Bagaimana rasanya saat kamu terpaksa harus menikahi gadis yang menjebakmu? Itulah yang di alami Keenan Wijaya, dia terpaksa menikahi gadis yang sudah dengan sengaja menjebaknya, Anindira.
"Aku akan membuatmu menyesal karena telah menjebakku!" ujar Keenan.
Apakah rumah tangga itu akan kandas di tengah jalan atau akan tetap langgeng dan menimbulkan benih-benih cinta di hati keduanya?
Apa yang melatar belakangi Anindira melakukan penjebakan itu?
Jangan lupa, like, favorite, komen dan vote-nya ya🤗.
Follow:
~ Fb: Samudra Lee
~ Ig: Samudra_Lee_19
Salam sayang dari otor ter--KECEH.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Usai sarapan Keenan dan Dira kembali ke kamar mereka. Dira langsung ke kamar pergi ke kamar mandi, sementara Keenan dia mengambil laptop miliknya kemudian naik ke atas tempat tidurnya. Keenan menyalakan laptop dan mulai melihat beberapa laporan perusahaan yang sudah di kirimkan oleh sekretarisnya.
"Kamu tidak pergi ke kantormu?" tanya Dira.
"Aku ini baru menikah kemarin, tidak mungkinkan aku langsung berangkat bekerja," jawab Keenan tanpa melihat ke arah Dira. Matanya terus fokus dengan deretan angka yang tertera pada layar laptopnya.
"Kee," panggil Dira.
"Apa?" jawab Keenan yang tetap fokus dengan layar di hadapannya.
"Apa menurutmu tubuhku ini kurang membuatmu tertarik?"
Jari-jari Keenan yang sedang berselancar di atas papan keyboardpun seketika berhenti. Dia menatap ke arah Dira yang kini sedang berdiri di hadapannya.
Gleg. Keenan menelan ludahnya.
"Apa tubuhku ini kurang menarik perhatianmu?" tanya Dira lagi. Gadis itu menurunkan sedikit piyama yang dia pakai, hingga pundak mulusnya sedikit terlihat. Dira juga menunjukkan senyum indahnya di hadapan Keenan.
"Bagaimana menurutmu? Apa ini masih kurang membuatmu tertarik?" tanya Dira, dia menusap pundaknya sendiri dengan gaya yang sedikit menggoda.
Keenan mematikan laptop yang ada di pangkuannya, kemudian meletakkan laptop tersebut di atas nakas yang berada di samping tempat tidur. Putra bungsu dari Rangga Wijaya itu turun dari ranjang dan berjalan menghampiri Dira yang masih berpose layaknya model majalah dewasa.
"Jangan membuat dirimu terlihat murahan di depanku!"
Keenan membenarkan posisi piyama yang di pakai oleh Dira dengan kasar. Bukannya tersinggung, Dira malah tertawa mendengar ucapan dan perlakuan Keenan terhadapnya.
"Kenapa kamu malah tertawa? Dasar sinting!" ketus Keenan.
"Tidak, aku hanya mngetesmu barusan," jawab Dira.
Keenan mengernyitkan dahinya.
"Iya, aku hanya mengetesmu. Aku ingin memastikan kalau kamu benar-benar tidak tertarik pada tubuhku ini. Jadi, aku tidak perlu takut lagi saat berada di dekatmu." Dira menjelaskan.
"Walaupun kamu bertelanjang sekalipun, aku tidak akan pernah tertarik padamu. Kamu tahu kenapa? Karena aku tidak yakin kalau wanita yang bisa memasukkan obat perangsang kedalam minuman laki-laki yang tidak dia kenal adalah wanita yang masih perawan," cibir Keenan. Dia bahkan menatap Dira dengan sorot mata merendahkan.
Ingin rasanya Dira menampar mulut pedas laki-laki yang berdiri di hadapannya. Tapi keinginan tersebut berusaha Dira tahan. Saat ini dia masih membutuhkan nama besar dari Keenan Wijaya untuk bisa merebut kembali perusahaan ibunya. Dira memilih pergi dari hadapan Keenan. Dia berjalan ke arah almari dan mengambil kemeja dan rok sepan dari dalam almari.
"Mau apa kamu?!" tanya Keenan dengan ketus.
Suara Keenan sukses membuat Dira menghentikan kegiatannya yang hendak membuka piyama yang dia pakai.
"Aku mau mengganti baju, kenapa?" tanya Dira yang berpura-pura sok polos.
"Ganti bajumu di kamar mandi, jangan di sini!" tukas Keenan.
"Lho, bukankah barusan kamu bilang kalau kamu tidak akan tertarik dengan tubuhku, meski aku bertelanjang di hadapanmu sekali pun? Tapi kenapa wajahmu memerah hanya karena aku akan mengganti bajuku di sini?"
"Jangan bercanda! Aku hanya tidak sudi, melihat tubuh wanita murahan sepertimu," tukas Keenan.
Keenan keluar dari dalam kamar setelah membanting daun pintu.
"Murahan?" gumam Dira. Dia tersenyum miris di depan kaca sambil menatap pantulan dirinya di cermin.