Lalu Argadana anak laki - laki yang memiliki garis darah keturunan setengah manusia dan setengah siluman. Di umur sepuluh tahun telah diangkat menjadi raja di Kerajaan Siluman Darah.
Tetapi sebelum dapat memimpin takhta, sang ibu memberinya misi untuk menghabisi seorang pengkhianat kerajaan selain mencari ayah kandungnya yang merupakan seorang manusia.
Dapatkah Argadana menyelesaikan misinya itu?
Silakan ikuti ceritanya dalam kisah 'Ksatria Lembah Neraka' yang akan kami update in sya allah 1 chapter/hari
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pangeran Buluk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengasuh Harimau
Danau Silibua terletak di pinggiran Kota Rembiga dan masih termasuk wilayah kota itu. Pemandangan di sana sangat indah dan sejuk karena ditumbuhi banyak pepohonan.
Wali Kota Rembiga sengaja menata danau tersebut dengan berbagai saran hiburan agar Danau Silibua senantiasa ramai karena letak danau itu sangat strategis, yaitu merupakan perbatasan yang menghubungkan Kota Rembiga dan dua kota lainnya di utara dan selatan yaitu Kota Keruak dan Kota Praya.
Tentu saja dengan keramaian tersebut akan banyak pedagang yang menjajakan barang dagangannya di tempat tersebut hingga lambat laun terbentuklah sebuah pasar kecil - kecilkan di tepi Danau Silibua. Praktis saja, pendapatan Kota Rembiga tiap tahunnya dari Danau Silibua termasuk salah satu yang terbesar.
Hari itu seperti biasa di Pasar Danau Silibua tampak ramai para pedagang dan pembeli melakukan tawar menawar harga barang. Masyarakat berlalu lalang keluar masuk pasar.
Dari arah jalan masuk pasar tampaklah sebuah kereta yang penampilannya sangat mencolok membuat semua perhatian tersita pada kereta itu. Di belakang kereta tampak lima belas orang berpakaian kuning terbuat dari kulit harimau menunggang kuda - kuda yang kuat dan berotot.
Jika kereta pada umumnya ditarik oleh kuda atau keledai, kereta tersebut justru ditarik oleh dua ekor harimau besar yang tampak sangat garang. Sontak saja semua orang yang melintasi jalur sama seketika menyingkir dari jalanan.
Dua ekor harimau penarik kereta tersebut berjalan dengan angkuhnya melewati semua orang yang menyingkir karena merasa ngeri terhadap taring - taring tajam harimau itu.
Tetapi sebuah keanehan terjadi ketika harimau penarik kereta itu berpapasan dengan dua orang lelaki yang terlihat berbeda usia keluar dari pasar. Kedua harimau yang tampak garang itu tiba - tiba berubah seperti kucing mengeong pada majikannya. Dua ekor harimau yang tadinya terlihat sangat angkuh itu tiba - tiba mengambil sikap seolah - olah berlutut menghormati salah satu dari dua orang yang berpapasan dengan mereka.
Dua orang tersebut adalah Argadana dan Wisesa. Mereka memasuki pasar atas saran dari Wisesa untuk membeli perbekalan tambahan untuk perjalanan sehari lagi dari Danau Silibua sampai ke tempat tinggal Wisesa di Pusat Kota Rembiga. Wisesa dan Argadana keheranan setengah mati dengan sikap dua ekor binatang buas itu.
Ctar. . .
Terdengar suara nyaring cambuk yang dipukulkan pada dua ekor harimau oleh sang kusir. Tetapi anehnya dua harimau itu sama sekali tidak bergeming dari posisi mereka berlutut.
"Binatang bodoh. . . Kenapa malah tiduran di sana? Cepat jalan"
Ctar. . .
Kembali terdengar lagi suara cambuk dilecutkan di tubuh sang harimau namun lagi - lagi harimau itu tidak bergeming membuat sang kusir semakin meradang.
"Kenapa berhenti, pak kusir?" Suara seorang pemuda terdengar dari dalam kereta.
"Ehh. . . Tidak ada, tuan muda. Hanya orang - orang gunung yang tidak tahu adat" kata sang kusir.
"Hei... Bangs4t!!! Kalian kenapa menghalangi jalan kami? Cepat menyingkir. Tuan muda kami mau lewat" bentak sang kusir yang sudah murka pada kedua orang di depan keretanya.
"Jalan sebegitu luasnya, tuan. Kenapa kami harus menyingkir?" sindir Wisesa yang merasa tak suka pada sang kusir kereta yang mengatakan mereka berdua orang - orang gunung.
"B3debah. . . Berani - beraninya kalian membantah" kusir kereta itu lalu menoleh pada lima belas orang berpakaian harimau yang menyertai kereta di belakangnya.
Lima belas orang itu lalu bergerak mengurung Argadana dan Wisesa di tengah - tengah. Sementara Argadana msih terdiam seperti orang kehilangan ingatan sehingga dia seperti tidak sadar ketika para pengepung itu mulai bergerak menyerangnya dan Wisesa. Wisesa sendiri berusaha melindungi dirinya sendiri dan Argadana dengan ilmu silat yang dia pernah pelajari dari Sepasang Pendekar Naga. Walaupun memang gerakannya sedikit kaku karena tidak pernah dilatihnya lagi, tetapi paling tidak cukup untuk melindungi dirinya dan Argadana untuk beberapa saat karena dia yakin Argadana diam bukan karena tidak bisa berbuat apa - apa, hanya saja mungkin ada yang sedang dipikirkannya. Begitulah batin Wisesa sambil menghindar dan membalas sedikit serangan para pengeroyok itu.
Sebenarnya Argadana bukannya melamun tetapi dia sedang berbicara dengan Raja Naga yang saat ini sedang berada di dalam dimensi ruang Pedang Siluman Darah miliknya.
"Itu reaksi yang wajar, tuanku. Naga merupakan raja bagi seluruh binatang" kata Raja Naga di dalam fikiran Argadana ketika Argadana tertegun melihat harimau itu berlutut menyembahnya.
"Lalu apa hubungannya denganku, Raja Naga? Kenapa mereka malah bersujud padaku?" tanya Argadana keheranan.
Raja Naga pun menjelaskan karena Raja Naga saat ini tinggal di dalam dimensi ruang milik Pedang Siluman Darah yang kini berada di dalam tubuh Argadana maka secara alami Argadana pun memiliki aura Raja Naga sehingga binatang jenis apapun yang kelak akan bertemu dengannya akan berlutut memberi sembah hormatnya. Memang pada awal - awalnya aura Raja Naga itu masih samar - samar, tetapi setelah terjalin kontrak segel darah maka aura itu secara bertahap akan terlihat dengan sendirinya.
"Jadi itu sebabnya kenapa hewan - hewan lain tidak ada yang bersikap seperti harimau tadi, itu ternyata karena aura Raja Naga masih dalam tahap berkembang" Argadana bergumam sendiri.
"Baiklah, aku mengerti sekarang. Jadi aku bisa mengendalikan binatang apapun di masa depan nanti" Argadana tersenyum lalu segera bergerak membantu Wisesa yang sudah kepayahan melindungi mereka berdua.
Ketika pedang salah seorang pengeroyok hampir menebas leher Wisesa yang telah pasrah karena tak sempat menghindar...
Tap. . .
Wisesa yang merasa heran karena tebasan itu tidak kunjung datang, akhirnya membuka kedua matanya. Ternyata Argadana telah berdiri di sisinya menjepit pedang dengan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya.
Orang yang pedangnya terjepit jari Argadana terkejut bukan main melihat kecepatan gerakan Argadana. Dia mencoba menarik pedang agar terbebas dari jepitan tangan Argadana, tetapi sekuat apa pun dia berusaha pedang itu tetap tidak bergeming. Argadana melepaskan jepitannya karena merasakan lawan akan menggunakan tenaga penuh hingga akhirnya orang itu terjungkal sendiri karena besarnya tenaga yang dikeluarkan membalik.
"Set4n . . . Kalian mencari mati rupanya, berani melawan murid - murid Pengasuh Harimau" kata orang itu berusaha menakuti Argadana.
Tetapi apa yang mereka harap tidak pernah terjadi. Argadana yang baru - baru ini turun gunung tentu saja tidak mengetahui siapa itu Pengasuh Harimau sedangkan Wisesa yang tahu sekalipun tidak menanggapi sama sekali. Menurutnya bahkan jika si Pengasuh Harimau itu datang sendiri kemari tentu akan lari terbirit - birit karena mengenali Wisesa sebagai anak angkat Sepasang Pendekar Naga yang sangat ditakutinya.
"Kalian kalau mau bertarung ya bertarung saja. Laki - laki itu bertarungnya dengan tangan atau kaki, bukan dengan mulut. Kalian laki - laki atau perempuan?"
Kata - kata Argadana membuat lima belas orang itu marah.
Mereka lalu mengeluarkan jurus - jurus harimau mematikan mereka. Seliweran senjata tajam mengancam Argadana dari segala sisi yang juga berusaha melindungi Wisesa. Raja Siluman Darah itu sedikit kerepotan menghadapi keroyokan itu karena harus membagi perhatian untuk serangan keroyokan juga untuk melindungi Wisesa.
Dengan memasang ekspresi wajah serius matanya menyorot tajam ke depan, sementara kewaspadaannya bertambah tinggi.
"Kalian sendiri yang cari penyakit. . . Jadi jangan salahkan aku"
'Ilmu Raja Naga: Tubuh Raja Api Tingkat 1'
Wusss. . .
Angin panas berhembus dari tubuh Argadana ketika tubuh pemuda itu tiba - tiba mengeluarkan api merah dahsyat yang sangat panas menyengat membuat lima belas orang pengeroyok melompat mundur dengan wajah pucat. Kusir kereta pun tidak terkecuali. Salah seorang yang terlambat menghindar menjadi tumbal Tubuh Raja Api' milik Argadana. Orang itu meronta - ronta beberapa saat sebelum ambruk menjadi onggokan daging gosong berbau sangit.
Hanya Wisesa yang tampak bingung. Api di tubuh Argadana berwarna merah membara dan bahkan berhasil membakar salah seorang dari lima belas pengeroyok. Tapi kenapa api itu tidak membakar dirinya yang berada di dekat Argadana? Wisesa bahkan merasakan sensasi hangat membuat nyaman di dekat Argadana.
"Aku tidak pernah melihat ayah dan ibu menggunakan ilmu seperti ini. Apakah pemuda ini ada belajar pada orang lain sebelumnya?" Wisesa membatin.
Hal itu wajar saja. Karena ilmu Tubuh Raja Api' memungkinkan penggunanya menjadi raja dari segala macam api. Jadi sifat api tersebut membakar atau hanya menghangatkan akan bergantung pada penggunanya.
"Ilmu iblis. . . Pemuda iblis, kau telah membunuh saudara kami. Kau harus menerima akibatnya. Bunuh. . ." teriak salah seorang yang merupakan pemimpin pengeroyok itu.
Lima belas orang yang kini hanya tersisa empat belas saja itu menyerang dengan ganas. Argadana mengumpulkan sejumlah besar tenaga dalam di paru - parunya setelah mengatup mulut rapat - rapat.
"Hhuwaaarrghhh. . ."
"Aaarghhh. . ."
Terdengar teriakan menyayat mengiringi kematian enam orang yang terkena 'Jurus Pekikan Naga Murka' dari Argadana yang mengandung tenaga dalam tinggi. Pekikan itu disertai menyemburnya gelombang api yang sangat panas dari mulut Argadana. Angin dan api menyatu dalam jurus milik Raja Naga itu sehingga kekuatannya menjadi berlipat ganda.
Enam orang yang terkena telak serangan itu terjungkal dengan tubuh hangus menghitam. Empat orang lagi hanya terpental dan melabrak salah satu patung hiasan di luar pasar karena hembusan angin panas dari jurus itu.
Empat orang tersebut nasibnya sedikit lebih baik karena masih hidup walau pun nafasnya sudah senin - kamis. Empat orang yang tersisa terlihat ragu - ragu - ragu untuk menyerang.
"Ada apa pak kusir? Kenapa lama sekali? Apa mereka bahkan tidak dapat menghajar dua orang saja? Dasar gentong - gentong nasi tidak berguna"
Tidak lama setelah suara itu terdengar keluarlah seorang pemuda pesolek berpakaian serba kuning. Melihat wajahnya saja sudah jelas kalau pemuda itu sangat sombong.