Season 1 dan Season 2
Sugar daddyku berbeda. Temukan bedanya dalam kisahku ini. Percayalah! Ia benar-benar berbeda.
Tidak selamanya sugar daddy merupakan lelaki berperut buncit dengan kepala plontos. Pria mesum yang liurnya menetes setiap kali melihat gadis muda nan cantik.
Sugar Daddyku buktinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bemine_97, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Nona Halim
Ini sudah panggilan keduaku pada Om Gabriel, tapi masih belum mendapat jawaban. Ia membuatku gusar, khawatir dan cemas Om Gabriel akan menghilang kembali dan sulit dihubungi. Aku menggigit ujung kukuku, bolak-balik di ruang tamu sambil memikirkan Om Gabriel. Memutar otak demi ide agar bisa mendapat kabar dari Om Gabriel dan aku bisa segera menemui Naila. Bagaimana dengan ketiga pria itu? Aku bisa menghubungi mereka dan menanyakan kabar Om Gabriel serta Naila, Om Gabriel sudah kembali itu artinya mereka juga kembali. Mungkin hanya sebatas itu saja ide yang bisa terpikirkan olehku.
Aku segera meraih ponsel dari saku jeans dan menekan tombol panggil, dering pertama..kedua..ketiga,
“Halo Queen,” gayung bersambut. Pak Wahyu mengangkat telfonku.
“Pak Wahyu, maaf mengganggumu,”
“Ah tidak apa-apa Queen, kamu mencari Pak Gabriel bukan?”
Keningku berkerut, bagaimana ia bisa tahu?
“I-ia Pak, aku mencari Om Gabriel, aku sudah mencoba menghubunginya namun tidak ada jawaban.” Jelasku.
“Pak Gabriel sedang memimpin rapat, ponselnya sedari tadi bergetar di hadapannya. Aku menebak itu panggilan darimu, dan benar saja kamu menghubungiku sekarang,”
Mendengar penjelasan Pak Wahyu, aku menjadi malu. Bagaimana bisa aku mengganggu Om Gabriel bekerja? Betapa tidak elegannya diriku ini, padahal ia mempercayaiku sebagai calon istrinya.
“Ehm, Pak, aku ingin bertemu dengan Naila, apa anda bisa mempertemukanku dengannya?”
“Naila? Kapan?”
“Sekarang?” tanyaku ragu-ragu. Lebih cepat lebih baik bukan?
“Ehm, Naila sedang ikut rapat Queen,”
Aku melongo, bocah itu ikut serta? Usianya baru lima tahun bukan?
“Benarkah? Naila juga ikut rapat?”
“Naila tidak mau ditinggal, karena itulah Pak Gabriel membawanya serta, sekarang ia sudah tertidur di pangkuan Jey.” Jelas Pak Wahyu.
“Ah, begitu rupanya, kapan aku bisa bertemu dengannya Pak?”
“Bagaimana dengan besok? Naila akan kembali sekolah dan kamu bisa menemuinya sepulangnya dari sana,”
“Baiklah, terima kasih.” Ucapku lalu memutuskan telfon setelah mendengar jawaban dari Pak Wahyu.
****
Aku memesan taksi online menuju TK tempat Naila belajar setelah Om Gabriel memberiku alamat TK itu. Menurut Om Gabriel Naila ia ikut sertakan dalam program half day dan sebentar lagi jam belajarnya selesai.
Mataku menangkap mobil yang mirip dengan milik Om Gabriel di depan gerbang TK namun berbeda warna, jika mobil miliknya berwarna hitam, yang satu ini berwarna biru. Tebakku mobil itu milik Pak Wahyu, namun tidak menutup kemungkinan mobil itu milik wali murid lainnya di TK ini.
Segera kuhubungi Pak Wahyu begitu aku mendapat posisi nyaman di bangku taman bermain. Suasana TK sepi, tidak ada anak-anak yang berkeliaran di taman, sepertinya mereka sedang belajar di dalam sana. Aku penasaran dengan kegiatan belajar-mengajar anak-anak orang kaya itu, namun alangkah baiknya aku menunggu Pak Wahyu dan Naila di sini agar tidak menimbulkan gangguan bagi mereka.
Tak lama berselang, anak-anak seumuran Naila berhamburan keluar dengan didampingi Ibu-Ibunya. Mereka menjerit, tertawa bahkan melompat-lompat hingga orangtua mereka kewalahan. Tanpa kusadari senyumku mengembang, kenangan masa lalu berputar di ingatan, aku tak pernah merasakan indahnya TK dan hanya bermain dengan adikku seharian sembari menunggu Ayah pulang bekerja.
Pak Wahyu dan Naila muncul paling belakang setelah semua anak-anak itu keluar dari ruangan, Naila digendong Pak Wahyu dan wajahnya sangat masam. Ia menunduk meski Pak Wahyu terus mengajaknya berbicara.
Aku segera menghampiri mereka, kusapa ramah gadis mungil itu sambil melambai-lambai ke arahnya. Saat melihatku, matanya membulat dan senyum sedikit terbit dari bibir mungilnya.
“Kakak!” serunya.
“Sudah selesai belajarnya Naila?” tanyaku begitu ia berada di hadapanku.
“Sudah.” Jawabnya pendek.
“Mau jalan-jalan?” tawarku saat wajahnya kembali murung.
“Es krim,” ia tersenyum setelah menyebutkan dua kata favoritnya.
“Tentu, sebanyak yang Naila mau,” aku meniru kalimat yang paling sering diucapkan Om Gabriel padaku.
Bocah itu tertawa kecil, ia mengayunkan tangannya ke arahku lalu berbalik memeluk Pak Wahyu, sepertinya ia sadar milik siapa kalimat itu,
“Kaya Papa,” gumamnya.
****
Aku mendudukkan Naila di sebelah Pak Wahyu begitu sampai di toko es krim. Nuansa merah muda mendominasi toko itu dan pekerja-nya mengenakan bando telinga kelinci. Kesan feminim sangat terasa, aroma manis dari cake, es krim hingga smoothie menguar di udara memperkuat nuansa kewanitaan dari toko itu.
“Naila, kakak pesan dulu ya?”
Naila mengangguk pelan, dengan tangan masih memeluk lengan Pak Wahyu, ia tidak mau dipisahkan dari lelaki itu meski aku memangkunya sepanjang perjalanan. Tangan mungilnya tetap menggenggam erat tangan Pak Wahyu yang bebas dan ia hanya diam.
Aku kebingungan saat berhadapan dengan puluhan jenis es krim, semuanya terlihat menggoda. Aku menatap satu persatu es krim yang mungkin Naila sukai, dan sepertinya ia suka semuanya.
“Mba, satu scoop untuk semua rasa ya?” wanita itu menatapku heran, namun ia segera mengangguk dan mulai mempersiapkan pesananku.
“Mba, aku pesan es krim coklat juga, dua cup.” Jariku membuat angka dua dan wanita itu kembali mengangguk.
Sepertinya ia ragu padaku, apa ia berfikir aku tidak mampu membayarnya? Wajar saja, toko ini terlihat terlalu mewah untuk menjual berbagai jenis es krim. Moly yang merekomendasikan toko ini padaku semalam saat kuceritakan kegemaran Naila terhadap es krim.
“Ini Mba,”
Aku menyodorkan kartu debit pemberian Om Gabriel dan membayar semua pesananku, mengambil nampan makananku dan berlalu dari hadapan wanita yang meragukanku barusan.
Mata Naila terbelalak kaget saat melihat semangkuk besar es krim berwarna-warni di hadapannya. Ia bangkit dan bertumpu pada lututnya demi melihat dengan jelas surga duniawinya.
“Kamu suka?” tanya Pak Wahyu sembari memegangi Naila.
“Suka, Kakak Queen keren!” Naila mengacungkan satu jempolnya ke arahku.
“Makasih Naila, nikmati ya?”
Aku duduk di hadapan Pak Wahyu dan menyodorkan es krim miliknya. Ia tersenyum dan menerima uluran es krim dariku.
“Kamu ingin membicarakan pernikahanmu dengan Pak Gabriel bukan?”
Aku mendongak, pria ini juga tidak suka basa-basi, “Ia, Om Gabriel memintaku berbicara langsung pada Naila,”
“Kamu sudah yakin akan merawat Naila? Sejujurnya kamu tidak perlu menawarkan diri, Naila punya banyak pekerja yang bisa mengurusinya.”
“Tidak Pak, Naila butuh seorang Mama, bukan pekerja.” Jawabku tegas.
“Mama? Kak Queen mau jadi Mama Naila?” gadis mungil itu meletakkan sendoknya dan menatap ke arahku.
Ia membuatku gugup, pandangan matanya tidak bisa ditebak sama sekali,
“Naila setuju kalau Kak Queen jadi Mama Naila?” tanyaku sembari mengelus pelan pipi gembul Naila.
“Berarti Naila punya Mama yang cantik,” Naila terkekeh, ia menggenggam kembali sendoknya dan melanjutkan makannya.
Aku dan Pak Wahyu saling berpandangan, merasa heran dengan sikap Naila barusan. Tak ada penolakan, tak ada pertikaian atau bantahan seperti yang selama ini aku khawatirkan. Naila masih saja sibuk mengaduk es krimnya dan menyendoknya sesuap demi sesuap.
“Pak?” aku menatap pria rupawan di hadapanku.
“Aku tidak menyangka ia langsung menyetujuinya Queen, biasanya ia akan menentang siapapun yang berkeliaran di dekat Pak Gabriel. Termasuk sekretarisnya dulu,”
“Benarkah semudah ini? Aku tidak yakin.” Ujarku.
Walaupun Naila telah menyetujuiku sebagai Mamanya, ada sedikit rasa mengganjal di hati kecilku. Aku tidak percaya semudah ini meyakinkan dirinya untuk menerimaku, mungkin Naila benar-benar menginginkan sosok seorang Ibu.
****
Aku mendudukkan Naila di pangkuanku dan membiarkan gadis itu bermain Candy Crush dari ponselku. Ia berulangkali tertawa, aku sempat melirik permainannya, dan sejujurnya ia lebih hebat dariku. Wajar saja, aku tidak terlalu suka bermain dan hanya mengunduhnya saat Moly mengajakku berduel.
Pandangan mataku mengarah pada jemari Pak Wahyu yang sedang sibuk mengendalikan setir kemudi, jari manisnya dilingkari cincin padahal sebelumnya seingatku ia tidak memakai cincin apapun.
“Pak Wahyu, anda menyukai perhiasan juga ya?” tanyaku berbasa-basi walaupun sadar cincin di jarinya bukan perhiasan sembarang.
“Tidak Queen, ini cincin pertunanganku.” Jawabnya sambil melirik cincin di jari manisnya.
“Tunangan? Anda sudah bertunangan?” aku tidak percaya dengan pendengaranku barusan.
“Ia, belum lama ini aku bertunangan Queen.” Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.
Tiba-tiba aku merasa iba pada Aira yang begitu menyukai Pak Wahyu, wajah manisnya yang selalu tersenyum saat menceritakan pria ini terbayang di ingatanku. Kenapa nasib Aira dan Moly tak jauh berbeda? Benarkah mendapatkan laki-laki yang posisinya jauh di atas kami suatu kemustahilan?
“Aku tidak tahu jika anda sudah bertunangan Pak,”
“Kami belum mengumumkannya ke publik, sepertinya akan diumumkan setelah pernikahanmu dan Pak Gabriel,”
Aku mengangguk paham, “Selamat kalau begitu, bolehkah aku tahu siapa wanita itu?”
Pak Wahyu menghela nafas berat, ia menoleh ke arahku lalu tersenyum,
“Pewaris Neils Group.” Jawabnya.
.
.
.
To Be Continued,
Klik like, komen, vote dan rate bintang 5 untuk mendukung Om Gabriel dan Queen ya?
Follow dan gabung di groub chat jika ingin lebih dekat dengan Author,
Love, love
Bemine_97