Nia sangat mencintai Ronald dan menerima segala kekurangan yang dimilikinya, namun sayang segala cinta yang diberikan hanya dibalas dengan guratan demi guratan luka di hati. Saat Daniel datang dengan cinta baru akankah pintu hati Nia akan terbuka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjemput istri
Seminggu sudah Nia menginap di rumah Papa. Beberapa kali sang suami sudah mencoba meneleponnya namun tak Nia angkat. Kemarahan dalam dirinya masih ada. Papa hanya diam saja melihat Ronald tak juga datang menjemput Nia.
Nia tak tahu rencana dibalik diamnya Papa. Nia merasa Papa tak mau ikut campur saja dengan urusan rumah tangganya, Ia bahkan tak tahu kalau Papa sudah menyiapkan seorang pengacara handal jika sampai hal buruk dengan rumah tangganya terjadi.
Sejujurnya Nia merindukan suaminya tersebut. Seminggu sudah mereka tak bertemu. Biasanya berangkat dan pulang kerja selalu bersama, ini Nia malah diantar jemput Papa.
Begitu pun sebaliknya, Ronald juga sudah kangen dengan Nia. Ronald masih menunggu amarah Nia padam baru menjemputnya. Setiap Ronald telepon Nia tak mengangkat. Bbm-an juga tak dibalas. Ia tak tahu sudah dibaca atau belum Bbm nya. Kalau pakai whats up kan bisa terlihat sudah dibaca atau belum.
Sabtu ini Ronald bertekad untuk menjemput istri tercintanya. Sebelum menjemput, Ronald pergi ke mall untuk membeli Hp android terbaru sebagai hadiah permintaan maafnya. Tak lupa Ronald membawakan dunkin donuts dan ayam bakar untuk mertuanya.
Mobil Ronald pun sampai didepan rumah Nia. Tampak sang mertua sedang menyiram tanaman. Bunga anggrek yang dirawat Papa tumbuh dengan cantiknya. Ronald menaruh kardus hp barunya di dashboard dan menenteng donut dan ayam bakar lalu turun menghampiri mertuanya.
"Siang Pa" Ronald menyalami mertuanya. Papa hanya diam saja tak ada senyum saat Ronald menyalaminya.
"Pa, Ronald mau jemput Nia. Ronald minta maaf ya Pa atas kejadian kemarin"
"Minta maafnya langsung sama Nia saja" Papa lalu masuk ke dalam dan memanggil Nia. Tak lama Nia keluar karena mendengar panggilan Papanya.
"Iya, Pa. Ada a...pa" Nia kaget melihat sang suami didepannya.
"Masuklah. Tak enak dilihat tetangga" Papa menyuruh mereka semua masuk dan berbicara di dalam.
Papa tak menyuruh Nia ataupun Nesia menyediakan minum, sejujurnya Ia masih kesal dengan menantunya. Kenapa baru menjemput setelah Nia seminggu dirumahnya? Namun Ia masih menahan kekesalannya.
Mereka pun duduk di ruang tamu rumah Papa. Awalnya tak seorang pun berbicara, lalu Ronald memecah kesunyian.
"Sayang, aku... minta maaf atas kejadian kemarin. Aku dari kemarin telepon dan sms kamu tapi kamu gak bales. Jadi aku baru jemput sekarang, nunggu kemarahan kamu reda dulu"
Nia hanya diam saja tak berkomentar apa-apa. Papa juga hanya diam saja memperhatikan apa yang akan dilakukan menantunya pada anaknya.
"Sayang, kita pulang ya. Kamu gak kangen apa sama aku"
"Gak" jawab Nia singkat. Nia bohong padahal Ia sangat kangen dengan suaminya.
"Pulang ya. Aku janji akan membela dan menjaga kamu" Ronald pun memegang tangan Nia namun langsung ditepis oleh Nia.
"Membela? Kemana kamu saat Mama kamu menghina dina aku?"
"Iya aku minta maaf. Aku hanya diam saja kemarin. Tapi aku janji aku akan berubah. Aku akan membela kamu kalau Mama memperlakukan kamu ga baik lagi saat kita nginep ya"
"Nginep? Aku udah gak mau nginep di rumah kamu. Menginjakkan kaki saja aku ogah"
"Yaudah kamu gak usah nginep lagi disana ya. Tapi main kesana sesekali boleh ya.... " Ronald berusaha membujuk Nia.
Nia melihat ini kesempatan saat Ronald sedang membujuknya ikut pulang. Ia bisa mengajukan syarat yang harus disetujui Ronald jika Ia ingin Nia ikut pulang. Buktinya sekarang Nia tak perlu lagi menginap di rumah Mama mertuanya, yess...
"Sayang... pulang ya..." Nia diam saja, mencoba teknik tarik ulur. Ia berani karena ada Papa yang sedang mengamati Ronald.
"Sayang... please.. maafin aku ya... Yuk pulang... " Nia masih diam saja tak merespon.
"Yaudah kamu mau aku ngelakuin apa biar kamu pulang? aku akan lakuin" Nah ini yang Nia tunggu.
"Tenang Nia.. tenang... stay cool..." kata Nia dalam hati. Nia masih diam walau hatinya deg-degan.
"Kamu mau apa? Nanti aku beliin"
"Aku gak mau apa-apa" jawab Nia tegas.
"Yaudah kamu mau aku lakuin apa?" Ronald sudah putus asa agar Nia mau pulang.
"Bener kamu mau lakuin?"
"Iya, pasti aku lakuin. Kamu mau apa?" Ronald bersemangat karena akhirnya Nia mau membuka dirinya.
"Baiklah. Aku mau kamu juga di tes di Rumah Sakit seperti aku"
Deg... Ronald kaget dengan permintaan Nia. Papa tersenyum senang mendengar permintaan putrinya. "Hebat kamu Nia. Jangan biarkan harga diri kamu diinjak-injak" gumam Papa dalam hati.
"Kenapa? Gak mau?" tanya Nia lagi. Kali ini Ronald yang diam saja. Ia sudah berjanji sama Mamanya untuk tidak mau diperiksa, namun syarat dari Nia malah menyuruhnya diperiksa. Ia merasa berada di tengah-tengah antara Mama dan istrinya.
"Yaudah kalau gak mau mah. Aku mau lanjut tidur siang lagi" Nia mulai berdiri namun Ronald menarik tangannya.
"Iya. Aku mau. Ayo kita periksa. Kamu pulang ya.."
"Yess... akhirnya..." Nia berseru senang dalam hati.
"Tapi bener ya aku gak harus menginap lagi di rumah Mama?" tanya Nia lagi memastikan.
"Iya sayang gak usah nginep lagi"
"Kalau aku gak mau main ke rumah Mama kamu jangan paksa aku ya"
"Iya... sayang. Pulang ya..."
"Iya" Ronald tersenyum senang. Akhirnya Ia berhasil membawa pulang Nia.
"Yaudah aku beresin baju dulu ya" Nia lalu pamit meninggalkan Ronald dan Papa. Ia tau ada yang mau dikatakan oleh Papa.
"Pa, Ronald bawa Nia pulang ya" ijin Ronald.
Papa diam dan memilih kata-kata untuk disampaikan. "Iya. Silahkan bawa pulang. Tapi Papa tak akan rela jika anak Papa disakiti lagi ya"
"Iya Pa. Ronald janji tak akan sakiti hati Nia lagi"
"Jika kamu menyakiti hati Nia dan tak menjaganya lagi, kembalikan ke Papa. Biar Papa yang menjaganya" ancam Papa. Ronald melihat kemarahan seorang ayah dimata Papa. Ronald merasa takut juga.
"Iya Pa. Ronald akan menjaga Nia. Ronald janji"
"Baiklah. Bawa istri kamu pulang. Jangan biarkan lagi malam-malam istri kamu pergi sendirian" Papa lalu bangun dan meninggalkan Ronald. Papa menghampiri Nia. Diketuknya pintu kamar Nia. Nia lalu membukakan pintu.
"Nia, kalau Ronald menyakiti kamu lagi, beritahu Papa" pesan Papa.
"Iya Pa"
Papa lalu mengeluarkan kartu nama Pak Darmawan dan memberikannya sama Nia.
"Apa ini Pa?"
"Ini kartu nama sahabat Papa. Ia sudah Papa ceritakan tentang kamu. Jika terjadi apa-apa hubungi Dia, maka Ia akan melindungi kamu. Bilang saja kamu Nia putri Pak Adi"
Nia membaca kartu nama tersebut. "Ternyata Papa sudah punya rencana lain" gumam Nia dalam hati. Ia pun menyimpan kartu nama itu di dompetnya. Nia memeluk Papa yang sangat menyayanginya sambil pamit pulang. Dengan berat hati Papa mengijinkan sambil berdoa semoga putrinya selalu bahagia.