Menikahi Majikan Ibu — Season 2
Genre : Komedi Romantis
Perjalanan rumah tangga Barata Wirayudha, pemilik BW Group yang menikahi putri dari pembantunya sendiri, Bella Cantika.
Perbedaan umur, latar belakang dan karakter membuat rumah tangga keduanya menjadi berwarna.
Bara yang temperamen, arogan dan mudah terpancing emosi, tetapi ia seorang yang penyayang keluarga dan daddy terbaik untuk putra-putrinya.
Bella yang lemah lembut dan dewasa, terkadang suka ketus pada suaminya berusaha menjadi ibu terbaik untuk anak-anaknya di usia yang masih muda.
Keduanya tidak romantis tetapi bercita -cita memiliki kehidupan rumah tangga yang romantis. Apakah rumah tangga mereka tetap berjalan mulus di tengah perbedaan?
Ikuti kisah rumah tangga Bara dan Bella bersama putra putrinya, Rania Wirayudha, Issabell Wirayudha dan The Real Wirayudha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Casanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Kakak ipar dan adik ipar
"Apa sekjen PBB mengirimmu kemari membawa pasukan, Komandan?" tanya Bara sambil menggendong Real. Pertanyaan itu ditujukan pada putri tertuanya yang tersenyum malu-malu saat gerakannya sudah terbaca Bara.
"Tidak. Oma Rosma tidak tahu apa-apa. Kakak baru pulang sekolah, Dad. Lalu melihat ada perang di perbatasan. Jadi Kakak pikir tidak ada salahnya mengadakan misi perdamaian." Rania menjawab dengan lancar. Semua orang di rumah sudah sangat mengenal istilah-istilah Bara dan siapa sekjen PBB yang dimaksud.
"Bagaimana sekolahmu? Kamu tidak pacaran di luaran, kan?" todong Bara sembari menurunkan Real ke atas tempat tidur.
Tampak Issabell berlari dan memeluk Bara. Tubuh mungilnya hanya setinggi pinggang Bara.
"Dad, aku akan mencoba berterus terang padamu," Issabell menarik tangan Bara dan mengajak daddy-nya itu duduk di sofa kamar.
"Dad ...." Issabell memulai pembicaraan dengan duduk manis di depan Bara. Suaranya mendayu manja dengan gaya duduk menggoda. Kaki kiri menindih kaki kanannya.
"Kakak itu sudah punya pacar," lanjut Issabell. Jemarinya bergerak lentik seiring perkataannya yang ditutup dengan kibasan rambut sebahu dengan tangan kanan. Posenya begitu menggoda layaknya model dunia sedang melakukan photo shoot.
"Ca, bisakah kalau bicara tidak segenit ini?" Bara tergelak melihat gaya putri keduanya. Lalu ia menatap ke arah Bella. Istrinya sedang menahan tawa melihat gaya Issabell yang berkali-kali mengibaskan rambut saat berbicara.
"Ah ... Daddy ...." Suara Issabell terdengar manja.
"Daddy tidak sanggup menjagamu kalau kamu tampil begini menggoda." Bara lagi-lagi tergelak.
"Ah! Aku tidak mau lagi berteman dengan Daddy. Tidak asik!" gerutu Issabell dengan cemburut. Kakinya dihentakan berulang kali ke lantai dan berlari memeluk Bella.
"Mom ... Mommy harus membalaskan kekesalanku pada Daddy." Issabell mengadu.
"Memang apa yang dilakukan Daddy?" tanya Bella, membingkai wajah putrinya dengan kedua tangan.
"Daddy mengerjaiku. Aku mau Mommy membalasnya untukku," jelas Issabell.
"Mommy-mu ini mana berani melawan Daddy." Bara berkata sambil memeluk erat Bella dari belakang. Maksud hati ingin membuat Issabell kesal, tetapi sebaliknya memancing kemarahan Real.
"DADDY! LEPAS!" perintah Real dengan berteriak saat melihat Bara memeluk Bella. Anak laki-laki Bara itu meloncat turun dari tempat tidur dan menghampiri kedua orang tuanya.
"DADDY, LEPAS!" perintah Real sembari mendorong tubuh Bara agar menjauh dari mommy-nya.
"Kamu lihat, Bell. Putramu. Ya ... jelas-jelas ini putramu." Bara menunjuk ke arah Real yang sedang melotot ke arahnya. Ayah tiga anak itu hampir tergelak melihat emosi Real saat sedang tidak menyukainya.
"Ya. Kalau yang jelek-jelak selalu putraku. Kalau sedang marah-marah, mengamuk, sulit diatur itu putraku," gerutu Bella.
"Kalau Real menurut, mendengarkan semua yang diperintahkan. Jadi anak manis dan pintar, baru putramu, Mas. Dengan bangga kamu akan berkata ... Coba kamu lihat, Bell. Itu putraku" lanjut Bella kesal sembari meniru ucapan Bara.
Setiap kali Bara selalu begitu. Saat ketiga anaknya membuat kesalahan, Bara selalu melimpahkan pada Bella, tetapi giliran Rania juara kelas, Issabell juara lomba menyanyi di sekolah atau Real menjadi anak baik, Bara selalu mengklaim kalau itu adalah putra- putrinya seorang.
***
Keesokan harinya.
Tepat sepulang kuliah, Kailla kembali menghubungi Bella. Seperti biasa, satu rantang makanan buatan Ibu Ida berisi ayam kecap, mi panjang umur, telur rebus, empal goreng dan lalapan lengkap. Tak lupa Kailla juga menitipkan setoples kerupuk dan buah pisang satu sisir sebagai penyempurna menunya. Tanpa buah-buahan, empat sehat tidak akan menjadi sempurna.
"Boo, apa kabar?" tanya Kailla begitu sambungan teleponnya tersambung dengan Bella.
"Baik. Ada apa, Kai?" tanya Bella. Ia belum sempat mengutarakan permasalahannya dengan sang suami karena bekal yang selalu diantarkan Kailla untuknya.
"Ricko sudah on the way, ya." Kailla memberi tahu.
"Hah! Serius, Kai?" tanya Bella terbelalak. Ia tidak ingin bermasalah lagi dengan Bara karena kedatangan Ricko.
"Ya, tolong diterima, Boo. Ibu Ida memasak banyak." Kailla menjelaskan.
"Tidak perlu repot-repot, Kai." Bella sedang mencari alasan yang tepat.
"Sudah. Terima saja, Boo. Ini juga karena Ibu Ida masak lebih di rumah. Tidak ada yang makan." Kailla beralasan. Padahal kenyataannya, ia khusus meminta Ibu Ida memasak untuk Bella supaya Ricko punya alasan mengantar ke sana.
"Tidak perlu, Kai. Aku tidak enak." Bella masih belum mau berterus terang.
"Sudah. Jangan dipikirkan. Ibu Ida sedang bahagia. Hari ini mantan suaminya berulang tahun. Karena mereka sudah bercerai, jadi Ibu Ida merayakannya dengan cara ini." Kailla menjawab asal.
Bella tertegun. "Bukan begitu, Kai. Tolong, besok-besok tidak perlu mengantarkan makanan ke sini lagi. Suamiku marah-marah. Kamu tahu, kalau Mas Bara tidak menyukai Ricko." Bella menjelaskan.
"Oh ya?" Kailla yang tidak tahu apa-apa, terlihat memutar otak dan mencari kesempatan.
"Atau begini saja, Boo. Masalahnya Kak Ricko yang menemuimu, kan? Nah, bagaimana kalau minta kakakmu ... siapa namanya? Aku lupa ...."
"Mbak Rikka." Bella menjawab singkat.
"Nah, minta Rikka menemui Ricko di dekat komplek rumahmu saja, Boo. Jadi Om Bara tidak perlu marah-marah lagi. Bagaimana?" tanya Kailla meminta pendapat. Tiba-tiba tercetus ide cemerlang untuk mendekatkan Ricko dan Rikka.
"Bagaimana ya, Kai ... tidak perlu repot-repot." Bella setengah menolak.
Kailla terdiam. Rencananya bisa berantakan kalau Bella menolak.
"Begini, Bell. Kamu tahu ... aku sudah lama sekali ingin hamil, tetapi tidak hamil-hamil. Hampir putus asa, Bell." Terdengar suara Kailla yang terisak.
"Ya." Bella melunak setelah mendengar suara hati sahabatnya.
"Menurut Ibu Sari, aku harus sering-sering memberi makan wanita hamil, supaya ketularan hamil," jelas Kailla asal bicara. Tidak pernah ada cerita seperti itu dari Ibu Sari. Ia ingin membuat Bella tersentuh dan mengizinkan Rikka bertemu Ricko.
"Benar begitu, Kai?" tanya Bella memastikan.
"Ya ... tolong aku, ya. Please," bujuk Kailla lagi.
"Aku janji kalau Ricko hanya mengantar sampai ke komplek, nanti minta Rikka saja mengambilnya."
Bella terlihat berpikir. "Baiklah."
Kailla sudah ingin berteriak gembira. Terbayang kalau sampai Ricko jadi menikah dengan Rikka, Bara juga tidak akan berkutik. Secara, status Ricko akan lebih tinggi dari Bara. Dan asistennya itu akan terselamatkan dari kepalan tangan Bara.
"Tidak pantas seorang adik ipar memukul kakak ipar. Secara status, Ricko lebih tinggi karena menikah dengan kakaknya dan Om Bara menjadi menantu termuda. Walau secara umur, Om Bara lebih tua, tetapi Om Bara harus menghormati dan menunduk pada Ricko karena Ricko akan menjadi kakak ipar Om Bara." Kailla mengulum senyumannya saat membayangkan Bara yang tak berkutik pada Ricko. Sudah cukup selama ini Ricko menjadi bulan-bulanan Bara. Ia tidak mau lagi asisten kesayangannya diinjak-injak Bara. Dan ini adalah cara terbaik.
***
TBC
bacaan ringan disaat wsktu luang
hiburan bukan bacaan spiritual 🙏🙏🤭
pemahaman rumahtangga bara pasca penghianatan brenda sang mantan istri membuat ruang bella terbatas. kalau bara suamiku sudah ku tukar tambah
bara masih agak jauh dari perfeksionis seorang pimpinan dan kepala keluarga.