahasia. Top Secret. Kalau sampai Direktur atau manajemen tahu, Rania bisa kena masalah."
Yanti langsung mendekat, duduk di meja depan mereka dengan wajah serius. "Tenang, Dok. Mulut saya terkunci rapat. Kuncinya mahal tapi."
"Lo mau apa?" tanya Rania waspada. "Traktiran?"
"Bukan," Yanti menggeleng. Dia menatap Adrian. "Saya mau... Dokter Adrian jadi konsultan skincare saya seumur hidup. Gratis. Dan... Dokter Rania harus ngenalin saya sama sepupunya yang polisi ganteng itu."
Rania dan Adrian saling pandang.
"Deal," jawab mereka serempak.
"Sip!" Yanti tersenyum puas. "Mulai sekarang, saya adalah Guardian of The Couple. Kalau ada yang curiga, biar saya yang tangani."
Tepat saat itu, gagang pintu bergerak-gerak. Seseorang mencoba masuk.
"Dok? Dokter Rania? Kok dikunci?"
Suara Kevin.
Kepanikan jilid 2 terjadi. Posisi Adrian dan Rania masih terlalu dekat.
"Gawat! Kevin mulutnya ember!" bisik Rania.
Yanti langsung beraksi. Dia memberi kode pada Adrian untuk pindah posisi menjauh. Adrian melompat ke meja kerja di ujung ruangan, pura-pura baca buku. Rania pura-pura tidur lagi.
Yanti membuka pintu sedikit. Wajah polos Kevin muncul.
"Mbak Yan? Kok dikunci? Saya mau ambil kopi."
"Ssst! Jangan berisik!" bentak Yanti galak. "Dokter Rania lagi tidur. Kasian abis operasi maraton. Dokter Adrian lagi konsentrasi baca jurnal tingkat dewa. Jangan ganggu!"
Kevin celingukan ke dalam. "Lho? Itu kok ada nampan jatoh? Kopinya tumpah?"
"Itu... tadi ada kucing masuk! Kucing garong! Udah saya usir!" bohong Yanti asal. "Udah sana, kamu beli kopi di kantin depan aja. Hus hus!"
Yanti mendorong Kevin keluar dan membanting pintu lagi.
Di dalam, Adrian dan Rania menghela napas lega.
"Nyaris," desis Adrian.
Yanti berbalik, mengacungkan jempol. "Aman, Bos. Tapi inget, besok saya minta resep krim malem racikan dokter, ya!"
Adrian tersenyum miring. "Kirim foto wajah kamu close-up tanpa filter, nanti saya buatkan resepnya."
Rania tertawa kecil. Rahasia mereka memang sudah bocor satu lubang, tapi setidaknya kebocoran itu kini ditambal oleh sekutu terkuat di rumah sakit.
Malam itu, di bawah pengawasan ketat Suster Yanti (yang pura-pura main HP di pojokan), Adrian melanjutkan sesi manikurnya.
"Jari manis kamu agak bengkok," komentar Adrian pelan.
"Bekas kejepit pintu waktu SD," jawab Rania.
"Nanti kalau saya pasang cincin di sini..." Adrian mengusap jari manis Rania. "...harus ukuran khusus biar muat."
Rania membeku. Yanti di pojokan tersedak ludahnya sendiri dan menahan jeritan fangirl.
"Cincin?" Rania menatap Adrian.
"Ya. Suatu hari nanti. Kalau tabungan saya udah cukup beli berlian yang layak. Jangan ge-er dulu," elak Adrian, tapi telinganya merah.
Rania tersenyum, menyandarkan kepalanya lagi. "Gue tunggu, Pangeran Kikir."
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca 💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️
ceritanya bagus banget